Ketua MUI: Amanat Fatwa 1984, Buku MUI tentang Kesesatan Syiah Tetap Harus Disosialisasikan


Berawal dari niat sekedar ingin menyerahkan beberapa  data dari Ust. Muh. Said Abd. Shamad, Lc., kepada ibu Hj. Rosmeinita Arif, MA., seorang Pengurus LPPI Indonesia Bagian Timur yang tinggal di Jakarta Utara. Beliau lalu mengajak saya untuk silaturrahim ke rumah pribadi Dr. (HC) KH. Ma’ruf Amin (Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat) yang tidak jauh dari rumahnya, pada senin malam, 10 Maret 2014.
“Siapa tau beliau sudah pulang dari Semarang” kata Ibu Hj. Rosmeinita, MA., kepada saya. Mengingat beliau juga seorang pejabat tinggi negara, anggota Dewan Pertimbangan Presiden, yang beberapa hari lalu dinas ke Semarang.
Tujuan dari silaturrahim ini adalah untuk memberikan kepada beliau data “Mapping Kebohongan Publik Jalaludin Rakhmat” (lihat disini: http://www.nahimunkar.com/mapping-pemetaan-kebohongan-publik-jalaluddin-rakhmat/)  disertai lampiran data yang lengkap mengenai gelar abal-abal yang dimiliki oleh Jalaluddin Rakhmat, yang katanya lulusan S3 di Australian National University, lulusan S3 Distance Learning Instance (DILI IPWI) dan juga katanya pernah dinobatkan sebagai Guru Besar Ilmu Komunikasi di UNPAD pada Oktober 2001, sesuai dalam wawancara pribadinya dengan Rosyidi, MA, penulis buku, “Dakwah Sufistik Kang Jalal.”
Meskipun diberi fasilitas rumah dinas oleh Negara di kawasan Menteng, KH. Ma’ruf Amin lebih memilih untuk tinggal di rumah pribadinya di lorong kecil yang terletak di Kelurahan Koja, Kecamatan Koja, kota Jakarta Utara, dekat dari pelabuhan Tanjung Priuk.
Alhamdulillah, beliau sendiri yang menyambut kedatangan kami dengan hangat setiba di rumahnya.


Setelah memberikan data “Mapping Kebohongan Publik Jalaluddin Rakhmat” dan menjelaskan gelar abal-abal yang dimiliki oleh Big Boss Syiah Indonesia ini, perbincangan kami berikutnya mengenai Syiah di Indonesia, pergerakannya, solusi fatwanya dari MUI, dan seterusnya.
Berikut ini di antara yang beliau sampaikan kepada kami,
Pertama, Meskipun dalam pengurus MUI Pusat ada tokoh yang mendukung Syiah seperti Prof. Umar Shihab, Buku Panduan MUI, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” tetap harus diterbitkan karena ada amanah fatwa MUI tahun 1984 untuk mewaspadai masuknya ajaran Syiah di Indonesia. Dan alhamdulillah buku itu sudah tersebar luas di masyarakat.
Fatwa 1984 tersebut masih menggantung, Syiah bagaimana yang harus diwaspadai. Karena itu, dalam buku ini kami jelaskan dan gambarkan bentuk ajaran dan pergerakan Syiah di Indonesia yang harus diwaspadai.
Kedua, Saya sebenarnya pernah diakali untuk pergi ke Iran tapi saya tidak pernah mau. Makanya yang lain pergi ke Iran, saya tidak. Karena itu, sepulang dari Iran Umar Shihab mendukung Syiah.
Ketiga, Syiah di Indonesia yang kita temukan, tidak bisa kita pungkiri memang mempraktekkan makian kepada sahabat-sahabat Nabi.
Keempat, Untuk Fatwa Nasional tentang kesesatan Syiah, kami butuh bukti lapangan orang Syiah memaki sahabat. Karena Jalaluddin Rakhmat itu sering menyangkal jika dituduh memaki sahabat.
Bukan literatur, kalau literaturnya ada. Seperti di Sampang, bukti lapangannya ada, mencaci maki sahabat Nabi. Di Jawa Timur, mereka (pemerintahnya) berani, Ulamanya bersatu. Meskipun waktu itu ada tekanan dari (beberapa orang) Kemenag, saya tetap mendukung fatwa MUI Jatim tentang kesesatan Syiah karena sudah prosedural (Baca disini: http://www.lppimakassar.com/2012/11/mui-pusat-mengesahkan-dan-mendukung.html). Begitu juga saya mendukung MUI Daerah untuk keluarkan fatwa serupa kalau sudah menemukan bukti lapangan.


Kelima, Quraish Shihab itu jelas sekali mendukung Syiah dalam bukunya “Sunni-Syiah Dalam Genggaman Ukhuwah, Mungkinkah?,”
Nah, lalu Tim Penulis Pesantren Sidogiri mematahkan semua argumen Quraish Shihab dalam buku bantahan yang mereka tulis, namun sayang, buku ini tidak terlalu menyebar.

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

1 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More