Strategi Penduduk Maghrib (Afrika Utara) dalam Menghadapi Dinasti Fathimiyah

Para ulama ahlus sunnah di Magrib telah menggunakan berbagai cara dan strategi untuk menghadapi bahaya gerakan syiah. Di antaranya adalah perlawanan secara preventif, perlawanan lewat dialog, dengan menggunakan senjata, juga perlawanan lewat buku-buku dan syair-syair.
1.       Perlawanan secara preventif (pencegahan)
Langkah pertama yang digunakan para ulama ahlussunnah di magrib dalam menghadapi gerakan Syiah adalah dengan memboikot setiap upaya yang bersifat hubungan dan kerjasama dengan kelompok syiah atau pemerintahan mereka. salah satu bentuk pemboikotan itu adalah pemboikotan terhadap lembaga peradilan yang ada dan terhadap para pegawainya yang dianggap sudah tidak bersikap adil lagi. Juga pemboikotan terhadap pelaksanaan shalat jum’at dengan tidak hadir pada masjid yang khatibnya mencaci dan melecehkan para sahabat Nabi di atas mimbar.
Di antara mereka ada yang melakukan pemboikotan dengan cara medoakan keburukan atas mereka. ada juga yang melakukan pengobatan dengan cara ruqyah seperti dilakukan oleh Abu Ishaq ashiba’i. setelah selesai membaca surat al-Fatihah, surat al-Ikhlas, dan surat an-Naas, kemudian dia membaca, “Dengan kebencianku kepada Ubaidillah al-Mahdi dan anak cucunya, dan kecintaanku kepada Rasulullah, para sahabatnya, serta para keluarganya, maka sembuhkanlah setiap orang yang saya obati, ya Allah.”
Bentuk perlawanan lain adalah seperti pemboikotan yang dilakukan terhadap setiap orang yang mendukung dan memiliki hubungan kerjasama dengan penguasa, atau kepada setiap orang yang memberikan pujian dan sanjungan kepada mereka. langkah ini sebagai bukti pengamalan al-Qur’an, “Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat, mereka saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya.” (QS. Al-Mujadilah: 22).
Seperti yang dilakukan oleh para fuqaha Qairawan yang memboikot Khalaf bin Abul Qahim karena hubungan khususnya dengan para penguasa Bani Ubaidillah dan karena kebiasaannya menerima hadiah dari mereka, serta karya bukunya yang sengaja ditulis untuk memuji keturunan mereka. Ia secara terang-terangan memuji keluarga Bani Ubaidillah. Melihat sikapnya seperti itu, para fuqaha (ahli fikih) Qairawan mengeluarkan fatwa agar memboikot karya bukunya dan tidak boleh dibaca. Perlakuan tersebut membuatnya terasing dan kemudian mendorongnya untuk hijrah meninggalkan Qairawan menuju Saqalia, karena ia dijanjikan kedudukan tinggi oleh penguasa di sana.
2.       Perlawanan lewat perdebatan dan adu argumentasi (dialektika)
Perdebatan dengan cara perdebatan dilakukan oleh para ulama Ahhlus sunnah di Maghrib. Ia merupakan bentuk perlawanan paling kuat dan paling luas pengaruhnya dalam melawan pemikiran Syiah Rafidhah yang sesat menyesatkan. Sangan banyak ulama yang tercatat namanya di berbagai buku sejarah yang mengabadikan terjadinya perdebatan ilmiah dalam lapangan akidah ini. Mereka menjadi lisan dan juru bicara ahlussunnah yang terus berbicara untuk menjelaskan hakikat kebenaran agama ini.
Di antara ulama yang melakukan perdebatan ilmiah melawan orang-orang Fathimiyah adalah Ibnu Tabban. Beliau dikenal sebagai ulama pemberani yang selalu berada di barisan terdepan dalam menghadapi musuh akidah dan tak gentar dengan kematian. Sebagaimana diceritakan oleh al-Maliki dan ad-Dabbagh, bahwa seorang gubernur Qairawan, Abdullah, yang dikenal sangat licik dan angkuh, suatu ketika ia mengumpulkan para ulama di rumah Abu Zaid (seorang penduduk Qairawan). Dia mengancam para ulama yang berani menentang dirinya. Ketika itu Ibnu Tabban langsung mendatanginya dan berkata, “Saya menjual nyawaku kepada Allah untuk menenatang dirimu. Jika ulama datang kepadamu, maka terjadilah bencana besar terhadap agama Islam.”
Ibnu Tabban menghadapinya sendiri. Ia mampu mendebat mereka dengan berbagai hujjah, hinnga mengalahkannya dan semua jamaah yang hadir bersamanya. Meskipun mereka berhasil dikalahkan, tetapi mereka tidak malu untuk menawarkan kepada Syaikh Ibnu Tabban agar bergabung dalam akidah mereka. Syaikh pun menolak dan mengatakan, “Seorang tua, telah berumur 60 tahun. Ia mengetahui apa yang Allah halalkan dan yang Dia haramkan. Dia telah membantah 72 aliran sesat. Apakah pantas dikatakan perkataan ini kepadanya? Andai saja engkau membelah aku dengan gergaji hingga menjadi dua, niscaya tidak akan aku tinggalkan mazhabku ini.”
Dan di antara ulama lainnya yang terkenal membela Islam dengan hujjahnya dan kehebatan argumennya dalam melawan para dai Syiah dari Dinasti Fathimiyyah adalah Abu Utsman Said bin Haddad (302 H), dia dikenal sebagai juru bicara ahlussunnah. As-Sulami berkomentar mengenai sosoknya:”Beliau adalah sosok yang faqih, shalih, fasih, dan dikenal sebagai orantor paling tajam argumentasinya kala itu.”
Di antara berbagai perdebatan yang dilakukannyam antara lain sebagai berikut:
Siapa yang lebih utama antara Abu Bakar dan Ali –radhiyallahu anhuma-? Seperti yang disebutkan penulis al-Ma’alim. Suatu ketika setelah selesai bertemu antara Ibnul Haddad dengan Abu Ubaidillah asy-Syi’i, Abu Ubaidillah bertanya kepada Ibnul Haddad, “Apakah kamu lebih mengutamakan yang lainnya daripada para pemilik selendang?” (yang dimaksud para pemilik selendang adalah Rasulullah, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. Sedangkan yang dimaksud dengan kalimat “yang lainnya” adalah Abu Bakar). Mendengar pertanyaan tersebut Abu Utsman balik bertanya, “Menurutmu mana yang lebih utama, berlima sedangkan yang keenamnya adalah Jibril, atau berdua sedangkan yang ketiganya adalah Allah?” Mendengar perkataan ini, tokoh Syiah itu diam terperangah.

3.       Perlawanan dengan Mengangkat Senjata
Bagi para ulama Maghrib, tidak cukup menghadapi gerakan Syiah Rafidhah hanya mengadakan perlawanan pasif dan perlawanan lewat debat saja, tetapi mereka juga mengadakan perlawanan lain dengan mengangkat senjata untuk menumpas mereka. di antara contohnya adalah yang dilakukan Jublah bin Hamud ash-Shadafi, dia rela meninggalkan tempat tinggalnya di RAbath menuju Qairawan. Ketika ditanyakan hal itu, dia berkata, “Dulu antara kami dan musuh dipisahkan oleh lautan. Sekarang kami telah berhadap-hadapan dengan mereka di halaman kami.”
Dia juga berkata: “Berjihad melawan mereka lebih utama daripada berjihad melawan kemusyrikan. “ Dia berdalil dengan firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kamu, dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas dari kamu, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah: 123).
Di antara mereka juga adalah Imam Abul Qasim al-Hasan al-Mufarraj (309 H). beliau tercatat sebagai orang yang pertama-tama berangkat berjihad memerangi kelompoh Syiah hingg akhrinya mendapatkan mati syahid –insyaallah-. Dia bersama salah seorang sahabatnya bernama Abu Abdillah dibunuh oleh Ubaidillah al-Mahdi, kemudian disalib. Hal itu terjadi kareena dirinya telah mempelopori gerakan Jihad melawan Ubaidillah al-Mahdi dan mengajak manusia agar ikut bergerak bersamanya.
Di antara perlawanan juga muncul dari para ulama dengan mengeluarkan fatwa wajibnya memerangi Dinasti Fathimiyah. Fatwa ini mereka keluarkan setelah mengadakan pertemuan dan musyawarah di antara para  ulama ahlussunnah. Mereka bekerjasama dengan kekuatan umat Islam lainnya untuk memerangi kelompok Syiah Ubadiyah yang telah dinyatakan sesat dan kafir, karena keyakinan-keyakinan mereka yang batil dan menyimpang.
Seorang syaikh ahli fikih bernama Abu Bakar bin Abdurrahman al-Khulani mengatakan bahwa Syaikh Abu Ishaq berangkat bersama para Syaikh dari Afrika untuk memerangi kelompok Bani Ubaid dan Abu Yazid. Syaikh Abu Ishaq berkata kepada pasukan Abu Yazid, “Kita dari kelompok ahlul Qiblah (Muslim) akan berhadapan dengan kelompok bukan ahlul Qiblah (kufur). Maka marilah kita bergabung dengan kelompok ahlul Qiblah yang lainnya untuk memerangi kelompok bukan ahlul Qiblah. Apabila kita berhasil mengalahkan mereka, kita tidak boleh mengikuti Abu Yazid pemimpin mereka, karena ia telah keluar dari islam. Tetapi kita berharap kepada Allah agar Dia memberikan kepada kita pemimpin yang adil, sehingga mereka semua menjadi pengikut kita (Muslim).”
Di antara para fuqaha dan ahli ibadah yang ikut berjihad melawan kelompok Syiah Rafidhah adalah: Abul Arab Ibnu Tamim, Abu Abdul Malik Marwan, Abu Ishaq As-Saja’I, Abu Fadhl, Abu Salman Rabi’ bin al-Qathani, dan masih banyak lagi. Dalam waktu yang singkat bergabunglah pasukan jihad dalam jumlah sangat besar, dari golongan para ulama, pemuka masyarakat, dan orang-orang awam yang ikut di belakang mereka. jumlah mereka tak bisa dihitung oleh musuh.
Para ulama masa itu sedang diuji oleh Allah. Mereka menghadapi hakekat jihad fi sabilillah untuk memerangi musuh Islam. Tidak kurang dari 80 ulama yang menjadi syahid ketika itu, di antaranya adalah Rabi’ al-Qathan. Para ulama tersebut menunjukkan sikap pemberani yang uar biasa dan kemahiran berperang. Mereka berhasil mewujudkan kemenangan dan nyaris menguasai semua wilayah al-Mahdiyah.
Peristiwa peperangan antara pasukan ahlus sunnah dan Syiah ini membawa pengaruh cukup besar terhadap kondisi Magrib di kemudian hari, dimana perseteruan dan permusuhan antara kedua pihak terus berlanjut, meskipun Bani Ubaid sudah keluar dari wilayah Maghrib. Pasukan Mujahidin ahlussunnah terus mencari keberadaan markas-markas kelompok Syiah. Apabila mereka menemukan kelompok Syiah, segera diserang, ditumpas, dan dirampas hartanya. Ibnul Adzari menceritakan dalam kitab Bayanul Maghrib: “Dulu pernah terjadi di Kota Qairawan sekelompok orang menyamar untuk menyembunyikan dirinya sebagai pengikut Syiah Rafidhah, tetapi kemudian hal itu diketahui, maka mereka dari orang-orang awam seketika langsung menyerbu kelompok syiah tersebut dan menumpas mereka. rumah dan harta-hartanya pun dirampas. Kaum Muslimin sudah tidak memiliki maaf lagi terhadap kelompok keji dan durhaka ini.”
4.       Perlawanan lewat karya tulis
Perlawanan dengan cara menulis buku atau bentuk karya tulis lainnya merupakan bentuk perlawanan yang mulia dan sangat bermanfaat dalam menghadapi bahaya gerakan Syiah. Perlawanan dengan cara ini memiliki pengaruh signifikan dan memberikan pencerahan kepada segenap manusia tentang hakekat kebenaran dan menegakkan syariat. Karya-karya tulis tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
Pertama, karya tulis yang disusun mencakup masalah akidah secara umum, sesuai dengan prinsip Ahlussunnah wal jamaah. Sperti misalnya penjelasan seputar imamah bagi golongan ahlussunnah. Sebaik-baik urutan para pemimpin adalah: abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Peraturan syariat mengenai kepemimpinan di masa para sahabat ini berbeda dengan konsep kepemimpinan yang berlaku bagi penganut ajaran syiah rafidhah.
Kita tidak membeda-bedakan kemuliaan di antara para sahabat, semua mereka adalah adil, memiliki kepribadian yang baik. Berbeda dengan cara yang dipakai kaum Syiah, mereka banyak memfasikkan dan mengkafirkan para sahabat, kecuali sedikit saja. Perlawanan lewat penulisan buku ini sangat memberi manfaat dalam pencerahan manusia mengenai agama mereka dan untuk menyebarkan mazhab yang haq sehingga jadilah mereka orang-orang yang kritis dan telit serta memahami setiap orang yang menyimpang dari akidah tersebut berarti telah menyimpang dari Islam dan keluar dari jamaah kaum muslimin.
Kedua, karya tulis yang disusun khusus untuk membantah pemikiran Syiah dan meluruskan keyakinan-keyakinan mereka yang menyimpang. Karya tulis semacam ini biasanya lahir karena situasi dan kondisi khusus yang menuntut ulama ahlussunnah untuk menjawab permasalahan yang ada.
5.       Perlawanan lewat syair
Banyak sekali para penyair ahlussunnah yang dikenal memiliki kemahiran dalam bidang ini, diantaranya adalah Abul Qasim al-Fazari. Melalui bait-bait syairnya ia menjelaskan bagaimana sifat dan akhlak para musuh-musuh ahlussunnah dari kaum syiah Rafidhah Batiniyah.
(Mahardy/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More