Tentang Haji dan Ziarah Kubur Husein, Ulama Syiah Berkata, “Imam Kami Telah Berbohong”



http://ti.or.id/media/article/images/2011/12/23/j/u/jujur_itu_hebat.jpgHaji ke Karbala Lebih Mulia Daripada Haji Ke Baitullah
“Sesungguhnya menziarahi kuburan Husain setara dengan 20 kali haji. Dan lebih utama dari 20 kali umrah.”
(Furu’ al-Kafi: 1/324, Tsawab al-A’mal, Ibn Babawaih: 52, Tahdzib al-Ahkam, Al-Thusi: 2/16, Kamil al-Ziyaarat: 161, Wasa’il al-Syi’ah, al-Hurr al-‘Amili: 10/348)
Riwayat lain yang serupa dengan ini menyebutkan, “Siapa yang mendatangi kuburan Husain dan tahu terhadap hak-haknya, maka baginya haji sebanyak seratus kali bersama Rasulullah saw.” (Tsawab al-A’mal: 52 dan Wasa’il al-Syi’ah: 10/350)
Dalam Wasa’il al-Syi’ah dan selainnya, diriwayatkan dari Muhammad bin Muslim dari Abu Ja’far dia berkata, “Seandainya manusia tahu betapa besarnya keutamaan menziarahi kuburan Husain niscaya mereka akan mati karena saking rindunya. Mereka akan merasa sangat merugi.” Saya bertanya, “Apakah kemuliaannya itu?” ia menjawab, “Siapa yang menziarahinya karena rindu padanya niscaya Allah catatkan baginya 1000 kali haji maqbul, 1000 kali umrah mabrur, pahala yang setara dengan 1000 syuhada’ Badr, pahala 1000 orang yang berpuasa, pahala 1000 kali sedekah yang diterima dan pahala 1000 kurban yang disembelih dengan mengharap wajah Allah. Dia akan senantiasa terjaga dari segala marabahaya yang ditimbulkan setan. Malaikat yang mulia akan menjaganya dari depan, belakang, dari kanan, kiri, dari atas kepalanya dan dari bawah kakinya. Jika dia mati pada tahun itu para Malaikat ar-Rahman akan hadir ketika dia dimandikan, dikafani dan dimohonkan ampun. Para malaikat itu akan mengantarnya sambil berisitghfar untuknya sampai ke kuburan. Kuburannya akan diluaskan sejauh mata memandang. Allah akan memberinya keamanan dari sempitnya kubur, dari Munkar dan Nakir. Allah akan membukakan baginya pintu menuju surga dan memberikan catatan amalnya dari sisi kanan. Lalu dia diberikan cahaya pada hari kiamat yang akan menerangi sejauh jarak timur dan barat. Kemudian seorang penyeru mengumumkan, ‘inilah dia yang telah menziarahi Husain karena rindu padanya.’ Maka tidak tersisa seorangpun di hari kiamat melainkan berharap sendainya dulu ia juga menjadi peziarah di antara para peziarah al-Husain.”
(Kamil al-Ziyaarat: 143, Wasa’il al-Syi’ah: 1/353, Bihar al-Anwar: 101/18)


Seseorang dari penganut Syiah lantas memperhatikan riwayat ini lalu terperanjat, kenapa keutamaan seperti ini dikhususkan untuk ziarah kuburan Husain? Dimana keutamaannya mencapai ratusan kali haji, padahal tidak pernah disebut dalam al-Qur’an. Bukankah ini dalil yang dibikin-bikin lagi palsu?
Setelah mendengar penjelasan imamnya tentang klaim keutamaan-keutamaan menziarahi kuburan Husain ia bertanya, “Allah telah mewajibkan haji ke Baitullah dan tidak menyebut ziarah kuburan Husain.” Imamnya lalu menjawab dengan jawaban yang tidak jelas, “Meskipun seperti itu adanya, tapi inipun sudah dibuat seperti itu oleh Allah.” (Bihar al-Anwar: 101/33 dan Kamil al-Ziyaarat: 266)
Yang mengherankan adalah adanya sebagian riwayat yang melemahkan keutamaan-keutamaan itu dimana disebutkan ziarah kubur lebih utama dari Haji ke Baitullah al-Haram. Akan tetapi Syaikhusy Syi’ah, al-Majlisi membantah itu dan menyebutkan bahwa itu hanya taqiyah.
Riwayat mereka menyebutkan, dari Hanan, saya bertanya ke Abu Abdillah, “Apa yang Anda katakan terkait ziarah kuburan Husain? Karena telah sampai pada kami bahwa Anda berkata itu setara dengan haji dan umrah.” Abu Abdillah lalu menjawab, “Hadits itu sangat lemah. Ziarah tersebut tidak menyamai haji. Tapi ziarahilah dan jangan menjauh darinya karena beliau adalah pemimpin pemuda ahli surga.”
Al-Majlisi lalu menafsirkan riwayat ini dan juga puluhan riwayat serupa dan menyingkap kesesatan kelompoknya, “Semoga saja yang dimaksud adalah tidak menyamai dua kewajiban, haji dan umrah. Akan tetapi yang lebih benarnya adalah ia mengatakannya dalam bentuk taqiyyah.” (Bihar al-Anwar: 101/35, Qurb al-Isnad: 48)
Maksudnya, Ja’far berbohong ketika mengucapkan kata-kata itu. Sebagai bentuk basa-basi di hadapan ahlus sunah atau dikarenakan takut dari mereka.
Oleh: Syeikh Dawud bin Sulaiman al-Mahi, alumni Syari’ah Univ. Islam Madinah
(Ibnu Ahmad/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More