Ratu Sejagad 2013

Pada tahun 1970, sebuah acara mewah nan meriah di Royal Albert Hall, London-Inggris, tiba-tiba berubah menjadi kacau dan huru-hara. Sang pembawa acara, Bob Hope, disemproti tinta, dilempari bom tepung, tomat, dan telur busuk. Hadirin panik, dewan juri melarikan diri keluar, para kontestan menangis, sementara gerombolan demonstran mengamuk sambil meneriakkan yel-yel, “Kami tidak cantik jelita. Tidak pula jelek. Kami marah! [We’re not beautiful, we’re not ugly, we are angry!]”. Protes keras terhadap kontes ‘Miss World Beauty ‘  (Ratu Cantik Sejagad) itu dilakukan oleh sejumlah aktivis wanita yang bergabung dalam Gerakan Pembebasan Perempuan alias Women Liberation Movement. Bagi mereka, perhelatan ratu cantik sejagad itu tak ubahnya ibarat ‘pasar hewan’. (Dr. Syamsuddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Intelektual, 2008).

Bulan November 2002, kontes ratu cantik di Nigeria rusuh akibat sebuah artikel yang bernada provokatif dan dianggap melecehkan Nabi Muhammad yang ditulis oleh  Isioma Daniel di surat kabar lokal “This Day”, salah satu paragraf dalam artikel tersebut tertulis, “Artikel ini ditulis sebagai jawaban kepada umat Islam Nigeria yang menolak ajang Miss World di Abuja, Ibukota Nigeria. Coba apa yang dipikirkan oleh Nabi Muhammad [bila masih hidup]? Sejujurnya dia pasti akan memilih istri di antara wanita-wanita tersebut [peserta Miss World]." Tak pelak lagi, kaum muslim Nigeria yang memang sedari awal menolak ajang pemilihan ratu cantik sejagad tersebut, berang dan melakukan demo sebagai bentuk protes. Namun aksi demonstrasi berubah menjadi aksi massal yang anarkis, sedikitnya 105 tewas sementara ratusan orang lainnya cedera. (http://groups.yahoo.com/group/wanita-muslimah/message).

Bulan september 2012 lalu, sebuah konteks kecantikan di Cina menuai kontroversi karena juri dianggap menetapkan kriteria fisik yang terlalu ketat. Kontes tersebut diselenggarakan oleh ‘The Chinese Website Model Net’, syarat untuk mengikuti kontes tersebut mulai dari babak semifinal hingga final, antara lain jarak antara dua ujung payudara ‘maaf’ (puting) harus di atas 7,8 inci (20 cm). Kriteria cantik menurut penyelenggara tersebut berdasarkan pada standar Cina klasik (traditional Chinese) dipadukan dengan hasil riset ilmiah modern (modern Western standards of beauty). Banyak pihak yang mengkritik dan protes kriteria ‘cantik’ dalam kontes tersebut, (http://www.nydailynews.com/life-style/health/chinese-university-beauty-pageant-organizers-mandate-contestants-nipples-7-8-inches-article1). 

Namun, begitulah adalanya, karena namanya ‘kontes kecantikan’ maka yang diukur pasti cantik muka dan fisiknya. Mulai dari bentuk mata dan bulunya, alis, jidat, hidung, bibir, gigi, gusi, leher, pipi, payudara, rambut, pantat, perut, dan kaki. Tinggi dan berat badan harus proporsional, warna kulit juga tak bisa diabaikan. Intinya para kontestan harus terlihat cantik dan proporsional bentuk tubuhnya yang kesemua inci harus dilihat jelas dan bisa diukur oleh dewan juri. Kriteria tambahan yang berhubungan dengan otak seperti penguasaan bahasa, wawasan sejarah, dan pengetahuan umum lainnya, hanyalah sekadar pemanis belaka, agar tak terkesan seperti seleksi ‘binatang’.

Di Amerika lebih gila lagi, pada bulan November tahun 2011, sebuah situs perempuan memberitakan adanya sebuah kontes pemilihah organ intin wanita terindah mulai dari bentuk, warna, tebal, tipis, dst. Kontes tersebut diberi nama “The Most Beautiful Miss V Contest” yang diselenggarakan oleh sebuah klub di Portland, Oregon. Juri dalam kontes tersebut terdiri dari enam selebriti lokal, (http:www.femaletrend.com/the-most-beautiful-miss-v-contest-famale-trned-women-trend).
Miss World 2013

Kontes Ratu Cantik Sejagad priode 2013 akan digelar di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Jawa Barat, tepat pada  tanggal 8 September ini. Sebelum mencapai acara puncak di Bogor, para kontestan edisi ke-63  Miss World itu akan menjalani karantina di Nusa Dua Bali, dan kini mereka sudah mulai berdatangan. Lebih dari 130 kontestan akan memeriahkan kontes ini, (http://id.wikipedia.org/wiki/Miss_World_2013).

Polemik pun bermunculan, banyak yang pro namun tak sedikit yang kontra. Yang pro menilai bahwa ajang sekalibar Miss World sangat menguntungkan Indonesia dari segi pariwisata, termasuk promosi gratis untuk negara Indonesia secara keseluruhan lebih khusus Bali dan Bogor. Termasuk para pengrajin lokal akan kebanjiran pesanan souvenir yang terkait dengan ajang pemilihan ratu cantik sedunia, dengan itu ekonomi mereka akan terkatrol. Pendapat ini dipegang oleh mazhab pemerintah secara umum dan tokoh-tokoh liberal yang didukung oleh DPR dan artis secara khusus.

Anggota Komisi X DPR Venna Melinda, yang sedang dirundung masalah karena ‘ditalak tujuh’ oleh suaminya misalnya lantaran kerap menyuruh memakaikan sepatunya, menegaskan bahwa manfaat Miss World yang merupakan perhelatan internasional itu banyak, tidak usah dipermasalahkan, kalau hanya soal bikini kesannya jadi negatif terus, itu bisa disesuikan dan tidak perlu diributkan.

Namun pendapat mantan putri Indonesia itu dibantah oleh Ida Ruwaida, seorang sosiolog dari Universitas Indonesia. Menurutnya, biaya yang dikeluarkan dalam kontes ratu cantik sedunia itu sangat tinggi. Karena itu para pelaku dan individu yang terlibat dalam industri itu akan berusaha mencari keuntungan, lebih tepatnya industri bisnis untuk kalangan dan orang-orang tertenu saja (kapitalis). Sangat sedikit manfaatnya jika ditinjau dari sisi pariwisata, tidak terlalu memberikan sumbangsih yang signifikan.  Tidak ada jaminan jika penyelenggara Miss World akan memperkenalkan budaya  Indonesia ke mata dunia. (Republika, 15/4/2013).

Meski mensyaratkan prilaku dan pengetahuan –lanjut Ida—kontes semacam itu tetap menjadikan kecantikan sebagai faktor utama. Para wanita dijadikan objek, karena unsur-unsur kewanitaan memang memiliki nilai jual. Para wanita yang terlibat dalam kontes ini pun hanya berperan sebagai duta kosmetik, bukan menonjolkan prilaku dan pengetahuannya.

Ternyata pendapat sosiolog di atas terkait Miss World sama persis dengan pandangan Dr. Daoed Joesoef, seorang penganut Kristen fanatik, dan mantan Menteri Pendidikan Indonesia, dalam memoarnya, sebagaimana dikutif oleh Dr. Adian Husaini bahwa beliau sangat tidak setuju dengan praktik kontes kecantikan. Katanya, “Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah satu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan sebagai mahkluk [manusia]. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu: perusahaan kosmetik, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengesploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang  untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom, aku tidak apriori antikegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tak boleh mengesampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara.” (Dr. Adian Husaini, 'Pendidikan Islam, Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab', 2012).

Pendeka kata –lanjut mantan menteri yang paling kontorversial era Orba itu—kalau di zaman dahulu para penguasa [raja] saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ‘meramaikan’ pesta kecantikan di forum internasional.

Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan berasaskan pancasila yang di dalamnya terkandung nilai-nilia keadilan, kemanusian, kebijaksanaan, hikmah, dan adab. Ajang pemilihan Miss World sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dan ajaran Islam yang menjadi anutan mayoritas. Negara kita adalah negara yang beragama, dan setiap agama –terutama Islam—sangat melarang penganutnya melakukan perbuatan yang sangat merendahkan harkat dan martabat wanita.

Menteri Agama Suryadharma Ali mengingatkan panitia kontes kecantikan Miss World 2013 harus memperhatikan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Menurut Sang Menteri, selain soal keamanan yang menjadi tanggung jawab aparat kepolisian atau masalah lain yang berhubungan dengan pihak terkait, penyelenggaraan Miss World juga harus memperhatikan fatwa MUI. “MUI telah menyatakan menolak keras penyelenggaraan Miss World karena tidak sesuai ajaran Islam yang mewajibkan muslimah menutup aurat,” katanya. Sebagaimana diketahui, MUI dengan tegas telah menyatakan menolak keras penyelenggaraan Miss World karena tidak sesuai ajaran Islam yang mewajibkan muslimah menutup aurat. Selain itu, Miss World juga bertentangan dengan budaya Indonesia. (www.islampos.com, 29/8/2013).

Jika di Inggris saja terjadi protes terhadap ajang pemilihan Ratu Cantik Sejagad, maka di Indonesia yang pendudukanya sangat menekankan nilai-nilai adab yang berbasis agama, tentu tak mau ketinggalan dalam meluruskan tindakan pengambil kebijakan dan para kapitalis yang jelas bertentangan dengan agama dan nilai-nilai Pancasila. Jawa Barat dikenal kota beriman, dan Bogor dikenal dengan kota halal, sangat tidak etis jika melakukan perhelatan yang tidak halal dan merusak iman. 

Namun perlu dicatat, menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran (al-amru bil ma’ruf wan an-nahyu ‘anil mungkar) harus sesuai dengan adab dan cara-cara yang telah disyariatkan. Anarkis dengan merusak fasilitas umum, mencederai orang lain, hingga melenyapkan nyawa sesama adalah tindakan mungkar dan biadab. Jangan sampai bermaksud mencegah kemungkaran dengan hanya mendatangkan kemungkaran yang lebih besar.Wallahu a’lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More