Berkumpulnya Kaum Anshar di Saqifah Bani Sa'idah, Murni Karena Kekuasaan?

Oleh: Ust. Rapung Samuddin, Lc., MA,
Diakui, Rasulullah SAW tidak meninggalkan sebarang wasiat tentang siapa yang bakal menggantikan beliau sebagai khalifah. Karenanya, pasca wafatnya Nabi SAW, para sahabat segera menggelar musyawarah akbar di Saqifah Bani Sa’idah guna mengangkat pengganti Rasulullah, dalam hal ini Khalifah yang akan memimpin kaum muslim.
Musyawarah akbar itu pada hakikatnya secara spontanitas diprakarsai oleh kaum Anshar. Sikap mereka itu menunjukkan, bahwa kaum Anshar lebih memiliki kesadaran politik dari pada yang lain, dalam hal memikirkan siapa pengganti Rasulullah memimpin umat Islam.  Sungguh, pertemuan kaum Anshar di Saqifqh Bani Sa’idah sempat membuat “kaget” sahabat-sahabat senior dari kalangan Muhajirin. Mereka sudah menduga, bahwa ada sesuatu luar biasa hingga memaksa berkumpul pada saat genting tersebut. Sementara, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam belum juga dikebumikan, dan kota Madinah dalam keadaan kosong kepemimpinan.
Dalam pertemuan akbar itu kaum Anshar mengajukan calon pemimpin dari golongan mereka, yakni Sa’ad bin Ubaidah ra. Alasannya, merekalah “tuan rumah” yang menolong Nabi SAW dan kaum Muhajirin ketika keadaan di Makkah genting. Adapun Kaum Muhajirin melalui juru bicaranya, Abu Bakar al-Shiddiq mengharapkan agar pengganti Nabi SAW dipilih dari kaum Qurays. Sebab demikianlah yang beliau ketahui dari sabda Nabi SAW, bahwa kekhilafaan harus tetap berada di tangan kaum Qurays. (1)
Memang sempat terjadi insiden perdebatan. Bahkan sahabat Sa’ad bin Ubadah Nampak sedikit kecewa terhadap keputusan tersebut, hingga menunda pemberian bai’atnya kepada khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebab, setelah itu beliau menarik kembali sikapnya dan dengan besar hati menyerahkan ketaatan dan bai’atnya kepada khalifah yang baru tersebut.
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad al-Shiddiq dari Utsman dari Abu Mu’awiyah dari Daud bin Abdullah al-Adawi dari Humayyid bin Abdur Rahman, -disebutkan peristiwa Saqifah Bani Sa’idah, diantaranya: ...Sesungguhnya Abu Bakar al-Shiddiq berkata: “Kaum Qurays adalah pemimpin urusan ini, manusia yang baik mengikuti kebaikan mereka dan yang pendosa mereka (manusia) juga mengikuti pendosa mereka”. Sa’ad menimpali: “Engkau benar, kami adalah wuzara’ (para pembantu) dan kalian adalah para pemimpin”. (2)
Ibnu Taimiyah rahimahullah (w. 728 H) berkata: “Hadits ini Mursal Hasan, mungkin saja Humayyid meriwayatkannya dari sebagian sahabat yang menyaksikan hal tersebut ...”. Beliau melanjutkan: “Padanya terdapat sebuah faidah yang bermanfaat, bahwasanya Sa’ad bin Ubadah menarik kembali sikapnya semula tentang hak kepemimpinan dan menyerahkan pada Abu Bakar al-Shiddiq; semoga Allah meridai mereka semua”. (3)
Ibnu al-Mundzir berkata: “Hadits ini Hasan, kendati sanadnya terputus, sebab Humayyid bin Abdur Rahman bin ‘Auf tidak mendapati zaman Abu Bakar al-Shiddiq. Mungkin saja beliau riwayatkan dari bapaknya atau dari sahabat yang lain, dan inilah yang masyhur dikalangan mereka”.(4)
Imam al-Haitsami berkata: “Perawi-perawi hadits ini terpercaya, kecuali Humayyid bin Abdur Rahman, beliau tidak bertemu dengan Abu Bakar”. (5)
Nah, terkait peristiwa berkumpulnya kaum Anshar di Saqifah Bani Sa’idah tersebut, pada hakikatnya terdapat alasan-alasan ilmiah yang banyak tidak diketahui, utamanya mereka yang memendam permusuhan terhadap para sahabat. Sebagian mereka menuduh, bahwa perkumpulan tersebut murni karena kekuasaan. Padahal tidaklah demikian. Sekurangnya ada tiga hal yang di ungkap oleh Dr. Muhammad bin Ibrahim Aba al-Khail dalam bukunya, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin terkait inisiatif kaum Anshar tersebut:   
Pertama: Kaum Anshar memandang bahwa merekalah penduduk asli kota Madinah yang padanya Nabi SAW dan kaum muslimin datang dari Mekkah sebagai kaum muhajirin; lalu mereka memberi pertolongan hingga tegak negara Islam di negeri mereka tersebut. Olehnya, beban paling besar yang dipikul dalam pembentukan dan pelestarian –negara- tersebut terletak di atas pundak mereka, dimana mereka telah mengorbankan jiwa dan harta semata mengharap karunia dan ridha dari Allah Ta’ala; disamping jumlah mereka jauh melebihi jumlah kaum muhajirin. Disamping itu, keamanan dan penjagaan kota Madinah dari serangan musuh tergantung pada mereka di posisi utama. Maka tidak mengherankan jika kemudian mereka langsung berkumpul di balai besar milik mereka untuk merundingkan persoalan khilafah (penerus) Nabi SAW. 
Kedua: Tidak menutup kemungkinan, sebagian dari kaum Anshar menyangka bahwa kaum Muhajirin bakal kembali ke negeri mereka –yakni kota Mekkah- pasca wafatnya Nabi SAW, apalagi persangkaan tersebut –kembalinya mereka ke Mekkah- telah ada dalam diri mereka terhadap Nabi SAW sendiri setelah penaklukkan kota Mekkah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang shahih.
Ketiga: Pemuka kaum Anshar yang masih tersisa dan terkenal setelah kematian Sa’ad bin Mu’ad ra adalah Sa’ad bin ‘Ubadah ra, dimana Nabi SAW selalu meminta pendapat dan masukan beliau, khususnya persoalan-persoalan yang terkait dengan kondisi dan keadaan kota Madinah. Atas dasar ini, tidak heran jika kemudian kaum Anshar mengarahkan pandangan untuk memilihnya sebagai pemimpin pasca wafatnya Nabi SAW. (6). Wallahu A’lam.
Foot Note:
1.  Lihat selengkapnya dalam Shohih Bukhari, Kitab al-Hudud no. 6830. Muslim, Kitab al-Hudud no. 1691.  
2.   Imam Ahmad, al-Musnad, Vol. I, hlm. 199, no. 18.  
3.  Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah, Riyadh: Jami’ah Imam Muhammad bin Su’ud, t.thn, Vol. I, hlm. 143. 
4.   Abu Nu’aim Alauddin Ali bin Husamuddin al-Mutqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, Tahqiq: Bakri Hayani, et, al, (Cet. V, Beirut, Muassasah al-Risalah, thn. 1401 H/1981 M), Vol. V, hlm. 638, no. 14123. 
5.   Al-Haitsami, Majma’ al-Zawaid wa al-mamba’ al-Fawaid, (Beirut, Daar al-Fikr (al-Maktabah al-Syamilah), thn. 1412 H), Vol. V, hlm. 346. 
6.   Dr. Muhammad bin Ibrahim Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, (Cet. I, Saudi Arabiyah, Daar al-Fadhilah, thn. 1430 H/2009 M), hlm. 36-37).

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More