Nasehat Ketua MUI Pusat Tentang Buku Kesesatan Syiah

Setelah menurunkan jawaban dari artikel fitnah yang dibuat oleh situs syiah kepada MUI Pusat, mereka kembali ngotot memfitnah. Dalam artikel terakhir tentang buku "Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia" mereka mengejek LPPI yang katanya sibuk konfirmasi ke Jakarta.
"Seperti layaknya hadis, ternyata usaha klarifikasi mereka punya sanad juga," tulis mereka.
Alhamdulillah, jika agama ini dan pengikutnya memakai sanad (rangkaian periwayat) dalam menyampaikan khabar. Tidak seperti Syiah yang tidak memiliki sanad dalam beragama. Seperti yang banyak kita lihat dalam kitab-kitab Hadis mereka. Bahkan saking tidak adanya sanad, hewan pun dijadikan rangkaian periwayat. 
Silakan baca hadis Syiah ini: 
وَ رُوِيَ أَنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ( عليه السلام ) قَالَ إِنَّ ذَلِكَ الْحِمَارَ كَلَّمَ رَسُولَ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) فَقَالَ بِأَبِي أَنْتَ وَ أُمِّي إِنَّ أَبِي حَدَّثَنِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ كَانَ مَعَ نُوحٍ فِي السَّفِينَةِ فَقَامَ إِلَيْهِ نُوحٌ فَمَسَحَ عَلَى كَفَلِهِ ثُمَّ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ صُلْبِ هَذَا الْحِمَارِ حِمَارٌ يَرْكَبُهُ سَيِّدُ النَّبِيِّينَ وَ خَاتَمُهُمْ فَالْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَنِي ذَلِكَ الْحِمَارَ .
Dan diriwayatkan bahwasannya Amiirul-Mukminiin (‘alaihis-salaam) berkata : “Sesungguhnya keledai itu (yaitu keledai tunggangan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam – Abul-Jauzaa’) berkata kepada Rasulullah (shallallaahu ‘alaihi wa aalihi) : “Demi ayah dan ibuku, sesungguhnya ayahku telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ayahnya : Bahwasannya ia pernah bersama Nuuh di dalam perahu. Maka Nuuh bangkit berdiri dan mengusap pantatnya, kemudian bersabda : ‘Akan muncul dari tulang sulbi keledai ini seekor keledai yang akan ditunggangi oleh pemimpin dan penutup para Nabi’. Dan segala puji bagi Allah yang telah menjadikanku sebagai keledai itu” [selesai].
Silakan perhatikan dengan seksama……… bahwa seekor keledai telah memerankan diri layaknya seorang perawi hadits dengan menggunakan lafadh : haddatsanii abiy…dst. Tentu saja riwayat ini tidak akan kita ketemukan di kitab-kitab Ahlus-Sunnah. Ia terdapat dalam kitab Al-Kaafiy – kitab hadits paling valid menurut madzhab Syi’ah - , tepatnya pada jilid 1 halaman 237, pada Bab: Maa ‘indal-aimmah min silaahi Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa aalihi wamataa’ihi [بَابُ مَا عِنْدَ الْأَئِمَّةِ مِنْ سِلَاحِ رَسُولِ اللَّهِ ( صلى الله عليه وآله ) وَ مَتَاعِهِ], hadits ke-9. (http://abul-jauzaa.blogspot.com/2010/04/ketika-keledai-telah-menjadi-perawi.html)
Itu sekadar contoh.

Mereka masih saja mengambil celah dengan menafsir-nafsirkan perkataan Dr. Amirsyah ("tenang saja menanggapi mereka. Tidak usah terlalu bagaimana. Itu kan sudah jelas", mereka tafsirkan bahwa buku itu sudah jelas bukan terbitan MUI Pusat, lucu juga ya) 
Padahal beliau konfirmasi langsung kepada Kami melalui telepon. Selain itu, mereka juga menolak penjelasan dari Prof. Baharun dan Ust. Fahmi Salim hanya karena mereka juga kontra terhadap Syiah. Dan lebih memilih penjelasan Prof. Abd. Rahim Yunus yang ternyata telah mereka pelintir.  
Dikatakan, “Tanggapan yang pedas justru datang dari Prof Rahim. Menjawab Ust Said Samad, beliau mengatakan bahwa buku “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia" yang katanya diterbitkan MUI Pusat itu tidak benar. Buku tersebut bukan terbitan resmi MUI Pusat seperti yang disebutkan Ust Said Samad. Buku tipis itu pernah diedarkan di rakernas MUI, tetapi kemudian ditarik kembali karena dinilai akan memicu perpecahan ummat.
Padahal sebenarnya, Ungkapan Prof. Rahim yang mengatakan sudah beredar di Rakernas tapi kemudian ditarik lagi, itu karena sebagaian tulisannya ada kesalahan cetak sehingga Prof. Yunahar berinisiatif meminta yang ada di Rakernas dikembalikan untuk diperbaiki oleh percetakan. Jadi bohong kalau Prof. Rahim bilang ditarik untuk menghindari perpecahan ummat. Syiah memang biasa berdusta. Dan semakin banyak fakta kedustaannya menunjukkan mereka panik. (Konfirmasi LPPI kepada Ust. Fahmi Salim via email, http://www.lppimakassar.com/2013/11/jawaban-para-tokoh-mui-pusat-tentang.html)
Setelah kami konfirmasi ke Prof. Yunahar Ilyas dan Ust. Isa Anshari, Dr. Amirsyah langsung menelepon kami dengan kalimat di atas. Akhirnya setelah menerima penjelasan beberapa tokoh MUI Pusat itu, mulai dari Dr. Amirsyah, Prof. Baharun dan Ust. Fahmi Salim, kami rangkum dalam satu artikel yang berjudul, Jawaban Para Tokoh MUI Pusat tentang Buku Kesesatan Syiah. (Terbit 12 Nov 2013)
Alhamdulillaah setelah artikel itu terbit, jawaban dari Prof. Yunahar Ilyas, Ketua MUI Pusat, lewat SMS akhirnya tiba pada 13 Nov. Namun kami tak sempat memasukkannya ke dalam artikel itu.
SMS tersebut berbunyi, (sebagai tafsiran yang benar dari pernyataan Dr. Amirsyah)
"Kalau buku itu bukan produk MUI tentu tidak akan diterbitkan dan disebarluaskan oleh MUI Pusat. Buku itu sudah dibagikan waktu Rakernas MUI 13-14 Sept yang lalu. Tidak usah layani hal-hal begitu. Biarlah itu menjadi urusan MUI. LPPI cukup membantu menyebarluaskan buku tersebut. Terima kasih. Wassalam."
Karena itu, kepada kaum Muslimin di Indonesia, setelah ini tidak usah layani fitnah murahan mereka kepada MUI Pusat. Tugas kita -kata Prof. Yunahar Ilyas- hanyalah menyebarluaskan buku tersebut.

1 komentar:

Terus terang kami sangat bersyukur dengan terbitnya Buku ini. terus maju untuk mencerahkan umat dari kesesatan syiah......
Syukran Jazakumullah kair..

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More