Kronologi Tersembunyi atas Bentrok FPI VS Warga di Kendal

Tulisan di bawah ini bukan untuk membela FPI, tapi hanya ingin membela yang terzalimi, membela kebenaran fakta yang selalu disembunyikan oleh media nasional yang selalu tidak mengungkap penyebab kejadian, yang diungkap hanya di permukaan, mari kita membaca penuturan investigasi lapangan yang dilakukan oleh seorang aktivis Islam di Jawa Tengah berikut ini -kami dapat berita ini dari akun milik Ust. Abduh Zulfidar Akaha pada postingan status tanggal 23 Juli-:
Sbetulnya pengin "puasa"  fesbukan (bikin status) dulu.. Tp ada yg pengin disampein terkait kasus fpi vs preman di kendal.. Ini saya dapet dari pak supra yogi, dari pak adi bikerz:

"donni Purnawan @ ini dari mohammed mustafid ( militan PPP jateng / Mp3 ). Terkait pemberitaan peristiwa di Sukorejo, banyak pemberitaan yg tidak sesuai fakta di lapangan.
Berkait dg itu perlu sy sampaikan klarifikasi kejadian dn kronologi yg sesungguhnya setelah sy investigasi di lapangan dn bertemu dg Kapolres Kendal Asep Jenal. Bahwa kejadian bermula saat FPI Sukorejo akan mengadakn buka bersama mengundang FPI dr Temanggung, Magelang dn sekitarnya. Aparat kepolisian sdah mngetahui akan ada buka bersama FPI. Tetapi kegiatan itu mengusik ketenangan pelaku bisnis haram lokalisasi dn judi togel di wilayah Alaska Sukorejo.
Mengetahui kegiatan FPI tsb, slah satu bos judi berinisial 'E' mengimpor preman2 dr luar daerah untuk menghadang FPI, preman2 tsb jumlahnya mencapai ratusan. Dan mereka mempersiapkan batu dan senjata tajam untuk menyerang anggota FPI. Sbelum buka bersama, sebagian rombongan dr FPI masuk ke lokalisasi Alaska krna mendapat laporan bhwa tempat karaoke disitu tetap buka di siang hari bulan Ramadhan dn jual beli togel dilakukan scra transparan.
Tim FPI berhasil mengambil barang bukti perjudian dr lokasi tsb untuk diserahkan kpd polisi.
Keluar dr lokasi, mobil FPI ternyata sudah dihadang para preman dg melempari batu yg sudah dipersiapkan. Sopir mobil avanza FPI kepalanya terkena lemparan batu.Karena dihadang preman dn dihujani batu, sopir avanza menyetir dg kepala ditundukkan dibawah dasbor mobil. Dg kecepatan tinggi dn tidak melihat jalan, mobil tsb menabrak pengendara speda mtor yg melintas.
Mengetahui ada masyrakat umum yg tertabrak tdk sengaja, boz judi 'E' memprovokasi warga bahwa FPI ugal2an dn menabrak warga dn malah memakinya, pdhal waktu itu berniat menyelamatkan diri krna kondisi darurat.
Provokasi tsb berhasil dn massa membakar mobil yg menabrak kendaraan dn pengendaranya meninggal wktu di rumah sakit.
Boz Judi E menggiring opini bahwa konflik yg terjadi adalah FPI bentrok dg masyarakat umum. Dg begitu agar dia mendapat dukungan masyarakat dn membantu mereka menyerang FPI.
Beberapa anggota FPI terluka ditimpuki batu dn mobilnya di bakar. Boz judi 'E' terlihat mondar mandir di lokasi kejadian. Rombongan lain yg menyusul sudah dihadang di alun2 sukorejo olh massa yg dikomandoi preman 'E'.

Penjara Abu Ghuraib Diserbu, Ribuan Mujahid Bebas dari Penjara Syiah Irak

Sejumlah Mujahidin Iraq melancarkan serangan menggunakan peluncur granat roket dan mortir di penjara Abu Ghuraib dan Taji, di Irak. Demikian keterangan pejabat setempat kepada media, Ahad, 21 Juli 2013.

“Serangan tersebut berhasil meloloskan ribuan narapidana dari dua penjara,” tulis media online kelompok Jihad.

Para penyerang, jelas pejabat, menghantam fasilitas penjara di luar Bagdad pada Ahad malam waktu setempat, 21 Juli 2013, dan kota lainnya di utara ibu kota, yakni penjara Taji. Kementerian Dalam Negeri Irak menyatakan pemerintah mengerahkan tentara, polisi, dan helikopter serbu guna menyudahi serangan dan kerusuhan para narapidana.

“Pasukan keamanan di Komando Operasi Baghdad dengan bantuan pesawat militer, berhasil menggagalkan serangan bersenjata yang dilancarkan oleh sejumlah orang bersenjata yang tak dikenal terhadap dua penjara Taji dan Abu Ghraib,” jelas Kementerian dalam sebuah pernyataan resmi. 

“Pasukan keamanan memaksa penyerbu lari tunggang langgang.”

Hasil akhir dari penyerangan penjara Abu Ghuraib oleh bala tentara Daulah Islamiyah Irak dan Syam pimpinan Abu Bakar Al BAghdadi Al Qurasyi adalah terbebasnya 1500 orang tahanan Sunni dari penjara Abu Ghuraib. Itu baru Abu Ghuraib belum termasuk penjara Taji dan Huut, karena penyerangan kemarin dilakukan di ketiga penjara itu secara serempak.

Bahkan ada dari mereka yang malam ini seharusnya sudah menjalani hukuman gantung tapi karena penjara bisa direbut akhirnya malam ini dia bisa berkumpul bersama keluarganya.

Syekh Ihsan Al Utaibi, ulama asal Yordaniai, menerangkan pengakuan mereka yang berhasil lolos dari penjara tersebut menunjukkan bagaimana bentuk penyiksaan khusus tahanan Sunni di penjara itu oleh rezim Syiah Irak. Antara lain:
  1. Dicabut kukunya.
  2. Mereka disuruh minum kencing sipir penjara.
  3. Yang mencabut kukunya adalah warga negara Iran, jadi pemerintah Irak bekerja sama dgn Iran dalam hal ini.
  4. Mereka juga biasa dijemur di panas matahari Bagdad lalu para sipir mengencingi mereka.
  5. Salah satu sebab kebencian sipr penjara kepadanya adalah karena dia bernama Abu Bakar.
  6. Sipir penjara Syiah itu juga memaksa mereka melaknat Abu Bakar dan Aisyah, yang menolak akan disiksa dan dikencingi.
Info dari fanspage Mujahidin, sebelum lari para tahanan itu sempat telah berhasil menyembelih pemimpin LAPAS.

Video penyerangannya bisa Anda saksikan pada link ini: http://www.youtube.com/watch?v=_oq965q2jr8

Syi’ah Berulah lagi di Cileduk Tangerang Banten

Syi’ah Berulah lagi di Cileduk Tangerang Banten
Spanduk yang dipasang di daerah Ciledug, dilarikan segerombolan orang yang menghendaki pengajian tentang syiah menghancurkan Islam ini dibatalkan.
Kejadian ini adalah yang ketiga kalinya yang dilakukan oleh orang-orang syi’ah untuk menggagalkan  pengajian yang diadakan oleh Ikhwah Ahlus sunnah, setelah mereka berhasil membatalkan pengajian beberapa waktu yang lalu seperti di Masjid Muhajirin komplek Barata Cileduk Tangerang Banten dan juga Masjid Agung Al Ittihad kota Tangerang, dimana tema pengajian di kedua Masjid tersebut juga membahas masalah Syi’ah.
Inilah penjelasan dari pihak panitia pengajian.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Menurut jadwal yang telah disepakati bahwa pengurus/panitia pengajian Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq, yang terletak di Jalan Akasia, Tajur, Cileduk, kota Tangerang, akan melaksanakan pengajian umum yang bertemakan: ”Syi’ah Menghancurkan Islam” dengan pemateri Ust.Firanda Andirja MA (Pengajar di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi) yang akan dilaksanakan pada hari sabtu, 20 Juli 2013 M. Pukul 10:00 WIB -Dzuhur. Akan tetapi belum 24 jam spanduk pengajian dipasang, ternyata syi’ah mulai berulah.
Berikut kronologi kejadiannya:
Rabu, 17 juli 2013 M. Pukul 22.30 WIB, salah seorang pengurus Masjid jami’ Abu Bakar Ash Shiddiq (Akh Faisal) ditelpon oleh seorang Ikhwan yang melihat bahwa Spanduk kajian yang bertema: “Syi’ah Menghancurkan Islam” dirusak/diturunkan  secara paksa oleh puluhan orang yang tidak dikenal.
 Akhi Faisal langsung meluncur ke lokasi, namun karena melihat jumlah mereka yang cukup banyak, Akhi Faisal hanya melihat dari kejauhan, dan spanduk sudah diturunkan.
Beberapa menit kemudian gerombolan yang menggunakan sepeda motor ini membubarkan diri sambil membawa spanduk menuju ke arah Cileduk.
Akhi Faisal bersama seorang ikhwan mengikuti mereka dari belakang, dan ternyata mereka mendatangi kantor polsek Cileduk, lalu Akhi Faisal pulang ke rumah dan coba memberitahukan kepada pengurus DKM yang lainnya atas apa yang terjadi.
Keesokan harinya tepatnya ba’da sholat shubuh Akhi Faisal bersama beberapa jama’ah Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq mendatangi kantor polsek Cileduk, guna meminta penjelasan atas apa yang terjadi kemarin malam, dan minta agar sepanduk mereka dikembalikan. Akhirnya Akhi Faisaldan ikhwan lainnya bertemu dengan Pak Nawawi (Binmas) Cileduk, dan menanyakan tentang siapa  gerombolan orang yang telah menurunkan dangan paksa spanduk pengajian mereka.
Pak Nawawi menjelaskan panjang lebar bahwa mereka bukanlah warga Tajur dan juga bukan berasal dari ormas manapun, mereka segerombolan orang ini merasa terganggu dengan Tema kajian yang terpampang di sepanduk tersebut dan minta agar pengajian ini dibatalkan.
Sebagai perwakilan dari pengurus DKM Abu Bakar Ash Shiddiq dan juga panitia pelaksana pengajian, Akhi Faisal menyampaikan kepada Binmas (Pak Nawawi) bahwa pihak DKM tidak akan pernah membatalkan pengajian tersebut, dan bila perlu kami (DKM) akan membuat spanduk yang baru dan memasangnya kembali. Dan meminta kepada pihak kepolisian agar menghadirkan 10 orang anggotanya untuk membantu mengamankan acara pengajian tersebut. Hingga akhirnya pihak polsek Cileduk menyanggupi untuk memberikan pengamanan pada acara pengajian tersebut.
Sekedar pemberitahuan bahwa kejadian ini adalah yang ketiga kalinya yang dilakukan oleh orang-orang syi’ah untuk menggagalkan  pengajian yang diadakan oleh Ikhwah Ahlus sunnah, setelah mereka berhasil membatalkan pengajian beberapa waktu yang lalu seperti di Masjid Muhajirin komplek Barata Cileduk Tangerang Banten dan juga Masjid Agung Al Ittihad kota Tangerang, dimana tema pengajian di kedua Masjid tersebut juga membahas masalah Syi’ah.
Kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin yang mengaku Ahlu Sunnah wal Jama’ah untuk bersatu merapatkan barisan di dalam mencegah berkembangnya ajaran syi’ah yang menyesatkan, boleh jadi kita bisa selamat dari pemahaman-pemahaman syi’ah ini,  tapi siapa yang bisa menjamin keselamatan Aqidah anak cucu kita dibelakang hari.
Wassalam.

Syiah: Merangkak Mencari Kencing Imam di Kuburan adalah Ibadah!

Serial gambar kali ini menampilkan hasil screen shot di atas yang diambil oleh seorang saudara kami di facebook dengan akun, "memburu syiah"

Sungguh "ibadah" yang tidak masuk akal, jangankan itu, makan kotoran imam-nya bahkan TIKET masuk surga!

Bedah Buku, "Menolak Ajaran Wahabi"

Rangkaian acara Festival Ramadhan 1434 H, yang dilaksanakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan mengadakan bedah buku “Menolak Ajaran Wahabi” karya Zaini Dahlan. Ini adalah acara bedah buku yang keempat. 
 
Bedah buku kali ini berbeda dengan sebelumnya karena panitia langsung menghadirkan pakar Wahabi Indonesia, yaitu AM Waskito. 

Pada awalnya, bedah buku “Menolak Ajaran Wahabi” akan dibedah oleh Prof. Dr. Rahim Yunus dan Ustad Ikhawan Abdul Jalil,  Prof. Rahim Yunus adalah guru besar bidang sejarah Islam di Universitas Islam Negeri Alauddin dan Sekertaris MUI Sulsel, sedangkan Ustad Ikhwan adalah Wakil Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah dan alumni Universitas Islam Madinah. 

Sehari sebelum acara bedah buku berlangsung, atau tepatnya pada hari Kamis, 18 Juli 2013 atau 9 Ramadhan 1434 H. Ustad Ikhwan ke kantor MUI Sulsel, sebagai salah satu pengurus MUI. Saat itu, saya selaku panitia Festifal Ramadhan dan acara bedah buku tersebut bersama dengan Drs. H. Waspada Santing M.Hi., sebagai penanggung jawab acara festival tahun ini, menyampaikan jika besok Ustad Ikhwan yang akan menjadi pembedah dalam buku yang bernada provokatif tersebut. Ustad Ikhwan berkomentar, “Saya bisa hadir dan tampil menjadi pembedah, tapi kapasitas saya dalam memahami ‘Wahabi’ sama dengan dokter umum dalam menangani sebuah penyakit. Akan ada orang benar-benar spesialis di bidang ini, dan tidak bisa diragukan lagi kapasitasnya sebagai seorang pakar, karena telah menulis buku yang sangat bisa dijadikan rujukan dan patokan dalam memahami masalah Wahabi. Dan saya bisa datangkan orang itu.” Pakar Wahabi yang dimaksud oleh Ustad Ikhwan adalah AM Waskito, penulis buku “Bersikap Adil kepada Wahabi”.

Pertemuan kami bertiga sore itu melahirkan sebuah kesepakatan untuk mendatangkan AM Waskito sebagai pembanding dalam acara bedah buku yang akan dilaksanakan keesokan harinya. Ada pun urusan teknis semuanya diserahkan kepada Ustad Ikhwan. Dan keesokan harinya Bakda Jumat, sesuai jadwal, bedah buku pun berlangsung yang dihadiri oleh ratusan jamaah dari ragam kalangan, baik yang pro maupun yang kontra. Banyaknya jumlah peserta juga tak terlepas dari SMS yang telah saya edarkan sejak malam Jumat, redaksinya sebagai berikut, “Hadirilah bedah buku ‘Menolak Ajaran Wahabi’ yang akan dibedah oleh Prof. Dr. Rahim Yunus, Guru Besar UIN Alauddin dan Sekertaris MUI Sulsel dengan pembanding AM Waskito, pakar Wahabi Indonesia, penulis buku ‘Bersikap Adil kepada Wahabi’, yang akan dilaksanakan di Masjid Raya Makassar, tepat bakda Jumat sampai selesai. Dimohon kehadirannya! [acara dilaksanakan oleh MUI Sulsel bekerja sama dengan Yayasan Masjid Raya Makassar]”. SMS berantai yang saya buat ini menjadi undangan ampuh dalam mendatangkan massa yang cukup banyak.

Jalannya acara   
 
Acara dimulai bakda salat Jumat di Masjid Raya lantai dua. Prof. Dr. Hamdan Juhannis, sebagai pemandu tampil lebih awal mengisi salah satu dari tiga kursi yang telah disediakan oleh panitia, tak berapa lama kemudian AM Waskito, sang pakar Wahabi juga datang dan langsung duduk di kursi samping Prof. Hamdan.  Lalu, Prof. Hamdan membuka acara, seketika Prof. Rahim juga muncul mengisi tempat duduk yang tersisa. "Tujuan kita untuk hadir dalam acara ini, bukan saja semata untuk setuju terhadap isi buku yang dibedah ini, dan bukan pula kita datang untuk menolak mentah-mentah ajaran Wahabi, tapi maksud kita adalah sebagai rangkaian dari kegiatan mulia di hari dan bulan yang mulia ini. Saya di sini sebagai moderator tidak berpihak dan tidak pula menolak, jadi saya minta supaya para hadirin menerima kehadiran saya”. Ujar guru besar sosiologi UIN Alauddin itu. 

Selanjutnya Alumni salah satu universitas ternama di Australia itu memperkenalkan dua narasumber yang pakar di bidangnya masing-masing.   
 
Bermula dengan memperkenalkan kolegenya di UIN Alauddin, Prof. Rahim Yunus, lalu kepada  AM Waskito yang memiliki latar belakang pendidikan yang unik, karena ternyata yang bersangkutan adalah Alumni Fakultas Pertanian di Institut Teknologi Bandung (ITB). Prof Hamdan juga membacakan judul-judul buku karya AM Waskito. Katanya, buku-buku karya tulis Pak Waskito ini sudah banyak, dan ternyata semuanya ‘seksi’.

Pembicara pertama adalah Prof. Rahim Yunus, ia menyampaikan bahwa pada dasarnya beliau belum pernah membaca, menyelami dan memahami secara tuntas kenapa orang menolak ajaran Wahabi. Wahabi adalah aliran yang dibawa oleh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang bekerjasama dengan kerajaan Ibnu Suud, atau kerjasama antara pihak pemerintah dan seorang dai. Kolaborasi keduanya itulah yang melahirkan gerakan 'Wahabi'. Memahami Wahabi tidak mesti merujuk pada ajaran Muhammad bin Abdul Wahab, karena Muhammad bin Abdul Wahab sudah lama wafat, sementara yang meneruskan ajarannya adalah para pengikutnya. Jadi ada Muhammad bin Abdul Wahab, dan Wahabi atau Wahabiyah yang tidak bisa disamakan. “Saya misalnya, yang mengamalkan istigasah, tawassul, ziarah kubur, adalah seorang yang berada dalam organisai Nahdatul Ulama [NU] tapi saya tidak mesti menjadi pengikut Syafi'iyah. Jadi ada pengikut Syafi'iyah atau hanya bermanhaj Syafi'i.” Ujar dosen sejarah di Pascasarjana UMI dan UIN itu.

Jadi berbicara masalah Wahhabiyah –lanjut Prof Rahim—juga demikian, Wahabi yang mana? Wahabi Arab, Mesir, Yaman, Indonesia, bahkan Makassar? Di sini banyak teman-teman yang saya anggap penganut aliran Wahabi tapi tak ada masalah karena mereka tidak pernah mengkafirkan saya.
 
Setelah itu, Prof. Hamdan Juhannis mempersilahkan kepada AM Waskito untuk berbicara. Waskito memulai pembicaraannya dengan berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepadanya termasuk pihak-pihak yang berusaha mengundang dan mendatangkan dirinya. Kali terkahir dia Makassar, menurut penuturannya adalah 13 tahun yang lalu. Dan kini, kota Makassar telah banyak berubah, ujarnya.

Menurutnya, buku yang ditulis oleh Zaini Dahlan tersebut,  sudah sangat terkenal. Berbicara  mengenai Wahabi baik yang pro maupun yang kontra, maka itu ibarat pertarungan antara Inter Milan dan AC Milan dalam sejarah sepak bola liga Italia, susah untuk menebak, siapa yang kalah dan siapa yang menang. Namun tetap seru dinikmati, ujarnya. 

Saya setuju dengan pernyataan Prof. Rahim, bahwa Muhammad bin Abdul Wahab dengan kerajaan atau dinasti Ibnu Suud itu berbeda. Gerakan Wahabiyah hanyalah Harakah ad-Dakwah alias gerakan dakwah sebagaimana gerakan Ikhawanul Muslimin di Mesir, Sanusiyah di Libiya, Jamaah Tablig di India hingga  Nahdiyin di Indonesia, tegas penulis buku “Republik Bohong” itu.
 
Menerut Waskito, Cobaan-coban yang dialami Muhammad bin Abdul Wahab dalam berdakwah adalah mirip dengan apa yang dialami oleh Rasulullah. Kerap sekali nyawanya terancam oleh musuh-musuh agama atau yang berseberangan dengannya, sebelum akhirnya beraliansi pada kerajaan demi untuk mengamankan dakwah dan jiwanya. Hal ini juga pernah terjadi di Indonesia pada zaman Sukarno ketika PKI berkuasa. Ketika itu,  NU berusaha berkolaborasi dengan pemerintah untuk mengamankan diri dan menegakkan dakwahnya. 

Ketika para TKI –lanjut Waskito—mengalami masalah di Arab Saudi,  maka serta merta kita menuduh bahwa yang melakukan kebiadaban itu adalah antek-antek Wahabi. Tapi ketika kerajaan Arab Saudi menggelontorkan bantuan trilyunan rupiah per tahun ke Indonesia,  tidak seorang pun yang pernah menyebut jika mereka adalah Wahabi.

Jika ditarik kebelakang, sesungguhnya perselisihan mengenai Wahabi sejak awal sudah terjadi, dan tidak pernah menimbulkan masalah serius di Indonesia. 
 
Dulu, sejak dibentuknya Muhammadiayh, NU, Persis, DDII, dll. Tidak pernah ada masalah, di antara para gerakan dakwah di atas.  Masalah mulai muncul akhir-akhir ini saja, bermula ketika dua kekuatan transnasional yang sangat anti dalam dakwah salafiyah.  Yaitu  Israil dan Syiah. Kedua gerakan ini, Menurut Waskito berusaha membenturkan atau mengacak-acak dan mengadu domba (nammam)  antara yang disebut sebagai pengikut dakwah Wahabi dengan paham keIslaman lainnya, dengan membangun stigma “Wahabi Takfiri”. Apalagi bangsa Indonesia sangat muda digiring dan dipropokasi, sehingga benturan kerap berlaku bukan saja dalam tingkat ideologi, tapi suduh mengarah pada fisik, dan akhirnya yang rugi umat sendiri.
 
“Dalam buku ini. Ada pembahasan masalah tawasul, dan ziarah kuburan yang dikatakan bahwa menurut Wahabi yang melakukan kedua hal itu adalah kafir, padahal tak ada satu pun statemen dari ajaran Wahabi yang mengatakan bahwa siapa yang bertawasul itu disebut kafir. Begitu pula ziarah kubur, banyak hadis menekankan jika ziarah kubur itu mubah dan malah mendatangkan manfaat. 
 
Seperti dapat mengingat mati, dan bukankah kita disunnahkan untuk mengucapkan salam  kepada para penghuni kubur? Ada pun istigatsah, juga demikian, sama sekali tidak ada dalam ajaran Wahabi yang melarang istigatsah namun dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Islam”. Tutur sang pakar. 

Inilah 5 Tahap Rekrutmen Syiah di Indonesia

Dalam acara bedah buku “Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam” yang diadakan di Bekasi, Sabtu (13/7/2013), Direktur An-Nasr Institute, Munarman, menyebutkan buku karya Muhammad Pizaro ini, menjadi penting untuk membentengi umat Islam dari pengaruh kesesatan Syiah.

Dalam kesempatan ini, Munarman menyebutkan tahapan Syiah melemparkan syubhat di tengah umat.

Menurut Munarman, setidaknya ada lima tahapan Syiah dalam meracuni pemikiran umat Islam, hingga terjebak ke dalam aliran sesat tersebut. Jika seseorang telah terpengaruh pada tahap pertama, ia bisa masuk ke tahap-tahap berikutnya. Sedangkan bila pada tahap awal sudah menolak, maka ia bisa selamat dari tahap-tahap penyesatan berikutnya, yaitu:

Pertama, membangun keyakinan bahwa Iran dan “Hizbullah” Lebanon-lah pihak satu-satunya yang melawan Amerika dan Zionis.

Kedua, membesar-besarkan isu Karbala sesuai misi mereka.

Ketiga, membangun logika politik untuk mencela pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan dan Yazid, putranya.

Keempat, membentuk pemahaman bahwa hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tidak dipakai sama sekali.

Kelima, mencela Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab.

Pada even yang dilaksanakan oleh Syam Organizer tersebut, Munarman, yang juga advokat ini, mengingatkan bahwa bila seseorang telah sampai pada tahap tragedi Karbala, maka itu adalah kondisi yang sudah gawat. Karena, pada tahap ini, orang sudah mulai tertanam akan kebenciannya terhadap para sahabat selain Ahlul Bait. Pada titik ini sulit bagi seseorang untuk mundur lagi.

Dr. Fuad Rumi: Saya Tidak Terima Jika Syiah (IJABI) Caci Sahabat dan Praktekkan Nikah Mut'ah

Pada kolom "Jendela Langit" Harian Fajar Makassar (16/7/13) milik seorang kolumnis liberal, Muh. Qasim Mathar mengatakan bahwa ketika Dr. Fuad Rumi meninggal ada pesan yang masuk ke BB-nya yang berbunyi, "Semoga Fuad Rumi Bersama Rasulullah dan Ahlul Baitnya di Surga."

Selain itu, ada pesan duka cita resmi dari PP IJABI atas meninggalnya Dr. Fuad Rumi. 

Mengapa terjadi demikian? beberapa bulan sebelum Dr. Fuad Rumi meninggal, beliau meninggalkan kesan kepada masyarakat seakan-akan beliau setuju dan mendukung Syiah serta IJABI. Hal ini terlihat ketika beliau mengcounter tulisan Ust. Said (Ketua LPPI) di Harian Fajar yang berjudul, "UMI (Univ. Muslim Indonesia), Benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah" dengan bantahan beliau yang berjudul, "UMI, Lembaga Pendidikan dan Dakwah Islam." Juga pesan BB beliau yang sempat beredar mengatakan, "Sunni dan Syiah itu bagaikan makanan prasmanan, jika suka maka silakan ambil, jika tidak, silakan ditinggalkan tanpa harus dicela."

Nah, apakah memang seperti itu sikap dosen kebanggaan UMI tersebut?, mari kita simak artikel peneliti LPPI, saudara Ilham Kadir pada Harian Tribun Timur edisi hari ini, (17/7/13) yang berjudul, "Fuad Rumi dan Filsafat Ilmu" di bawah ini,

Aliran Sesat Syiah Berulah di Bekasi, Ahlus Sunnah Sedikitpun Tidak Gentar

Aliran Sesat Syiah Berulah di Bekasi, Ahlus Sunnah Sedikitpun Tidak Gentar
Masjid Imam Bukhori, Masjid di tengah kavling pemukiman Radiance Villa, Jl Hankam Raya, Bekasi Jawa Barat, diganggu kelompok yang terindikasi aliran sesat Syiah.
  • Pernah juga mereka sengaja menyemprot fogging / asap pembunuh nyamuk ke masjid saat ada pengajian dan hal ini dilakukan minimal dua kali. “Beberapa hari lalu jamaah tidak bisa sholat subuh karena pintu ditutup oleh mereka”, ujar Pak Anang (52) DKM Masjid Imam Bukhori.
  • Hal ini didalangi Jamaah yang aktif mengaji di Masjid Al Mahdy, yang memiliki indikasi kuat melaksanakan ritual Syiah, walaupun secara sembunyi-sembunyi. Masjid Al Mahdy itu berdiri beberapa ratus meter dari Masjid Imam Bukhori.
  • “Kami  menyaksikan mereka (di Masjid Al-Mahdy)  mengadakan ritual penghinaan kepada Sahabat dan berlebihan memuji-muji AhlulBait “, ujar Pak Dahri (43) warga yang sebelumnya sering beribadah di Masjid Al Mahdy itu.
  • Warga juga menjadi saksi, beberapa kendaraan berstiker Radio Rasil. “Nampak sekali ada ritual rahasia, kadang ada saatnya lampu Masjid gelap, namun banyak sekali mobil-mobil mewah dengan stiker Radio Rasil, Radio yang disaksikan memiliki kedekatan dengan Syiah.”
DKM Masjid Al Mahdy itu juga nampak sangat benci kepada Sahabat Muawiyah“, tambah pak Dahri yang menceritakan pengalamannya mendengar Tausiyah di Masjid Al Mahdy.
“Jika masih ada intimidasi, pengusiran dan penyerangan pada ikhwah yang mengaji dan beribadah di Masjid Imam Bukhori maka akan ada Jihad dan pertumpahan darah!”, demikian Ultimatum Ustadz Jafar Umar Thalib, ex Panglima Laskar Jihad terkait dengan adanya beberapa Oknum aparat TNI dan Kepolisian serta beberapa preman bayaran Syi’ah yang berusaha menghalang-halangi jamaah dari beribadah di Masjid Imam Bukhori, Masjid di tengah kavling pemukiman Radiance Villa, Jl Hankam Raya, Bekasi Jawa Barat.
Sikap tegas itu disampaikan oleh Ustadz Jafar Umar Thalib, Pembina Yayasan Naashirussunnah yang mengelola kegiatan Masjid Imam Bukhori, di acara pertemuan dengan Pak Camat Jati sampurna, Lurah Jati Rangon (Drs. Wahyudin), anggota DPRD, ketua FKUB, Sekum MUI Bekasi (H.Sukandar Ghozali). ketua MUI Bekasi (KH.Abdul Ghozali), Wakil Wali Kota, Kapolsek (polsek pondok gede M.Kuntoro Wibisono) dan puluhan anggota kepolisian, dari DISPOM, ketua FPI Ustadz Cecep, hadir di acara tersebut puluhan anggota FPI, Ustadz Jafar Umar Tholib dan puluhan Ikhwan ex Laskar Jihad di Masjid Imam Bukhori Bekasi Hari Sabtu 13 juli 2013 pukul 14.00
Beberapa ikhwah sudah mengupload video yang merekam pertemuan itu ke youtube : http://www.youtube.com/watch?v=xdqm3NTt8pw&feature=share
Sebelumnya, sempat terjadi keributan di Masjid yang secara Hukum jelas adalah milik pribadi yang dikelola oleh Yayasan Nashirussunnah, yang terus dipermasalahkan oleh beberapa Jamaah Masjid Al Mahdy.
Beberapa intimidasi yang dilakukan oknum tni/polri bernama Kuswara, oknum polisi Luter Sinambela, oknum warga Ketua RT09/02 Tjahyo, Sekretaris RT Bambang Muladi beramai mendatangi rumah Pak Anang DKM dan menyuruh membuat jalan akses sendiri.  Pernah juga mereka sengaja menyemprot fogging / asap pembunuh nyamuk ke masjid saat ada pengajian dan hal ini di lakukan minimal dua kali. “Beberapa hari lalu jamaah tidak bisa sholat subuh karena pintu ditutup oleh mereka”, ujar Pak Anang (52) DKM Masjid Imam Bukhori
Hal ini didalangi Jamaah yang aktif mengaji di Masjid Al Mahdy, Masjid yang berdiri beberapa ratus meter dari Masjid Imam Bukhori, yang memiliki indikasi kuat bahwa jamaah Masjid Al Mahdy melaksanakan ritual Syiah, walaupun secara sembunyi-sembunyi.
“Saya dan teman saya Pak Supri (43) warga sini, pernah hadir di acara i’tikaf di tahun 2010, dan Kami  menyaksikan mereka mengadakan ritual penghinaan kepada Sahabat dan berlebihan memuji-muji AhlulBait “, ujar Pak Dahri (43) warga yang sebelumnya sering beribadah di Masjid Al Mahdy itu.
Ungkapan semisal itu juga disampaikan oleh Pak Anang, DKM Masjid Imam Bukhori. “Saya beberapa kali melihat dengan sangat jelas, Ust nya Syiah, Ust Othman Shihab ada di sana di tahun 2011 dan 2012″
Warga juga menjadi saksi beberapa kendaraan berstiker Radio Rasil. “Nampak sekali ada ritual rahasia, Kadang ada saatnya lampu Masjid gelap, namun banyak sekali mobil-mobil mewah dengan stiker Radio Rasil, Radio yang disaksikan memiliki kedekatan dengan Syiah.”
“DKM Masjid Al Mahdy itu juga nampak sangat benci kepada Sahabat Muawiyah”, tambah pak Dahri yang menceritakan pengalamannya mendengar Tausiyah di Masjid Al Mahdy
“Syiah merasa terganggu dengan kajian Ahlussunnah, karena memang mereka (syiah) itu rusak akidahnya, dan Semoga umat cepat sadar bahaya Syiah yang akan selalu terus berusaha menyusup, merusak Akidah serta Ukhuwah Islamiyyah di kalangan Sunni, Ahlussunnah Waljamaah”, harap Abu Ahmad (36) salah seorang ikhwah Ahlussunnah Bintaro
Keadaan bisa dikontrol walaupun DKM sempat mendapat 750 missedcall, dan 250an sms pada hari ada keributan kemarin, demikian keterangan Abu Jundi kepada salah seorang ex Laskar Jihad Ust Perdana Akhmad yang datang dari lampung demi membantu ikhwah Ahlussunnah di Bekasi. Abu Jundi mengatakan, “banyak sekali simpati dari Ikhwah Ahlussunnah dari seluruh Indonesia, bahkan mereka siap untuk didatangkan ke Masjid Imam Bukhori bila ada komando.”
Saat ini kondisi lebih kondusif dan sudah tidak tegang seperti beberapa hari yang lalu, walaupun Jamaah sempat tidak bisa sholat shubuh karena dihalang-halangi oleh Oknum RT sekitar, yang kemudian mendapat perlawanan dari DKM Masjid Imam Bukhori. Bahkan tadi malam, sekitar 75an jamaah yang terdiri dari warga sekitar sudah kembali memadati Masjid Imam Bukhori untuk melaksanakan Sholat Tarawih berjamaah.

Tantangan untuk Semua Ulama Syiah

Sesungguhnya kaum Muslimin meyakini Al-Qur’an tidak berubah, baik satu kalimat maupun satu huruf. Akan tetapi sebagaimana kebaikan ada, maka keburukan juga ada. Olehnya, hanya selain kaum Muslimin yang tidak meyakini Al-Qur’an sebagai kalam Allah, atau sebagiannya meyakini Al-Qur’an telah dirubah, baik itu dengan penambahan ataupun pengurangan, dan di antara mereka yang meyakini itu adalah Syiah.
Setiap insan Allah anugrahkan akal agar dia bisa berfikir dan mencari hidayah. Kaum Jahiliyah telah ada beberapa abad sebelum datangnya Islam, namun sebagian besar untaian sya’ir mereka masih dihafal tanpa ditambah maupun dikurangi. Jika seseorang ingin menambah atau memasukkan kata-kata lain, maka ia tak akan mampu. Lihatlah pemilik sya’ir “Al-Mu’allaqat” dinamakan mu’allaqat karena dihafal sampai hari ini, padahal itu hanya perkataan manusia, maka bagaimana lagi dengan Al-Qur’an Al-Karim!
Bagaimana mungkin manusia dapat dihafalkan perkataan-perkataannya oleh cerdik pandai, namun tak dapat menghafal perkataan Tuhan semesta alam.
Atau mampu menghafal bait dan untaian sya’ir dengan mendapatkan perhatian manusia, tapi tidak mampu menghafal Al-Qur’an dengan perhatian semacam itu?! sungguh tak mungkin itu terjadi terhadap Allah.
Al-Qur’an yang dibawa oleh Jibril al-Amin ke hati sayyidil mursalin dari Rabbul ‘Alamin sangat diagungkan dan disucikan oleh kaum Muslimin, dan kita pada zaman ini tidak lagi seperti masa lalu, zaman kita saat ini kebaikannya sudah sangat sedikit dan keburukan berada dimana-mana, menembus seluruh pelosok dunia, akan tetapi masih ada jumlah kecil dari kaum Muslimin yang menghafal Kalamullah di luar kepala, maka bagaimana lagi dengan masa-masa generasi awal Islam?
Al-Qur’an adalah mukjizat pada alam ini. Maka ketika Allah menjadikannya mukjizat untuk sang penutup para nabi, Allah sediakan segala sebab untuk menjadikannya sebagai mukjizat, di antaranya adalah cepatnya menghafal Al-Qur’an bagi orang yang ingin shalat. Shalat ini telah ada sejak disyari’atkannya hingga hari ini, dan shalat tarwih di bulan Ramadhan sebaik-baik saksi untuk itu. Di setiap tahun Kitabullah dikhatamkan di penjuru kota-kota Islam di berbagai belahan dunia.
Perkataan ini mungkin bisa difahami oleh setiap Muslim, namun selain muslim dan orang yang ditutup hatinya akan mencari alasan yang dibuat-buat dan argumen yang tidak masuk akal.
Di antara mereka itu adalah Syiah, sekte sesat yang mengklaim Al-Qur’an telah dirubah.
Yang aneh ketika sebagian orang Syiah ditanya tentang tahrif Al-Qur’an ini, sebagian mereka berkata, “Astaghfirullah, bagaimana mungkin kami meyakini itu?” perkataan mereka tak lebih dari taqiyyah untuk menipu orang yang tidak mengenal makar dan tipuan mereka.
“Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, namun tidaklah mereka menipu kecuali diri mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak mennyadarinya” (Al-Baqarah: 9)
Keyakinan mereka tentang tahrif Al-Qur’an masih saja sama, kitab-kitab mereka penuh dengan pernyataan-pernyataan itu, dan kami ingin pertegas kepada mereka, jika kalian jujur dengan apa yang kalian katakan bahwasanya Al-Qur’an tidaklah dirubah dan diganti-ganti ayatnya, kami tantang kalian untuk mengumumkan pernyataan itu pada marja’ keagamaan tertinggi Syiah, menolak tahrif Al-Qur’an dan bahwa yang di tangan kita pada hari ini adalah Al-Qur’an yang sempurna yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kalian kafirkan semua ulama Syiah dari dulu sampai sekarang yang meyakini Al-Qur’an telah mengalami perubahan!
Kafirkan Al-Qummi, Al-Mufid, Al-Majlisi, Ni’matullah Al-Jazairi, An-Nuri Ath-Thibrisi, Al-Kasyani, Al- Fadhl bin Syadzan, Furat bin Ibrahim Al-Kufi, Al-‘Ayyasyi, Al-Kulaini, Ali bin Ahmad Al-Kufi, An-Nu’mani, Al-Irbili, Al-Hurr Al-‘Amili, Al-Bahrani, Muhammad Shalih Al-Mazindirani, Al-Khu’i, Khomeini dan masih banyak lagi yang perlu kalian kafirkan jika kalian beriman dengan QS. Al-Hijr:9
Karena mereka telah menolak dan kafir terhadap pernyataan Allah pada surat Al-Hijr: 9 tersebut, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan Kamilah yang akan menjaganya!”
Tidak diragukan lagi itu akan menghancurkan pondasi akidah mereka yang rusak, dan akan hilang bagaikan diterpa angin kencang, dan dengan terlebih dahulu kami sudah tahu bahwa kalian tidak akan melakukannya dan kalian tidak akan mampu.
“Katakanlah, Jika seluruh bangsa manusia dan jin berkumpul untuk mendatangkan seperti Al-Qur’an ini mereka tidak akan mampu mendatangkan seperti itu meskipun mereka saling bahu-membahu” (QS. Al-Isra’: 88)
Disarikan, ditambah dan diedit seperlunya dari Kitab Syeikh Mamduh Farhan Al-Buhairy, “Asy-Syi’ah Minhum ‘Alaihim” hal 194-195

Lagi, Ulama Syiah Fatwakan Merokok Tidak Batalkan Puasa

Setelah Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah berfatwa bahwa merokok tidak membatalkan puasa (http://www.lppimakassar.com/2012/07/ulama-syiah-merokok-di-bulan-ramadhan.html), seorang ulama besar Syiah yang lain ikut menguatkan fatwa tersebut. Dialah seorang Hujjatul Islam wal Muslimin di mata Syiah, Muqtada Ash-Shadr, komandan Jaisy Al-Mahdi (Tentanr Imam Mahdi) di Irak. 

Dalam situs resminya tertulis jelas judul fatwa halal merokok di saat puasa itu dengan link berikut:




Scan fatwa di atas adalah scan fatwa asli, karena bersumber dari situs resmi dan dijawab dengan tulisan tangan serta dibubuhi stempel resminya yang berwarna, tidak sebagaimana yang diklaim oleh ABNA bahwa dia tidak merilis fatwa. Sungguh pernyataan yang amat bodoh di hadapan fakta yang amat terang.


Terjemahan Fatwa:

Bismihi Ta'ala, Dengan Namanya yang Maha Tinggi 

(NB: "nya" tidak jelas kembali ke siapa, apakah kepada Allah ataukah kepada Imam-imam mereka, dimana mereka yakini bahwa derajat Imam-imam mereka sama dengan derajat ilahiyah)

Kepada yang mulia, Hujjatul Islam wal Muslimin, Sayyid, sang komandan, Muqtada Ash-Shadr, semoga Allah memuliakannya (NB: Semoga Allah memberinya hidayah)

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Apa hukum merokok arkilah (rokok selang yang biasa disebut shisha) di siang hari saat berpuasa, apakah membatalkan puasa atau tidak?

Oleh Muhammad Al-'Athwani

Jawab:

Bismihi Ta'ala

Merokok tidaklah termasuk hal-hal yang membatalkan puasa selama tidak terlalu sering/banyak.

(Cap stempel fatwa resmi)

Karena itu, jika anda temukan seseorang yang merokok di saat puasa dan tetap menganggap puasanya sah, maka bisa jadi dia orang Syiah karena ikut dengan fatwa ulama-ulama mereka yang menyesatkan. Padahal sebagaimana tertulis dengan jelas, "Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin!"

Berikut fatwa yang benar mengenai hukum merokok pada saat puasa, apakah membatalkan puasa atau tidak;

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah Ta’ala pernah ditanyakan : 


Sebagian orang yang berpuasa yang gemar merokok meyakini bahwa mengisap rokok di bulan Ramadhan bukanlah pembatal puasa karena rokok bukan termasuk makan dan minum. Bagaimana pendapat Syaikh yang mulia tentang masalah ini?


Beliau rahimahullah menjawab :


Menurutku, ini adalah pernyataan yang tidak ada usulnya sama sekali. Bahkan sebenarnya rokok termasuk minum (syariba). (Dalam bahasa Arab) mengisap rokok disebut syariba ad dukhon. Jadi mengisap rokok disebut dengan minum (syariba).


Kemudian juga, asap rokok –tanpa diragukan lagi- masuk hingga dalam perut atau dalam tubuh. Dan segala sesuatu yang masuk dalam perut dan dalam tubuh termasuk pembatal puasa, baik yang masuk adalah sesuatu yang bermanfaat atau yang mendatangkan bahaya. Misalnya seseorang menelan manik-manik, besi atau selainnya (dengan sengaja), maka puasanya batal. Oleh karena itu, tidak disyaratkan sebagai pembatal puasa adalah memakan atau meminum sesuatu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai makanan dan minuman. 
(Sumber: http://rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2674-saatnya-meninggalkan-rokok-di-bulan-ramadhan.html)

Syi’ah di Yaman Larang Kaum Muslimin Laksanakan Shalat Tarawih

Bentrokan terjadi antara warga jama’ah Masjid Ar Rayyan dengan Syi’ah Hutsiyin Yaman di dalam masjid. Pasalnya, kelompok Syi’ah Hutsiyin tersebut melarang warga melaksanakan shalat tarawih. Demikian diberitakan Al Mukhtashar 12 juli 2013.

Dikabarkan satu orang warga wafat, dan beberapa lainnya luka-luka.

Bentrokan juga terjadi Kamis malam antara Syi’ah Hutsiyin dengan warga Jama’ah Masjid At Taisir, di Jalan Az Zira’ah, di ibukota Yaman.

UIN Alauddin: Jalaluddin Rakhmat Belum Memiliki Kualifikasi S3


Berikut ini beritanya dari laman UIN Alauddin Online:

UIN Online-Gelar doktor dan professor yang seringkali disebut-sebut orang, termasuk di media yang disematkan di depan nama Jalaluddin Rahmat, ternyata dinilai oleh Direktur sekolah Pascasarjana (PPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Azyumardi Azra MA tidak meiliki kualifikasi S3.

Hal tersebut ia sampaikan  ketika membawakan kuliah umum di Pascasarjana (PPs) UIN Alauddin Makassar kampus I, Rabu (12/12/2012).

Ia menceritakan sepotong kisahnya ketika pertama kali di PPs UIN Syarif Hidayatullah, dan Kang Jalal telah diperintahkan untuk mengajar oleh rektor sebelumnya. Sebelum Prof Azyumardi menjadi direktur PPs UIN Syarif Hidayatullah, ia masih bekerja di rektorat.

Ia kemudian pindah ke pasca, sesuai dengan keriteria yang berlaku, ia kemudian minta ijazah dan transkrip  dari para mengajar. Namun, Jalauddin Rahmat tidak memberikan berkasnya.

 “Jalauddin Rahmat tidak bisa mengirimkan berkas doktornya maupun professornya yang sering dia pakai selama ini,”katanya.

Ternyata setelah ia diselidiki lewat teman Kang Jalal yang juga pernah kuliah di Australia bersamanya, kata temannya ia tidak pernah tamat di Australia. Dia tidak sampai menghasilkan disertasi.

“Jadi, ketika pertemuan di bandara, kang Jalal kemudian cerita bahwa dirinya kulaih S3 di Pasca UIN Alauddin Makassar, baru saya bilang, kenapa musti jauh-jauh? Kenapa tidak di Jakarta saja? Ia tidak menjawab. Mungkin merasa tidak enak apalagi sudah tidak mengajar di Pasca UIN Jakarta karena tidak memiliki kualifikasi S3. Mudah-mudahan bisa berhasil di sini pak. kira-kira ini adalah prinsip perguruan tinggi.”

Puasa dan Tujuannya

Pada umumnya, sepuluh hari pertama setiap Bulan Ramadan para dai, baik bil kalaam (ceramah) maupun bil qalam (tulisan) selalu menekankan keutamaan Bulan Ramadan dan segala bentuk ibadah yang harus atau sebaiknya dilakukan. Di antara pembahasan yang kerap muncul adalah terminologi puasa –yang merupakan ibadah inti Ramadan—baik secara bahasa maupun secara syariat (istilah). 
Dalam agama Islam, setiap istilah atau ‘kata kunci’ yang bersumber dari Alquran dan hadis selalu memiliki dua pengertian, yaitu bahasa dan istilah. Kata Islam misalnya, diartikan dengan penyerahan diri atau al-istislam, tapi dari segi istilah Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW dan merupakan agama terakhir satu-satunya yang diridhai oleh Allah. Aliran Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme kerap memaknai ‘Islam’ hanya sebatas makna dari segi bahasa saja, sehingga mereka berpendapat bahwa agama apa pun yang menyerahkan diri kepada Allah merupakan bagian dari Islam. Pendapat sejenis ini jelas-jelas memperkosa makna ‘Islam’ sesungguhnya.
Puasa, dalam segi bahasa adalah menahan (imsaak). Ada pun dari segi istilah adalah menahan makan, minum, bersenggama dan segala bentuk amalan yang dapat menghilangkan pahala puasa, sejak terbit fajar, hingga matahari tenggelam. Inilah terminologi puasa yang tidak diperselisihkan oleh para ulama dan sesuai dengan tuntunan Alquran dan hadis. Jadi sekadar menahan makan, minum, senggama saja tidak cukup, namun harus dibarengi dengan menahan bentuk aktivitas yang menghilangkan pahala puasa, agar bukan sekadar lepas dari kewajiban syariat dan hanya mendapatkan lapar dan dahaga, inilah yang disitir oleh hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Al-Albani, rubba sho’imin laysa lahu min siyamih illa al-ju’, berapa banyak yang berpuasa tapi puasanya hanya sekadar mendapat lapar.
Tujuan Puasa
Umat Kristen yang ajarannya bersumber dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru juga terdapat anjuran untuk berpuasa. Dalam perjanjia lama dikisahkan adanya puasa atas kematian Saul dan anak-anaknya, mereka menjadi korban dalam peperangan antara Palestina dan Israil, kematian itu membuat orang Israil bersedih dan berpuasa selama tujuh hari.
Selain puasa Saul, umat Kristen juga mengenal puasa Ezra sebagai bentuk rasa syukur Ezra dan rombongannya atas keselamatan yang diberikan Tuhan ketika pulang dari Babel ke Jerussalem.
Sementara dalam Kitab Perjanjian Baru disebutkan beberapa puasa yang kerap dilakukan oleh umat Kristen, di antaranya puasa yang pernah dijalani Yesus selama 40 hari 40 malam, serta puasa yang dilakukan Paulus tiga hari tiga malam dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak melihat. Ada pula puasa jemaat yang bertujuan menguatkan Paulus Barnabas dalam pelayanan.
Kaum Yahudi sebagai keturunan Nabi Ya’qub (Israil) yang taat beribadah, kaya akan ritual keagamaan termasuk puasa, namun tidak terdapat secara rinci tata cara puasa bagi mereka kecuali apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Musa saat hendak menerima wahyu di Bukit Sinai.
Dalam tradisi Hindu, puasa dikenal dengan Upasawa, beragam corak puasa yang dilakukan oleh umat Hindu. Seperti puasa Siwaratri yaitu tidak makan dan minum dimulai sejak matahari terbit hingga terbenam keesokan harinya. Umat Hindu juga mengenal puasa ‘sunah’ biasanya dilakukan pada hari-hari suci, upacara tertentu, atau ketika melakukan meditasi dan bersemedi. Puasa semakin afdal jika diiringi pembagian sedekah bagi kaum fakir.
Shinto juga merupakan agama yang dikenal suka berpantang. Seperti makan daging dan mendekati wanita, kedudukan badan hukum agama yang disebut Imbe befungsi menyiapkan selamatan-selamatan bagi para dewa karena telah melakukan pantang (puasa) dari segala pengotoran terhadap jiwa.
Ajaran Taoisme dan Konfusianisme bagi masyarakat Cina kuno juga melakukan puasa. Biasanya puasa dilakukan jika tertinpa musibah, puasa bertujuan menghalangi bencanan serupa terulang kembali. Orang-orang Tibet dalam berpuasa selama 24 jam tanpa mengkonsumsi apa punm termasuk tidak boleh menelan air liur.
Agama Budha menyebut puasa dengan ‘uposathe’ yang dilakukan pada hari bulan purnama atau bulan gelap menurut penanggalan Buddhis. Saat melakukan uposata mereka dilarang untuk membunuh makhluk hidup, mencuri, bersenggama, dan berbicara yang tidak bermanfaat. Termasuk menari, menyanyi, bermain musik, melihat hiburan, memakai wangi-wangian, serta alat-alat untuk mempercantik diri.
Umat Islam sebagai agama terakhir mengenal puasa dengan sebutan ‘shaum’ puasa dimaksud sebagaimana pengertian menurut syariat di atas. Terbagi menjadi sunah dan wajib, puasa hanya diwajibkan pada bulan  Ramadan dalam penanggalan Hijriah sebagaimana dimaksud dalam Alquran surah Albaqarah [2]: 183, 184, dan 185. Ajaran Islam menekankan bahwa tujuan utama seorang muslim beriman berpuasa adalah untuk menduduki sebuah maqam spritual tertinggi yang disebut takwa.
Adab-adab puasa
Untuk menggapai kesempurnaan puasa, maka para ulama telah menjelaskan adab-adab puasa yang harus dilalui. Di antaranya adalah, (1) Niat sebelum berpuasa. Niat yang paling sederhana dan mudah adalah, berniat untuk berpuasa sebulan penuh ketika hendak memasuki bulan puasa. Namun jika itu terlewatkan maka para sho’imin (orang berpuasa) dapat berniat pada malam hari hingga menjelang sahur. Abu Abdillah Muhammad al-Maliki dalam “Majmu’ah Rasa’il al-Kubra, 1/254” mengatakan, “Niat termasuk pekerjaan hati, maka mengeraskannya adalah bid’ah”; (2) Sahur. Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Anas ra, bahwa Nabi Bersabda, Tasahharu fainna fissahuri barakah. Sahurlah karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat keberkahan. Kendati perintah dalam hadis ini bukan menunjukkan ‘wajib’, namun sebaiknya jangan menyepelekan keberkahan walau hanya seteguk air putih; (3) Menjaga anggota badan. Puasa dengan makna ‘menahan’ harus direalisasikan dengan menahan seluruh anggota badan agar tidak bermaksiat kepada Allah. Menahan mata dari melihat yang haram seperti memandang aurat wanita dengan berlama-lama, menjauhkan telinga dari mendengar yang haram, seperti ghibah alias gossip, apalagi dusta dan fitnah; (4) Menjaga lisan. Hadis yang bersumber dari Abu Hurairah sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dapat menjadi pedoman, sabda Nabi, “Puasa adalah prisai. Maka janganlah berkata kotor dan berbuat bodoh. Apabila ada yang memerangimu atau mencelamu, maka katakanlah ‘aku sedang puasa’”. Inilah salah satu hikmah syariat puasa, andaikan kita terlatih dengan didikan (tarbiyah) sejenis ini, sungguh Ramadan akan berlalu sedangkan manusia berada dalam akhlak yang agung, berpegang dengan akhlak dan adab yang dibutuhkan oleh seluruh umat manusia; dan (5) memperbanyak amal saleh. Mari kita bersama memanfaatkan Ramadan ini dengan perbuatan baik. Manfaatkan waktu yang ada untuk berzikir, membaca Alquran, mengkaji ilmu akhirat, memantapkan tauhid, salat berjamaah, taraweh, bersedekah, dst. Semakin banyak ibadah yang kita lakukan semakin banyak pula ganjarannya.

Karena Darurat, Ulama Suriah Fatwakan Boleh Makan Kucing

Mungkin kita tertegun saat membaca berita ini. Meski dari sudut pandang hukum fikih tidak begitu mengherankan.

Dulu waktu belajar Qawa'id al-Fiqhiyyah, kita sering dengar Kaidah:
"الضرورات تبيح المحظورات"
Kondisi dharurat membolehkan yang haram.
Dan contoh yang sering didengar: jika kita kelaparan, dan kita hanya mendapatkan makanan haram, jika tidak memaknnya kemungkinan besar akan mati, maka boleh memakannya sebatas menghilangkan kondisi kritis tersebut.

Tapi. yang seharusnya membuat kita tertegun adalah...
Sudah sampai sebegini parahnyakah kondisi saudara kita di Suria?

Ketika kembali merenung, sepertinya ada benarnya:
Sudah lebih dua tahun rezim zhalim Syi'ah menghancurkan segala infrastuktur, sda, dan apa saja yang ada di Suria, khususnya di daerah tempat domisili Ahlus Sunnah.
Seberapa banyak pun bekal yg mereka simpan..pastilah telah lama habis.

Solidaritas kaum muslimin dunia sudah sangat besar, tapi untuk mengimbangi pembantaian dan penghancuran yang terus berlanjut, sepertinya solidaritas kita perlu ditingkatkan lagi.

Yahh..Ketika kita mendengar ulama Suria telah memfatwakan bolehnya memakan daging kucing, kita sadar bahwa memang kondisi saudara-saudara kita di dalam Suria sudah sangat kritis...

Tragedi kemanusiaan yang menimpa saudara kita seiman seIslam di sana, sudah tak terbayangkan.

***
Semoga Allah membuka hatiku dan hati saudara-saudaraku sekalian, untuk mengulurkan tangan, membantu saudara kita di Suria walau hanya dengan sedekah seharga sepotong kurma. Sebab sepotong kurma yang kita sedekahkah ikhlas karena Allah Ta'ala, dapat menyelamatkan kita dari api neraka.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kemudian ia melihat ke arah depan, neraka pun menghadap ke arahnya. Maka siapa di antara kalian yg mampu untuk menjaga dirinya dari neraka meskipun dgn setengah biji kurma, maka lakukanlah." [HR. Ahmad No.17535].

Kami juga berharap, bagi saudara yang punya info tentang lembaga/organisasi yang membuka posko penggalangan dana untuk Suria agar dicantumkan di kolom komentar, atau via inbox.

Kami akan berusaha mengumpulkan alamat tersebut, untuk kita sebarkan bersama.

RAMADHAN, KESEMPATAN MENYELAMATKAN DIRI DARI API NERAKA.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dan selamatkanlah kami dari api neraka.

Syaikh Dr. Rabi' al-Junaidi: Konflik Suriah Konflik Sunnah-Syiah

Pada Tablig Akbar "Jadikan Ramadhan Anda Berkualitas" yang diselenggarakan di gedung LAN Antang Makassar, 7 Juli 2013, ustadz Ahmad Hanafi, MA dan Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin, MA hadir sebagai pemateri. Pihak Wahdah Islamiyah sebagai penyelenggara juga turut menghadirkan dua orang syaikh dari Syria. Mereka adalah DR. Usamah al-Malluhi  dan DR. Rabi’ al-Junaidi.
Setelah Ustadz Ahmad Hanafi, MA selesai memberikan materi seputar Ramadhan, hadirlah dua syaikh dari Syiria. DR. Usamah mulai berbicara dengan suara yang lantang, yang diterjemahkan oleh Ustadz Harman Tajang, Lc, membakar emosi dan semangat para peserta Tablig Akbar. Syaikh mewakili umat Islam di Syiria menyerukan kepada seluruh umat Islam agar ikut berjihad terutama melawan Syiah di Syria. “Kaum syiah telah menyebarkan pemahaman mereka dengan kekuatan senjata ke berbagai negeri, ke Irak, Afganistan, Lebanon, Yaman, merambah ke Saudi, lalu di Syria.” Kata Syaikh. “Seratus ribu umat Islam Syria telah syahid –insyaallah- di jalan Allah. Dan kini, umat Islam telah mempersiapkan 200 ribu pasukan mujahidin untuk menegakkan tauhid dan memerangi kesyirikan yang dibawa oleh orang-orang Syiah.” Lanjut beliau.
Orang-orang Syiah menginfakkan hartanya untuk memerangi umat Islam (Ahlussunnah) dan menyebarkan kebatilan mereka. Umat Islam dibunuh secara berjamaah. Kota Hims yang bersejarah menjadi korban kebengisan orang-orang Syiah lebih dari satu tahun ini. Terakhir Syaikh mengutip surat at-Taubah ayat 38:
“Wahai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.”
Selanjutnya, pembicara kedua adalah Syaikh DR. Rabi’ al-Junaidi. Beliau memiliki nasab yang sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Beliau membahas tentang tiga syubhat yang perlu untuk beliau sampaikan. Pertama, berkaitan dengan Syaikh al-Buthi, yang banyak umat Islam mengatakan bahwa beliau adalah ulama ahlussunnah dan mewakili ikatan ulama ahlussunnah. Padahal syaikh al-Buthi dalam khutbahnya banyak memuji Bashar Assad –laknatullah alaihi- dan secara terang-terangan menyatakan dukungannya kepada Syiah. Kedua, konflik yang terjadi di Syria bukanlah konflik sosial atau politik, melainkan konflik antar mazhab, Sunni dan Syiah. Ketiga, banyak yang mengatakan bahwa Amerika turut membantu umat Islam di Syiria. Ini adalah dusta. “Kalau saja Amerika mendukung (membantu) kami, kami tidak akan mendatangi kalian (meminta bantuan)” kata Syaikh. Bahkan Amerikalah yang berada dibalik kehancuran negara-negara Islam di Timur Tengah seperti Mesir dan Irak.
Terakhir, Ustadz Muhammad Zaitun Rasmin menghimbau kepada umat Islam agar bulan Ramadhan ini diisi dengan ibadah, membaca al-Qur’an, berpuasa, melaksanakan shalat tarawih dan lain-lain. Namun, tidak lupa pula membantu para mujahid fi Sabilillah demi izzul Islam dan kaum muslimin, salah satunya dengan cara menginfakkan harta di jalan Allah. Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini berharap semoga dengan ibadah yang dikerjakan dengan khusyu’ lahirlah mujahid-mujahid fi sabilillah. “Kita harus seperti para sahabat,“kata beliau, “Dalam ibadah mahdhah merekalah yang terbaik, tapi dalam urusan jihad mereka juga tidak ketinggalan.” Mereka seperti rahib, banyak menangis di malam hari, tapi ibarat singa di siang hari.

Facebooker: Al-Qur’an Syiah sama dengan Al-Qur’an Sunni

Seorang facebooker memberi komentar di salah satu grup di facebook. Ia menulis, “al-Qur’an Syiah dan Sunni itu sama. Buktinya ada MTQ Internasional di Iran yang diikuti Qori’ dari seluruh dunia pemenangnya dari Indonesia. Kalau beda, ya para Qori tentu protes. Mushaf Fatimah yang disebut sebagai alqur’an itu cuma tulisan siti Fatimah yang secara fisik/bukunya sudah tidak ada.”
***
Memang benar Iran menyelenggarakan MTQ Internasional pada tanggal 31 Mei 2013, dan dimenangkan oleh peserta dari Indonesia. Karena ini, facebooker itu dengan yakin mengatakan bahwa al-Qur’an di kalangan umat Islam (Sunni) tidaklah berbeda dengan al-Qur’an yang ada di tangan orang-orang Syiah.
Sebagai umat Islam tentu saya berusaha ber-husnuzhan terhadap pihak penyelenggara yang telah menyelenggarakan MTQ internasional dengan mendatangkan para Qari’ dari berbagai negara. Tapi, sangatlah keliru jika hanya karena terselenggaranya MTQ di Iran ini dengan diikuti oleh beberapa Qari dari Sunni lalu kita mengatakan bahwa al-Qur’an Sunni sama dengan al-Qur’an Syiah.
Dalam kitab Syiah al-Kafi 2/634 terbitan Teheran disebutkan: “innal Qur’ana alladzi jaa’a bihi Jibril alaihissalam ilaa Muhammad sab’atu asyri alf ayatan” (sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam berjumlah 17.000 ayat). Demikian juga yang disebutkan dalam kitab al-Hujjah minal Kafi 1/26 hadits no.1 bahwa orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an yang terkumpul sekarang ini sama dengan al-Qur’an yang pertama kali turun maka dia adalah pendusta.
Jika ada yang bertanya, “Mengapa Syiah membaca al-Qur’an yang sama dengan al-Qur’an yang dibaca oleh Ahlussunnah (Sunni)?” Pertanyaan ini telah dijawab oleh ulama besar Syiah, Ni’matullah al-Jazairiy dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyyah juz II halaman 360 bahwa mereka diperintahkan membaca al-Qur’an yang ada sekarang ini dalam shalat dan mengamalkan hukum-hukum di dalamnya sampai munculnya shahibul zaman, ketika ia muncul, diangkatlah al-Qur’an yang ada ditangan manusia ke langit, kemudian keluarlah al-Qur’an yang ditulis oleh Amirul Mukminin alaihissalam lalu al-Qur’an itulah yang dibaca dan diamalkan hukum-hukumnya.
Dalam seminar Nasional pada 21 September 1997, di Aula Masjid Istiqlal Jakarta, disebutkan setidaknya ada empat kesesatan mendasar yang dilakukan oleh Syiah, antara lain adalah Syiah memandang bahwa al-Qur’an (mushaf Utsmani sebagaimana yang dianut oleh ahlussunnah waljamaah) yang ada sekarang ini sudah diubah, ditambah dan dikurangi oleh para sahabat Nabi. Dalam pandangan Syiah, al-Qur’an yang asli ada di tangan Sayyidina Ali yang kemudian diwariskan kepada puteranya dan sekarang ada di tangan Imam Mahdi al-Muntazhar. Disebutkan ada sekitar 219 ayat yang ditolak oleh Syiah.
Dan vonis sesatnya aliran Syiah oleh MUI Sampang yang kasusnya masih berlanjut hingga sekarang ini, tak terlepas dari pemahaman tahrif al-Qur’an ini. Ketua MUI Sampang KH. Bukhari Maksum, mewakili MUI Sampang dengan tegas mengatakan bahwa Syiah telah menyimpang dari ajaran Ahlussunnah wal jamaah (Islam). Menurutnya ada beberapa ajaran yang menyimpang, antara lain, adalah mereka (Syiah) menuding bahwa al-Qur’an yang beredar sekarang ini bukan asli lagi. Menurut KH. Bukhari Maksum, data dan informasi tersebut bersumber dari beberapa mantan santri Syiah yang sekarang sudah kembali ke ajaran Ahlus sunnah wal jamaah.
Ustadz Said Abdul Shamad menceritakan, ketika ia sedang memberikan kajian tentang bahaya Syiah, seorang pegawai Bank Muamalat datang kepadanya dan memberitahukan bahwa ketika dia mengikuti pengajian Syiah di kampus, dia diberitahukan bahwa al-Qur’an yang asli itu tiga kali lipat jumlahnya dari al-Qur’an yang ada sekarang ini.