Pahlawan dan Kedaulatan yang Tercerabut

Baru saja kita memperingati hari pahlawan 10 November, hari mengenang jasa dan pengorbanan para pahlawan yang gugur, menderita, hanya karena ingin kemerdekaan yang utuh, kemerdekaan Indonesia.
Sejak lama Indonesia sudah diakui sebagai negara merdeka, negara yang bebas dari intervensi, campur tangan pihak manapun. Pengorbanan yang dilakukan para pahlawan bagi tanah air, bangsa dan negara merupakan pengorbanan untuk kemakmuran, keadilan dan kedaulatan. Hal ini bukan hanya selogan kosong ataupun hanya sekadar basa-basi di lapangan upacara, melainkan sesuatu yang sangat penting, dan terus hangat dalam sanubari rakyat Indonesia.
Belum lama mengenang perjuangan para pahlawan dan membangkitkan jiwa kepahlawanan, Indonesia tiba-tiba “dipermalukan” oleh negara tetangganya yaitu Australia. Australia menyadap segala pembicaraan dan rahasia negara lewat ponsel maupun twitter Presiden SBY.
Terungkapnya penyadapan terhadap Indonesia oleh Australia sebetulnya menunjukkan bahwa Indonesia belum mampu bertarung di dunia internasional, khususnya dalam kecanggihan teknologi.
Sadap-menyadap bukan merupakan hal baru kaitannya dalam hubungan antar satu negara dengan negara lain. Ruwetnya hubungan Rusia dan Amerika yang mempertontonkan aksi sadap-menyadap dan para intelijen yang bertebaran di antara kedua negara tersebut harus menjadi contoh bahwa Indonesia pun harus waspada atas kemungkinan yang terjadi, penyadapan rahasia negara oleh banyak pihak.
Kejadian ini tidak lepas dari kisah heroik seorang hacker muda yang melakukan serangan cyber kepada Australia bulan lalu. Perkembangan teknologi menciptakan kreasi yang cukup dibanggakan oleh masyarakat, apalagi menyerang situs penting negara lewat internet, sangat heroik bagi masyarakat yang mendengarnya.
Namun sejalan dengan itu, butuh antisipasi serius bahwa tidak selamanya Indonesia dapat menyerang situs penting negara lain semaunya, karena bisa jadi akan menjadi bumerang terhadap negara sendiri. Buktinya cyber war tengah terjadi antara Indonesia dengan Australia.
Ini pulalah yang sekarang dialami oleh Indonesia, ternyata Australia telah lama menyadap segala rahasia negara lewat telepon, ponsel, twitter dan media lain yang digunakan pemerintah tertinggi di Indonesia, bahkan mantan wakil presiden RI, Jusuf Kalla, telah lama disadap ponsel miliknya oleh Australia. Muncul pertanyaan kemudian, seberapa jauh penyadapan tersebut merusak tatanan negara Indonesia?
Kedaulatan
Benteng terakhir sebuah negara adalah kedaulatan. Kedaulatan adalah harga diri bangsa. Jika kedaulatan dapat “digoyang” oleh negara lain maka apa kata dunia? Jika sesuatu ingin disebut negara, maka harus memiliki penduduk dan wilayah, dan dari hal itu pula kedaulatan itu ada.
Hadirnya kedaulatan negara menunjukkan bahwa negara tersebut bebas dari segala hukum internasional apakah suatu negara ingin tunduk, patuh atau tidak. Ia mampu menentukan, mengatur dan mengarahkan tujuan yang menjadi cita-citanya. Jean Bodin menegasikan bahwa kedaulatan adalah sumber otoritas negara tanpa memperhatikan bentuk pemerintah tersebut (Marbun: 2005).
Namun, fakta yang terjadi di mata rakyat Indonesia bahwa pemerintah belum mampu menjaga kedaulatan seutuhnya. Kedaulatan negara seringkali hanya dipandang sebagai sebuah aksesoris sebuah negara, sama sekali hanya menjadi pertimbangan yang kesekian dalam setiap perjanjian internasional. Padahal, kedaulatan yang keropos akan berakibat fatal terhadap keberlangsungan bernegara.  
Berbicara kedaulatan maka akan berbicara segala sendi yang menyangkut harkat dan martabat bangsa dan negara. Masyarakat akan sangat mudah dipecah belah hanya karena mudahnya informasi diketahui oleh negara lain.
Marah!
Penulis pikir, masyarakat harus marah. Bukan marah kepada Australia, melainkan marah kepada jajaran pemerintah, khususnya presiden, yang teledor atas segala rahasia negara yang bocor kepada pihak asing.
Sudah semestinya pemerintah Indonesia bersikap tegas dan jaga harga diri. Tidak perlu lagi ada rasa kuatir apakah hubungan antar negara akan putus, ataukah perekonomian akan semakin rapuh jika terus tegang di kedua belah pihak.
Sudah cukup Indonesia dipermainkan banyak pihak (negara tetangga). Itu semua terjadi karena pemerintah yang kurang “garang”, tidak berani mengambil sikap tegas, dan tidak pernah memposisikan diri sebagai pihak kunci yang mampu “mengemplang” siapa saja yang ingin merusak kedaulatan.
Siapapun tak sampai hati mendengar bahwa sebuah negara yang baru saja mengenang jasa para pahlawannya, sekaligus menanamkan jiwa kepahlawanan pada generasi berikutnya, tunduk dan terhempas hanya karena harga diri dipermainkan lewat aksi penyadapan.

M. Fitrah Yunus
Mahasiswa Program Pascasarjana
Universitas Hasanuddin      

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More