Syiah dalam Pandangan Prof. Rasjidi (4-Selesai)

Artikel sebelumnya:
Resensi keempat dan terakhir dari buku "Apa Itu Syiah" karya Prof. Dr. H.M. Rasjidi akan mempreteli kesesatan Syiah dari segi syariat. Sebagaimana rentetan resensi sebelumnya (Syiah dalam Pandangan Prof. Rasjidi, 1,2,3)  yang telah menguak dengan sempurna kesesatan Syiah dari segi akidah. Dengan kata lain, bagian ini sebagai suplemen penyempurna kesesatan agama—yang dalam istilah Prof Rasjidi berarti sempalan—Syiah.
Prof. Rasjidi memulai pembahsannya dengan menekankan bahwa dalam teori pengambilan hukum fikih, Syiah ada kesamaan dengan Ahlussunnah yaitu sama-sama bersandar pada Al-Qur'an dan sunnah Nabi. Akan tetapi dalam prakteknya, seringkali barlainan karena beberapa sebab : (1) Yang dikatakan ushul dan furu' oleh Ahlussunnah berbeda dengan Syiah. Penyebabnya, karena perbedaan akidah antara Ahlussunnah dan Syiah yang akan berinplikasi pada metodologi pengambilan, hingga produk hukum; (2) Karena para ahli fikih Syiah tidak boleh meriwayatkan hadis, bahkan berpendapat, kecuali hanya imam Syiah, atau rawi Syiah saja. Maka mereka pun mendasarkan hukum-hukum syara' atas dasar tafsir Al-Qur'an menurut Syiah, dan hadis-hadis menurut riwayat mereka. Hal ini, tentu saja mengakibatkan kesempitan legislasi dan keharusan menyalahi hukum-hukum Ahlussunnah; (3) Ahli fikih Syiah tidak menerima ijma' umum sebagai dasar legislasi, karena hal tersebut menerima pendapat orang-orang bukan Syiah. Fuqaha Syiah juga menentang qiyas karena qiyas adalah pendapat, padahal agama ini bukan pendapat dan harus diambil dari Allah, Rasul, dan imam-imam yang makshum. Karena mereka menganggap bahwa imam-imam itu maskshum maka, kata-kata para imam tersebut dianggap sebagai nash-nash yang tak mungkin dibantah, (hlm. 41-42).
Prof. Rasjidi lalu mencotohkan salah satu bentuk fikih Syiah hasil produk olahan para imam makshum mereka, 'nikah mut'ah' yaitu perkawinan antara seorang wanita dengan maskawin tertentu dan waktu tertentu. Caranya, seorang pria berkata kepada seorang wanita, aku mengawinimu dengan maskawin Rp. 50.000.00,- untuk satu pekan. Nikah mut'ah--lanjut Prof. Rasjidi--tidak mengakibatkan warisan. Suami tidak mewarisi istri, dan begitu sebaliknya istri tidak mewarisi suami. Saksi juga tidak diperlukan, dan tidak perlu orang lain tau, dan tidak perlu ada talak, karena jika waktunya sudah habis dengan sendirinya hubungan perkawinan mut'ah itu jadi putus. Ada pun iddahnya, adalah dua kali haid bagi wanita yang haid, dan 45 hari bagi wanita yang tidak haid. Jumlah istri, menurut Syiah, juga tanpa batas, unlimited.
Dalam pengakuan Prof. Rasjidi, sebenarnya ia ingin menerangkan banyak hal tentang fikih Syiah, tapi tujuan utama penulisan buku ini hanyalah memaparkan perbedaan pokok Ahlussunnah dengan Syiah. Selanjutnya, Rasjidi menguraikan sejarah mut'ah, bahwa ulama Ahlussunnah, seperti Imam Muslim Muslim, Imam Ahmad bin Hambal, dan Abu Dawud, ketika Nabi Muhammad pada waktu perang, mengambil alih kota Mekah mengizinkan nikah mut'ah. Tetapi setelah itu beliau melarangnya. Khalifah Umar melarang keras nikah mut'ah dengan menghukum pelaku mut’ah sebagai orang melakukan zina (43).
Yang menarik, tulis Rasjidi, bahwa Al-Kulaini yang digambarkan sebagai Bukhari-nya kaum Syiah mengatakan bahwa Imam Baqir--imam Syiah keenam--menjawab pertanyaan seorang tentang nikah mut'ah, nikah mut'ah itu dihalalkan Allah dalam Al-Qur'an dan sunnah, tersebut dalam ayat, famastamta'tum bihi minhunna faatuhunna ujurahunna. Karena apa yang kalian nikmati dari wanita-wanita itu, maka berilah mereka itu upahnya, (QS. An-Nisa: 24).
Berdasarkan ayat--yang diperkosa--oleh Al-Kulaini di atas, sehingga ia berkesimpulan, maka nikah mut'ah hukumnya halal sampai hari kiamat. Orang itu bertanya lagi, wahai Imam, apakah Tuhanku mengatakan begitu padahal Khalifah Umar telah melarangnya. Ia menjawab, Walaupun orang itu berkata lagi, aku mohon perlindungan Allah bagimu, janganlah menghalalkan sesuatu yang sudah diharamkan oleh Umar. Imam Baqir kemudian berkata, engkau mengikuti kata sahabatmu (Umar bin Khattab), dan aku mengikuti sabda Rasulullah. Mari kita bermuala'anah--masing-masing melaknat lainnya--bahwa yang benar adalah sabda Nabi dan yang salah adalah kata sahabatmu. Pada waktu perdebatan itu berlangsung, datanglah Abdullah Al-Laitsi dan berkata kepada Imam Baqir, apakah tuanku Imam berkenan jika keluarga-keluarga wanita tuanku, putri-putri dan saudari-saudari atau saudari sepupu tuanku melakukan mut'ah? Imam Baqir diam tak berkata-kata, (hlm. 44).
Demikianlah salah satu kekonyolan Syiah, yang sampai hari ini terus dipelihara, bahkan menjadi propoganda bagi para penyembah hawa nafsu yang sekaligus sebagai junudu iblîsi, laskar-laskar iblis, ikhwân as-syayâthîn, para konco-konco setan, dan segenap kekasih setan dari sekte Syiah. Kenyataan bahwa mut'ah kian marak dan tak terbendung tidak bisa disangkal oleh siapa pun—termasuk di Makassar kian marak—dan ini akan merusak tatanan kehidupan yang melebur dan meliburkan nilai-nilai kesakralan pernikahan, baik dalam pandangan agama maupun budaya, terutama budaya Bugis yang sangat memelihara kehormatan dan kamulian pernikahan. Dalam mut’ah, sakralitas pernikahan telah direduksi dengan dalih dan dalil agama. Sungguh sebuah kebiadaban dalam peradaban.
Kesimpulan
Buku mungil ini, diakhiri dengan kesimpulan dari penulisnya. Kita bangsa Indonesia diberi anugrah besar dan petunjuk yang benar berupa agama Islam oleh Allah Pencipta langit. Kita bersyukur bahwa Islam yang kita peluk adalah Islam Ahlussunnah yang berdasarkan Al-Qur'an yang ada dan satu-satunya yang ada serta hadis-hadis yang diselidiki, disaring, dan diperinci oleh para ahli hadis dari Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasa'i, Turmidzi, hingga Ibnu Madjah. Sejarah Islam yang kita ketahui dan yakini adalah sejarah yang ditulis oleh para ahli berdasarkan kepada riwayat-riwayat ahli hadis seperti Bukhari, Muslim dan lain-lainnya, dengan metode yang ilmiah dan kritis. Bahwa di antara para sahabat yang simpati kepada Ali ra dan keturunannya adalah sangat wajar, apalagi ketika terdapat kelompok yang terang-terangan melanggar ajaran Islam. Kita semua selalu merasa simpati kepada kelompok yang tertindas, akan tetapi simpati semacam itu ada batasnya. Kita tidak dapat memutarbalikkan cara berfikir yang sehat. Bahwa hak menjadi khalifah atau penguasa terbatas kepada anak cucu Nabi sampai generasi ke-12 dengan 12 orang imam, bahwa semuanya itu makshum, mereka mengetahui yang ghaib, semuanya itu adalah akidah yang tidak benar. Bahwa Nabi Muhammad telah berwasiat agar nanti jabatannya sebagai kepala negara hendaknya diteruskan oleh Ali adalah asumsi sepihak. Jika asumsi itu benar, niscaya para sahabat mengetahuinya, (hlm. 46).
Kemudian, di antara umat Islam terdapat kelompok yang sangat kecil merasa diri mereka lebih tinggi daripada umat Islam lainnya sehingga umat Islam harus menghormati mereka adalah tidak benar. Kita, umat Islam saling menghormati antara yang satu terhadap yang lain. Tetapi dasarnya adalah nilai-nilai yang tinggi, yaitu budi pekerti, dan sama sekali bukan keturunan. Soal keturunan itu harus dikesampingkan.
Prof. Rasjidi menceritakan bahwa dirinya telah sering berjumpa dengan orang-orang yang terkenal sebagai keturunan Nabi (Ahlul Bait) seperti Sayyid Rasyid Ridha, murid Syeikh Muhammad Abduh; Amin Al-Huseini, Mufti Palestina, mereka ini adalah keturunan Imam Husein ra., tetapi mereka tidak pernah menonjolkan bahwa mereka adalah keturunan Ahlul Bait dan manusia paling sakral. Bahkan belum lama ini--tulis Prof. Rasjidi--saya bertemu di suatu negara Arab, seorang pemimpin Iran yang bersorban hitam, dengan bergurau pada saya, beliau berkata, saya dianggap orang sebagai keturunan Nabi. Saya sendiri tidak tau.

Sayangnya para sekte Syiah terlalu mengagungkan yang mereka anggap sebagai keturunan Ahlul Bait, pada dasarnya, tidak jelas, terutama para pemimpin spritual sekte Syiah di Iran, apakah mereka itu benar-benar keturunan Ahlul Bait atau bukan. Sungguh sebuah ironi, yang lebih tololnya lagi, Syiah latah imam gharar ini kian berkembang di Indonesia, termasuk Makassar, pengikutnya adalah golongan tolol yang tidak sadar akan ketololannya, la yadri annahu la yadri.
Buku sederhana namun padat dan ringkas karya Prof. Dr. H.M. Rasjidi "Apa Itu Syiah, Cetakan Jakarta, Media Dakwah, 1994" ini, dilengkapi dengan Surat Edaran Departemen Agama RI No. D/BA.01/4865/1983. Tanggal 5 Desember 1983. Tentang HAl Ihwal Mengenai Golongan Syiah, yang salah satu poin tertulis, “Syiah Imamiah tidak sesuai dan bahkan bertentangan dengan ajaran Islam sesungguhnya”. Sebagaimana diketahui, Syiah jenis Imamiah ini adalah anutan resmi negara Iran yang menjadi komoditi ekspor nomor wahid mereka ke nagara-nagara lain, termasuk Indonesia. Selain itu, Prof. Rasjidi juga membuat Bagan Perbandingan, agar memperoleh gambaran yang jelas berupa daftar perbedaan faham Syiah dan faham Ahlussunnah, sebagai contoh, Kedudukan Ali ra. Menurut Ahlussunnah : Sebagai Khalifah ke-4 dan termasuk salah satu dari Khulafaur Rasyidin. Ada pun menurut Syah: Sebagai imam yang makshum, yaitu terjaga dari salah dan dosa dan, memiliki sifat-sifat ketuhanan, dan mempunyai kedudukan di atas manusia, daftarnya lumayan panjang.
Penutup
Wal akhir, buku kecil ini sangat bermanfaat untuk dijadikan pedoman dan referensi akan kesesatan Syiah. Untuk itu, saya anjurkan agar dimiliki, dan layak dijadikan kado atau hadiah kepada kerabat, teman, dan handai taulan. Insya Allah akan menjadi amal jariah, sebuah saham yang terus mengalir pada empunya walau telah terkubur jasadnya di dalam tanah. Ada pun penulisnya, mengambil pandangan Nurcholis Madjid, yang menyatakan dalam "Profil Para Menteri Agama" bahwa Prof. Rasjidi dikenal dan dikenang oleh bangsa Indonesia karena tiga perkara, (1) Sumbangsihnya pada perjuangan dan kemerdekaan RI; (2) Peletak dasar Kementian agama RI; dan (3) Ulama, cendekiawan, dan akademisi pertama yang menggabungkan pendidikan Timur Tengah dan Barar--lulusan pertama Al-Azahar, lalu S2 di Sorbone Prancis dan S3 di Mc.Gill University Canada. Tapi analisis Nurcholis di atas, bagi saya masih kurang, harus ditambah dua lagi (1) Jasa-jasa Rasjidi dalam melawan arus sekularisme yang dipelopori oleh Nurcholis Madjid  sendiri melalui jaringan aktifis kampus, dalam hal ini HMI, dan Prof. Harun Nasution yang menjadi pengusung dan pengasong liberalisme lewat lembaga pendidikan tinggi, dalam hal ini IAIN-UIN di seluruh Indonesia, dan (2) Ide briliannya yang menyuguhkan kesesatan Syiah kepada bangsa Indonesia yang saat itu masih dianggap tabu karena belum terlihat penganut Syiah di Indonesia secara kelembagaan sebagaimana sekarang ini, bahkan masa itu para aktivis keranjingan mengimpor ide-ide revolusi ala Khomeini di Iran. Namun justru Rasjidi melahirlan karya yang sangat berharga, dan bermanfaat ini. Tidak berlebihan jika saya katakana, cukuplah buku ini menjadi hujah dan pelebur dosa bagi Prof. Rasjidi di hadapan Allah kelak sekaligus sebagai syafaat baginya di hari kemudian. Inilah salah satu keutamaan menulis, walau penulisnya telah lama wafat, tapi goresan tintanya tetap berkata-kata, aktual, terpercaya, dan membawa pencerahan. Wallahu A'lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More