Syiah Mulai Kurang Ajar Pada MUI

Sikap arogan lagi sombong yang menyebabkan iblis keluar dari surga ternyata dipakai juga tokoh-tokoh Syiah di Indonesia, terutama dari pasangan dedengkot Syiah Indonesia; Jalaluddin Rakhmat bersama istri tercintanya, Emilia Renita Az.
Nabi Adam dikeluarkan dari surga karena hawa nafsu, namun Allah menerima taubatnya kembali (al-Baqarah: 37). Iblis diusir dari surga karena SOMBONG, merasa dirinya lebih baik dari Nabi Adam dimana hal itu membuatnya tidak patuh terhadap perintah Allah untuk memberikan salam penghormatan kepada Makhluk yang baru saja diciptakan oleh-Nya, nenek moyang manusia. Sebagai balasan atas ketidakpatuhan (karena angkuh dan pongah) Allah Subhanahu wa Ta’ala mengeluarkannya dari surga, mengutuknya menjadi makhluk yang hina dina, pengikutnya pun dijanjikan neraka oleh yang Mahakuasa (al-A’raf: 11-18) bahkan divonis sebagai kafir (al-Baqarah: 34)
Setelah peristiwa konflik Sampang Madura yang dua jilid itu terjadi, MUI Kabupaten Sampang bersama MUI Prov. Jawa Timur menerbitkan fatwa kesesatan Syiah sebagai solusi dari akar masalah konflik berdarah itu.
Seakan tak mau ketinggalan dalam membentengi umat dari ajaran Syiah, MUI Pusat, melalui Ketua Dewan Pimpinan Hariannya, Dr. (HC) KH. Ma'ruf Amin, menyetujui dan membenarkan fatwa kesesatan Syiah yang ditetapkan oleh MUI Kab. Sampang dan MUI Prov. Jawa Timur. (Republika, 8 November 2012)
Selain penjelasan melalui media yang berskala nasional; Harian Republika, MUI Pusat juga menerbitkan Buku Panduan MUI, "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia."
Dan sangat jelas, tujuan penerbitan buku panduan tersebut dalam Sambutan Dewan Pimpinan Pusat Majelis Ulama Indonesia, adalah untuk melaksanakan tanggung jawab sebagai pewaris Nabi; menangani secara serius dan terus menerus setiap usaha pendangkalan agama dan penyalahgunaan dalil-dalil yang dapat merusak kemurnian dan kemantapan hidup beragama di Indonesia.
Namun begitulah ulama, karena tugas kenabian yang mereka emban.
Para Nabi yang digariskan mempunyai musuh dari kalangan jin dan manusia. Begitulah juga para pewaris mereka, dimusuhi oleh jin dan manusia yang jahat.
Ya, MUI Sesat!
Adalah buku, “Menanggapi Buku Panduan Majelis Ulama Indonesia: Apakah MUI Sesat Berdasarkan 10 Kriteria Aliran Sesat” karya istri dari tokoh Syiah Indonesia, Emilia Renita Az.
Dengan desain cover yang hampir mirip dengan buku panduan MUI, "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia." background putih, sedikit warna hijau sebagai pelengkap, bentuk tanda tanya yang berisi gambar beberapa buku yang mengungkap kesesatan Syiah serta titik tanda tanya yang digambarkan dengan kaca pembesar yang sedang menyorot buku panduan MUI tersebut ditambah dengan judul buku yang sangat jelas terbaca, agaknya kita dapat menebak latar belakang, isi serta tujuan penulisannya.
Analisa kami bisa saja salah bisa juga benar. Karena buku itu belum sampai pada kami. Wallahu A’lam Bishshawab. Namun kami mencoba memetakannya,
“Apakah MUI bisa dinilai SESAT berdasarkan beberapa kriteria yang dibuatnya sendiri? ”
10 Kriteria aliran sesat itu akan dipaparkan satu persatu, lalu memberikan sedikit bukti -yang sangat dipaksakan- agar MUI masuk dalam kriteria kesesatan yang dibuatnya sendiri.
Jawabannya akan diserahkan kepada pembaca, apakah akhirnya MUI sesat atau tidak. Jika sesat, alangkah malangnya MUI sudah terjebak dalam perangkap sendiri. Dan inilah yang diinginkan oleh si Penulis.
Dengan mengolah bahasa serta kosa kata yang pas, pembaca akan dibuat yakin dengan kesimpulan “Ya, MUI Sesat!”
Itulah analisa kami mengenai kemungkinan latar belakang, isi serta tujuan penerbitan buku yang bisa jadi kami salah, bisa juga benar.
Jika benar, maka hal ini pun sudah dilakukan oleh teman-teman sesama paham dan aliran sesat. Mereka dari paham Islam Liberal. Beberapa tahun lalu mereka teriakkan dengan pongah dan kurang ajar mengatakan “MUI Tolol, MUI Bodoh,” “MUI harus dijerat pasal provokator,” “MUI Harus Dibubarkan” (Baca buku “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat”) dan beberapa ungkapan semisal.
Sunnah sang Suami, Jalaluddin Rakhmat
Hal ini tentu tidak terlalu membuat kita kaget jika membaca opini Jalaluddin Rakhmat pada Harian Republika, sabtu 10 November 2012.
Sang Istri hanya meniru Suaminya dalam melecehkan dan menghina MUI, silakan baca kembali berikut ini,
Ia menyikapi Fatwa MUI Sampang dengan mengatakan, "Fatwa salah yang disampaikan oleh lembaga yang mengklaim berhak memberikan fatwa sama seperti obat yang salah yang diberikan kepada pasien. Alih-alih menyembuhkan, ia bisa membunuh. Di antara fatwa yang telah ikut serta atau menyertai terbunuhnya seorang Muslim (Baca: Orang Syiah) di Sampang adalah fatwa MUI Sampang."
Menanggapi MUI Jatim dan Ketua MUI Pusat, KH. Ma'ruf Amin, Jalaluddin Rakhmat mempertanyakan strata kelimuan mereka, "Apakah anda lebih berilmu dari mereka?"
Ia melanjutkan, "Sebelum mengeluarkan fatwa tentang kesesatan Syiah, apakah menurut Bapak-bapak tidak perlu mengkaji fatwa para ulama internasional itu, apalagi menyetujuinya, karena mereka tidak lebih alim dari Bapak-bapak?"
Tokoh Syiah dari Bandung tersebut terus melanjutkan, "Cukupkah bagi Bapak-bapak mengumpulkan anggota-anggota MUI se-Jatim plus beberapa orang ulama dari MUI Pusat, lalu mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat? Apakah para ulama di MUI Sampang dan para ulama MUI Jatim yang berkumpul di Surabaya itu memang lebih berilmu ketimbang ulama internasional yang berkumpul di Amman, Makkah dan Bogor?"
Padahal yang perlu dipertanyakan apakah sikap ulama-ulama di MUI itu berbeda dengan sikap ulama-ulama yang berkumpul di Amman, Makkah dan Bogor?, sebagai contoh, Prof. Dr. Yusuf Qardhawi yang merupakan ulama rujukan dalam mendeklarasikan Risalah Amman memfatwakan bahwa Syiah memang berbeda dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam persoalan-persoalan pokok bukan furu' (Baca Fataawa Mu'ashirah, Fatwa-fatwa Kontemporer), sehingga ulama mu'tabar dari dulu semisal Imam Malik, Imam Bukhari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ulama masa kini seperti Syekh Yusuf Qardhawi dan ulama-ulama yang berada dalam Majelis Ulama Indonesia dan sampai hari kiamat akan berpendapat sama dalam masalah Syiah, yaitu sesat.

Begitulah pasangan romantis ini merendahkan Majelis Ulama Indonesia. Pasangan yang kini menjadi Ustadz serta Ustadzah Syiah nomor wahid di Indonesia. Bahkan ulama rujukan mereka. (Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More