Ketika Orang Syiah "Sok Keren" Dalam Menafsirkan Al-Qur'an

http://www.hizb.org.uk/wp-content/uploads/2010/09/tafsir.jpgBerawal dari sebuah artikel yang kami ambil dari gensyiah.com dengan judul, "Materi Buku SD: Mengingkari Wilayah (Kepemimpinan Syiah) Adalah Kekafiran", seorang Syiah yang mengaku bernama Tasripin Adiwijaya memberikan komentar berikut ini,

“ Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal shaleh. Katakanlah: "Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan (Seharusnya-KELUARGAKU-)". Dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan Kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS [42]:[23])

Note : al Qurba = adalah kalimat definitive/ma’rifah/jelas karena ada al—terkait kepada Rosulullah, dan QURBA = adalah isim muthaadhi = superlative, atau sangat-sangat dekat sekali. Berarti Keluarganya yang paling dekat sekali, maka dijelaskan dalam hadist lainnya adalah : Fatimah, Ali, Hasan dan Husein.

Disini akan diurai dengan 2 (Dua) cara, yaitu :

I. Sesuai harapan Tuhannya dan Rosul-Nya, yaitu :

A. Bilangan [42], bilangan ini bila dijumlahkan [42]=4+2=6, ini dapat diuraikan sebagai berikut, perhatikan segitiga putih diatas (al Haq), yaitu :
1. Jumlah Washi (Ulil Amri Minkum – UAM) yang nama awalnya Muhammad, ada 4.
2. Jumlah UAM yang nama awalnya Ali, ada 4.
3. Jumlah UAM yang nama awalnya Hasan, ada 2.
4. Jumlah UAM yang nama awalnya Husein, ada 1.
5. Jumlah UAM yang nama awalnya Ja’far Shodik, ada 1.
6. Jumlah UAM yang nama awalnya Musa al Kazim, ada 1,
akan menghasilkan 13 Ulil Amri Minkum ketika Rosul masih hidup plus penggantinya Jumlahnya 12. Washi (UAM)

2. Bilangan [23], bilangan ini bila dijumlah akan menghasilkan bilangan 5, yaitu :
2.1 Muhammad Saw.
2.2 Fatimah Az Zahra as.
2.3 Ali bin Abi Thalib, al Murtadho, as.
2.4 Hasan, al Mujtaba as.
2.5 Husein as Syuhada as.

3. Bilangan [42][23], bilangan ini bila dijumlah akan menghasilkan,
4223=4+2+2+3=11, jumlah UAM pasca Imam Ali as terbunuh., dan dijumlahkan lagi, maka :

11=1 + 1= 2, ini adalah yang dimaksud :
1. Muhammad Saw,
2. Khadijah, Istri Pertama Rosul, yang telah melahirkan Sayidah Fatimah Az Zahra, dimana sepulangnya Mi’raj dan sebelumnya Allah SWT, menyilahkan kekasih-Nya mencicipi buah Apple di Kebun Yang Suci, yang dirinya telah diijinkanNya untuk menyinggahinya dan setelah bertemu kembali dengan istrinya, tidak lama kemudian istrinya yang tercinta Hamil dan melahirkan Sayidah Fatimah Az Zahra sebagai sumber Genetic Suci yang adalah merupakan Program Allah SWT, untuk Pengawalan RisalahNya sampai Yaumil Kiamah.

Menjawab komentar ini, kami nukilkan jawaban singkat dari Ust. Khairullah, pengurus Koepas, 

Pengkhususan al-Qurba pada ayat dengan Fathimah, Ali dan anak mereka radhiyallahu anhum sangat tidak mungkin. Karena ayat ini Makkiyyah, dan Ali menikahi Fathimah di Madinah. Nikah aja belum, apalgi punya anak.

dan Cukuplah pakar Ulama Tafsir yang memberikan tafsiran atas ayat ini,

Al-Imam Ibnu Katsir berkata,

"Katakanlah wahai Muhammad kepada orang-orang musyrikin dari kalangan kafir Quraisy: aku tidak meminta atas penyampaian dan nasehat ini kepada kalian berupa harta yang kalian berikan kepadaku, tapi sesungguhnya aku memohon kepada kalian supaya menghentikan gangguan kalian terhadapku dan biarkanlah aku menyampaikan risalah Tuhanku, jika kalian tidak menolongku maka jangan menggangguku, karena antara aku dan kalian memiliki hubungan kekerabatan" -selesai-

Berikut ini jawaban dari Ust. Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag,


Tafsir Syiah tadi:

1. Bertentangan dengan Al-Qur'an
2. Bertentangan dengan Ijma'
3. Bertentangan dengan bahasa arab
4. Tafsir Zaighin, ikut mutasyabihat, meninggalkan yang muhkam

1. Bertentangan dengan firman Allah QS. Al-Syu'ara: 109, "Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu, upahku tidaklain hanyalah dari Tuhanku"
Maka sangat aneh kalau ada orang yang membayangkan Rasulullah minta upah atas dakwahnya setelah adanya ayat ini.

2. Bertentangan denga Ahlul Bait
Ibnu Abbas adalah Ahlul Bait terbesar dan paling alim dalam tafsir, mengatakan, "Yang dimaksud dengan Qurba dalam ayat 23 al-Syuro bukanlah kerabat Rasulullah akan tetapi apa yang ada diantara Nabi dan kaumnya dari qarabah nasabiyyah. Jadi maksudnya: aku tidak meminta upah atas apa yang aku bawa, akan tetapi aku meminta kepada kalian agar kalian mencintaiku karena kekerabatanku dengan kalian, agar kalian menjagaku karena kalian adalah kaumku dan orang yang paling berhak untuk mentaati aku dan menjawab dakwahku."

3. Tafsir ini yang benar, didukung oleh Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Sya'bi, dll.

4. Lima Nabi sebelum Rasulullah Saw; Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syuaib telah melontarkan hal yang sama, yaitu, "Aku tidak meminta upah kepada kalian atas dakwahku ini, upahku hanya ada di sisi Allah."
Bagaimana mungkin mereka murni ikhlas tanpa minta upah apapun bentuknya sementara Nabi yang paling agung malah minta upah?

5. Seandainya yang dimaksud adalah minta upah berupa kecintaan kepada keluarga Nabi saw, niscaya firman Allah akan berbunyi al-mawaddatu fi dzil qurba bukan al-mawaddatu fil qurba sebagaimana firman-firman Allah yang lain menggunakan wa lidzil qurba QS. Al-ANfal: 41, Al-Hasyar: 7, Dzil Qurba QS. Ar-Ruum: 38, Dzawil Qurba QS. Al-Baqarah: 177, semua wasiat tentang ahlul bait nabi atau seseorang disebut dzawil qurba bukan dzul qurba.

6. Al-Qurba berbentuk ism makrifat, maka hal itu haruslah sudah dikenal oleh para mukhathab (orang yang diajak bicara waktu itu), sementara ketika ayat 23 Al-Syuro itu turun belum ada Hasan dan Husein, dan Ali belum menikah dengan Fathimah, maka penafsiran Al-Qurba dengan Ali, Fathimah, Hasan dan Husein adalah mustahil, berbeda dengan kekerabatan yang ada di antara beliau dan mereka.

7. Syeikh al-Mufid - ulama besar Syiah- juga berkata membenarkan tafsir yang shahih di atas, dengan menagatakan, "Tidak sah ucapan bahwa Allah menjadikan upah Nabi Nya berupa kecintaan kepada Ahlul Baitnya." Sungguh salah besar orang yang mengatakan Nabi minta upah berupa cinta Ahlul Bait. Ingat ayat yang Muhkam ditempat lain adalah: Hai Kaumku aku tiada meminta harta benda kepada kamu sebagai upah atas dakwahku, upah hanyalah dari Allah QS. Hud: 29, juga ayat 51.

8. Adapun bilangan 42:23 ditafsiri seperti model Syiah diatas maka itu bukan hujjah, hanya cocok-cocokkan, bisa saja orang yang menafsiri lain yang berbeda, misal: 4 adalah Khulafa Rasyidin, 2 adalah Syahadat, 4+2 = 6 adalah rukun iman, sedang 23 jika ditambah sama dengan 5 itu rukun Islam. 4, 2, 2, 3, jika dijumlah sama dengan 11, sebelas adalah istri Nabi dst....
maka apa bedanya antara ini dan itu? maka model begini bukan hujjah. Semoga meyakinkan ahlus sunnah bahwa Syiah orang yang sesat karena meninggalkan yang muhkam dan berpegangan dengan yang mutasyabihat karena mencari fitnah dan takwil.

Oleh: Agus Hasan Bashori, 28 Rajab 1435 H, Kartosuro, Jawa Tengah. 

(ia/lppimakassar.com)

1 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More