Hijrah untuk Perubahan

http://makassar.tribunnews.com/foto/bank/images/Ilham-Kadir.jpgDitilik dari segi lafaz, hijrah berasal dari bahasa Arab, “hajara-yahjuru-hijrah” yang berarti meninggalkan, menjauhkan diri, dan berpindah tempat. Ada pun dari sudut istilah makna hijrah terbagi menjadi dua, khusus dan umum. Yang khusus adalah hijrahnya kaum Muslimin dari Mekah selama tiga kali, yang pertama ke Habsyi (Ethopia) tahun 615 M yang disarankan oleh Nabi Muhammad demi menghindari penindasan dari kaum Quraisy untuk hijrah ke Kekaisaran Aksum yang diperintah oleh raja Kristen. Nabi tidak ikut hijrah pada priode kali ini.

Hijrah kedua adalah pascakematian pamannya, Abu Thalib, disusul istrinya, Khadijah. Nabi bersama budaknya Zaid Bin Haritsah hijrah ke luar Mekah, sekitar sepuluh mil, sebuah kota bernama Thaif. Sayang, Nabi malah diperlakukan kurang ajar oleh penduduk Thaif, ia dicaci, diusir, dilempari batu sampai dipukul kayu hingga sekujur tubuhnya berlumuran darah. Peristiwa ini berlangsung pada tahun sepuluh kenabian (619 M) yang dikenal dengan “’amul huzn”, tahun kesedihan.
 
Hijrah ketiga adalah ke Madinah. Pada September 622, terdapat skenario pembunuhan kepada Nabi yang diprakarsai oleh para pemuka Quraisy sebagai klimaks penindasan dan teroris yang dikepalai oleh sang paman sendiri, Abu Lahab. Maka secara diam-diam Rasulullah bersama Abu Bakar pergi meninggalkan Mekah. Sedikit demi sedikit, kaum Muslimin berhijrah ke Yastrib, sebuah kota yang berjarak 320 kilometer (200 mil) sebelah utara Mekah. Yastrib kemudian berubah nama menjadi Madinah an-Nabi, yang berarti "kota Nabi", tapi kata “an-Nabi” menghilang, dan hanya disebut Madinah, yang berarti "kota".
 
Penanggalan Islam yang disebut Hijriah—mengambil seting peristiwa tersebut—dicetuskan oleh Umar bin Khattab pada tahun 638 M, atau 17 tahun setelah Rasulullah dan pengikutnya hijrah ke Madinah.
 
Kecuali itu, arti hijrah secara umum adalah meninggalkan semua perbuatan yang dilarang oleh Allah. Hijrah jenis ini wajib dikerjakan oleh tiap-tiap orang yang telah mengaku beragama Islam. Rasulullah—sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang bersumber dari Abdullah bin Umar—telah bersabda, “Almuhaajiru man haajara maa nahallah 'anhu. Orang-orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan segala apa yang telah dilarang oleh Allah.'' Jadi, siapa saja dari umat Islam yang telah meninggalkan semua perbuatan yang dilarang Allah, maka ia termasuk daripada orang yang mengerjakan hijrah. Pelaku hijrah disebut muhajir atau muhajirin.
 
Ada persamaan antara musafir dengan muhajir. Yaitu sama-sama meninggalkan tempat tinggal menuju pada sebuah tempat tujuan (destination). Namun perbedaannya lebih dominan karena seorang musafir hanya bepergian dalam jangka masa tertentu: pergi untuk kembali. Sementara muhajir pergi lalu berdiam ke suatu tempat untuk selamanya. Oleh karena itulah seorang musafir mendapat berbagai keringanan beribadah dalam masa perjalanannya. Seperti dapat menggabung dan mengurangi jumlah salat maupun rakaat, atau boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Namun, seorang muhajir, ketika ia telah sampai pada tempat tujuan, maka saat itu pula telah berstatus sebagai penduduk tetap (muqim).
 
Mulia dengan hijrah 
Secara subtansi, hijrah dapat dimaknai lebih luas sebagaimana terminologi hijrah secara umum di atas. Setidaknya ada tiga jenis hijrah yang layak untuk diketahui dan diamalkan di tengah situasi dan kondisi zaman yang kian menantang. Ragam hijrah yang dimaksud adalah “hijrah i’tiqadiyah” alias ‘hijrah keyakinan’. Iman bersifat pluktuatif, kadang menguat menuju puncak keyakinan mukmin sejati, di lain waktu melemah mendekati kekufuran (Al-iman yazid wa yanqus), namun kadang hadir dengan kemurniannya, tetapi kadang pula  bersifat sinkretis, bercampur dengan keyakinan lain mendekati memusyrikan. Melakukan hijrah keyakinan bila berada di tepi jurang kekufuran dan kemusyrikan adalah sebuah keniscayaan.
 
Hijrah Fikriyah 

Fikriyah secara bahasa berasal dari kata ‘fikr’ yang artinya pemikiran. Seiring perkembangan zaman, kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia tanpa batas. Berbagai informasi dan pemikiran dari belahan bumi bisa diakses secara on line. Saat ini, dunia telah menjadi medan perang yang secara kasat mata tidak disadari keberadaannya. Bagi umat Islam yang melek informasi telah menyadari jika gendang perang telah ditabuh dalam medan yang disebut “gazwul fikr” atau ‘perang pemikiran’ dan “clash of civilazation”, sebuah ‘benturan peradaban’. Tak heran berbagai pemikiran telah tersebar di medan perang tersebut penuh dengan senjata-senjata perenggut nyawa.

Isu sekularisasi, kapitalisasi, liberalisasi, pluralisasi, hingga syiahisasi telah menyusup ke dalam sendi-sendi dasar pemikiran dan akidah kita selaku Ahlussunnah. Ia menjadi virus ganas yang sulit terdeteksi oleh kacamata pemikiran Islam. Hijrah fikriyah menjadi sangat penting mengingat kemungkinan besar pemikiran kita telah terserang virus ganas tersebut. Mari kita kembali pada pemikiran-pemikiran Islam yang murni. Pemikiran yang telah disampaikan oleh Nabi melalui para sahabat. Tabi’in, tabi’i’-tabi’in dan para generasi pengikut salaf.
 
Hijrah Syu’uriyyah

Syu’uriyah atau cita rasa, kesenangan, kesukaan dan semisalnya. Semua yang ada pada diri kita sering terpengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang islami. Banyak hal seperti hiburan, musik, bacaan, gambar/hiasan, pakaian, rumah, hingga idola, semuanya tak luput dari pengaruh nilai-nilai dari luar Islam. Jika diperhatikan, hiburan dan musik seorang Muslim tak jauh beda dengan hiburannya para penganut paham permisifisme dan hedonisme, berbau hura-hura dan senang-senang belaka. Mode pakaian juga tak kalah pentingnya untuk kita hiraukan. Hijrah dari pakaian gaya jahiliyah menuju pakaian islami, yaitu pakaian yang benar-benar mengedepankan fungsi bukan gaya. Ingat, fungsi utama pakaian adalah tak lain dan tak bukan kecuali untuk menutup aurat, bukan justru memamerkan aurat. Ironis memang, banyak di antara muslimah berpakaian tapi auratnya masih terbuka (kasiyah ‘ariyah). Ada yang sudah tertutup tapi ketat dan transparan, sehingga lekuk tubuhnya bahkan warna kulitnya terlihat. Umat  Islam  kini dijajah oleh budaya Barat dengan “3 f”, food, fun, fashion. Makanan, hiburan, dan pakaian.
 
Hijrah Sulukiyyah

Suluk berarti tingkah laku, kepribadian, atau biasa disebut akhlak dan adab. Realitanya, ahklak dan kepribadian manusia tidak terlepas dari degradasi dan pergeseran nilai. Pergeseran dari kepribadian mulia (akhlaqul karimah) menuju kepribadian tercela (akhlaqul sayyi’ah). Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindak amoral, abnormal, dan asusila di masyarakat. Pencurian, perampokan, pembunuhan, pelecehan, perzinahan, pemerkosaan, penghinan dan penganiyaan seolah-olah telah menjadi biasa dalam masyarakat kita. Penipuan, korupsi, prostitusi, dan manipulasi hampir bisa ditemui di mana-mana. Dalam momen hijrah ini, sangat tepat jika mengkoreksi akhlak dan kepribadian kita untuk  hijrah menuju perubahan yang lebih baik.

Semoga tahun baru ini, dapat dimanfaatkan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya sehingga kita termasuk orang-orang yang beruntung, seperti kata hikmah, “Barangsiapa harinya sama dengan kemarin maka ia orang yang rugi, barangsiapa yang harinya lebih buruk dari hari yang kemarin maka ia orang yang binasa; dan barang siapa yang harinya lebih baik dari kemarin maka ia orang yang beruntung [man kana yaumuhu mitsla amsihi fahuwa khasirun, waman kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa khalikun, waman kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa raabihun]”.

Menurut para ulama, amal manusia tebagi tiga yaitu amal fardhu–ibarat modal dalam perniagaan—dan amal sunnah sebagai keuntungan, serta dosa sebagai kerugian. Maka mulai sekarang kita berniat dan berupaya agar amal fardhu lebih disempurnakan, amal sunnah dapat lebih diperbanyak, sedang dosa dan maksiat seharusnya dikurangi dan ditinggalkan. Jadi, ditinjau dari sudut mana pun, hijrah selalu bertujuan untuk perubahan. Selamat Tahun Baru 1435 Hijriah!(Ilham Kadir/lppimakassar.com)


*Dimuat juga di Harian Tribun Timur Makassar pada 1 Muharram 1435 H/ 5 November 2013 M.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More