Tidak Semua Sahabat Dijanjikan Ampunan, Ridha dan Surga?

Serial ulasan ke-20 atas buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial ulasannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran

Berkata ar-Rafidhi pada halaman 112,
“contoh pertama adalah firman Allah,
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”[1]
Setelah itu dia berkata, “dan kata “di antara mereka (minhum/منهم)” yang disebutkan oleh Allah menunjukkan pembagian dan mewahyukan bahwa sebagian dari mereka (para sahabat) tidak mendapatkan ampunan (maghfirah) dan ridha Allah. Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa sebagian sahabat terhalang darinya sifat iman dan amal shalih. Jadi ayat di atas merupakan pujian dan juga celaan yaitu antara pujian terhadap sahabat yang terpilih dan juga celaan terhadap yang lainnya.”
Aku katakan: ayat mulia ini mencakup pujian dari Allah ta’ala kepada sahabat Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan Dia menyifati mereka dengan sifat yang agung, menunjukkan ketinggian kedudukan mereka dalam agama ini. Dan kokohnya kaki mereka dalam iman dan amal shalih. Adapun apa yang dituduhkan oleh si rafidhi (tijani) bahwasanya kata “minhum/منهم” pada firman Allah, “Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara mereka….”[2] Sebagai tab’idh (pembagian), bahwasanya ayat tersebut menunjukkan ketiadaan iman dan amal shalih dari sebagian mereka (para sahabat). Ini adalah karena kebodohannya, kelancangannya terhadap Allah, dan kedustaan pada-Nya dengan menafsirkan ayat dan tidak menyandarkannya kepada satupun ahli ilmu dan tafsirnya.
Yang dimaksud dengan ‘min’ oleh para ahli tafsir dan ahli ilmu pada ayat tersebut adalah sebagai bayan al-jins (penjelasan jenis), jadi maknanya: Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dari jenis ini, dan mereka yang dimaksud adalah para sahabat.
Al-Qurthubi berkata, “kata ‘minhum’ bukanlah menunjukkan sebagian kaum dari kalangan sahabat dengan sebagian sahabat yang lain, akan tetapi dia adalah umum, seperti dalam firman-Nya “jauhilah ar-rijs dari patung-patung.”[3] Bukanlah dimaksudkan tab’idh akan tetapi mengarah kepada al-jins (jenis) yaitu: jauhilah arrijs dari jenis patung-patung, dimana arrijs terdapat pada berbagai jenis apapun, di antaranya zina, riba, minum khamar, dan berdusta. Maka masuknya ‘min’ berarti aljins, demikian pula kata ‘minhum’, yaitu: dari jenis ini, yaitu: para sahabat. Dikatakan aku berinfak kepadamu dari dirham, yaitu jadikan infakku kepadamu dari jenis ini.”[4]
Demikian berkata Ibnu Katsir dalam tafsir ayat ini: “min disini sebagai bayan (penjelasan) al-jins.”[5]
Berkata syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam minhaj as-Sunnah: jika dikatakan firman-Nya, “Allah memberi janji kepada orang-orang beriman dan beramal shalih di antara mereka”, bukan berarti menjanjikan kepada mereka semuanya?
Dikatakan, sebagaimana Allah berfirman “Allah menjanjikan orang-orang beriman di antara kalian dan orang-orang yang beramal shalih.” Dan Ia tidak mengatakan: menjanjikan kepada kalian dan “min/من” adalah untuk penjelasan jenis (bayan al-jins), dan bukan berarti ada yang tertinggal dari jenis tersebut, sebagaimana firman Allah: “fajtanibuu arrijsa minal awsan/ jauhilah arrijs dari jenis patung-patung” sesungguhnya ayat tersebut tidak menunjukkan bahwa hanya autsan/patung-patung yang najis (ar-rijs) dan selain itu tidak termasuk perbuatan ar-rijs.
Dan jika aku katakan: “pakaian dari sutra” itu sama dengan perkataan Anda: “pakaian sutra,” demikian pula perkataanmu: “pintu dari besi,” sama dengan: “pintu besi.” Hal tersebut tidak menunjukkan bahwa ada besi dan sutra selain mudhaf ilaihi pada kalimat tersebut. Jika ada yang memandang bahw aitu mencakup semuanya maka al-Jins al-Kully adalah sesuatu yang tidak dibatasi dari adanya hal yang sama padanya, meskipun tidak bersamaan dalam keberadaannya. Karena itu, min/من dalam ayat ini “وعد الله الذين أمنوا وعملوا الصالحات مهنم” bermakna dari jenis ini, meskipun jenisnya adalah orang beriman dan beramal shaleh.
Dengan ini menjadi jelaslah kebatilan yang diklaim oleh si Rafidhah ini bahwasanya ‘min’ pada ayat di atas merupakan tab’idh (sebagian), dan dia menjadikannya dalil untuk menghilangkan keimanan dan amal shalih dari sebagian sahabat. Hal ini bertentangan dengan apa yang telah disebutkan oleh para ulama, bahkan bertentangan dengan keumuman nash dari kitab dan assunnah, dan yang menetapkan ‘adalah dan tazkiyah untuk para sahabat. Pensifatan Al-Quran untuk mereka dengan keimanan dan takwa, dan berlomba-lomba dalam hal tersebut. Dan Allah telah mengabarkan tentang mereka bahwa Ia ridha terhadap mereka, mereka pula ridha kepada-Nya. Allah menjanjikan kepada mereka dengan derajat yang tertinggi di surga.
Pendapatnya juga bertentangan dengan yang telah diketahui oleh kaum muslimin, yang meyakini dan memuji mereka, meyakini keutamaan dan keunggulan mereka dalam agama ini. Dan bahwasanya ummat setelah mereka tidak akan mencapai derajat mereka, tidak juga dalam kemuliaan. Dan orang-orang yang mencela mereka sama halnya dengan mencela ummat ini, dan melaknat mereka sama halnya dengan melaknat alquran dan sunnah.
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili (Guru Besar Aqidah pada Islamic Interntional University of Medina) dari buku Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 296-312 
(Mahardy/lppimakassar.com)

[1] QS. Al-Fath: 29
[2] Surah al-Fath: 29
[3] Surah al-Hajj: 30
[4] Al-Jami’ li ahkam al-Qur’an, 16/282.
[5] Tafsir ibnu katsir 4/205

2 komentar:

Bagaimana dengan orang orang beriman dan mengerjakan amal shaleh yang tidak termasuk jenis ini (sahabat),apakah Allah tidak menjanjikan apa-apa?

Silakan diperhatikan ucapan Prof. Ibrahim Ar-Ruhaili di atas,

"Jika ada yang memandang bahwa itu mencakup semuanya maka al-Jins al-Kully adalah sesuatu yang TIDAK DIBATASI dari adanya hal yang sama padanya, meskipun tidak bersamaan dalam keberadaannya. Karena itu, min/من dalam ayat ini “وعد الله الذين أمنوا وعملوا الصالحات مهنم” bermakna dari jenis ini, meskipun jenisnya adalah orang beriman dan beramal shaleh."

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More