Benarkah Umar Berkata, "Rasulullah Mengingau, Jangan Tulis Wasiatnya!"

Serial ulasan ke-17 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial ulasannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Adapun celaan penulis (at-Tijani) terhadap Umar –radhiyallahu anhu- dan menganggapnya telah menuduh Rasulullah kerena dia tidak menaati apa yang beliau katakan, dan umar berkata, “sesunggunya Nabi mengigau” dia tidak mengikuti perintah beliau, dan dia berkata, “kalian telah memiliki Kitabullah, telah cukup bagi kita Kitabullah”
Jawaban atasnya
Bahwa apa yang dituduhkan bahwasanya Umar menuduh Rasulullah telah mengigau dan bahwa dia tidak memahami apa yang beliau katakan, maka tuduhan ini adalah bathil. Karena lafaz “apakah beliau mengigau” tidak pasti bahwa Umar yang mengatakannya. Akan tetapi yang mengatakan demikian adalah sebagian orang yang hadir pada peristiwa tersebut yang tidak disebutkan didalam riwayat-riwayat dalam shahihain siapa yang mengatakan demikian, (“mereka mengatakan bagaimana keadaannya, apakah beliau mengigau?”, demikian shigat jamaknya. Karena itu sebagian ulama mengingkari bahwa yang mengatakan lafaz tersebut adalah Umar.
Ibnu Hajar berkata: “menurut saya ada tiga kemungkinan, yang disebutkan al-Qurthubi, yang mengatakan hal demikian (nabi mengigau) yaitu mereka yang baru saja masuk Islam, dan diyakini bahwa jika seseorang mengalami sakit yang parah, maka dia akan bebas mengatakan apa saja tanpa disadarinya.”[1]
Ad-Dahlawi berkata: “dari mana sumbernya yang mengatakan bahwa orang yang mengatakan perkataan tersebut (mengigau) adalah Umar, sementara di dalam banyak riwayat disebutkan “mereka berkata/qooluu” dengan sighat jamak/ bentuk plural.[2]
As-Suwaidi menyepakati perkataan di atas, dan dia menyebutkan bahwa telah dijelaskan hal tersebut oleh banyak ulama hadits mutaakhirin di antaranya adalah Ibnu Hajar.[3]
Karena lafaz inilah, si Rafidhi memfitnah dan menzalimi Umar tanpa dalil, bahkan telah jelas dalil-dalil yang bertentangan dengan tuduhan tersebut, bahwasanya lafaz tersebut tidak menyebabkan Umar tercela walau tsabit tentang dia, begitu juga para sahabat yang lain. apa yang dituduhkan oleh penulis (at-Tijani) bahwa orang yang mengatakan Rasulullah tidak menyadari apa yang beliau katakan –semoga beliau terhidar dari hal itu- adalah batil, sama sekali tidak terkandung dalam lafaz hadis. Penjelasannya dari berbagai sisi.
Petama
Bahwasanya yang pasti shahih dari lafaz (a hajara) adalah dalam bentuk istifham (kata tanya), yaitu apakah beliau meracau (أهكذا؟), dan ini bertentangan dengan yang ada di beberapa riwayat dengan lafaz “هجر, يهجر” dan penulis (at-Tijani) mengambil pendapat itu, padahal pendapat riwayat (pendapat) tersebut dianggap marjuh (tidak kuat) oleh para muhaddits, dan telah disyarh hadisnya, diantaranya oleh al-Qadhi iyadh[4], al-Qurtubi[5], an-nawawi[6]dan Ibnu Hajar.[7]
Ditetapkan bahwa kata tanya di sini datang sebagai bentuk pengingkaran terhadap orang yang mengatakan “laa taktubuu (jangan kalian tulis)”.
Berkata al-Qurthubi setelah menyebutkan dalil-dalil atas ishmah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan dinyatakan hal tersebut oleh para sahabat: “Dengan ini, tidak mungkin perkataan “Apakah dia meracau” merupakan ucapan sahabat. sebagai bentuk keraguan bagi mereka dalam kebenaran perkataannya pada masa sakit beliau. Sesungguhnya hal itu oleh sebagian sahabat merupakan bentuk pengingkaran bagi orang yang tidak menghadirkan pena dan tinta, dan menundanya, seakan-akan ia mengatakan bagi mereka yang diam: Hadirkanlah kedua hal tersebut, jangan diam, dan kemarikanlah penanya. Karena sesungguhnya beliau mengatakan kebenaran, bukan igauan. Ini merupakan penafsiran yang paling baik.[8]
Aku katakan: “ini menandakan kesepakatan para sahabat atas tidak mungkinnya igauan itu terjadi atas Rasulullah, dimana yang mengatakan demikian (bahwa beliau mengigau) dikarenakan untuk mengingkari sesuatu yang harus dilaksanakan, dimana orang yang mengingkarinya itu tidak ragu. Dengan demikian batallah tuduhan si rafidhi.
Kedua
Bahwasanya mengenai keshahihan riwayat (hajara) tanpa kata tanya, maka tidak menunjukkan celaan atas orang yang mengatakannya, karena al-hajr dalam bahasa terbagi menjadi dua: pertama, yang tidak diragukan terjadi pada para Nabi, yaitu tidak jelasnya suara karena serak, mulut terlalu panas dan kurang cairan seperti dalam kondisi kepanasan. Kedua, perkataan yang tidak tersusun rapi, bagian kedua ini diperselisihkan oleh para ulama kemungkinan terjadinya bagi para Nabi.
Ketiga
Kemungkinan lafaz ini muncul dari orang yang mengatakannya karena bingung/panik dan bingung di tempat mulia tersebut, dan sakit yang berat seperti yang menimpa Umar dan selainnya saat kematian Nabi shallallallahu alaihi wa sallam. Demikian kata al-Qurthubi.[9]
Aku katakan: karena ini maka orang yang mengatakan tersebut dimaafkan apapun maknanya, sesungguhnya seseorang itu dimaafkan karena tertutup pikiran dan akalnya akibat besarnya rasa senang atau sedihnya, seperti yang terjadi pada kisah seorang lelaki yang kehilangan kendaraan/peliharaannya kemudian dia menemukannya kembali setelah sebelumnya dia berputus asa. Ia berkata: ya Allah engkau adalah hambaku, dan aku adalah tuhan-Mu. Dia salah disebabkan saking senangnya.[10]
Keempat
Sesungguhnya lafaz tersebut terucap dengan dihadiri Rasulullah dan pembesar dari kalangan sahabat. Akan tetapi mereka tidak mengingkari orang yang mengatakan perkataan tersebut, dan mereka tidak juga menganggap dia berdosa. Ini menunjukkan hal tersebut dimaafkan. Hal tersebut tidaklah diingkari kecuali orang-orang yang suka memfitnah dalam agama ini yang menyimpang dari kebenaran dan petunjuk. Seperti hal orang miskin ini (at-Tijani).
Adapun tuduhannya tentang penolakan Umar kepada Rasulullah dengan perkataannya, “Kalian telah memiliki kitabullah, cukup bagi kita kitabullah”, bahwa dengan perkataan tersebut menunjukkan Umar tidak mematuhi perintah Rasulullah untuk keinginan beliau menulis pesan.
Bantahan atasnya
Perkataan ini bukanlah perkataan Umar, atau bentuk penolakaan dan tidak mematuhi perintah Rasulullah seperti yang dituduhkan si Rafidhi ini (tijani). Dan penjelasan mengenai hal ini beberapa point:
Pertama: bahwasanya telah jelas bagi Umar radhiyallahu anhu dan orang-orang yang sependapat dengan pendapatnya dari kalangan sahabat, bahwa perintah Rasulullah untuk menulis pesan bukanlah hal yang wajib. Akan tetapi ia merupakan bagian dari petunjuk kepada sesuatu yang lebih maslahat. Telah dijelaskan hal ini oleh Qadhi Iyadh, al-Qurthubi, an-Nawawi, dan Ibnu Hajar.[11]
Kemudian telah tsabit setelah itu kebenaran dari ijtihad Umar ini yaitu meninggalkan penulisan pesan yang akan ditulis oleh Rasulullah. Jika saja ia wajib, tidak mungkin mereka akan meninggalkan perintah itu dengan perselisihan mereka. Karena itulah, hal ini dikategorikan sebagai muwafaqaat umar/ pendapat-pendapat Umar yang sesuai dengan yang terjadi[12]
Kedua: bahwasanya perkataan Umar –radhiyallahu anhu-, “Cukuplah bagi kita kitabullah” menolak anggapan orang bahwa ia tidak taatatas perintah Nabi –shallallahu alaihi wasallam-[13] dan ini nampak dari perkataannya, “kalian memiliki Kitabullah”, dengan mukhatab jamak, mereka adalah yang berbeda pendapat dengan Umar dalam pendapatnya.
Ketiga: bahwasanya Umar adalah orang yang memiliki pandangan jauh kedepan, instinknya tajam, dan pendapat yang kuat. Dan dia memandang bahwa lebih baik meninggalkan penulisan pesan –setelah telah nampak olehnya bahwa perintah tersebut bukanlah suatu kewajiban- hal tersebut untuk maslahat syar’iyah.
Dikatakan: rasa simpati Umar kepada Rasulullah yang membuatnya tidak menuliskan pesan dan juga karena sakit keras beliau. Ini bisa dilihat dari perkataan Umar, “sesungguhnya Rasulullah telah ditimpa sakit keras”, dia tidak ingin membebani Rasulullah dengan sesuatu yang menambah sakit dan memberatkan beliau[14], sebagaimana firman Allah, “tidaklah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Kitab.”[15], “Untuk menjelaskan segala sesuatu.”[16]
Dikatakan: sesungguhnya Umar takut dari gerak-gerik orang-orang munafik, dan orang-orang yang ada penyakit di hatinya ketika beliau menulis pesan tersebut saat sedikit orang. Dan mereka akan mengatakan dengan berbagai macam perkataan, disebutkan pendapat ini oleh Qadhi iyadh dan selainnya dari kalangan ahli ilmu.[17]
Dikatakan: bahwasanya ditakutkan akan ditulis perkara-perkara yang mungkin tidak sangup mereka laksanakan dan akibatnya mereka dikenakan sanksi karena perintah tersebut tertulis. Sedangkan umar melihat bahwa lebih mudah bagi Umat dalam perkara tersebut keluasan ijtihad, dari pahala dan keluasa bagi Umat.[18]
Aku katakan: Bukan tidak mungkin Umar telah memikirkan semua hal (konsekuensi) yang akan terjdi, atau ijtihadnya dengan pandangan yang lain tidak diketahui oleh para ulama, seperti yang tersembunyi sebelum itu atas para sahabat yang menyelisihi pendapatnya, dan Rasul menyetujuinya dengan meninggalkan penulisan pesan. Dengan ini para ulama menganggap peristiwa ini sebagai dalil fikih dan dalamnya pandangan Umar.
An-Nawawi berkata: “adapun perkataan Umar –radhiyallahu anhu- telah bersepakat para Ulama al-Mutakallimun dalam syarh hadits, bahwa hal itu adalah dalil fikih Umar dan kemuliaan serta kedalaman pandangannya.”[19]
Keempat: bahwasanya Umar –radhiyallahu anhu- adalah seorang mujtahid dalam sikapnya memandang penulisan pesan tersebut, dan seorang mujtahid dalam agama dimaafkan ala kulli hal, bahkan mendapat pahala, sebagaimana sabda Nabi, “jika seorang hakim menghukum kemudian berijtihad lalu ia benar maka ia akan mendapat dua pahala. Dan jika menghukum lalu berijtihad dan dia salah baginya satu pahala.”[20] Bagaimana mungkin Umar telah berijtihad dengan dihadiri oleh Rasulullah tapi Rasulullah tidak mencelanya, bahkan beliau setuju dengan Umar yaitu meninggalkan penulisan pesan.
Adapun perkataannya: bahwasanya mayoritas yang menentukan adalah atas perkataan Umar, karena itu Rasulullah memandang untuk tidak menulis pesan karena beliau tahu bahwa mereka (para sahabat) tidak akan mengikuti beliau setelah kematian beliau.
Jawaban: sesungguhnya perkataan ini adalah kedustaan terhadap Rasulullah dan celaan terhadap para sahabat dengan semata-mata memkai perkiraan yang dusta. Ini sebagai bukti akan kejahilan orang yang mengatakannya. Hal itu karena Rasulullah diperintahkan dengan bertabligh baik manusia menerima dakwah beliau ataupun tidak. Allah berkata: “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).”[21] Juga firman-Nya, “jika mereka tetap berpaling, maka sesungguhnya kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”[22] Seandainya Rasulullah diperintahkan untuk menulis pesan, maka beliau tidak akan meninggalkan perintah tersebut sekalipun para sahabat tidak menyetujuinya. Sama halnya beliau tidak meninggalkan dakwah beliau pada permulaan beliau diutus, dengan perlawanan dari kaumnya dengan besarnya gangguan terhadap beliau, beliau tetap menyampaikan apa yang diperitahkan kepada beliau (dari Allah). Dan hal tersebut tidak menghalangi beliau dari menyampaikan dakwah, hingga binasalah orang yang jauh dari bayyinah dan hiduplah orang yang hidup dengan bayyinah (risalah)
Dengan ini jelaslah bahwa penulisan pesan tersebut bukanlah hal yang wajib, jika wajib maka beliau akan tetap menulisnya. Telah disebutkan hal tersebut oleh para ulama termasuk syaik al-Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnu Hajar –rahimahumallahu-[23] dan ketika itu menjadi taujih keinginannya yang pertama, kemudian ia meningglakan hal itu untuknya: apa yang disebutkan an-Nawawi ketika ia berkata: adalah Nabi berkeinginan kuat untuk menulis pesan ketika nampak olehnya maslahat, atau diwahyukan kepada beliau hal itu, kemudian nampak bahwa maslahat dengan meninggalkannya, atau diwahyukan kepadanya hal tersebut maka beliau menasakh perintah pertama tersebut.”[24]
Dengan ini nampaklah kebatilan celaan dari si Rafidhi terhadap para sahabat dalam peristiwa ini, dan nampaklah kedustaan apa yang dituduhkannya. Dan penjelasan sikap taujih yang shahih yang sesuai dengan kedudukan mereka yang mulia di dalam agama ini, nash-nash dan perkataan ahli ilmu tentang hal tersebut.
Walillahil hamd wal minnah

Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 286-295
(Mahardy/lppimakassar.com)


[1] Fath al-Bari, 8/133.
[2] Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsna Asyariyah, h. 250.
[3] Lihat: al-Sharim al-Hadid, Juz II, h. 16.
[4] Lihat: asy-Syifa, 2/886.
[5] Lihat: al-Mufhim, 4/559.
[6] Lihat syarah shahih Muslim 11/93.
[7] Lihat: Fath al-Bari, 8/133.
[8] Lihat: al-Mufhim 4/559.
[9] Al-Mufhim, 4/560.
[10] Dikeluarkan oleh Muslim dari hadits Anas, kitab at-Taubah, Bab al-Hadh alaa at-Taubah…, 4/2104, 2747.
[11] Lihat: asy-Syafaa, 2/887, al-Mufhim, 2/559, dan syarh shahih Muslim, 11/91, dan Fath al-Bari, 1, 209.
[12] Lihat: fathul Bari Ibnu Hajar, 1/209.
[13] Disebutkan oleh an-Nawawi dalam syarh shahih Muslim, 11/93.
[14] Lihat: Qadhi iyadh, asy-Syafaa, 2/888, dan an-Nawawi, syarh Shahih Muslim, 11/90, dan Ibnu Hajar, Fathul Bari, 1/209.
[15] Surah al-An’am: 38
[16] Surah an-Nahl: 89.
[17] Lihat: asy-syafa, 2/889, dan an-Nawawi, syarh shahih muslim, 2/92.
[18] Lihat: asy-Syafa, 2/889, dan Fathul Bari, 8/134.
[19] Syarah shahih Muslim, 11/90.
[20] Diriwayatkan al-Bukhari dari hadits amr bin Ash dalam Kitab al-I’tisham, Bab ajr al-Hakim idza ijtahada…, Fathul Bari, 13/318, 7352, dan Muslim, Kitab al-Aqdhiyah, Bab Bayan ajri al-Hakim idza ijtahada, 3/1342, 1716.
[21] Surah asy-Syura: 48.
[22] Surah an-Nahl: 82.
[23] Lihat: minhaj as-Sunnah, 6/315-316, dan Fathul Bari, 1/209.
[24] Syarh shahih muslim, 11/90.

3 komentar:

* "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarang Rasul bagimu maka tinggalkanlah" (Al Hasyir : 7).Rasul memberi perintah supaya diambilkan pena,seandainya pun perintah yang diberikan Rasul ini tidak wajib apakah sebagai pengikutnya yang setia lantas tidak menerimanya dengan tidak segera melaksanakannya?

* 'Anda mengatakan Umar tidak ingin membebani Rasulullah dengan sesuatu yang menambah sakit dan memberatkan beliau'.Orang bodoh bin tolol pun akan berpendapat "justru dengan tidak mematuhi permintaan beliau (Rasul) akan menambah sakit beliau,bukankah Rasul hanya meminta kertas dan pena?,kecuali Rasul meminta batu yang besar atau malah para sahabat yang meminta Rasul menuliskan pesan sebagai wasiat.

Sebagian sahabat tidak bersegera mengambilkan pena dan kertas bukanlah sebuah dosa, karena terbukti setelah itu Rasulullah masih hidup beberapa hari, dan wasiatnya pun disampaikan, terutama tentang kepemimpinan Abu Bakar, kemudian dikeluarkannya kaum Musyrik dari Jazirah Arab, pemberangkatan pasukan Usamah.

Setuju bos. Itulah kaum rafidi yang selalu mendramatisir masalah. Sayidina Ali saja tidak meributkannnya.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More