Dr. Fuad Rumi: Saya Tidak Terima Jika Syiah (IJABI) Caci Sahabat dan Praktekkan Nikah Mut'ah

Pada kolom "Jendela Langit" Harian Fajar Makassar (16/7/13) milik seorang kolumnis liberal, Muh. Qasim Mathar mengatakan bahwa ketika Dr. Fuad Rumi meninggal ada pesan yang masuk ke BB-nya yang berbunyi, "Semoga Fuad Rumi Bersama Rasulullah dan Ahlul Baitnya di Surga."

Selain itu, ada pesan duka cita resmi dari PP IJABI atas meninggalnya Dr. Fuad Rumi. 

Mengapa terjadi demikian? beberapa bulan sebelum Dr. Fuad Rumi meninggal, beliau meninggalkan kesan kepada masyarakat seakan-akan beliau setuju dan mendukung Syiah serta IJABI. Hal ini terlihat ketika beliau mengcounter tulisan Ust. Said (Ketua LPPI) di Harian Fajar yang berjudul, "UMI (Univ. Muslim Indonesia), Benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah" dengan bantahan beliau yang berjudul, "UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam." Juga pesan BB beliau yang sempat beredar mengatakan, "Sunni dan Syiah itu bagaikan makanan prasmanan, jika suka maka silakan ambil, jika tidak, silakan ditinggalkan tanpa harus dicela."

Nah, apakah memang seperti itu sikap dosen kebanggaan UMI tersebut?, mari kita simak artikel peneliti LPPI, saudara Ilham Kadir pada Harian Tribun Timur edisi hari ini, (17/7/13) yang berjudul, "Fuad Rumi dan Filsafat Ilmu" di bawah ini,


http://1.bp.blogspot.com/-zsFGvtBsceM/UeYq-Vm6pFI/AAAAAAAAApQ/SUQms5Oe07M/s1600/FUAD+RUMI.+E+PAPER.gif
Interaksi pertama saya dengan Dr. Ir. Fuad Rumi bermula ketika menjadi mahasiswa program pascasarjana Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Kala itu, Pak Fuad--demikian sapaan akrabnya—menjadi salah satu dosen mata kuliah wajib, Filsafat Ilmu.

Pertemuan pertama, Pak Fuad langsung to the point, ia menekankan bahwa tujuan utamanya mengajar mata kuliah Filsafat Ilmu untuk menjadi obat penawar pada segenap mahasiswa yang selama ini telah belajar dengan pandangan bahwa ilmu itu dikotomis, ada ilmu agama dan ada ilmu umum yang keduanya tidak ada hubungan sama  sekali, bahkan dalam beberapa hal sangat bertentangan. Pola fikir dikotomis inilah yang ingin direduksi oleh Pak Fuad.

Contoh kongkritnya adalah materi Imu Filsasafat, sebagai akar dari segenap ilmu pengetahuan yang melahirkan sains, termasuk sains terapan yang darinya ragam teknologi dapat tercipta. Ia mengatakan bahwa selama ini filsafat yang dipelajari pada perguruan tinggi selalu menekankan dualisme dan dikotomi antara ilmu pengetahuan umum (sains) dan ilmu pengetahuan agama.

Padahal menurut Fuad Rumi, agama tak akan sempurna dan bahkan pada tahap tertentu tak dapat tegak tanpa adanya korelasi antara keduanya. Agama dan sains adalah dua hal yang tak terpisahkan ‘juz’un la yatajazza’. Sebagai contoh, seorang muslim yang diwajibkan untuk melakukan ibadah salat minimal lima kali sehari semalam. Salat, adalah ibadah ‘mahdah’ atau perintahnya langsung dari Allah yang memiliki syarat dan rukun-rukun tertentu.      

Syarat adalah bagian yang tak terpisahkan dari rukun, yang jika salah satunya tak terpenuhi tanpa alasan (udzur syar’i) maka dipastikan hasilnya nihil. Menutup aurat adalah salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi para ‘musholli’ (orang salat) dengan mengenakan pakaian. Sedang pakaian adalah hasil dari teknologi industri, dan teknologi merupakan produk dari ilmu pengetahuan (sains). Jadi, sais merupakan bagian dari agama. Ilmu yang semacam ini disebut oleh Imam Algazali sebagai ilmu fadhu kifayah (kewajiban kolektif) sedangkan ilmu yang mengajarkan bacaan-bacaan dalam salat, syarat dan rukun-rukun salat merupakan ilmu fardhu ain, atau kewajiban personal.

Di sinilah Fuad Rumi tampil sebagai seorang cedekiawan tulen untuk menjadi connector antara mereka yang alergi terhadap ilmu yang bersumber dari wahyu (Alquran-hadis), maupun yang anti terhadap ilmu-ilmu sekuler yang dianggap produk  Barat. Sebagai seorang multi talenta, maka Fuad Rumi tidak begitu susah untuk memasarkan idenya. Beliau adalah seorang muballig, aktivis, akademisi, cendekiawan, pemikir, ulama, dan penulis.

Motor ICMI

Interaksi saya dengan Pak Fuad terus berlangsung, jika awalnya hanya sebagai mahasiswa, maka kali ini sudah jauh melangkah masuk dalam lingkaran para pemikir dan cedekiawan muslim, tepatnya pada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sebenarnya saya belum pantas masuk dalam lingkungan para pakar, karena memang saya sendiri belum benar-benar memiliki keahlian di bidang tertentu, masih sebatas knowing something about everything bukan knowing everything about something sebagai syarat untuk menjadi seorang pakar. 

Namun karena pertimbangan tertentu, sehingga Dr. Fuad Rumi, bersama Drs. Waspada Santing memberi saya amanat untuk menjadi ketua tim editor sebuah buku yang berasal dari materi segenap diskusi bulanan yang diadakan oleh ICMI Orwil Sulsel. Buku tersebut diberi judul langsung oleh Pak Fuad, “Alqur’an Berbicara”, namun karena beberapa kendala teknis sehingga buku tersebut belum dicetak secara massal sehingga belum dapat dinikmati oleh khalayak ramai.

Dalam “Kata Pengantar” buku tersebut, Dr. Fuad Rumi menulis, ”Al-Qur’an  adalah petunjuk bagi manusia (hudan linnas). Demikian dinyatakan sendiri oleh Al-Qur’an. (Al Baqarah: 185). Hudan mengandung berbagai cakupan makna, seperti petunjuk, pedoman atau hidayah. Ayat tersebut bermakna bahwa secara potensial Al-Qur’an  dapat menjadi petunjuk atau pedoman bagi manusia pada umumnya, tanpa membedakan agamanya. Misalnya ayat Al-Qur’an  yang mengatakan ‘maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya’ (Q.S. Abasa: 24), mengandung petunjuk yang dapat diterima dan dilakasanakan semua orang. Akan tetapi Al-Qur’an  juga menegaskan bahwa ia adalah hudan bagi orang-orang bertakwa, hudan lil muttaqin (Q.S. Al Baqarah: 2). Yang secara aktual menjadikan Al-Qur’an  sebagai petujuk, pedoman hidup dan hidayah adalah (hanyalah) orang-orang bertakwa. Menjadikan Al-Qur’an  sedemikian itu tentulah membutuhkan pemahaman kandungannya. Jika pertanyaannya demikian, maka Al-Qur’an  harus dikaji secara mendalam dan kemudian mengemukakan makna-makna, pesan-pesan, aturan-aturan, hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi dari sisi lain, kepada Al-Qur’an  juga dikemukakan sejumlah pertanyaan tematik untuk memperoleh jawaban. Metode ini, dalam ilmu tafsir dikenal sebagai metode maudhu'i. Dengan methode maudhu'i kita bisa mengetahui bagaimana Al-Qur’an  berbicara tentang berbagai hal atau tema.” 

Selanjutnya Pak Fuad menerangkan bahwa  sebagai sebuah organisasi cendekiawan muslim di negeri ini, ICMI seharusnya memposisikan diri sebagai pihak yang memiliki tanggungjawab untuk menangkap pesan-pesan tematis Al-Qur’an, untuk kemudian dijadikan dasar bagi pengembangan berbagai konsep pemikiran aktual, utamanya menyangkut masalah masyarakat dan bangsa Indonesia. 

Interaksi terakhir

Pertemuan terkahir saya dengan Pak Fuad berlangsung di Kampus Pascasarjana UMI, namun kami tidak banyak berbicara, di samping beliau juga hendak masuk mengajar, saya juga sedang sibuk mengurus syarat-sayarat untuk ikut seminar proposal. Namun sebelum itu, kami sempat berdiskusi lewat telepon genggam (hand phone). Beliau langsung yang menghubungi saya. Dalam pembicaraan kami, ada beberapa poin penting yang terkait masalah LPPI, diwakili oleh Ustad Said Shamad yang dalam pandangan Pak Fuad terlalu frontal menghadapi Syiah, tertutama Jalaluddin Rakhmat dan IJABI. “Saya sangat menghargai pendapat Ustad Said yang telah mengambil garis demarkasi dengan Syiah, dan  itu sah-sah saja. Ada pun saya, hendak berusaha agar Syiah (IJABI) dan Sunni dapat hidup harmonis dan tidak terjadi konflik. Dan saya melihat IJABI adalah organisasi Syiah yang paling bisa diajak kerja sama.” Selanjutnya Pak Fuad menyampaikan kepada saya alasannya, mengapa harus menelpon saya. Ia menegaskan. “Saya melihat Anda adalah orang yang tepat untuk menjadi penengah antara saya dengan Ustad Said, supaya tidak terjadi saling mencurigai, karena selama ini saya mendengar jika beliau menganggap saya pendukung Syiah, padahal tidak demikian. Saya memang dekat dengan teman-teman IJABI namun saya tetap mendakwahi mereka, dan tetap pada prinsip jika saya tidak akan pernah menerima kalau penganut Syiah menyerang dan mencaci sahabat Nabi, serta prilaku nikah mut’ah mereka dakwah dan amalkan. Dua hal itu yang sering saya sampaikan kepada mereka.”

Setelah itu, saya langsung memaparkan hasil pembicaraan kami kepada Ustad Said, dengan tanggap Ketua LPPI Indonesia Timur itu langsung melayangkan SMS (short messege sentence) ke Pak Fuad, dan komunikasi keduanya pun mencair, dan beberapa menit kemudian saya diminta Ustad Said untuk mengantarkan sebuah buku kepada Pak Fuad dengan Judul, “Fatwa Syekh Yusuf Qadhawwi Tentang Syiah, terbiatan MIUMI”. Baik Ustad  Said maupun Pak Fuad sama-sama sepakat untuk melakukan pertemuan, namun sayang pertemuan itu berlum terlaksana hingg ajal menjemput salah satu di antara keduanya, yaitu Dr. Ir. Fuad Rumi. 

Beliau meninggal pada hari Senin (15/7/2013) bertepatan dengan 6 Ramadhan 1434 H, di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta, diusianya yang ke-63 tahun. Dalam kultum (kuliah tujuh menit) yang rutin dilakukan Ustad Said setiap bakda Asar di Masjid Sultan Alauddin Kompleks Perumahan Dosen UMI yang terletak tidak jauh dari kediaman Fuad Rumi rahimahullah, ia menyeru kepada seluruh jamaah agar siapa saja yang merasa jika Pak Fuad memiliki dosa atau kesalahan padanya, walau sekecil apa pun supaya memaafkannya, termasuk jika memiliki hubungan yang tidak atau kurang enak padanya, supaya kiranya dilapangkan. Allahummagfir lahu, warhamhu, wa’afihi, wa’fu ‘anhu. Ya Allah ampunilah, rahmatilah, dan ampunilah segala dosa-dosanya!
 
(Ilham Kadir/Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More