Syiah Agama Mitos, Resensi Buku "201 Tanya Jawab Syiah"

Dalam tiga dasawarsa terakhir, Indonesia sebagai bangsa yang besar ditinjau dari luas lahan dan populasi penduduknya, telah mengalami beberapa pergantian era. Bermula dari era agraria, beranjak ke era industri, hingga memasuki melineum kedua dalam hitungan tahun Masehi, dunia—termasuk Indonesia—telah memasuki era informasi.
Disebut-sebut inilah era paling menantang. Betapa tidak, seseorang dapat berselancar mengelilingi dunia cukup dengan duduk di depan komputer sambil menggerak-gerakkan mouse dan sesekali menekan tombol huruf-huruf yang tertera pada keyboard. Belakangan, komputer makin dikemas sedemikian rupa agar dapat digunakan secara mobile. Tipis, ringan, dan elegan. Kecuali itu, alat komunikasi berupa telepon genggam (HP) juga tidak henti-hentinya melakukan inovasi. Perang teknologi antara satu merek dengan merek lainnya tak terelakkan. Ada yang berujung ke meja hijau seperti Samsung (Korea Selatan) dengan Apple (Amerika Serikat). Para konsumen dimanjakan sedemikian rupa untuk memiliki ragam fasilitas komunikasi dengan aneka aplikasi yang semua terpulang pada tebal tipisnya dompet.
Sejauh ini, Indonesia adalah negara yang menduduki sebagai sasaran pasar yang terbesar di dunia. Penyebabnya hanya dua, (1) kita belum (pernah?) mampu untuk menghasilkan produk komunikasi yang bermutu karena faktor kebodohan, juga (mungkin) kemalasan (pemimpin?) dan (2) kita adalah bangsa yang konsumtif, tidak inovatif, dan rada-rada primitif. Lucunya, justru bangsa ini keranjingan dengan food, fun, & fashion ala Barat. Caba kalau yang ditiru adalah hal-hal yang islamis, seperti budaya ilmu (at-tham’u fi thalabil ‘ilmi), etos kerja (nasyith fil ‘amal), kebersihan (an-nadhafah), kejujuran (as-shidq), dan sejenisnya, niscaya bangsa ini akan mulia, dan memiliki harga diri (‘izzah).
Salah satu dampak akses informasi tanpa batas (unlimited information access) adalah mudahnya mengkomsumsi informasi-informasi yang berisi ideologi menyesatkan, khususnya bagi mereka yang hobi membaca ragam pemikiran tanpa dibarengi dengan resistensi. Sebutlah salah satu di antaranya adalah virus ideologi Syiah atau Syiahisasi yang sedang gencar malakukan dakwah dari berbagai lini. Termasuk penyebaran tulisan-tulisan (propaganda) tentang Syiah melalui ragam media, baik fisik—buku, jurnal, koran, buletin, dst.— maupun media elektonik—website, facebook, twitter, radio, televisi, dst.—di samping pelatihan-pelatihan dai serta kaderisasi yang telah berlangsung satu dekade terakhir ini, di antaranya melalui lembaga dakwah kampus (LDK) dan pengiriman mahasiswa ke Iran sebagai calon-calon penabur benih kesesatan dan perpecahan umat, kelak mereka pasti akan menjadi penabuh genderang perang. Karena mereka, banyak yang terpengaruh, dan terus berkubang dalam kesesatan. Sebuah ironi, negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia, kini sedang digerogoti oleh ulat (hama) yang bernama Syiah. Harus ada orang-orang yang serius membasmi hama tersebut, dengan menangkis serangan, melakukan perlawanan, perawatan, hingga amputasi, dan pembasmian.
Allah pasti selalu, dan terus menerus menjaga agama-Nya dengan mengutus manusia-manusia yang memiliki kemampuan dalam membuat dan memasang ‘tameng’ dari serangan ideologi Syiah yang bertubi-tubi. Di antara manusia pilihan itu adalah Prof. Dr. Mohammad Baharun. Ia adalah mantan wartawan Majalah Tempo yang alih profesi menjadi dosen dan dai. Dari sisi akademis, yang bersangkutan tidak perlu dipertanyakan lagi, jenjang S-1 dan S-2 dalam bidang hukum telah ia selesaikan di Universitas Islam Malang, sebelum akhirnya menyelesaikan tingkat doktoralnya di IAIN Sunan Ampel, Surabaya dengan judul disertasi “Epistemologi Antagonisme Syiah, dari Imamah hingga Mut’ah”. Disertasi tersebut telah dibukukan lalu diterbitkan oleh Pustaka Bayan tahun 2004, dan telah mengalami cetak ulang berkali-kali.
Sebagai wartawan, menulis bagi Prof. Baharun, demikian sapaan akrabnya, adalah hal biasa. Hingga kini, setidaknya telah menulis lebih dari 30 buku, dan artikel yang bertebaran di ragam media sudah tak terhitung. Ia juga dipercaya sebagai ‘pakar Syiah’ di MUI Pusat, itu artinya, tulisan-tulisannya tentang Syiah menggambarkan sikap institusi MUI, secara langsung atau sebaliknya.
201 Tanya Jawab Syiah
Buku yang teranyar dihasilkan oleh Rektor Unas Bandung ini adalah “201 Tanya Jawab Syiah” yang diterbitkan oleh Sinergi Publishing pada Juli 2013, sebuah penerbit yang berada di bawah kelompok penerbit Gema Insani yang beralamat di Jln. Juanda, Depok. Gema Insani adalah penerbit yang berkualitas tinggi, dan hanya menerbitkan buku-buku bermutu.
Buku berukuran mini dan setebal 178 halaman ini adalah bacaan yang tepat bagi yang ingin menemukan berbagai macam kekonyolan yang dilontarkan oleh Syiah ketika menebarkan ajaran sesatnya. Buku ini terdiri dari lima bab. Bab satu berisi pembahasan tentang Sejarah Kemunculan Syiah dan Perkembangannya; bab dua mengulas seputar Perbedaan Akidah antara Ahlussunnah dan Syiah yang—dalam istilah saya—laksana minyak dan air; ada pun bab ketiga, berisi pembahasan secara gamblang tentang Praktik Ritual Penganut Syiah; dan bab keempat berisi Kitab dan Pedoman Hukum Syiah; dan terkahir (bab lima) mengupas tentang Syiah, Isu Nasional, dan Internasional.
Buku ini unik, karena berbentuk tanya jawab. Dan pastinya, bagi Anda yang ingin tahu lebih jauh tentang Syiah, terdapat pertanyaan yang mungkin selama ini telah lama terpendam dalam benak, namun belum jua menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan, atau  pernah menemukan jawaban, tapi tidak sejelas dengan jawaban yang ada dalam buku ini. 

Sebagai contoh kasus—sebagaimana yang saya alami—sering mendapatkan pertanyaan seperti ini: Pengaruh Syiah di Indonesia secara kultural sangat kental dalam Ahlussunnah. Sampai ada ungkapan Syiah kultural segala. Konon, mula pertama Islam masuk lewat Aceh dibawa para dai Syiah. Bagaimana Anda menanggapinya? Jawabnya: Praktik-praktik keagamaan dalam kalangan Ahlussunnah—khususnya madzhab Syafi’i—berbeda dengan tradisi keagamaan Syiah. Akan hal maulud atau maulid—bershalawat seraya membaca/riwayat Nabi—di kalangan Ahlussunnah, membaca maulud Nabi sambil bershalawat merupakan tradisi yang diwariskan ulama selama berabad-abad. Dalilnya tidak dibawah teks, tetapi dalam ‘urf, karena ‘Al-‘Adatu Muhakkamah’—meminjam istilah Ushul Fiqh—yang berkembang dalam konteks sosial. Sementara, dalam tradisi Syiah yang dibaca adalah mauludnya imam 12 dan Sayyidah Fathimah az-Zahra disertai kultus ghuluw, bukan sekadar memuji Nabi atau shalawat. Dalam peringatan maulud, atau istilah dalam Syiah sebagai ‘milad’, tak lupa pula dijadikan sebagai ajang caci maki kepada para sahabat dan istri Nabi. Misalnya, uangkapan yang bersumber dari mitos khas dan populer di kalangan Syiah bahwa Sayyidah Fatimah az-Zahra dianiaya oleh Khalifah Umar bin Khattab. Tujuan penyelenggaraan milad bagi Syiah adalah melakukan diskualifikasi terhadap para pemuka sahabat Rasulullah dan istri-istrinya. Jika diamati, tradisi-tradisi keagamaan Syiah tidak lepas dari fokus di antara tuntutan para imam dan makian terhadap para sahabat dan istri Nabi, sementara para imam—keturunan Nabi—dijadikan bidak-bidak politik untuk memenuhi ambisi mereka. Syiah memang masyhur akan kaya dengan mitos-mitos, yang belakangan agaknya sengaja dikaburkan sejarah—sejatinya, syiah adalah agama mitos. (hlm. 6-7).

Terkait penyebaran Islam di Nusantara melalui pintu Aceh, yang konon dibawa oleh para dai Syiah, sejatinya juga bersumber dari mitos belaka, dan sekali-kali tidak berdasarkan pada historiografi. Harap dibedakan antara Syiah dengan Persia. Jauh sebelum Dinasti Shafawi berkuasa di Iran—bagian dari Persia—dan berhasil mensyiahkan—secara paksa—penduduk negeri itu, Iran dihuni mayoritas Sunni. Telah muncul ulama-ulama Sunni dari sana, termasuk Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Bersama dengan masuknya Islam, Syiah berada dalam perlindungan dinasti Abbasiyah. Kalau toh asumsi bahwa Islam dibawa melalui pintu “Serambi Mekah” oleh saudagar-saudagar Gujarat dan Persia itu benar, tak dapat langsung diklaim bahwa mereka itu menganut Syiah. Persia jelas-jelas tidak identik dengan Syiah, karena aliran sesat itu mutlak dipeluk penduduk Iran sejak Dinasti Shafawi berkuasa. (hlm. 7-8).
Demikianlah contoh penjelasan yang diuraikan oleh Prof. Baharun dalam buku mungilnya itu, sangat tuntas dalam melerai dan menyelesaikan pertikaian maupun permasalahan. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika buku ini mendapat sejumlah apresiasi dari para tokoh, cendekiawan, dan ulama muktabar di Indonesia. Misalnya, testimoni dari Dr. H. Shofiyullah Muzammil, MA., Dosen Pascasarjana, dan Direktur Pusat Budaya dan Agama UIN Sunan Kalijaga, menulis, “Keberadaan gerakan Syiah di Indonesia sebagai fenomena memang harus disikapi secara cerdas dengan strategi-strategi khusus sehingga solusinya tak menimbulkan polemik di internal Sunni sendiri. Selain itu, pengetahuan/pengalaman mengenai Syiah harus dimiliki agar bisa ditangani lebih efektif dan tak menimbulkan ketegangan. Penulis yang akademisi, dai, dan jurnalis ini dapat mendeskripsikan masalah tersebut dengan baik”. (hlm. sampul).
Dan yang pasti, buku ini diberi kata pengantar oleh dua ulama besar Indonesia, yang menjadi garansai akan keilmuannya sekaligus mewakili dua organisasi massa Islam yang terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama. Yang pertama, DR. KH. Ma’ruf Amin, sebagai Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU), Penasihat Lembaga Bahtsul Masa’il Pengurus Besar Nahdaul Ulama, Ketua Harian Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Yang kedua, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah priode 2009-2012 dan Wakil Ketua MUI Pusat, serta Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Berikut petikan ‘Kata Pengantar’ Dr. KH. Ma’ruf Amin, “Bagi masyarakat yang masih bingung dan penasaran mengenai paham Syiah, menurut saya, buku ini layak untuk dijadikan salah satu referensi untuk mengetahui lebih jauh tentang dasar-dasar ajaran Syiah sehingga mengapa MUI memfatwakan sesat padanya. Sebab, buku ini secara gamblang dan bahasanya yang mudah dipahami berusaha menerangkan dan mengungkap perbedaan-perbedaan prinsip antara Syiah dengan Sunni”. (hlm. xi).
Sedangkan Prof. Yunahar Ilyas menulis, “Buku yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Mohammad Baharun ini dapat membantu pembaca untuk mengetahui apa itu Syiah dan bagaimana ajarannya, terutama apa perbedaannya dengan ajaran Ahlussunnah. Buku ringkas ini mudah dipahami karena disajikan dalam bentuk tanya jawab”. (hlm. xvi).  
Intinya, Syiah adalah masalah, maka buku “201 Tanya Jawab Syiah” solusinya. Tunggu apa lagi, segera miliki, dan telaah isinya. Insya Allah bermanfaat. Wallahu A’lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More