Menjungkalkan Konsistensi Penyesatan Ismail Amin (1)

Jika saja jaman bisa berkata-kata, maka ia akan mengakui dirinya bahwa inilah jaman yang paling menantang dan menentang. Keadaan umat Islam saat ini benar-benar penuh dengan fitnah, layaklah dijuluki sebagai ‘ahdul-fitan’. Jaman ini menjadi saksi akan keperkasaan dan kebiadaban bangsa Yahudi, yang menjajah dan menawan umat Islam di semua lini. Dari perkara besar hingga hal yang paling remeh, dari sistem pemerintahan (politik), pertahanan, hukum, pendidikan, ekonomi, kesehatan, transportasi, informasi, daftarnya terus bertambah.
Bahkan hal-hal yang tidak masuk akal, seperti bulu-kuas cat, yang kerap diguna-pakai para ibu-ibu untuk bikin kue, atau para koki restoran dalam membumbui ikan bakar dan satenya, ternyata terbuat dari bulu babi. Padahal, terkait dengan makanan, diharamkan menggunakan alat-alat yang bersumber dari barang yang jelas-jelas keharamannya, seperti babi (khinzir).
Era ini juga menjadi saksi bisu, bagaimana umat Islam tersungkur dan tersingkir satu per satu dari pentas kekuatan dunia, ketika presiden Mesir Mohammad Morsi yang berdarah Ikhwanul Muslimin itu, dijungkalkan dari kursinya melalui beragam konspirasi dan telah mendatangkan bala’ yang lebih besar, tak satu pun kekuatan umat yang bisa menengahinya, dan para negara-negara muslim lainnya, hanya berpangku tangan dan berujar, itu kan urusan dalam negeri Mesir, negara lain tidak bisa ikut campur. Artinya, konsep, man ra’a minkum mungkaran falyughayyiru biyadihi. Barangsiapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah mencegah dengan tangan-kekuatannya, telah direduksi. Hal ini juga terjadi di Suriah, ketika Presiden Bashar Asad yang berdarah Syiah Nushairiyah itu berbuat zalim dengan menyembelih satu persatu rakyatnya yang berpaham Ahlussunnah, negara muslim lainnya, seakan tidak berdaya menghadapinya. Kebiadaban itu tetap berlanjut hingga waktu tak berbatas.
Kita tinggalkan Yahudi yang jelas-jelas telah menjadi musuh yang nyata, dalam istilah Al-Qur’an disebut ‘aduwwun mubin—yang sebetulnya ditujukan pada setan. Ada satu lagi musuh yang tak kalah dahsyatnya di jaman fitnah ini, yaitu maraknya konflik antarmazhab, lalu disempurnakan dengan menjamurnya aliran-aliran sesat dan menyesatkan. Bahasan kali ini, mengarah pada poin kedua. Karena konflik terkait mazhab dalam beberapa hal mendatangkan manfaat, minimal mengajari umat untuk tau bahwa dalam mazhab itu memiliki ragam pendapat, pendapatku benar, tetapi tidak menutupi kemungkinan ada pendapat lain yang lebih benar. Tetapi terkait sekte, atau aliran sesat, jelas memiliki perbedaan yang menganga, karena sekte bukan mazhab, tetapi penyimpangan akidah.
Salah satu sekte yang hingga kini menjadi ancaman besar akan kemurnian ajaran Islam adalah sekte Syiah Imamiyah yang menjadi anutan resmi negara Iran dan disebarkan sekilat halilintar ke berbagai negara Islam yang berpaham Ahlussunnah, terutama Indonesia yang notabenenya, negara berpenduduk Islam Ahlussunnah terbesar di dunia, penganutnya lebih banyak yang awam berbanding alim terkait perbedaan Ahlussunnah dan Syiah, sehingga banyak menyatakan, Syiah sama dengan Ahlussunnah, padahal keduanya memiliki perbedaan yang sangat pokok. Syiah telah ditegaskan oleh Majelis Ulama Indonesia Pusat sebagai aliran yang memiliki perbedaan pokok dengan Ahlussunnah dan meminta kaum muslimin untuk menghindarinya, lalu dipertegas oleh Fatwa MUI-Jatim sebagai aliran sesat dan menyesatkan.
Di Makassar, semenjak reformasi bergulir, dan kran-kran kebebasan terbuka lebar, termasuk kebebasan beragama, tak terkecuali kebebasan menjadi pengikut ajaran sesat Syiah juga marak terjadi. Salah satu yang tersesat, lalu tampil konsisten menyesatkan umat adalah seorang mantan mahasiswa Universitas Negeri Makassan (UNM) yang tidak pernah selesai kuliahnya, dan mantan jamaah Wahdah Islamiyah. Ismail Amin yang mengaku sedang belajar di Mostafa International University of Iran. Dalam pengakuannya, ia telah menulis sejak tahun 2005, setelah saya cek dalam blog pribadinya, ternyata tulisannya lumayan banyak, telah mencapai seperempat dari jumlah seluruh artikel yang pernah saya tulis semasa di Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar, tetapi itu belum termasuk tulisan saya yang pernah dipublish di Harian Batam Pos dan buletin Al-Furqan, Kepulauan Riau antara tahun 2003-2006.
Tulisan ini dimaksud untuk meluruskan beberapa poin yang saya anggap keliru dan menyesatkan dari saudara Ismail Amin. Ide ini muncul ketika yang bersangkutan menulis artikel yang ditujukan kepada saya, “Mempreteli Inkonsistensi Ilham Qadir” di lppimakassar.net, sebuah situs yang dikelolah oleh manusia-manusia tidak jelas (gharar), yang muncul dengan motif berbeda dengan lppmakassar.com. Yang pertama (lppimakassar.net) menyuarakan kesesatan, penebar dan penabur kemungkaran, sedang yang kedua (lppimakassar.com) membawa pencerahan, melurus dan memantapkan akidah umat Islam. Untuk itu, sebagai sanggahan sekaligus perlawanan, maka perlu kiranya saya kembali ‘menjungkal, menjungkir, dan menyungkurkan konsistensi penyesatan Ismail Amin’. Tulisan haruslah dilawan dengan tulisan, demikian kata Jusuf Kalla ketika bangsa Indonesia murka menanggapi tulisan propokatif Zainuddin Maidin yang melecehkan mantan presiden RI, B.J. Habibie, di Harian Utusan Malaysia akhir tahun 2012. 
Artikel ini bukanlah one shoot one target, but one shoot in many target. Jadi, siapa pun yang berpendirian seperti Ismail Amin termasuk sasaran tembak walau saya hanya melepaskan satu das tembakan. Yang kena tembak, berhak melakukan serangan balik dan, saya siap berhadapan.
***
Prof. Rasjidi dalam “Apa Itu Syiah” menulis, Syiah lahir dari kelompok besar orang-orang Persia yang besimpatik kepada keluarga Ali ra., hal tersebut disebabkan Husein bin Ali menikahi salah seorang putri kekaisaran Persia. Menurut orang Persia dalam pandangan Rasjidi yang menukil Dr. Husain Haikal, memuliakan keluarga Ali sama halnya memuliakan bangsa Persia juga. Sebab darah anak cucu Husain adalah perpaduan darah keluarga Nabi dan keluarga Raja Persia. Dan dari situlah agama—Prof. Rasjidi menggunakan istilah agama yang bermakna sekte—Syiah bermula.
Prof. Baharun dalam “201 Tanya Jawab Syiah” menulis,  Harap dibedakan antara Syiah dengan Persia. Jauh sebelum Dinasti Shafawi berkuasa di Iran—bagian dari Persia—dan berhasil mensyiahkan—secara paksa—penduduk negeri itu. Iran dihuni mayoritas Sunni. Telah muncul ulama-ulama Sunni dari sana termasuk hujjatul Islam Imam Al-Gazali. Bersama dengan masuknya Islam, Syiah berada dalam perlindungan Dinasti Abbasiyah. Kalau toh asumsi bahwa Islam dibawa melalui pintu "serambi Mekah" oleh saudagar-saudagar Gujarat dan Persia itu benar, tak dapat langsung diklaim bahwa mereka itu menganut Syiah. Persia jelas-jelas tidak identik dengan Syiah, karena aliran sesat itu mutlak dipeluk Iran sejak Dinasti Shafawi berkuasa.
Ismail Amin menulis (lppimakassar.net), dua Professor yang saling berbeda pandangan namun Ilham Qadir (Kadir?) Menukil pendapat dua-duanya tanpa menentukan sikap. Bahkan, menurut pria asal Bulukumba ini, kedua tulisan di atas saling menegasikan alias saling melenyapkan. Benarkah demikian?
Saya memulai uraian dari tulisan Prof. Rasjidi yang mengutif pendapat Dr. Husain Haikal. Ketika Islam telah menjadi agama besar yang diperhitungkan terutama di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab, ketika itu Umar terus menerus mengembangkan wilayah kekuasaan Islam dengan melakukan futuhat, pembukaan negara-negara baru yang sedang terjajah dan terzalimi termasuk wilayah Persia yang saat itu masih bernama Sassania. Pertempuran antara tentara Islam versus Persia yang pertama disebut Perang Qadisiyah, antara Saad bin Abi Waqqash melawan panglima Persia, Rustum, dan balatentaranya yang keok.
Rentetan peperangan terus terjadi yang akhirnya pada Perang Madain tahun 651 Masehi benar-benar meluluh-lantakkan Kekaisaran Persia, ketika itu banyak kaum Majusyi Penyembah api berpura-pura memeluk agama Islam dengan ragam motif, termasuk menjadi kenker dalam tubuh Islam. Salah salah satunya, malakukan mixing atau campur-sari antara ajaran Majusi dan Yahudi ke dalam agama Islam. Kebencian mereka terhadap Islam merembet ke Umar bin Al-Khattab, merekalah yang mengirim Abu Lu'luah untuk membunuh sang Khalifah, kelak pembunuh Umar itu diberi gelar "Bapak Pembela Agama" kuburannya di Iran menjadi tempat yang dipandang mulia.
Tidak hanya itu, salah seorang putri kaisar terakhir mereka, Yazdegerd II telah menjadi tawanan perang kaum muslimin setelah kejatuhan Kaisar Persia, yang kemudian dinikahkan dengan Husein bin Ali bin Abi Thalib, ra., kelak, orang-orang Persia itu sangat mendewakan Husein karena memiliki keturunan dari putri kerajaan Persia. Jika asumsi ini benar bahwa orang-orang Persia masuk Islam, lalu berniat menggrogoti Islam dari dalam dengan bermacam-macam cara termasuk mengagung-agungkan Husein, maka wajarlah jika dikatakan bahwa Persia, Syiah, dan Yahudi itu bekait-kelindan. Kalau Dr. Husain Haikal menyatakan bahwa Syiah berasal dari Persia, lalu diamini oleh Prof. Rasjidi, dan diperkuat oleh saya, adakah yang salah? Tentu Ismail Amin harus bikin sejarah baru.
Sebelum mengulas pendapat Prof. Baharun, terlebih dahulu saya menyampaikan konteks pembahasan, bahwa apa yang dibahas oleh Prof. Rasjidi berbeda dengan Prof. Baharun, yang pertama mengurai asal-muasal agama Syiah, yang kedua menjelaskan dan meluruskan pernyataan dan pertanyaan 'gharar' yang mengatakan bahwa Islam masuk Indonesia itu melalui pintu Aceh dibawa oleh orang-orang Persia berpaham Syiah, asumsi ini pertamakali dicetuskan oleh Abu Bakar Atjeh, tapi sudah disangkal dengan para sejarawan kontemporer yang lebih kompeten, tak terkecuali Porf. Azyumardi Azra, dalam disertasinya di Columbia University Amerika Serikat dengan judul "The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian 'Ulama' in the Seventeenth and Eighteenth Centuries", saya tidak akan membahas isinya di sini dan bisa dibaca dalam artikel saya "Islamisasi Nusantara; Syiah tidak Berperan".
Karena itulah Prof. Baharun menekankan bahwa pada waktu islamisasi berjalan. Secara massif dan massal di nusantara termasuk Aceh, penduduk Iran yang berbangsa Persia, saat itu bukanlah sama dengan sekarang, ketika itu Iran yang Persia  tidak identik dengan Syiah, sebab Syiah, lebih khususnya Syiah Imamiyah yang sesat dan menyesatkan anutan Ismail Amin et al, baru resmi dianut negara itu ketika Dinasti Shavawi berkuasa dan melakukan konversi akidah dari Ahlussunnah secara massal. Lagi-lagi Ismail tidak mengerti atau memang tidak mau mengerti tentang siyaqul qalam, alur tulisan kedua guru besar di atas. Lalu berkata, keduanya saling menegasikan.
Sejatinya, seorang penulis profesional haruslah memiliki epistemologi keilmuan yang komprehensif jangan asal-asalan dan abal-abalan, yang akhirnya menyesatkan orang lain dan memalukan diri sendiri. Kalau terdapat dua pendapat yang berbeda maka harus dilakukan 'al-jam'u baynahuma' menyatukan keduanya. Contoh, Hadis Nabi yang menyatakan bahwa man massa zakarahu falyatawadhdha', siapa yang memegang kemaluannya haruslah berwudhu, tetapi pada hadis lain dikatakan bahwa kemaluan itu adalah hanyalah bagian dari daging dalam tubuh, artinya memegangnya tidaklah membatalkan wudhu. Nah, apakah kedua hadis di atas saling menegasi?
Di sinilah pentingnya sebuah epistemologi, yang dalam bidang hadis disebut 'ulumul hadits', lalu mencari dan mencerna pendapat para ahli di bidang hadis, didapatilah Imam Ahmad bin Hambal yang berpendapat bahwa 'orang yang memegang kemaluannya dalam keadaan bersyahwat maka batal wudhunya, tetapi memegang kemaluan tanpa syahwat apalagi tidak disengaja tidaklah membatalkan wudhu'. Kedua hadis di atas setalah disatukan 'al-jam'u' tidak saling menegasi bahkan saling menegaskan. Demikian halnya antara tulisan Prof. Rasjidi dan Dr. Husain Haikal bahwa Syiah lahir dari ideologi Persia yang doyan mengkultuskan para kaisarnya tidak bertentangan dengan pernyataan Prof. Baharun yang mengatakan bahwa Islamisasi nusantara tidak identik dengan Syiah dari Persia karena saat itu Syiah justru di bawah kekuasaan Daulah Abbasiyah. Harap dicatat, Prof. Baharun tidak pernah berkata, "Asal-usul Syiah bukan dari Persia".
Selain itu, hal yang tidak bisa diremehkan adalah jenis tulisan yang diserang oleh Ismail Amin, sepertinya yang bersangkutan tidak memahami bahwa tulisan saya adalah sebuah resensi dari dua buku yang berbeda, karya Prof. Rasjidi dengan judul “Apa Itu Syiah” dan Prof. Baharun “201 Tanya Jawab Syiah”. Sejatinya, jika ingin benar-benar mengkaji keduanya haruslah menggunakan metode penelitian khusus yang disebut ‘teori komparasi’, mengkaji kedua pendapat lalu mengambil kesimpulan—tidak jauh beda dengan kedua hadis di atas—apakah ada kecocokan atau saling berdikari. Teori ini sudah umum dipakai oleh para peneliti kontemporer, contoh lebih jelasnya begini: demokrasi di Amrerika dan Indonesia, apakah keduanya ada perbedaan dan persamaan, harus dijelaskan dengan rinci. Untuk kajian ini saya sarankan agar menelaah disertasi Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dari Universiti Sains Malaysia (USM), dan telah dibukukan dengan judul “Modernisme dan Fundamentalisme dalan Politik Islam; Perbandingan Partai Masyumi Indonesia dan Partai Jama’at Al-Islami Pakistan. Cetakan Paramadina, Jakarta, 1999”.
Tidak tau membedakan jenis penulisan dan penelitin jelas sebuah kesalahan. Seorang peneliti yang bekerja menyimpang dari prosedur tata cara kerja ilmiah, sudah jelas 'bekerja salah', sebaliknya, seorang yang telah bekerja menurut prosedur tata kerja ilmiah, tetapi metode penelitiannya tidak baik atau tidak tepat akan sampai kepada temuan-temuan atau kesimpulan, tetap 'tidak baik' pula. Metode penelitianlah yang menentukan kualitas hasil penelitian, sedangkan prosedur menentukan tahapan langkah (M. Idrus Abustan, dkk. Pedoman Praktis Penelitian dan Penulisan Karya Ilmiah. Cetakan Badan Penerbit UNM: Makassar, 2006, halaman 10).
Banyak yang salah paham tentang 'resensi', dan lebih banyak lagi yang tidak tau alias jahil, tak terkecuali Ismail Amin. Resensi, dalam bahasa jadulnya adalah 'timbangan buku' dan biasa juga disebut ‘bahasan’. Ada beberapa bentuk resensi yang dikategorikan sebagai karya ilmiah yaitu (1) berupa ringkasan: penimbang tidak berpihak pribadi, tetapi berdasar fakta dan seluruhnya objektif; (2) bentuk deskripsi: mengenai buku secara keseluruhan baik bias penulisnya dan metodenya dikemukakan; (3) berupa kritik: penilaian tentang cukup tidaknya pengetahuan dalam bidang bersangkutan, acuan pustaka, dan metodologinya; (4) apresiasi: apakah pendapat-pendapat pribadi penulis ditunjang oleh pengalaman dan pengetahuan yang ada; (5) praduga: berisi prasangka terhadap penulis atau penerbit, sebab sering kali penerbit hanya berambisi mengejar keuntungan atau penulisnya menyatakan pendapat yang mementingkan diri sendiri alias bermotif komersial. Jenis timbangan alias resensi yang saya lakukan termasuk dalam poin keempat. Aprsisasi.

Ada pun syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi penimbang buku (1) Pengetahuan dalam bidangnya: Seorang master dalam bidang pendidikan memiliki kualifikasi untuk menimbang buku terkait dengan pendidikan, sebagaimana seorang peneliti dalam aliran-aliran sesat berhak menimbang buku terkait salah satu aliran sesat seperti Syiah misalnya; (2) Kemampuan analisis: Penimbang buku harus mampu menganalisa isi buku agar dapat menemukan maksud dan tujuan penulisnya serta dapat membedakan hal pokok dan tidak pokok; (3) Pengetahuan dalam acuan yang layak: Seorang penimbang harus memiliki pengetahuan yang mencukupi terkait buku yang sedang diresensi agar memenuhi kualifikasi sebagai penimbang buku, (Prof. Mukayat D. Brotowidjoyo, Cara Penulisan Karya Ilmiah. Cetakan Jakarta: 1993 halaman, 130).
Melihat prosedur, metodologi kritik, dan hasil penulisannya,  sangat jelas bila Ismail Amin tidak bisa diterima kesimpulannya dan tak layak diamini pendapatnya, alias 'dirject, dirijct, diriject, aja', mengambil istilah-nyanyian Jenita Janet yang sedang booming! (bersambung).
(Ilham Kadir/lppimakassar.com)

1 komentar:

orang seperti si mail ini bisa diistilahkan org yg makin pintar dalam kebodohan

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More