Bantahan atas Tuduhan Para Sahabat Tidak Menjalankan Ekspedisi Pasukan Usamah

Serial ulasan ke-18 atas buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial ulasannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Di bawah judul, “Sahabat dalam Pasukan Usamah” halaman 100, Tijani mengatakan, “Gambaran umum dari kisah ini, Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam menyiapkan sebuah pasukan untuk memerangi Romawi dua hari sebelum hari wafat beliau, Usamah diangkatnya sebagai panglima pasukan yang waktu itu usianya baru 18 tahun. Dalam pasukan ini Nabi tidak menghiraukan pembesar Muhajirin dan Anshar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah dan sahabat yang masyhur lainnya. Sebagian di antara mereka tidak menyukai penunjukan Usamah ini. “Bagaimana mungkin kami dipimpin oleh seorang pemuda yang bulunya belum tumbuh?” sebelum itu, mereka juga tidak suka dengan penunjukan ayahnya sebagai pemimpin pasukan, bahkan kritikan padanya lebih banyak, hingga Rasulullah saw marah besar karena ketidaksukaan dan kritikan mereka. Beliau pun keluar dengan penutup kepala karena demam, dipapah oleh dua orang laki-laki sedang kedua kakinya bepijak di atas tanah, “Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, -menunjukkan hal ini sangat serius, beliau menaiki mimbar dan memuji Allah- wahai manusia, ada perkataan sebagian dari kalian tentang penunjukan Usamah yang sampai kepadaku, jika kalian cela penunjukanku atas Usamah, sungguh kalian juga telah mencela penunjukanku atas ayahnya sebelum ini. Demi Allah, sesungguhnya dia pantas memikul kepemimpinan ini, begitu pun dengan anaknya”.”
Kemudian ia (Tijani) meneruskan celaannya kepada sahabat-sahabat Nabi saw dengan tuduhan bahwa mereka sangat menentang pengangkatan Usamah sebagai panglima. Dimana mereka lambat bergabung dengan pasukan Usamah dan tidak memberangkatkannya hingga Rasulullah saw wafat.
Sampai pada halaman 103, “Jika kita ingin mendalami masalah ini, kita akan dapati Khalifah kedualah yang paling menentang ini. Dimana setelah Rasulullah saw wafat ia mendatangi Khalifah Abu Bakar dan meminta untuk mengganti Usamah dengan yang lain. Abu Bakar pun menjawab, “Celaka kamu wahai Ibnul Khaththab! Kamu perintahkan saya mencopotnya, sedangkan Rasulullah telah mengangkatnya?!”.”
Jawabannya sebagai berikut:
Klaim yang ia sebutkan bahwa para sahabat sangat menentang penunjukkan usamah adalah kebohongan yang paling jelas yang ditolak sendiri oleh riwayat-riwayat yang shahih.
Yang benar dari kisah ini adalah ketika Rasulullah saw sakit, beliau perintahkan para sahabatnya untuk melakukan perjalanan ke arah Balqa’ di Syam dan membuat perkemahan disana. Di antara tujuannya untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam perang Mu’tah, dimana pada waktu itu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah sebagai para panglima Rasulullah dibunuh pada perang Mu’tah yang terkenal itu. Ketika para sahabat melakukan persiapan, Rasulullah saw mengangkat Usamah sebagai panglima mereka. Beliau berpesan padanya, “Berjalanlah menuju tempat ayahmu dibunuh. Berhentikan kuda-kuda mereka di Ubna[1] dan bakarlah semangat mereka pada pagi hari. Berjalanlah dengan cepat hingga kalian mendahului kabar sampai ke telinga mereka. Jika Allah memenangkanmu, maka janganlah terlalu lama tinggal disitu.” Maka sebagiannya mengangkat bicara mengenai penunjukan Usamah, diantaranya ‘Ayasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi, Umar pun membantahnya dan mengabarkannya pada Nabi Saw.[2] Beliau pun berkhutbah, “Jika kalian cela kepemimpinannya, maka kalian juga telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelum ini. Demi Allah, sesungguhnya dia pantas memikul kepemimpinan itu, beliau merupakan manusia yang paling saya cintai, dan sesungguhnya ini (usamah) manusia yang paling saya cintai setelah kepergian ayahnya.”[3]
Jelaslah disini bahwa yang berbicara mengenai penunjukan Usamah adalah person-person sahabat, bukan seluruh sahabat. Mereka pun berijtihad tentang pendapat itu, karena mereka mengkhawatirkan kepemimpinannya yang lemah karena masih sangat muda. Ini juga telah diingkari oleh Umar dan beliau mengabarkannya kepada Rasulullah saw. Nabi pun mengabarkan pada mereka bahwa Usamah layak memimpin. Setelah itu tak satupun dari mereka diketahui berbicara tentang itu lagi.
Karena itu, apakah ada cela untuk sahabat karena perkataan seorang dari mereka yang diingkari oleh sebagian mereka juga dan kemudian dilarang oleh Rasulullah shallallahi alaihi wasallam dan akhirnya mereka berhenti?
Adapun klaim si Rafidhi ini bahwa para sahabat lambat bergabung dengan pasukan Usamah hingga Rasulullah saw wafat adalah sama sekali tidak terjadi. Justru, sahabat bersegera melakukan persiapan untuk berperang. Ibnu Hisyam dan Thabari dengan sanadnya telah menukil dari Ibnu Ishaq, “Rasulullah saw mengutus Usamah bin zaid bin haritsah menuju ke Syam dan memerintahkannyauntuk berhenti di perkemahan di Balqa’ dan Darum yang masuk tanah Palestina. Manusiapun melakukan persiapan. Ikut pula bersama Usamah para muhajirin yang pertama-tama.”[4]
Dalam Thabaqat milik Ibnu Sa’ad, “Beliau menempatkan pasukan di Jurf, maka tak satupun dari wajah kaum Muhajirin yang pertama-tama dan Anshar kecuali ikut bergabung dalam peperangan itu.”[5]
Para sahabat berangkat bersama Usamah dan menempatkan pasukan di daerah Jurf sebagai tempat bertolaknya pasukan. Akan tetapi yang terjadi setelah itu adalah sakit Nabi saw bertambah parah. Usamah pun mendatanginya dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya menjadi lemah dan saya berharap Allah telah menyembuhkanmu. Izinkanlah saya untuk tinggal hingga Allah menyembuhkanmu. Jika saya keluar sedang engkau dalam kondisi seperti ini, saya merasa berat dan saya tidak suka jika manusia bertanya kepdaku tentang engkau. ” Rasulullah saw pun diam.[6]
Usamahlah yang meminta kepada Nabi agar pemberangkatannya ditunda hingga beliau merasa tenang dengan kondisi Rasulullah saw hingga beliau pun mengizinkannya untuk berangkat. Jika seandainya Usamah ingin segera berangkat, niscaya tak satupun yang terlambat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak satupun pasukan Usamah yang enggan ikut jika Usamah berangkat. Justru Usamahlah yang menunda keberangkatan karena khawatir Rasuluallah saw wafat. Ia pun berkata, “Bagaimana mungkin saya berangkat sedangkan engkau seperti ini? Saya akan ditanyai oleh para pasukan.” Nabi pun mengizinkannya. Namun jika beliau tetap ingin memberangkatkannya, niscaya Usamah akan mematuhinya. Dan jika Usamah berangkat, tak satupun yang membangkang keluar dari pasukan. Karena itu, mereka semuanya berangkat bersamanya setelah wafatnya Nabi saw dan tak seorangpun yang tidak ikut tanpa izinnya.”[7]
Kemudian Usamah menetap di Jurf menunggu kesembuhan Rasulullah saw hingga pada hari senin Rasulullah saw terbangun (sadar), usamah pun masuk menemuinya dan Rasulullah saw berkata padanya, “Berangkatlah atas berkah dari Allah.” Usamah pun meninggalkannya dan kembali kepada pasukan dan memerintahkan mereka untuk memulai perjalanan. Ketika beliau ingin menaiki kendaraannya, seorang utusan, budak Ummu Aiman mendatanginya dan berkata, “Sesungguhnya Rasulullah saw telah wafat” beliau pun menemuinya, begitu juga Umar dan Abu Ubaidah. Mereka mendatangi Rasulullah saw yang telah wafat alaihi ash-shalatu was salam)[8]
Inilah hakikat yang terjadi. Tidaklah Usamah terlambat berangkat kecuali karena permohonan beliau sendiri yang telah diizinkan oleh Nabi saw, dimana rentang waktu antara perintah Rasulullah saw untuk menyiapkan pasukan dengan hari wafatnya adalah enam belas hari. Rasulullah saw memerintahkan untuk menyiapkan pasukan pada hari senin, 4 malam sisa bulan shafar tahun 11 Hijriyah dan Usamah dipilih sebagai panglima pada hari kedua (selasa).
Pada hari rabu, Rasulullah saw mulai merasakan sakit, dan beliau sakit hingga Allah-pun mewafatkannya pada hari senin, 12 Rabi’ al-Awwal. Sebagaimana diketahui, rentang waktu ini bukanlah waktu yang cukup untuk menyiapkan pasukan pada kondisi pada waktu itu dimana para sahabat telah bersiap untuk berangkat jauh sebelum itu jika saja Usamah tidak meminta izin untuk menunda keberangkatan. Usamah keluar bersama pasukan di Jurf pada hari kamis, tiga hari setelah perintah Rasulullah untuk melakukan peperangan.[9]
Karena itu, runtuhlah klaim si Rafidhi ini yang menuduh sahabat berberat hati untuk berangkat. Bahkan ini menunjukkan cepatnya mereka memenuhi perintah Rasulullah saw dengan mengumpulkan pasukan, sebagaimana diceritakan bahwa pasukan mereka sebanyak 3000 pasukan[10] dengan segala bekal yang dibutuhkan oleh tiap mereka dalam jangka waktu tiga hari, dimana mereka dalam keadaan faqir. Semoga Allah memberi pahala jihad mereka dan ujian yang mereka terima dalam keislaman mereka dengan sebaik-baik balasan yang diberikan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Adapun klaimnya bahwa Abu Bakar dan Umar berada dalam pasukan Usamah atas perintah Rasulullah saw, kemudian mereka berdua berberat hati untuk ikut bersama pasukan Usamah, jawabannya: tidak ada riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw memeinta mereka berdua untuk bergabung dengan pasukan Usamah, bahkan beliau tidak memerintahkan kepada selain mereka berdua. Karena bukan kebiasaan beliau menentukan nama-nama orang jika menyiapkan pasukan, beliau hanya menyerukan ajakan umum, kemudian jika sudah terkumpul beliau akan menentukan panglima mereka.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bukanlah kebiasaan Nabi saw menentukan nama-nama orang yang menyertainya dalam invantri dan pasukan yang dibentuknya, tapi beliau hanya menyeru dengan ajakan umum. Kadang mereka tahu bahwa beliau tidak memerintahkan setiap orang dari mereka untuk keluar bersamanya namun dianjurkan untuk ikut sebagaimana yang terjadi dalam perang al-Ghabah. Kadang beliau juga memerintahkan orang seperti dalam perang Badr. Beliau mengajak orang yang hadir bersamanya saat itu juga, karena itu banyak kaum Muslimin tidak menyertai beliau. Begitu juga seperti dalam perang As-Sawiq/As-Suwaiq yang terjadi setelah perang Uhud. Yang beliau ajak hanyalah orang yang pernah berjihad di perang Uhud saja. Dan kadang juga beliau serukan kepada semua dan tidak diizinkan seorangpun untuk tidak ikut seperti dalam perang Tabuk... dan ketika beliau menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima setelah ayahnya terbunuh, beliau mengutusnya ke tempat musuh yang dulu membunuh ayahnya karena beliau melihat ada maslahatnya, beliau mengajak manusia untuk bergabung bersamanya yang ingin ikut berperang. Dan diriwayatkan bahwa Umar termasuk yang bergabung dalam pasukan itu, bukan karena Nabi saw menunjuknya secara khusus, tidak pula menunjuk selain Umar secara khusus.”[11]
Nabi saw tidak menentukan seorangpun dengan nama mereka untuk bergabung dengan pasukan Usamah, beliau hanya mengajak sahabatnya untuk bergabung dengan pasukan, para pembesar Muhajirin dan Anshar pun ikut bergabung.[12]
Umar bin Khaththab adalah di antara mereka yang bergabung dengan pasukan itu sebagaimana ditulis oleh para ahli tarikh.[13] Riwayat shahih juga menunjukkan bahwa beliau termasuk yang ikut bermarkas di Jurf, kemudian kembali ke Madinah bersama Usamah ketika berita wafatnya Rasulullah saw sampai kepada mereka, sebagaimana kutipan yang telah lalu dari Ibnu Sa’ad.[14]
Kemudian Umar radhiyallahu anhu tinggal bersama pasukan Usamah. Ketika Abu Bakar dipilih menjadi Khalifah dan memerintahkan agar pasukan segera diberangkatkan, Abu Bakar minta kepada Usamah agar Umar diizinkan untuk tidak ikut bersama pasukan karena Abu Bakar membutuhkannya.
Al-Waqidi berkata, “Abu Bakar radhiyallahu anhu berjalan menuju Usamah di rumahnya, beliau meminta agar meninggalkan Umar untuk tidak ikut. Usamah pun menyanggupinya. Lantas Abu Bakar bertanya kepadanya, “Anda mengizinkannya dan Anda baik-baik saja?” Usamah menjawab, “Iya”.”[15]
Ath-Thabari menyebutkan bahwa Abu Bakar berkata kepada Usamah ketika beliau mengantar pasukannya keluar, “Jika Anda ingin membantu saya dengan (meninggalkan) Umar maka lakukanlah.” Beliau pun mengizinkannya.[16]
Begitu juga yang dituliskan oleh lebih dari satu ahli tarikh dan tahqiq.[17]
Dengan ini, menjadi jelaslah bahwa bergabungnya Umar dengan pasukan Usamah atas pilihan dan kemauannya sendiri. Dan bahwa keluarnya beliau dari pasukan karena keinginan sang Khalifah dan izin sang panglima. Karena itu, adakah cela untuk Umar radhiyallahu anhu?
Adapun Abu Bakar, banyak ahli tarikh menyebutkan bahwa beliau memang pada asalnya tidak bergabung dengan pasukan Usamah. Mereka mengategorikan sahabat yang bergabung dengan pasukan Usamah dengan sebutan pembesar sahabat, namun tidak menyebut nama Abu Bakar di antara mereka.
Al-Waqidi ketika menceritakan ekspedisi pasukan Usamah menyebutkan, “Tidak tersisa satupun muhajirin yang pertama-tama kecuali ikut dalam peperangan itu; Umar bin Khaththab, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu al-A’war Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail....”[18]
Ath-Thabari menyebutkan, “Sebelum wafat Rasulullah membentuk satu pasukan penduduk Madinah dan sekitar mereka, diantaranya Umar. Beliau menunjuk Usamah bin Zaid sebagai panglima.”[19]
Adz-Dzahabi berkata dalam biografi Usamah, “Nabi saw mengangkatnya sebagai panglima dalam sebuah pasukan untuk menyerang Syam, dalam pasukan itu terdapat Umar dan para pembesar sahabat.”[20]
Para ahli tarikh tersebut tidak menyebut Abu Bakar bergabung dengan pasukan Usamah. Mereka menyebut sebagian pembesar sahabat seperti Umar, Abu Ubaidah, Sa’ad dan selain mereka, jika seandainya Abu Bakar bergabung dengan pasukan niscaya namanya disebutkan pada urutan pertama dan lebih masyhur.
Abu Bakar dihitung masuk dalam pasukan Usamah oleh Ibnu Sa’ad, “Tidak tersisa satupun wajah kaum Muhajirin yang pertama-tama dan Anshar kecuali ikut bergabung dalam peperangan itu, di antara mereka ada Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah....”[21]
Begini pula pandangan Ibnu Hajar dalam al-Fath (Fathul Bari).[22]
Ibnu Katsir mengatakan, “Di antara mereka ada Umar bin Khaththab, juga Abu Bakar, namun Rasulullah saw mengecualikannya untuk memimpin shalat (menggantikan beliau).”[23]
Sedangkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah meyakini bahwa Abu Bakar tidak termasuk pasukan Usamah, beliau menukil kesepakatan ahlul ilmi tentang ini, “Abu Bakar radhiyallahu anhu bukanlah bagian dari pasukan Usamah sesuai kesepakatan para ahlul ilmi. Tapi diriwayatkan Umar bergabung dengan mereka. Umar keluar bersama Usamah. Namun Abu Bakar meminta Usamah untuk tidak mengikutsertakan Umar karena ada suatu keperluan, Usamah pun mengizinkannya.”[24]
Pada tempat yang lain dan masih dalam konteks membantah tuduhan orang Syiah, beliau mengatakan, “Adapun perkataanya bahwa Usamah ditunjukn menjadi panglima pasukan yang di dalamnya terdapat Abu Bakar dan Umar  adalah kebohongan yang diketahui bahkan oleh orang yang memilki sedikit ilmu tentang hadis. Abu Bakar bukanlah bagian dari pasukan itu, justru Rasulullah saw meminta Abu Bakar untuk menggantikannya memimpin shalat sejak beliau sakit hingga wafat. Mengenai Usamah, diriwayatkan bahwa panji pasukan diberikan padanya sebelum Nabi saw sakit, kemudian ketika sakit, Nabi saw perintahkan Abu Bakar untuk menggantikannya memimpin shalat. Abu Bakar pun meminpin shalat hingga Nabi saw wafat. Jikapun ditakdirkan Abu Bakar diperintah untuk ikut bersama Usamah sebelum beliau sakit, niscaya Rasululullah saw akan memerintahkannya memimpin shalat pada rentang waktu itu dan mengizinkan Usamah berangkat pada masa sakitnya. Yang menyebabkan hilangnya kepemimpinan Usamah atas Abu bakar. Maka bagaimana lagi jika Abu Bakar tak diperintahkan ikut ekspedisi Usamah sama sekali.”[25]
Dengan ini menjadi jelas bahwa Abu Bakar tidak termasuk bagian dari pasukan Usamah. Begitulah pendapat mayoritas ahli tarikh, kecuali sedikit yang berpendapat sebaliknya. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menukil kesepakatan ahlul ilmi dan ahli hadis tentang ini, dimana Abu Bakar radhiyallahu anhu disibukkan memimpin shalat di masa sakit Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Pendapat yang lain juga tidak mengatakan bahwa Abu Bakar berada dalam pasukan Usamah setelah beliau diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk memimpin shalat. Tak seorang pun ahlul ilmi menyebutkan pendapat ini. Karena keterangan yang menyebutkan sibuknya Abu Bakar memimpin shalat di masa sakit Nabi saw hingg wafat telah mereka ketahui derajat kemutawatirannya. Karena itu, ketika Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Abu Bakar termasuk bagian dari pasukan Usamah, diriwayatkan bahwa hal itu dikecualikan karena perintah Nabi saw padanya untuk memimpin shalat.
Karena itu pula runtuhlah klaim si Rafidhi ini ketika ia menyebut Abu Bakar dan Umar bagian dari pasukan Usamah dan bahwa mereka berdua merasa berat/ lambat bergabung dengan Usamah.
Tentang perkataannya, bahwa Umar merupakan penentang keras, setelah wafatnya Rasulullah saw dia mendatangi Abu Bakar dan memintanya agar mencopot Usamah dan menggantinya dengan selainnya. Jawabannya adalah pada asalnya tidak ada penentangan hingga ada sebutan penentang keras atau penentang tidak keras. Hal ini tidak lain tuduhan keji orang-orang Rafidhah serta kebohongan mereka yang berusaha menipu orang yang lemah akalnya dengan tujuan untuk mencela dan memaki sahabat-sahabat Rasulullah saw. Patokannya disini adalah riwayat yang shahih, olehnya itu, adakah riwayat shahih yang membenarkan klaimnya?
Dimana sudah dijelaskan sebelumnya sikap para sahabat yang mulia atas ekspedisi Usamah dengan riwayat yang shahih, serta terlepasnya mereka dari tuduhan dan klaim yang dilempar oleh orang Syiah, sang pendengki. Tak perlu lagi kita ulangi disini.
Adapun ucapannya, bahwa Umar meminta Abu Bakar agar mengganti Usamah, ini bukanlah pendapat Umar semata. Bahkan sebagian sahabat memandang seperti itu. Sebabnya adalah  ketika Rasulullah saw meninggal banyak kabilah arab yang murtad, kemunafikan sudah terang-terangan dan musuh-musuh mengepung kaum muslimin dari segala sisi, sedangkan yang bergabung dengan pasukan Usamah adalah sahabat-sahabat yang terbaik. Karena itu, pembesar sahabat mengkhawatirkan kondisi kota Madinah yang bisa saja dikuasai oleh musuh setelah kepergian pasukan Usamah. Padahal di dalamnya terdapat khalifah (pengganti) Rasulullah saw, ummahatul mukminin (istri-istri Nabi), wanita dan orang-orang lemah. Mereka menyarankan kepada Abu Bakar agar menunda pemberangkatan pasukan Usamah hingga kondisi stabil dan selesai dari memerangi kaum murtad. Ketika saran mereka ditolak oleh Abu Bakar, sebagian mereka menyarankan kembali agar Usamah diganti dengan sahabat yang lebih senior dan lebih mengetahui strategi perang. Hal ini tak lain karena mereka menginginkan pasukan Usamah selamat pada waktu yang sangat menegangkan itu.
Beberapa riwayat mengenai peristiwa ini:
Thabari meriwayatkan dari Urwah, dari ayahnya, berkata, ketika Abu Bakar telah dibai’at dan kaum Anshar bersatu dalam pandangan yang sebelumnya mereka perselisihkan, mereka berkata, “Seandainya kalian tidak mengutus pasukan Usamah, bangsa arab telah murtad, secara umum maupun khusus di setiap kabilah, kemunafikan menjadi terang-terangan, dan yang paling buruk adalah kaum Yahudi dan Nasrani. Kaum Muslimin bagaikan kambing kehujanan di malam hari karena kehilangan Nabi, sedikitnya jumlah mereka dan banyaknya jumlah musuh.” Manusia pun berbicara pada Abu Bakar, “Mereka itu adalah semua kaum Muslimin dan bangsa arab sebagaimana yang anda lihat telah melepaskan perjanjiannya dengan anda. Maka tidak sepantasnya anda memecah jamaah kaum Muslimin,” Abu Bakar menjawab, “Demi Dzat yang jiwa Abu Bakar berada dalam genggaman-Nya, Jika seandainya binatang buas itu mengerumuni aku, niscaya aku tetap menjalankan ekspedisi Usamah sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah saw. Dan jika seandainya tidak tersisa di kota ini melainkan aku, pasti saya tetap memberangkatkannya!”[26]
Dalam riwayat al-Waqidi, “Ketika bangsa arab menerima kabar wafatnya Rasulullah saw dan murtadlah siapa saja yang murtad dari Islam, Abu Bakar radhiyallahu anhu berkata pada Usamah rahmatullahi alaihi, “Berangkatlah sesuai dengan yang  Rasulullah saw arahkan padamu.” Manusia pun berangkat dan bermarkas di tempat mereka semula. Hal tersebut membuat pembesar Muhajirin dan Anshar merasa berat. Umar, Utsman, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Sa’id bin Zaid menemui Abu Bakar dan berkata padanya, “Wahai khalifah Rasulullah, bangsa Arab telah berlepas diri darimu dari segala arah. Janganlah menyebar pasukan ini sedikitpun. Jadikanlah mereka persiapan untuk memerangi kaum murtad sehingga dengan pasukan ini anda dapat menumpas mereka. Selain itu, kami merasa tidak aman dengan kondisi penduduk Madinah yang bisa saja diserang, sedangkan padanya terdapat orang-orang lemah dan wanita. Bagaimana jika anda tunda dulu memerangi Romawi sampai Islam memukul mundur tetangganya sendiri, dan kaum murtad kembali muslim atau hingga mereka ditumpas oleh pedang, kemudian setelah itu barulah anda memberangkatkan pasukan Usamah? Karena saat ini kita merasa aman dari serangan bangsa Romawi.” Ketika Abu Bakar radhiyallahu anhu selesai menampung usulan mereka, ia berkata, “Adakah lagi seorang di antara kalian yang mengatakan sesuatu?” mereka menjawab, “Tidak. Anda telah mendengar seluruh perkataan kami.” Abu Bakar pun menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, jika saja binatang buas itu mamakanku di kota Madinah, niscaya saya tetap berangkatkan ekspedisi ini. Dan saya tidak akan memulai dengan sesuatu yang lebih utama dari ini. Karena Rasulullah saw telah turun padanya wahyu dari langit yang berbunyi, Berangkatkanlah pasukan Usamah!”.”[27]
Dalam riwayat Thabari, sesungguhnya pandangan ini adalah pandangan Usamah sendiri. Beliaulah yang mengutus Umar kepada Abu Bakar dengan pandapat itu tadi. Begitu juga pandangan kaum Anshar. Mereka juga berkata pada Umar, “Jika beliau menolak, maka mintalah agar pasukan dipimpin oleh yang lebih tua dari Usamah.” Berikut ini teks dari riwayat Hasan al-Bashri, beliau berkata, “Sebelum wafat, Rasulullah saw membentuk satu ekspedisi/pasukan dari penduduk kota Madinah dan sekitarnya, termasuk Umar bin Khaththab. Beliau menunjuk Usamah bin Ziad sebagai panglima mereka. Belum lagi pasukan terakhir mereka melewati khandaq/parit (parit  pada watu perang khandaq) hingga Rasulullah saw pun wafat. Usamah pun menghentikan pasukan kemudian berkata kepada Umar, “Kembalilah kepada khalifah Rasulullah saw. Mintalah izin pada beliau agar aku pulang dengan pasukan ini, karena manusia bersama saya dan saya tidak merasa aman akan khalifah Rasulullah. Tentunya Rasulullah dan kaum Muslimin merasa berat jika dimusnahkan oleh kaum Musyrikin.” Kaum Anshar juga berkata padanya, “Jika beliau menolak dan tetap memerintahkan kita untuk jalan maka sampaikanlah dari kami, mintalah pada beliau agar mengangkat panglima yang lebih tua dari/senior dari Usamah.” Umar pun keluar membawa perintah Usamah, mendatangi Abu Bakar dan memberitahukan apa uang diminta Usamah. Abu Bakar pun menjawab, “Jika anjing-anjing dan serigala itu memakanku, saya tidak mencabut putusan yang telah dibuat oleh Rasulullah saw.” Umar kembali berkata, “Kaum Anshar juga memintaku untuk menyampaikan padamu agar mengangkat panglima yang lebih senior dari Usamah.” Abu Bakar pun melompat dan menarik janggut Umar dan berkata, “Celaka kaumu wahai anak al-Khaththab, Rasulullah saw mengankatnya dan kamu perintahkan saya untuk mencopotnya?” Umar pun keluar dan menemui manusia. Mereka bertanya padanya, “Apa yang anda lakukan?” ia menjawab, “Berangkatlah, celaka kalian semua. Saya tidak mendapatkan dari yang kalian perintahkan pada khalifah Rasulullah”.”[28]
Jelaslah sekarang bahwa apa yang membawa sahabat untuk mengatakan pendapat seperti itu hanyalah karena semangat ingin memberi nasehat dalam agama Allah, kasihan/khawatir terhadap kondisi kaum Muslimin. Begitu juga pendapat untuk menunda keberangkatan Usamah adalah pendapat sebagian besar sahabat, termasuk Usamah sendiri. Karena beratnya tugas yang mereka emban dan melihat juga wafatnya Rasulullah saw dan segala yang terjadi setelah itu berupa kemurtadan, kemunafikan, berkumpulnya musuh dan sangat inginnya mereka untuk menumpas kaum Muslimin pada waktu dimana pasukan tersebut akan menempuh perjalanan yang panjang dan akan berpapasan dengan banyak kabilah-kabilah arab yang membuat mereka was-was dari tipu daya dan kemurtadan mereka. Hal inilah yang membuat kaum Anshar agar Umar –sebagaimana dalam riwayat Thabari- meminta Khalifah Rasulullah saw jika tetap bertekad akan memberangkatkan pasukan agar menganti panglimanya dengan yang lebih senior dari Usamah, karena beliau adalah pemuda, usianya 18 tahun.[29] Dan ini bukanlah celaan untuk Usamah. Karena usia itu berpengaruh dalam kebijakan dan strategi, khususnya pada masa-masa sulit seperti itu.
Meskipun demikian, Abu Bakar r.a tetap bertekad memberangkatkan pasukan dengan kepemimpinan di tangan Usamah, hal ini tak lain karena melaksanakan perintah Rasulullah saw dan percaya dengan pertolongan Allah. Berangkatlah pasukan itu sesuai dengan yang Rasulullah saw perintahkan. Pasukan itupun mempecundangi penduduk negeri itu. Usamah berhasil membunuh sang pembunuh ayahnya. Mereka mendapatkan ghanimah dan pasukan itu pun kembali ke Madinah dengan selamat.[30]
Para sahabat bagaimanapun kondisinya adalah para mujtahid perihal pasukan Usamah. Sama saja yang memandang pemberangkatan pasukan atau yang memiliki pandangan selain itu, atau yang memandang untuk mengganti Usamah atau sebaliknya. Tidak ada yang mereka inginkan dari itu kecuali kebaikan, dan nasehat untuk agama Allah dan kaum Muslimin. Mereka sangat jauh dari apa yang dituduhkan oleh orang-orang Rafidhah/ Syiah berupa tuduhan-tudahan batil dan lancang.
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili (Guru Besar Aqidah pada Islamic Interntional University of Medina) dari buku Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 296-312 
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)



[1] Ubna: dengan wazan Hubla, sebuah tempat di Syam dari arah al-Balqa’, Mu’jam al-Buldan, Yaqut al-Hamawi, 1/79
[2] Lihat: Lihat: Tarikh Thabari 3/184, Fath al-Bari, Ibnu Hajar 8/152
[3] Dari sabdanya, “Jika kalian semua mencelanya.....” merupakan riwayat Bukhari dalam kitab al-Maghazi, bab Bi’tsu an-Nabi shallallahu alaihi wasallam Usamah. Fath al-bari 2/152, hadis ke 4469. Muslim, Kitab Fadhail ash-Shahabah, Bab Fadhail Zaid bin Haritsah wa Usamah bin Zaid, 4/1884, hadis ke 2426.
[4] Sirah ibn Hisyam 4/1499, Tarikh Thabari 3/184
[5] Ath-Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad, 2/190
[6] Nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhaj as-Sunnah, 5/488
[7] Ibid 6/318-319
[8] Ath-Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad, 2/191
[9] Ibid 2/189-191
[10] Lihat: al-Maghazi karya al-Waqidi 3/1122, Fath al-Bari, Ibnu Hajar 8/152
[11] Minhaj as-Sunnah 4/277-279
[12] Kita sudah nukil pada hal 299
[13] Lihat: al-Maghazi karya al-Waqidi 3/1118, Ath-Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad 2/190, Tarikh ath-Thabari 3/226, al-Bidayah wa al-Nihayah 6/308, Siyar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi 2/497
[14] Lihat hal 300 dari buku ini
[15] Al-Maghazi karya al-Waqidi 3/1121-1122
[16] Tarikh Ath-Thabari 3/226
[17] Lihat Ath-Thabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’ad 2/191, al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir 6/309, Minhaj as-Sunnah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 5/448 dan 6/319
[18] Al-Maghazi 3/1118
[19] Tarikh ath-Thabari 3/226
[20] Siyar A’lam an-Nubala’ 2/497
[21] Ath-Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad 2/190
[22] Lihat: Fath al-Bari 8/152
[23] Al-bidayah wa al-Nihayah karya Ibnu Katsir 6/308
[24] Minhaj as-Sunnah 6/319
[25] Ibid 4/276-277
[26] Tarikh Thabari 3/225, Ibnu Katsir mengetengahkan riwayat ini juga dalam al-Bidayah wa al-Nihayah 6/308
[27] Al-Maghazi karya al-Waqidi 3/1121
[28] Tarikh Thabari 3/226
[29] Lihat: Siyar A’lam Nubala’, Adz-Dahabi 2/500
[30] Lihat: Ath-Thabaqat al-Kubra, Ibnu Sa’ad 2/191

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More