Muballigh Ahmadiyah Sulsel: Nabi "Isa Permisalan" Sudah Turun, Dialah Mirza Ghulam Ahmad!

Banyak ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi yang menyebutkan bahwa Nabi Isa akan muncul di akhir zaman dan melaksanakan syariat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kami meyakini Nabi itu sudah turun. "Isa" yang disebutkan dalam ayat dan hadis itu hanyalah "Isa permisalan" bukan Isa yang kata orang masih hidup di langit.

Begitulah ungkapan Jamaluddin Felly, seorang Muballigh Ahmadiyah Sulsel dihadapan peserta Diskusi Terbatas "Prespektif Pemuka Agama tentang Penistaan dan Penodaan Agama di Makassar Sulawesi Selatan" yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kehidupan Beragama Kementerian Agama RI, di Aula Gedung Balitbang Kemenag Sulsel, siang tadi (11/9/13).

Menurut laki-laki yang telah menjadi Muballigh Ahmadiyah selama sepuluh tahun ini, Mirza Ghulam Ahmad-lah yang dimaksud dalam ayat dan hadis itu. Karena dialah yang mempunyai ciri-ciri "Isa" permisalan.

Beginilah keyakinan Ahmadiyah. Masih menganggap bahwa Mirza Ghulam Ahmad (MGA) sang pendiri Ahmadiyah itu merupakan seorang Nabi. Dan itu tidak salah, katanya. Karena NU dan Prof. Hamka sendiri menyebutkan bahwa memang Nabi Isa akan turun setelah Nabi Muhammad. Hanya saja kami meyakini bahwa bukan Nabi Isa yang akan turun yang kata orang-orang masih hidup di langit, melainkan orang kita sendiri "Isa permisalan" yang cocok dengan ciri-ciri Nabi yang akan turun di akhir zaman itu.

Keyakinan mereka bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu seorang Nabi semakin terbukti ketika ditanya tentang Ahmadiyah Lahore yang menganggap MGA itu hanyalah seorang Mujtahid. Ia menjawab, Ahmadiyah Lahore dan Qadiyan itu sama saja, sama-sama meyakini MGA sebagai Nabi, tapi oleh Lahore, MGA dikatakan Mujtahid hanya sebagai strategi Dakwah.

Mari kita merujuk kembali kepada Fatwa MUI tentang Ahmadiyah pada Munas ke VII tahun 2005 di Jakarta berikut ini, 


Dengan bertawakal kepada Allah subhanabu wata’ala
 
M E M U T U S K A N

MENETAPKAN : FATWA TENTANG ALIRAN AHMADIYAH

1. Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam).
2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang haq (al-ruju’ ila al-haqq), yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Hadis.
3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.

Ditetapkan di: Jakarta
Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M

MUSYAWARAH NASIONAL VII
MAJELIS ULAMA INDONESIA

Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

Ketua
KH. Ma'ruf Amin

Sekretaris
Drs. Hasanuddin, M.Ag

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com) 

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More