"DIA" Calon Walikota Makassar yang Perjuangkan Pluralisme!

Dalam selebaran kampanye calon walikota dan wakil walikota Makassar periode 2013-2018 dengan nomor urut 8, Danny Pomanto-Deng Ical (DIA), terdapat jargon kampanye yang betuliskan, "DIA Muslim yang taat, selalu menjunjung tinggi pluralisme."

Bahkan mereka katakan dalam selebaran kampanye itu, "Penghargaan terhadap pluralisme adalah hal yang mutlak di era Makassar menuju kota dunia!"

Ini jelas logika yang terbalik. Muslim yang baik dan taat itu justru tidak memperjuangkan Pluralisme. Dimana plusralisme merupakan sebuah paham yang menganggap semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga. na'udzubillah.

Padahal, paham Pluralisme ini, juga Sekularisme dan Liberalisme telah difatwakan oleh MUI bahwa paham tersebut bertentangan dengan ajaran Islam dan umat Islam haram mengikutinya. Berikut ini kuitpan fatwanya,

Menetapkan : Fatwa Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama

Pertama : Ketentuan Umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan,
  1. Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif, oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.
  2. Pluralitas agama adalah sebuah kenyataan bahwa di negara atau daerah tertentu terdapat berbagai pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.
  3. Liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan Sunnah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas, dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuaid engan akal pikiran semata.
  4. Sekulerisme agama adalah memishkan urusan dunia dari agama, agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.
Kedua : Ketentuan Hukum
  1. Pluralisme, Sekulerisme, dan Liberalisme agama sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.
  2. Umat Islam haram mengikuti paham Pluralisme, Sekulerisme dan Liberalisme agama.
  3. Dalam masalah aqidahdan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan aqidah dan ibadah umat Islam dengan aqidah dan ibadah pemeluk agama lain.
  4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain lain (pluralitas agama), dalam maslah sosial yang tidak berkaitan dengan aqidah dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan agama lain sepanjang tidak saling merugikan.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 21 Jumadil Akhir 1426 H/28 Juli 2005 M.
Musyawarah Nasional VIIMajelis Ulama Indonesia
Pimpinan Sidang Komisi C Bidang Fatwa

KH. Ma’ruf Amin
Ketua

Drs. H.Hasanuddin M. Ag
Sekretaris


Jika kita ingin berhusnuzhan, nampaknya pasangan calon walikota Makassar ini tidak dapat membedakan antara PLURALITAS dan PLURALISME, sebagaimana yang diterangkan perbedaannya dalam fatwa MUI di atas. wallahu a'lam

1 komentar:

kalau tidak salah beberapa waktu yang lalu Pak Danny Pomanto mengadakan perayaan maulid dengan mengundang ustadz shia Othman Shihab. Jangan-jangan Pak Danny orang shia. Wah, bahayanya bukan hanya bukan hanya masalah pluaralisme tetapi juga shia. wallahul musta'aan.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More