Asyura dan Ritual Sesat Syiah

Muharram dalam segi bahasa bermakna waktu yang diharamkan. Sedang ditilik dari sudut istilah berarti, Nama bulan dalam kalender Hijriyah, yaitu bulan pertama dalam hitungan dua belas bulan.
Ada tiga sepuluh yang sangat dicintai Allah. Sepuluh terakhir bulan Ramadhan, sepuluh pertama bulan Dzulhijjah, dan sepuluh pertama Muharram. Yang pertama karena di sana terdapat malam diturunkankkanya Al-Qur'an, atau nuzulul-qur'an--bukan malam ke-17 sebagaimana diyakini sebagian orang--yang kedua, karena di sana ada hari raya besar umat Islam, yaitu Idul Adha, atau Hari Raya Qurban, dan yang ketiga, ada hari Asyura, atau hitungan hari kesepuluh pada bulan Muharram. Karena itu, kemuliaan Muharram tidak ada yang memperselisihkan kecuali mereka yang terinfeksi virus sufaha dan juhala. 
Keistimewaan Muharram diawali dengan masuknya bulan ini di antara empat jenis bulan yang di dalamnya diharamkan berperang. Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas, dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antara empat bulan haram, itulah ketetapan agama yang lurus, (QS. At-Taubah: 36).
Kata 'empat bulan haram' dalam ayat di atas adalah Bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Kemuliaan bulan haram ditandai dengan adanya larangan perang di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa, larangan berperang pada bulan-bulan haram terus berlaku dan tidak dihapus sampai sekarang, sebagian lainnya berpendapat bahwa tidak boleh memulai peperangan pada bulan haram, namun jika perang telah berlangsung sebelum bulan haram, maka tidak mengapa peperangan dilanjutkan pada bulan-bulan mulia tersebut.
Pendapat paling otentik adalah, milik mayoritas ulama (jumhur ulama), yaitu Rasulullah SAW pernah memerangi penduduk Thaif pada bulan Dzulqa'dah pada peperangan Hunain, karena itu larangan perang pada bulan haram telah gugur.
Muharram juga mendapat predikat sebagai Syahrullah, atau bulan Allah. Sebagaimana sabda Nabi yang bersumber dari Abu Hurairah lalu dirawikan oleh Imam Muslim, Sebaik-baik puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.
Imam Nawawi ketika mengomentari hadis di atas mengatakan, Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah, (Syarah Shahih Muslim, 8:55). Sedangkan As-Suyuthi menyatakan, Dinamakan syahrullah, sementara bulan lain tidak mendapat julukan ini, karena pada bulan Muharram, namanya lebih islami, berbeda dengan nama bulan lainnya yang sudah ada pada zaman jahiliyah. Sementara dulu orang Jahiliyah menyebut bulan ini dengan nama 'Shafar Awwal'. Ketika Islam datang, Allah mengganti bulan ini dengan nama Muharram sehingga namanya disandarkan pada Allah, yaitu "Syahrullah", (Syarah Sututhi 'ala Sahih Muslim, 3:252). Selain itu, bulan Muharram juga sering dinamai "Syahrullah al-Ashom" alias "Bulan yang Sunyi", demikian adanya, sebagai lambang kehormatan bulan ini.
Ada pula satu hari yang sangat dimuliakan pada bulan Muharram, baik umat Islam, maupun umat Yahudi, yaitu hari Asyura. Dinamakan demikian, karena hari Asyura adalah hari kemenangan Nabi Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir'aun dan bala tentaranya, Hadis bersumber dari Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari, berkisah, Ketika Nabi Muhammad tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa Asyura, maka Rasul pun bertanya, Hari apa ini? Mereka menjawab, Hari yang baik, di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya Nabi SAW bersabda, Kami, lebih layak menghormati Musa daripada kalian! Kemudian Nabi berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk ikut berpuasa.
Selain berpuasa pada hari Asyura, ada pula anjuran untuk berpuasa sehari sebelumnya atau hari ke-9, berdasarkan dalil yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas, bahwa Rasulullah SAW ketika berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan manusia untuk berpuasa, para sahabat pun berkata, Ya Rasulallah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Nasrani dan Yahudi. Rasulullah pun bersabda, Apabila tahun depan--insya Allah--kita akan berpuasa dengan tanggal 9 Muharram. Belum sempat tahun depan tiba, ternyata Rasulullah meninggal.
Pendapat ulama lainnya, disunnahkan pula berpuasa pada hari ke-11, dalil dari Ibnu Abbas menguatkan, Berpuasalah kalian pada hari Asyura dan selisihilah orang-orang Yahudi. Berpuasalah sebelumnya atau berpuasalah setelahnya satu hari.
Karena itu, para fuqaha (ahli fikih) membagi tingkatan berpuasa Asyura menjadi tiga, yaitu: puasa pada hari ke-9, 10, dan 11 Muharram; puasa pada hari ke-9 dan 10; dan cukup berpuasa pada hari ke-10 Muharram.
Kedudukan Muharram sebagai bulan termulia setelah Ramadhan dipertegas oleh Imam Hasan Al-Bashri, katanya, Allah membuka awal tahun dengan bulan haram dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan yang lebih mulia di sisi Allah daripada bulan Muharram, dulu bulan ini dinaman Syahrullah al-Asham karena kemuliaannya.
***
Bulan mulia sebagai momen untuk bangkit dari keterpurukan spritual dengan menggunakan setiap waktu untuk bermunajat dan beribadah. Tidak mesti harus bertapa di masjid, terus-menerus berpuasa, sehingga melupakan dunia. Akan tetapi hendaknya disikapi secara adil. Ibadah, bisa saja bersumber dari kerja-kerja dunia, seperti bekerja demi untuk mencari penghidupan, termasuk memenuhi kebutuhan perut sendiri dan perut keluarga. Dan semua itu dapat bernilai ibadah dengan syarat, niat bekerja demi untuk ibadah.
Begitu pula, secara nampak, sebuah ibadah inti seperti salat, Haji, baca Al-Qur'an, hingga Zikir, bisa saja tak berpahala jika diniatkan bukan karena Allah, tapi agar dilihat orang-orang yang ada di sekelilingnya. Niatlah yang menentukan segalanya.
Maka, di bulan mulia ini, memperbanyak ibadah dengan landasan niat baik dan ikhlas sebuah keharusan, terlebih khusus lagi di hari Jumat yang di dalamnya terdapat ragam keutamaan.
Karen bulan Muharram ini bulan mulia, dan hari ini hari Jumat sebagai hari mulia dalam hitungan seminggu, maka melaksanakan ibadah di dalamnya akan melahirkan pahala yang besar dan berlipat-lipat ganda. Sebagaimana orang yang melakukan dosa pada bulan dan hari yang mulia akan berlipat-lipat ganda dosanya. Salah satu sumber dosa adalah menzalimi diri sendiri, sebagaimana firman Allah, Fala tudzlimu fihinna anfusakum, Janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri, (QS. At-Taubah: 36).
Qatadah mengomentari ayat di atas sambil mengingatkan, Sesungguhnya berbuat kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya daripada berbuat kezaliman selain bulan tersebut. Meskipun berbuat zalim setiap keadaan bernilai besar, tetapi Allah membesarkan segala urusan-Nya sesuai apa yang dikehendaki-Nya.
Demikian pula Ibnu Abbas, katanya, Kemudian Allah menjadikannya bulan-bulan haram, membesarkan hal-hal yang diharamkan di dalamnya, dan menjadikan perbuatan dosa di dalamnya lebih besar dan menjadikan amalan saleh dan pahala lebih besar pula, (Tafsir, Ibnu Abi Hatim VI/1791).
Peringatan Ibnu Abbas di atas mendorong kita untuk menelisik ritual sesat agama Syiah yang mengisi hari-hari mulia bulan Muharram, terutama hari Asyura dengan kegiatan-kegiatan yang berlawanan dengan sunnah Rasul bahkan berani menentang peringatan Allah agar tidak menzalimi diri sendiri.
Syiah pada hari Asyura memeringati hari wafatnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad SAW. Husein radhiallahu 'anhu terbunuh di Karbala oleh orang-orang yang mengaku mendukungnya tepat pada hari Asyura, lalu, penganut Syiah menjadikannya sebagai hari ratapan dan kesedihan.
Di Iran, negara yang menjadi penganut dan penyebar agama Syiah, saat ini, merupakan suatu pemandangan lazim dan wajar jika hari Asyura tiba, kaum lelaki melukai kepala mereka dengan pedang, pisau, atau cemeti, hingga darah segar mengucur keluar membasahi sekujur tubuh mereka. Begitu pula dengan para wanita durjana, mereka melukai punggung-punggung mereka dengan benda-benda tajam sebagaimana para lelaki. Dalam keadaan berlumuran darah, mereka pun berteriak-teriak, meratap, sambil mengucap, Ya Husain... Ya Husain, Ya Husain...!
Jelas, demikian itu adalah ritual sesat ala Syiah, yang kini di Indonesia sudah mulai dibudayakan dengan modus operandi yang berbeda, bahkan dikemas dengan akademis, termasuk mengadakan seminar, ceramah, dan sejenisnya. Padahal intinya sama, memasarkan budaya ratapan. 
Menangis dan memukuk-mukul wajah karena memeringati orang yang telah meninggal adalah bagian daripada dosa besar, Nabi bersabda, Bukan termasuk golonganku orang menampar-nampar pipinya, merobek-robek baju, dan berteriak seperti teriakan orang masa jahiliyah.
Nampaknya, Syiah benar-benar tidak termasuk dalam golongan umat Rasulullah, itu artinya, bukan agama Islam, sebab tidak hanya menampar pipinya, malah telah menggunakan sejata tajam untuk menyiksa dirirnya sendiri, sebuah kesesatan yang sangat sempurna. Wallahu A'lam!

Dimuat Koran Harian Cakrawala, Makassar, 31 Okt. 2014.
Ilham Kadir, Peserta Kaderisasi Seribu Ulama Baznas-DDII/Kandidat Doktor Pascasarjana UIKA Bogor.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More