LPPI Gadungan Kembali Tebar Fitnah

Kembali Situs penyebar fitnah Internasional, ABNA, mengutip artikel fitnah dari situs gadungan. Sok mengerti arti “Gadungan” sehingga dalam artikelnya mereka beri judul, “Tidak Paham Arti 'Gadungan' LPPI Asuhan Said Shamad Menebar Fitnah
Mari kita cermati lagi kata-kata mereka, “Kita lihat dulu apa arti gadungan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gadungan artinya (1) palsu; bukan yg sebenarnya (misalnya orang yang menyamar sebagai polisi, pemimpin, dan sebagainya); (2) jadi-jadian (misalnya manusia yang menjadi harimau dan sebagainya): contohnya harimau gadungan.
Karena itu kami ingin bertanya, yang datang lebih dahulu dengan istilah “LPPI Makassar” siapa? Dan yang datang belakangan kemudian menjiplak istilah itu siapa? Apakah berat bagi kalian memakai istilah IJABI atau semisalnya? Tentunya ada tujuan terselubung di balik penggunaan istilah ini, kamuflase.
Olehnya itu, pengertian “Gadungan” dengan merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia di atas, LPPI Makassar Syiah ini adalah LPPI Makasar yang bukan sebenarnya dan jadi-jadian, alias gadungan.
Si Tukang Fitnah Kembali Memfitnah
Merasa punya amunisi dalam memfitnah MUI Pusat karena ‘didukung’ oleh tokoh Pro-Syiah di kalangan MUI level Provinsi, mereka kembali membuat artikel fitnah dengan judul yang tidak pantas bagi kaum ‘pencinta ukhuwah’. Parahnya keterangan dari tokoh MUI Sulsel itu mereka pelintir untuk dijadikan senjata, yang sejatinya menjadi bumerang bagi mereka.
Untuk tanggapan atas fitnahan mereka kepada MUI Pusat, kami telah rangkumkan Jawaban langsung dari para Tokoh MUI Pusat terkait buku, “Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia” pada satu artikel ini, Jawaban Para Tokoh MUI Pusat Tentang Buku Kesesatan Syiah (klik linknya disini: http://www.lppimakassar.com/2013/11/jawaban-para-tokoh-mui-pusat-tentang.html),
Benci Syiah?
Mereka mengajukan pertanyaan,
Apakah memang Ust Said Samad tidak membenci Syiah dan pengikutnya?
Apakah memang Ust Said Samad tidak membenci Kang Jalal dengan segala keyakinan dan kondisinya?
Apakah memang Ust Said Samad tidak membenci peringatan hari Asyura oleh pengikut Syiah?
Jawabannya adalah kaum Muslimin dan khususnya kami membenci Syiah sebagai ajaran sesat, karena begitulah yang diimbaukan oleh MUI Pusta sejak 1984 untuk diwaspadai.
Adapun Bapak Jalal dan pengikutnya kami mencintainya. Bukti cinta kami adalah sedikit usaha kami untuk mengajak mereka bertaubat kembali kepada ajaran yang benar.

Sedangkan untuk perayaan Asyura, bukan hanya kami yang membenci dan tidak suka, semua warga negara Negara Kesatuan Republik Indonesia yang cinta damai tidak suka dengan acara asyura. Dimana dalam acara itu narasi penderitaan Husein dibacakan dengan begitu apiknya, agar dendam kesumat terus membara dan menyalanyala dalam setiap dada kaum Syiah. Untuk mewujudkan cita-cita bersama, Al-Imamah. Kepimpinan negara di bawah kendali Ahlul Bait, atau yang beraliran sama dengan mereka. Seperti yang saat ini terjadi di Irak (Rezim Al-Maliki Asy-Syi’i). Seperti yang bergejolak saat ini di Suriah (Rezim Syiah Nushairiyah), Yaman (Dammaj), Lebanon (perusuh Hizbullah) dan tentunya Iran (kawasan Ahwaz yang tertindas).
Apakah Indonesia akan kita biarkan melenglang buana menuju fase dan masuk dalam kondisi chaos seperti negara-negara di atas?
(lppimakassar.com)

1 komentar:

Perkembangan syiah yang pesat di sulawesi dan Indonesia menunjukkan muslim Indonesia tidak terjebak fanatisme buta.Muslim Indonesia bisa menilai berita berita yang penuh kedengkian dan yang jujur."Wahai orang2 yg beriman,jika datang kepadamu orang fasik membawa berita,maka periksalah dengan teliti"(al Hujurat:6)

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More