Menyingkirkan Konsistensi Penyesatan Ismail Amin (3)

Gharar adalah istilah yang pada awalnya diguna-pakai dalam transaksi ekonomi atau bisnis, lebih khusus dalam bidang perdagangan, tepatnya jual-beli. Makna sebenar kata gharar adalah al-khathr, pertaruhan. Ibnu Taimiyyah menyatakan, gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul al-‘aqibah). Menurut Syaikh as-Sa’di, gharar adalah al-mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak-jelasan) dan masuk dalam kategori perjudian. Maka, dapat diambil pengertian, yang dimaksud jual beli gharar adalah semua jual beli yang mengandung ketidakjelasan, pertaruhan, atau perjudian. Gharar secara bahasa berarti khatar (resiko, berbahaya), dan tahgrir berarti melibatkan diri dalam sesuatu yang gharar. Dikatakan gharrara binafsihi wa malihi taghriran berarti ‘aradahuma lilhalakah min ghairi an ya’rif, jika seseorang melibatkan diri dan hartanya dalam wilayah gharar maka itu berarti keduanya telah dihadapkan kepada suatu kebinasaan yang tidak diketahui olehnya.
Lafaz gharar dari segi tata bahasa merupakan isim (kata benda). Gharar dibatasi dengan sesuatu yang majhul (tidak diketahui), dan tidak termasuk di dalamnya unsur keraguan dalam pencapaiannya. Definisi ini adalah pendapat murni mazhab Dhahiri. Ibn Hazm mengatakan bahwa unsur gharar dalam transaksi bisnis jual beli adalah sesuatu yang tidak diketahui oleh pembeli apa yang ia beli dan penjual apa yang ia jual. Kombinasi antar kedua pendapat tersebut di atas, yaitu gharar meliputi dalam hal yang tidak diketahui pencapaiannya dan juga atas sesuatu yang majhul. Contoh dari definisi ini adalah yang dipaparkan oleh Imam Sarkhasi, Gharar adalah sesuatu yang akibatnya tidak dapat diprediksi. Ini adalah pendapat mayoritas ulama fikih. Termasuk dalam jenis ini adalah menjual ikan dalam tambak, buah-buahan yang masih di pohon, burung di udara, kacang dalam tanah, ternak dalam janin, dst., (baca misalnya, Syauqi Dhoif et. al., ‘Mu’jam Al-Washith’; Ibnu Taimiyah ‘Majmu’ Fatwa’; Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di ‘Bahjah Qulub Al-Abrar wa Qurratu Uyuuni Al-Akhyaar Fi Syarhi Jawaami Al-Akhbaar’). Lha, apa hubungannya dengan tulisan? Kita liat!

Sebagaimana uraian di atas, gharar adalah majhul atau tidak jelas, orang pondok menyebutnya, la yajlas. Dengan muda dapat diaplikasikan dalam dunia tulis menulis, khususnya karya ilmiah, tak terkecuali karya ilmiah populer yang disebut juga opini. Bahwa semua tulisan yang tidak jelas makna, cara, dan metode serta metodologi penulisannya adalah bagian dari tulisan gharar, dan penulis yang tidak diketahui siapa orangnya juga menjadi gharar, dan lembaga yang tidak jelas keberadaannya pasti gharar tidak terkecuali lppimakassar.net yang gadungan itu.
Berikut contoh tulisan gharar karya Ismail non Al-Amin di Harian Tribun Timur, 25 Januari 2013. “Menurut hemat kami, usaha terbaik Anda adalah membagi-bagikan harta baitul mal kepada para pemimpin, pembesar dan sanak keluarga. Dengan begitu, niscaya mereka tidak akan menentang Anda.” Imam Ali As menjawab, “Apakah kalian berharap orang yang seperti aku ini akan memperkokoh sendi-sendi pemerintahan dengan kezaliman dan penindasan? Aku menerima kepemimpinan ini justru kumaksudkan untuk menyapu bersih ketidakadilan!”. Dialog ini dinukil oleh Prof Muhsin Qiraati dalam salah satu bukunya.”
Yang gharar di sini hanya lima kata yang saya bagi menjadi dua. Pertama tulisan ‘As’ dan yang kedua ‘dalam salah satu bukunya’. Kata ‘As’ jika diartikan dengan Alaihissalam maka dengan jelas dapat diketahui, Imam Ali dalam pandangan Ismail Amin adalah nabi atau rasul yang diangkat oleh orang Syiah, artinya mereka telah meyakini bahwa setelah Rasulullah Muhammad SAW wafat, masih ada bahkan banyak nabi yang terus bermunculan. Tapi bisa pula kata ‘As’ bermakna Amerika Syarikat (Melayu)-Serikat (Indonesia), atau bahkan kartu perdana telkomsel ‘As’. Entahlah mana yang benar, namanya saja gharar. 
Seorang penulis, baik itu peneliti, intelektual, ulama, dst., jika melakukan kesalahan dalam penulisan tanpa sengaja, adalah lumrah adanya, tanpa sengaja dimaksud adalah kekhilafan dan kealpaan, seperti salah dalam mengutip nama buku, penulis, halaman, perkataan, hingga kesalahan penulisan dalil seperti ayat atau hadis. Itu bisa diterima karena manusia tidak ada yang sempurna termasuk para ulama muktabar sekalipun. Bahkan pengalaman saya dalam mengedit beberapa tulisan guru besar juga tak terlepas dari kesalahan, begitu pula dalam penerjemahan, juga banyak penerjemah yang melakukan kesalahan tanpa sengaja. Yang fatal dan aib adalah jika melakukan kesalahan dengan sengaja seperti Jalaluddin Rakhmat dalam beberapa karyanya, termasuk "Al-Mushthafa". Ada lagi satu, yaitu kesalahan dalam metodologi penulisan, kata, “dalam salah satu bukunya”  adalah sangat tercela dalam dunia penelitian dan penulisan.
Ada beberapa cara mengutip pendapat para penulis dalam bentuk in note : menyebut seluruhnya secara lengkap, penulis, nama buku, cetakan, nama tempat, penerbit, tahun, dan halaman, (Ilham Kadir, Jejak Dakwah KH. Lanre Said, Ulama Pejuang dari DI/TII hingga Era Reformasi. Cetakan I; Jogjakarta: Aynat Publishing, 2010, halaman 10), atau cukup Penulis dan judul buku dan tahunnya, (Ilham Kadir, Jejak Dakwah KH. Lanre Said, 2010), atau hanya penulis dan bukunya (Ilham Kadir, Jejak Dakwah KH. Lanre Said), atau hanya penulis, tahun dan halamannya saja (Ilham Kadir, 2010: 10) bisa hanya cukup mangambil nama terakhirnya (Kadir, 2010: 10) atau (Kadir, 2010), dapat juga hanya menyebut kitabnya, jika telah jamak diketahui, seperti 'Shohih Bukhari-Muslim'--kedua kitab tersebut merujuk pada nama penulisnya--dan kitab-kitab muktabar lainnya, seperti Majmu' Fatawa yang merujuk pada Ibnu Taimiyah, dan yang paling terakhir adalah cukup menyebut namanya saja, terutama jika pendapat yang dikutif itu sudah masyhur, seperti: pendapat Aristoteles yang mengatakan, saya mencintai guruku, tetapi saya lebih cinta pada kebenaran; atau perkataan I La Galigo, Sianre bale taue—laksana ikan makan ikan bagi masyarakat yang tak punya pemerintahan yang baik dan kuat; atau perkataan Syakib Arsalan, orang Barat maju karena meninggalkan kitab mereka (Bible), dan orang Islam mundur juga karena meninggalkan kitab mereka (Al-Qur'an); atau pernyataan Sukarno, Warisilah Islam dengan apinya, jangan dengan debunya; atau Al-Attas, istilah pendidikan yang paling tepat adalah ta'dib, karena ta'dib telah mencakup semuanya, baik rohani maupun jasmani, akal maupun jiwa, berbeda dengan tarbiyah yang lebih mengedepankan aspek fisik, bisa dikaitkan dengan hewan dan tanaman, atau benda mati lainnya; atau perkataan Ibnu Maskawaih yang menggunakan istilah tahdzib dalam pendidikan; atau perkataan Porf. Quraish Shihab, Sunni-Syiah berada pada jalan dan tujuan yang sama hanya beda kendaraan; hingga pernyataan saya, Sunni-Syiah ibarat minyak-air, keduanya walau benda cair tapi tidak akan mungkin bersatu, istilah ini pertama kali muncul ketika saya menulis artikel "Tragedi Sampang dan Polemik Sunni-Syiah", di harian Fajar Makassar lalu dicopi dan dimuat beberapa media cetak dan on line oleh grup Jawa Pos, hingga istilah itu dipakai pula oleh KH. Abdusshomad Buchori, Ketua MUI Jatim, dst.
Jadi, seorang penulis haruslah paham dan punya etika dalam mengutip pernyataan dan perkataan seseorang, dan tidak boleh mengatakan 'dalam salah satu bukunya', karena pembaca akan bertanya, bukunya yang mana, penulisan semacam ini masuk dalam teori 'gharar' alias 'la yajlas'. Semoga itu hanya kealpaan saudara Ismail Amin agar bisa diterima, namun jika memang ia sengaja, maka patutlah disebut sebagai 'penulis gharar'.
Dalil Palsu
Dalil-dalil dari Hadis yang ditulis oleh Ismail Amin banyak yang dipertanyakan keabsahannya, dan semestinya tidak layak dijadikan sandaran. Selain itu, yang bersangkutan juga serampangan dalam memahami makna sebuah hadis, khususnya dari sisi historitasnya. Di bawah ini, hanyalah contoh kecil akan kekeliruannya, yang semestinya tidak terjadi jika dirinya memiliki keilmuan dalam epistemologi hadis, sayangnya tidak.
Keluasan ilmu Imam Ali as tidak diragukan oleh siapapun, lewat sabdanya Rasul memuji, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya.” Sabda Nabi ini dibenarkan oleh para sahabat yang menyaksikan sendiri betapa Ali adalah satu-satunya orang sepeninggal Nabi yang menjadi rujukan dalam berbagai hal. Tulis Ismail Amin di Harian Tribun Timur, 25 Januari 2013.
Sejatinya, Hadis, “Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya” adalah hadis dhaif. Dijelaskan oleh Ibnul Jauzi bahwa seluruh jalan periwayatannya adalah palsu dan dusta. Imam Adz-Dzahabi mengatakan hadis itu palsu (at Talkhis ma’a al-Istidrak, jilid.III/137). Ahli hadis kontemporer, Syeikh Al-Bani mengatakan hadis itu palsu (Dhaif al-Jami al-Shaghir, Jilid II/13). Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika kota ilmu itu tidak memiliki banyak gerbang dan hanya memiliki satu gerbang serta ilmu itu tidak tersalurkan kecuali dari satu orang rusaklah Islam” (Minhaj as-Sunnah dan Majmu’ Fatawa, Jilid IV/410)
Masih di hari dan harian yang sama, ia juga mengutif sebuah hadis, “Sesungguhnya posisi Ali di sisiku sebagaimana posisi Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku” adalah hadis shahih, namun tidak menunjukkan bahwa Ali-lah satu-satunya pemegang wasiat, pemerintahan dan khilafah setelah wafatnya Rasulullah saw. 
Kronologi munculnya pujian Rasulullah saw. kepada Imam ra. adalah ketika beliau menugaskan Imam Ali sebagai orang yang memimpin Madinah ketika kaum Muslimin bersama Rasulullah SAW pergi ke medan Tabuk. Tidak tersisa di Madinah kecuali wanita, anak-anak dan yang memiliki udzur. Imam Ali segera menyusul pasukan yang sudah berjalan. Setelah berhasil menemui Rasulullah, Imam Ali bertanya, “Apakah Engkau meninggalkan aku bersama wanita dan anak-anak?”, Nabi saw. menjawab, “Tidak maukah kamu di sisiku sebagaimana posisi Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku.” (Shahih Bukhari, Ghazwah Tabuk, Kitab al-Maghazi).
Kurikulum
Dari nada penulisannya, 'santri yang pernah dihukum botak di Pesantren karena tindakan indisiplinernya', (lppimakassar.net), menunjukkan  bahwa seorang santri jika dibotak selama ia mondok adalah sebuah aib, bahkan memalukan.
Asumsi ini tidak saja keliru, tapi lugu dan konyol. Pendidikan dalam bentuk pondok pesantren sangat beda dengan pendidikan umum di luar. Ketika KH. Imam Zarkasyi rahimahullah, salah satu dari Trimurti (pendiri) Pondok Modern Darussalam Gontor pernah ditanya oleh seorang tamu yang berkunjung ke pondoknya, Sang Tamu meminta jenis kurikulum yang diajarkan di Gontor agar dapat diaplikasikan di sekolahnya. Pak Kiai yang akrab dengan Gurutta Lanre Said itu menyatakan bahwa seluruh apa yang ada di pondok, termasuk alat pendidikan, dan kehidupan santri selama 24 jam adalah bagian dari kurikulum dan, harap jangan disamakan dengan lembaga pendidikan umum milik pemerintah (baca misalnya, Mahlani, ‘KH. Imam Zarkasyi, Sintesa Pondok Modern Gontor’. Cetakan Makassar, 2011; Omar Mohammad Al-Taumi Al-Syaibani, Falsafah Al-Tarbiyah Al-Islamiyah. Bulan Bintang, Jakarta, 1979).
Mata pelajaran, hanyalah bagian kecil dari kurikulum pendidikan, di pondok, jangankan jadwal makan, jadwal buang hajat (berak) pun diatur, santri yang buang hajat bukan pada waktunya akan bermasalah. Seorang santri hanya mengucapkan kata iya', bahasa Bugis yang artinya 'Aku' selama tiga kali dalam seminggu akan dipelontos kepalanya, di pondok, berbahasa daerah adalah pelanggaran berat, yang mendapatkan sangsi berat, mulai dari sebatan, penggundulan, hingga pengusiran. Dan semua itu adalah bagian dari kurikulum yang mendatangkan pendidikan bagi santri itu sendiri, rekan-rekan sepondok, dan seluruh warga pondok. Tidak pernah ada santri yang tidak melanggar.
Selama saya mondok di Darul Huffadh Tuju-tuju sudah tidak terhitung berapakali saya disebat, baik oleh Gurutta Lanre Said, Petta Cinnong, hingga para asatidz, dan semua itu saya jalani dengan apa adanya, ada pelanggaran ada hukuman, demikian hukum alam berlaku di pondok. Akan aneh jika santri seperti saya dari pedalaman Bontocani-Bone yang berusia 13 tahun sampai 21 tahun hidup di pondok namun tidak pernah melanggar. Saya telah dibotak setidaknya dua kali, kali pertama karena terlambat pulang dari liburan Ramadhan, dan kali kedua sewaktu mengambil kopi panas untuk panitia ujian akhir tahun yang saya anggap juga punya hak karena kala itu santri kelas enam yang jumlahnya hanya tiga orang sudah terjun membantu panitia ujian dalam hal teknis, seperti mengatur bangku, ruangan, dst., kesalahan saya adalah mengambil air kopi di tengah jalan sebelum sampai ke kantor, andai saya ambil di kantor tentu ceritanya lain dan, jika itu dianggap sama Ismail Amin minus Al-Amin sebagai aib, maka saya anjurkan supaya membaca novel "Negeri Lima Menara" karya A. Fuadi, alumni Pondok Modern Gontor, di dalamnya terdapat cerita bagaimana Alif dan rekan-rekannya dibotak saat telah menjadi santri senior dan merasa telah berjasa di Pondok, begitu pula ketika pertama kali mondok dan dihukum dengan 'jewer berantai', dan macam-macam hukuman yang bentuknya sangat kreatif. 
Alkisah, suatu ketika, ada teman-teman kedapatan tertidur di serambi rumah penduduk. Paginya, diadakan perhimpunan seluruh santri di halaman pondok, mereka yang ketahuan tidur di luar asrama itu dipanggil satu per satu ke depan, lalu diambilkan meja, mereka naik di atasnya, dibotak, lalu tiba-tiba disimbah air bekas cucian dan disuruh mengangkat besi dan semen beton seberat 35 kg. tiap-tiap santri,  sambil dijemur selama setengah hari. Apakah itu aib? Tentu tidak, justru saat-saat itu, jika kami ketemu dengan teman-teman itu, yang kini, salah satunya menjadi pengelola taksi bandara Sulthan Hasanuddin Makassar dan anak mantan Pimpinan Muhammadiyah Bone, justru menjadi pembicaraan yang mengocok perut. Dan, kalau ternyata ada bekas santri yang masih beranggapan bahwa dibotak, atau bahkan diusir dari pondok adalah aib seumur hidup, maka santri tersebut tidak hanya jahil kuadrat tapi--meminjam istilah orang betawi--bego'nya kaga' ketulungan. Bahkan banyak santri yang diusir dari pondok namun setelah di luar justru berhasil berkembang. Tentu saja yang saya maksud mereka diusir bukan karena perbuatan terlarang dalam agama seperti pelanggaran dalam assab’ul mubiqaat—kafir, fasik, syirik, membunuh, durhaka kepada kedua orang tua, dan zina. Emha Ainun Najib dan Prof. Abdurrahman Basalamah hanyalah dua di antaranya yang karena satu dan lain hal dikeluarkan dari Pondok Modern Gontor. Tulisan-tulisan tentang kehidupan di pondok sudah saya tuangkan dalam novel trilogi "Petuah Panrita" yang kelak bisa diakses secara massal.
Secara subjektif maupun objektif, orang-orang Syiah semacam Ismail Amin ini sudah snewen dan kehilangan akal untuk menghadapi saya yang gencar mempreteli kesesatannya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, dari A sampai Z, bukan masalah saya pernah dibotak karena melanggar di Pondok. Sebab, ditinjau dari segi mana pun saya memiliki prestasi yang sulit bahkan tidak akan pernah disamai oleh para generasi pelanjut. Saya ambil dari sisi bahasa saja, karena memang salah satu sisi keunggulan Pesantren Tuju-tuju adalah penguasaan bahasa Arab-Inggris—sebagaimana lazimnya pondok alumni Gontor—selain hafalan Al-Qur'an. Tahun ajaran 1992/93, saya dan beberapa teman-teman pilihan lainnya sebagai peserta pertama dalam sejarah pondok sebagai santri yang ikut perlombaan 'musabaqatul fawazir' alias lomba cerdas cermat berbahasa Arab diikuti beberapa pekan selanjutnya dalam lomba khitabah al-mimbariyah, atau lomba pidato dalam bahasa Arab, saya termasuk sebagai salah satu pemenang, dan ketika duduk di kelas V Kulliatul Muallimin al-Islamiyah (KMI) saya menjabat sebagai Ketua Bagian Penggerak Bahasa dan Penerangan qism tahriku al-llighah wal I'lan dalam Organisasi Santri Pondok Pesantren Darul Huffadh.
Bagian ini yang mengontrol bahasa segenap santri, dan saya pula yang pertama-tama tampil kedepan seluruh santri dan guru-guru serta jamaah untuk membacakan 'I'lan' dalam bahasa Arab dan Inggris, dan puncaknya, ketika lulus sebagai alumni, tidak ada guru dari Gontor yang mampu mengajar—karena mayoritas sudah pulang atau lanjut kuliah—mata  pelajaran Al-Balaghoh Al-Wadhihah karena buku yang diajarkan semasa di KMI Gontor berbeda dengan Tuju-tuju, oleh itulah seluruh guru sepakat menunjuk saya sebagai pengganti--kini mata pelajaran itu tetap ada tetapi buku yang berbeda, bahkan saat itu,  saya turut ditunjuk jadi wali kelas V karena pertimbangan bahasa Arab dan Inggris yang saya miliki dipandang bagus. Ini sekaligus menjawab pernyataan Ismail Amin yang pernah meragukan kemampuan bahasa Arab saya, dan menantang dirinya untuk melakukan debat terbuka dengan menggunakan bahasa Arab, walaupun dirinya produk Iran sementara saya hanya produk nusantara, dan hanya pernah menjadi jurnalis dan interpreter Arab-Inggris, atau pernah menjadi penerjemah dan editor di Penerbit Darul-Haq Jakarta serta hanya pernah menang lomba menerjemahkan artikel bahasa Arab yang diadakan oleh Ma'had Al-Birr-Unismuh Makassar.
Akidah Akhlak
Tahun lalu (2013), saya dengan Ismail Amin dalam sebuah diskusi ringan di wall facebook—jika yang bersangkutan ingkar, saya siap bermubahalah alias sumpah —kala itu ia mengatakan, “tidak ada hubungan antara akhlak dan akidah”. Pernyataan ini disampaikan dalam keadaan siuman, tidak gila dan tidak pula pingsan, dan yang bersangkutan belum pikun. Pendapat ini, tidak hanya keliru, tetapi jahil murakkab, sesat, dan menyesatkan. Ketika penulis duduk di kelas 2 Sekolah Dasar (SD) 288 Watangcani, saya masih ingat keterangan guru agama kala itu, bahwa Islam itu datang dengan membawa tiga ajaran pokok, akidah, syariah, dan akhlak. Terkait akhlak, guru agama yang beranama Hj. Siti Zaurah itu,  menyampaikan sebuah hadis, innama bu'iitstu liutammima makarimal akhlak, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia. Dalam perjalanannya, selama belajar, baik di pesantren maupun di bangku kuliah, dalam maupun luar negeri,  juga mendapati hal yang sama dengan penjabaran yang lebih luas, akhlak misalnya, bagi sebagian ulama maupun ilmuan memasukkan tasawuf ke dalamnya, artinya ajaran tasawuf yang mengedepankan tazkiyatun-nafs adalah bagian dari akhlak karena terdapat banyak ajaran-ajaran yang berkaitan dengan akhlak mulia, seperti ikhlas beramal, mengedepankan kepentingan orang banyak, sederhana dalam berbagai hal, budaya zuhud dan nihil tamak, murah hati, cinta berjuang dalam menegakkan kalimat tauhid, dst., semua itu adalah sifat terpuji, mahmudah dalam ajaran Islam, sebagaimana kita diwajibkan meninggalkan hal-hal yang tercela, seperti berdusta, khianat, zalim, jahil, dst. Begitu pula akidah dan syariat, kendati kadang istilahnya berbeda namun tetap pada subtansi utamanya. Keterikatan antara akidah dan akhlak dalam kurikulum pendidikan agama Islam, tercermin dalam buku ajar “Akidah Akhlak” yang diajarkan pada tingkat dasar, menengah pertama dan atas di lembaga pendidikan negeri maupun swasta.
Akidah misalnya, terdapat penjabaran di dalamnya tentang makna syahadatain, rukun-rukun Islam lainnya serta rukun-rukun Iman, yang sama sekali tidak bisa dilepaskan dengan akhlak. Seorang yang beriman adalah yang memuliakan tamu atau tetangga, di dalamnya telah mencakup ajaran akidah dan akhlak. Iman adalah akidah dan memuliakan tamu dan tetangga adalah akhlak. Bahkan Syed Husain Nasr intelektual Syiah moderat, menegaskan bahwa roh islamisasi itu terletak pada tasawuf yang terkait dengan akhlak (Ensiklopedi Islam, Suplemen II, 2003), bahkan Vali Nasr, anak dari Hosein Nasr dalam “The Shia Revival: How Conflicts Within Islam Will Shape the Future, 2006” menegaskan jika seandainya ingin mencari titik temu antara Sunni dan Syiah masuklah dalam ranah tasawuf, karena baik Syiah maupun Sunni yang sama-sama bertasawuf akan menemukan titik temu. Pendapat ini bisa diterima, karena akhlak memang hanya terbagi dua mazmumah dan mahmudah, terpuji dan tercela, kalau sama-sama terpuji maka disitulah titik temunya. Ada pun syariah dan akidah, maka pembahasannya akan mengarah pada sesat-selamat, halal-haram. Bagi sunni alias Ahlussunnah, Syiah jelas sesat dan menyesatkan jika ditinjau dari segi akidah, Syariat juga demikian, halalnya mut'ah bagi golongan Syiah lalu dipandang sebagai zina bagi Ahlussunnah adalah dua kutub yang bertentangan.
Baru-baru ini, saya ditugaskan oleh Ketua Komisi Komunikasi dan Informasi MUI Sulsel untuk meliput acara seminar nasional yang diadakan oleh MUI Sulsel bekerjasama dengan UMI Makassar dengan tema Revitalisasi Peran Ulama dan Zuama dalam Pemberdayaan Umat dan Tudang Sipulung akhir tahun 2013 dirangkaikan dengan Pengukuhan Lulusan Pendidikan Kader Ulama (PKU) angkatan XVI tahun 2013, tanggal 26 Desember. Dalam acara seminar di atas, salah satu narasumber adalah Prof. Dr. Umar Shihab yang tema pembahasannya 'Penguatan Akhlak Sebagai Pilar Pembangunan Umat', kakak kandung Prof. Quraish Shihab itu menegaskan, berbicara masalah akhlak maka harus berhubungan dengan Islam, karena Islam tidak bisa dipisahkan dengan akhlak, selain akidah dan syariat, (baca, Peran Ulama dan Zuama dalam Pemberdayaan Umat), sengaja saya kutif perkataan Prof Umar Shihab, karena pendapatnya kerap menjadi dalil bagi pengikut Syiah Indonesia.
Maka, patutlah saya bertanya, apa sebenarnya yang dipelajari saudara Ismail Amin yang sudah bertahun-tahun di negara para Ayatollah itu, padahal konon dirinya belajar di Mostafa International University Iran, tetapi sayangnya pengetahuan keislamannya lebih rendah dari anak kelas 2 SD. Ataukah ia hanya kuliah di Universitas La Pangkong (fiktif?). Wallahu A'lam!
(Ilham Kadir/lppimakassar.com)

2 komentar:

1. Dapatkah Anda memberi bukti dari Alquran dan hadis bahwa jika ilmu tidak tersalurkan kecuali dari satu orang maka Islam akan rusak?
2. Jika kronologi hadis tentang posisi Imam Ali sebagaimana posisi Harun bagi Musa sebagaimana yang Anda jelaskan.Lantas mengapa Rasul tidak memilih sahabat yang lain dalam memimpin penduduk Madinah? padahal Imam Ali sangat terkenal dan ditakuti musuh dalam setiap peperangan.

1. Semua Nabi ditemani oleh sahabat-sahabat setia mereka yang begitu banyak.

وكأين من نبي قاتل معه ربيون كثير فما وهنوا لما أصابهم في سبيل الله وما ضعفوا وما استكانوا والله يحب الصابرين

(QS. Ali Imran: 146)

semua Nabi ditemani oleh para Hawariyyun. Termasuk Nabi Isa alaihis salam. terlebih lagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللّهِ آمَنَّا بِاللّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

(QS. Ali Imran: 52)

Jika hanya satu orang yang bertanggung jawab menyebarkan Islam setelah wafatnya Nabi, alangkah GAGALnya Muhammad sebagai Nabi dan utusan Allah yang mengemban risalah agung yang mengeluarkan begitu banyak manusia dari kegelapan menuju cahaya. Tentu itu tdak mungkin terjadi pada Nabi kita tercinta.

2. Bukan hanya Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu saja yang pernah menggantikan Nabi memimpin Madinah di saat beliau keluar memimpin ekspedisi perang. banyak sahabat lain yang Rasulullah tugaskan untuk memimpin Madinah. Sebut saja Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu anhu. dan masih banyak lagi lainnya.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More