Buku MUI Tentang Kesesatan Syiah Harus Diperbanyak

http://bahterailmu.files.wordpress.com/2013/11/formas.jpg
BUKU saku setebal 152 halaman ini ditulis oleh Tim Penulis MUI Pusat yang di dalamnya terdiri dari Tim Pengarah, Pelaksana dan Pembaca Ahli, dan disusun berdasarkan referensi primer dan data yang valid, serta data yang dapat diketahui dari aktifitas Syiah di Indonesia.
Buku ini dilengkapi pula pernyataan Ulama-Ulama Besar Indonesia, di antaranya: Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari (1875-1947), Rais Akbar Nahdlatul Ulama dan Pahlawan Nasional; Prof. DR. HAMKA (1908-1981), Pahlawan Nasional, Tokoh Muhammadiyah dan Ketua Umum MUI Pusat periode 1975-1980; DR. Muhammad Natsir (1908-1994), Pahlawan Nasional, Mantan Perdana Menteri RI dan Pendiri Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII); dan K.H. Hasan Basri (1920-1998), Ketua Umum MUI Pusat periode 1985-1998.
Terbitnya buku saku ini dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi ummat Islam Indonesia dalam mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syiah, sekalligus sebagai “Bayan” resmi MUI dengan tujuan agar ummat Islam tidak terpengaruh oleh faham syiah dan dapat terhindar dari bahaya yang akan mengganggu stablitas dan keutuhan NKRI.
Dalam kata sambutannya, Dewan Pimpinan MUI menyatakan, buku panduan ini hadir sebagai jawaban dari permintaan lapisan ummat Islam di Indonesia yang memohon kejelasan sikap MUI tentang Faham Syiah yang belakangan mencuat lagi ke permukaan dalam skala nasional.
Sebenarnya, MUI sudah sejak lama memiliki panduan bagi ummat Islam dalam menyikapi faham Syiah di Indonesia baik melalui Rekomendasi Fatwa tentang Faham Syiah tahun 1984, Ijtima’ Ulama Indonesia tahun 2006, maupun melalui Forum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) MUI tahun 2007 yang mengeluarkan ketetapan 10 kriteriia pedoman penetapan aliran sesat.
Dalam kata akhir sambutannya, Dewan Pimpinan MUI di antaranya berharap, semoga buku panduan ini dapat membimbing ummat Islam di Indonesia dalam menyikapi suatu aliran dan faham keagamaan, agar terhindar dari upaya talbis (pencampuradukan) yang hak dan batil.
Dijelaskan dalam kata Pendahuluan, bahwa hadirnya buku ini sebagian merupakan penjelasan teknis dan rinci dari rekomendasi Rakernas MUI, Jumadil Akhir 1404H/Maret 1984 bahwa Faham Syiah mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan fatwa MUI, 22 Jumadil Akhir 1418H/25 Oktober 1997 tentang Nikah Mut’ah.
Walaupun buku ini tidak tersusun dari bab ke bab, namun secara garis besar buku panduan ini dapat mudah dibaca di antaranya memuat tentang sejarah Syiah, penyimpangan, pergerakan dan metode penyebaran Syiah di Indoneesia, serta sikap tegas MUI sendiri terhadap Syiah.
Tentang sejarah Syiah, dikemukakan bagaimana latar belakang pertumbbuhan dan perkembangannya sampai saat ini, khususnya yang terkait dengan Syiah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyyah atau Rafidhah yang mengatasnamakan Mazhab Ja’fariyah dan Mazhab Ahlul Bait (versi mereka), sebagaimana yang ada di Indonesia (halaman 21-44).
Tentang penyimpangan Syiah, dijelaskan apa saja yang dinilai oleh MUI menyimpang yang meyalahi aqidah dan syariah berdasarkan dalil naqli (Al Qur’an dan Hadits Nabi Saw), pandangan Jumhur ulama, dan kriteria yang telah ditetapkan oleh Rakernas MUI dan semua keputusan fatwa, rekomendasi dan hasil-hasil Munas Ulama dan Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI. Paling tidak, ada “Lima” penyimpangan Syiah yang diungkap dalam buku ini (Halaman 45-80).
Tentang pergerakan Syiah, dipaparkan temuan dari beberapa referensi dan fakta di lapangan, khususnya yang terkait dengan Syiah Rafidhah atau Syiah Imamiyyah di Indonesia, berikut problem sosial yang ditimbulkannya. Selain itu, dipaparkan pula tentang pola penyebaran dan dakwah Syiah dengan berdirinya berbagai organisasi, lembaga, penerbitan, dan perpustakaan-perpustakaan, sebagaimana yang didirikan di beberapa Perguruan Tinggi Islam (halaman 89-95).
Sebelum bagian akhir buku ini, sidang pembaca dapat menyimak bagaimana sikap tegas MUI dalam soal aqidah dan syariat yang menunjukkan perhatian yang mendalam dari MUI terhadap problematika keumatan yang harus segera diatasi dengan baik (Halaman 117-131).
Di bagian penutup buku ini dilampirkan Fatwa dan pernyataan ulama Indonesia tentang hakikat dan bahaya Syiah, di antaranya pernyataan: Syaikh Hasyim Asy’ari, Prof. DR. HAMKA, DR. Muhammad Natsir, dan K.H. Hasan Basri (halaman 133-143)
Ada “keunikan” dengan terbitnya buku ini. Uniknya di sampul buku bagian depan sebelah kira bawah tertulis: “Tidak Diperjualbelikan”. Tulisan, “Tidak Diperjualbelikan”, bisa saja mengandung pertanyaan. Pertanyaannya, apakah MUI tidak sedang mengajak atau memprovokasi dalam jalan dakwah bagi para aghniya, pengurus Dewan Kemakmuran Masjid atau para pengurus majelis-majelis ta’lim untuk cerdas menangkap ajakan untuk ikut menyebarkan sekaligus memperbanyak buku ini? Karena di sampul bagian dalam tertulis: “Dilarang memperbanyak isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit”, artinya selama ada izin dari penerbit maka buku ini bisa diperbanyak.
Peluang raih pahala bagi para aghniya atau siapa saja untuk menginfakkan sebagian hartanya untuk mencetak, memperbanyak, dan membagikan secara gratis buku ini kepada ummat. Karena buku ini layak dibaca, disimak dan dihayati ummat Islam yang pada gilirannya diharapkan ummat Islam memiliki keyakinan bahwa Syiah bukan Islam.
Tardjono Abu Muas
Ketua Divisi Syakhshiyyah Islamiyyah Forum Ulama dan Umat Indonesia

1 komentar:

Kami juga akan memperbanyak dan membagikan bagikan secara gratis kepada umat Muslim TANGGAPAN atas buku tersebut sebagaimana yang ditulis oleh Saudara Candiki Repantu di LPPIMakassar.net. Hal ini agar para pembaca memperoleh informasi yang berimbang dan dapat memutuskan dengan adil suatu kebenaran

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More