Perselisihan Para Sahabat Menyebabkan Munculnya Sekte-sekte Sesat?

Serial ulasan ke-14 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial ulasannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Adapun perkataan Tijani tentang sahabat, “Merekalah yang berselisih tentang penafsiran Kitabullah dan hadis-hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang menyebabkan umat ini terpecah ke berbagai mazhab, firqah, sekte dan golongan. Dari situ pulalah muncul berbagai madrasah ilmu kalam dan berbagai macam pemikiran serta ragam filsafat…-sampai perkataannya-…. Oleh karena itu kaum Muslimin tidak akan terpecah dan berselisih pada satu masalah pun jika bukan karena sahabat. Segala perselisihan timbul dan bermuara kepada perpebedaan mereka pada sahabat.”
Jawabannya: Ini merupakan pengelabuan (talbis) dan kebodohan yang paling besar. Juga celaan kepada para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dimana mereka berlepas diri dari itu. Semua yang disebutkannya tentang sahabat berupa perselisihan tafsir dan hadis-hadis tidak ada sangkut pautnya dengan munculnya berbagai macam sekte, madarasah-madrasah ilmu kalam serta berbagai corak filsafat.
Itu karena perbedaan terbagi menjadi dua: Ikhtilaf Tanawwu’ (perbedaan ragam) dan Ikhtilaf Tadhadd[1] (perbedaan yang bertolak belakang). Dan kebanyakan tafsir ayat-ayat al-Qur’an yang dinukil dari sahabat masuk dalam kategori Ikhtilaf Tanawwu’ (perbedaan ragam) bukan Ikhtilaf Tadhadd (perbedaan yang bertolak belakang) sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
Beliau berkata, “Perbedaan ulama salaf dalam tafsir itu sedikit. Perbedaan mereka pada hukum-hukum lebih banyak dari perbedaan mereka pada tafsir. Dan kebanyakan perbedaan mereka kembali ke Ikhtilaf Tanawwu’ bukan Ikhtilaf Tadhadd.”[2]
Kemudian beliau menyebutkan bahwa Ikhtilaf Tanawwu’ terjadi karena dua hal:
Pertama, setiap ulama mengungkapkan pendapat yang bukan miliknya yang menunjukkan makna terhadap tafsiran dan bukan makna yang lain meskipun yang ditafsirkan adalah sama, seperti tafsiran mereka tentang Ash-Shirath al-Mustaqim. Sebagian mereka menafsirkan bahwa itu adalah al-Qur’an atau mengikuti al-Qur’an. Yang lain menafsirkan Islam atau agama Islam. Yang lain mengatakan As-Sunnah atau al-Jama’ah. Yang lainnya lagi menafsirkan cara menghambakan diri atau takut (khauf), harapan (raja’) dan cinta (hubb) atau mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi larangan. Ada juga yang menafsirkan mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah. Beramal untuk menaati Allah atau nama dan ungkapan semacam ini.
Kedua, sebagai contoh seorang ulama menyebutkan nama yang umum dan juga beberapa macamnya. Mengingatkan pendengar terhadap jenis itu, bukan membatasi makna yang dimaksud secara khusus maupun secara umum, seperti pertanyaan seorang non-arab tentang lafaz al-Khubz. Untuk menjawabnya dia diperlihatkan adonan untuk memberikan isyarat bahwa jenisnya seperti itu, dan bukan berarti bahwa al-khubz itu adonan.[3]
Syaikhul Islam berkata, “Kebanyakan perselisihan sahabat dan tabi’in yang terjadi pada masa lalu masuk pada kategori ini.”[4]
Dari sini nampaklah bahwa bentuk perbedaan –yang mayoritasnya dinukil dari sahabat berupa perbedaan tafsir- tidak memiliki pengaruh dalam menelurkan hukum dari ayat-ayat Al-Qur’an dan juga perselisihan umat setelah itu, apalagi disebut sebagai sebab utama munculnya berbagai sekte, golongan, pemikiran filsafat dan ilmu kalam sebagaimana yang diklaim oleh Syiah.
Adapun perselisihan jenis kedua, ikhtilaf tadhadd, maka itu tidak benar bersumber dari mereka, baik itu dalam tafsir ataupun hukum-hukum. Meskipun ada, itupun hanya sedikit dan tidak masuk dalam perkara-perkara pokok agama yang telah pasti dalam agama ini. Perselisihan itu hanyalah dalam masalah kecil yang menerima pandangan dan ijtihad.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah setelah menyebut bahwa perselisihan sahabat itu umumnya terjadi pada jenis Ikhtilaf Tanawwu’ (perbedaan ragam) berkata, “Bersama ini, maka memang seharusnya perlu ada perbedaan ringan antara mereka sebagaimana yang terjadi dalam menentukan hukum-hukum. Kami tahu bahwa perbedaan itu dibutuhkan oleh umumnya manusia. Sudah menjadi maklum bahkan sudah jamak di kalangan umum maupun khusus seperti jumlah shalat, bentuk rukuknya dan waktu-waktunya, kewajiban zakat dan ukurannya, penentuan bulan ramadhan, thawaf, wuquf, melempar jumrah, miqat dan lain sebagainya. Kemudian perbedaan para sahabat pada bagian warisan untuk kakek dan saudara dan yang berserikat dan semacam itu yang tidak membuat kita ragu terhadap absahnya ilmu faraidh (warisan).”[5]  
Jenis perbedaan macam ini yang terjadi antara sahabat radhiyallahu anhum tidaklah menjadi sebab terpecahnya umat; munculnya bid’ah-bid’ah sebagaimana yang diklaim oleh si rafidhy ini. Itupun tidak masuk dalam wilayah pokok-pokok agama seperti yang terjadi antara ahlus sunnah dan golongan-golongan ahli bid’ah. Perselisihan para sahabat terjadi dalam masalah ringan dan kecil. Pintu ijtihad pada jenis ini terbuka dan kesalahan yang terjadi dimaafkan, karena yang demikian itu bersumber dari ijtihad yang tidak bermaksud membuat penyelisihan/penyimpangan. Hal ini terjadi pada masa hidup Nabi shallallahu alaihi wasallam dimana sebagian sahabat memiliki beberapa ijtihad yang keliru, sebagaimana yang terjadi pada Adi bin Hatim radhiyallahu anhu ketika ia melihat pada dua buah ikatan yang satu hitam dan satunya putih. Beliau melihat kedua ikatan itu dan mengira bahwa itulah maksud firman Allah, “Hingga jelas bagi kalian benang putih di atas benang hitam pada waktu fajar” (QS. Al-Baqarah: 187). Para sahabat juga terbagi ke dalam dua kelompok dalam memahami maksud Nabi shallallahu alaihi wasallam, “Jangan sekali-kali seorang di antara kalian shalat ashar kecuali di Bani Quraizhah.”[6] Kelompok yang pertama shalat di tengah jalan dan kelompok yang lain tidak shalat kecuali setelah tiba di Bani Quraizhah. Sebagaimana juga kadang terjadi perselisihan ta’wil di antara mereka, sebagaimana yang terjadi pada Ibnu Abi Balta’ah radhiyallahu anhu,[7] kisah Khalid bin Walid dengan Bani Judzaimah[8] dan masih banyak lagi kisah yang terlalu panjang jika ingin disebut semua. Walaupun demikian, Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menganggap mereka berdosa karena kesalahan mereka bersumber dari ijtihad dan takwil dimana hal tersebut dosanya telah diangkat dari umat ini.
Karena itu semua, perselisihan para sahabat radhiyallahu anhum ajma’in dalam masalah-masalah ijtihadiyah bukanlah penyebab terpecahnya umat yang menjadikannya berselisih dan bergolong-golongan.
Imam penegak Sunnah berkata, “Sesungguhnya kami dapati para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berbeda pandangan pada hukum-hukum agama, namun itu tak membuat mereka berpecah dan bergolong-golongan. Karena mereka tidak meninggalkan agama Islam dan mereka berpendapat pada apa yang telah diizinkan bagi mereka.”[9]
Jika perpecahan itu tidak ada pada mereka, bahkan yang termaktub dalam Al-Qur’an mengatakan bahwa mereka saling mencintai, menyayangi dan bersatu sebagaimana Allah menyifati mereka, “Mereka tegas kepada orang-orang kafir, namun saling mengasihi di antara mereka”[10]
Maka bagaimanakah si Rafidhy ini mengklaim bahwa perbedaan mereka dalam berijtihad merupakan penyebab utama terpecahnya umat?
Bahkan yang terjadi justru sebaliknya. Umat mengambil manfaat berupa pelajaran dan ibrah dari perbedaan ijtihad mereka yang tidak menyebabkan perpecahan dan sebaliknya menjadi sebab bersatunya umat. Akan tetapi ini hanya dicapai oleh orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk mereka. mencukupkan diri dengan apa yang berasal dari mereka, karena itu mereka tidak berpecah disebabkan perpedaan ijtihad. Ketahuilah, mereka itulah Ahlus Sunnah, kelompok yang bersatu. Mereka diselisihi oleh seluruh ahli bid’ah yang merupakan kelompok yang berpecah-pecah.
Oleh karena itu, ketika generasi para ulama salaf setelah sahabat melihat buah yang baik lagi berberkah dari perbedaan ijtihad para sahabat, pengaruhnya terhadap umat, dan apa yang dihasilkannya di balik itu berupa rahmat dan keluasan untuk umat dalam memilih pendapat para sahabat, mereka tidak membenci dan menolak perbedaan pandangan para sahabat, bahkan mereka senang dan ridha terhadap hal itu.
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah berkata, “Tidak membuat saya senang jika para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pandangan.”[11]
Dalam riwayat yang lain dari beliau, “Betapa senangnya saya karena perbedaan pandangan para sahabat bagaikan unta merah”[12]
Al-Qasim bin Muhammad rahimahullah berkata, “Sungguh Allah telah memberikan manfaat berkat perbedaan pandangan para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wasallam pada amalan mereka. seseorang tidaklah beramal dengan cara mengikuti cara beramal seorang dari mereka kecuali ia memandang bahwa padanya terdapat keluasan dan apa yang ia amalkan lebih baik dari yang telah ia amalkan”[13]
Beliau juga berkata, “Sungguh saya dibuat takjub oleh perkataan Umar bin Abdul Aziz, “Saya tidak suka jika para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pandangan, karena jika hanya ada satu pendapat niscaya manusia berada dalam kesulitan. Mereka itu merupakan para Imam yang diikuti, jika mengambil pandangan seorang dari mereka niscaya ia berada dalam keluasan”.”[14]
Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata, “Dengan perkataan seperti inilah para ulama berpendapat”[15]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Dengan ini, sebagian ulama mengatakan bahwa ijma/ kesepakatan para sahabat adalah hujjah/ dalil yang pasti. Perbedaan mereka adalah rahmat dan keluasan. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Saya tidak suka jika para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pandangan, karena jika mereka bersepakat pada satu pandangan kemudian seseorang menyelisihinya niscaya ia sesat. Namun jika mereka saling berbeda pandangan, maka seorang mengambil pendapat ini, dan seorang yang lain mengambil pendapat yang itu, sungguh merupakan keluasan”.”[16]
Perkataan para Imam di atas memberikan bukti yang jelas bahwa perbedaan pandangan para sahabat radhiyallahu anhum dalam berijtihad tidaklah membuat kerusakan pada agama atau menjadi sebab utama dalam terpecahnya kaum Muslimin dan munculnya berbagai sekte ahli bid’ah dalam Islam, sebagaimana yang diklaim oleh si Rafidhy ini, dimana jika perbedaan pendapat mereka menyebabkan ini, maka bagaimana mungkin para Imam-imam besar itu senang dan tidak sedih? Padahal mereka manusia yang sangat tinggi ghirahnya (rasa cemburu) kepada agama dan nasehatnya kepada kaum Muslimin.
Jika hal ini telah nyata dan pasti maka ketahuilah wahai pembaca bahwa sekte-sekte yang banyak ini tidak bermuara –dengan memuji Allah- kepada salah seorang sahabat. Ucapan bid’ah sekte-sekte sesat tersebut tidak juga bermula dari perkataan para sahabat meskipun sebagian sekte ini menisbahkan golongan mereka pada seorang dari mereka, seperti klaim Rafidhah terhadap Ali radhiyallahu anhu dan anak keturunannya. Hanya saja ini tidak benar. Ali radhiyallahu anhu dan anak keturunannya berlepas diri dari mereka dan akidah mereka sebagaimana yang telah lalu pembahasannya.
Pada hakikatnya, sekte-sekte bid’ah tersebut dimunculkan pertama kali oleh orang kafir asli atau munafik yang kemunafikannya sangat jelas di tengah-tengah umat.
Khawarij, asal muasal akidah ini serta nasabnya bermula pada Dzul Khuwaisirah yang menentang Nabi shallallahu alaihi wasallam ketika beliau membagikan harta rampasan perang seusai perang Hunain, ia berkata, “Wahai Rasulullah, berlaku adillah!” Rasulullah menimpali, “Celaka kamu! Siapa lagi yang dapat berlaku adil jika saya tidak berlaku adil? Sungguh kamu telah celaka dan merugi!” Umar bin Khaththab radhiyallahu anhu pun angkat bicara, “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya memenggal lehernya” Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Biarkanlah dia, karena dia memiliki pengikut yang seorang dari kalian akan menganggap kecil shalatnya dibandingkan dengan shalat mereka, dan menganggap kecil puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan. Mereka keluar dari Islam sebagaimana meluncurnya anak panah saat dilesatkan.”[17]
Rafidhah, perkembangan awalnya bermula dari Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi Al-Hamiri dimana dia merupakan orang pertama yang memunculkan Rafidhah.
Syaikhul Islam berkata, “Sesungguhnya yang memunculkan Rafidhah pertama kali adalah orang Yahudi. Dia menampakkan keislamannya sebagai topeng kemunafikannya. Dia menyebarkan pemahaman aneh kepada orang-orang bodoh yang merusak sendi keimanan. Karena itu, Rafidhah merupakan pintu gerbang kemunafikan dan zindik yang paling besar.”[18]
Hal ini merupakan perkara yang sudah pasti dan masyhur di kalangan ulama Islam, sangat banyak terdapat dalam kitab-kitab mereka.
Bahkan Muarrikh besar (ahlis sejarah) Syiah telah menyebutkan ini.
Al-Kasysyi berkata tentang Abdullah bin Saba’, “Dialah orang yang pertama kali menyebarkan pemahaman tentang wajibnya menjadikan Ali sebagai Imam. Menampakkan sikap berlepas diri dari para musuh-musuhnya. Penyingkap orang-orang yang memusuhinya dan mengkafirkan mereka. Dari situlah, orang yang menyelisihi Syiah mengatakan bahwa asal muasal tasyayyu’ dan Rafidhah dari seorang Yahudi.”[19]
Teks di atas ini dinukil juga oleh para ulama besar mereka yang masyhur seperti Al-Asy’ari Al-Qummi,[20] An-Naubakhti,[21] dan Al-Mamaqani.[22]
Adapun Qadariyah, orang yang pertama kali menampakkannya dan berbicara dalam masalah taqdir adalah seorang lelaki Nasrani yang bernama “Susin,” Al-Ajurri dan Al-Lalaka’i meriwayatkan dari Al-Auza’i, “Orang pertama yang mempermasalahkan Taqdir adalah seorang laki-laki dari Irak yang bernama “Susin” ia adalah seorang Nasrani yang masuk Islam kemudian murtad kembali kepada Nasrani. Pemikirannya diambil oleh Ma’bad al-Juhani dan Ghailan mengambilnya dari Ma’bad.”[23]
Jahmiyah dinisbahkan kepada Jahm bin Shafwan. Dialah orang pertama yang menyebarkan pendapat yang menolak/meniadakan sifat-sifat Allah. Jahm mengambil pendapat ini dari Ja’d bin Dirham. Sedangkan Ja’d mengambilnya dari Thalut yang merupakan anak dari saudara wanita Labid bin Al-A’sham. Dan Thalut mengambilnya dari Labid bin Al-A’sham seorang Yahudi dan penyihir yang pernah menyihir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini disebutkan oleh Syaikhul Islam dan Ibnu Katsir rahimahumallah.[24]
Filsafat, para filosof mengambilnya dari filsafat Yunani. Bahkan dari Syarham atau Aristoteles.
Ibnul Qayyim berkata, “Filsafat tidak terkhusus dimiliki oleh satu umat saja. Para filosof itu ada di semua umat, meskipun yang dikenal oleh manusia yang darinya mereka ambil pendapat-pendapatnya; filsafat Yunani.”[25]
Tentang definisinya beliau berkata, “Nama ini sebagaimana yang diketahui oleh kebanyakan manusia menjadi kekhususan dari agama-agama para Nabi. Tidak berpendapat kecuali yang dapat dinalar oleh akal sebagaimana klaimnya, dan yang lebih khusus dari itu, yang diketahui oleh generasi akhir bahwa itu adalah nama untuk para pengikut Aristoteles.”[26]
Adapun Bathiniyah, maka ia merupakan benih Yahudi yang ditumbuhkan oleh Abdullah bin Maimun al-Qaddah al-Yahudi.
Muhammad bin Malik bin Abul Fadha’il berkata tentang sekte Bathiniyah, “Asal mula pemikiran terlaknat ini yang digandrungi oleh setan dan orang kafir adalah munculnya Abdullah bin Maimun Al-Qaddah di Kufah dan berita-berita mengenainya. Ia memulainya pada tahun 276 hijriyah. Ia pun menancapkan kepada kaum Muslimin berbagai tali-tali kesesatan dan mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, {Dan makar mereka itulah yang hancur}[27]. Ia membuat tafsir baru pada setiap ayat dari Kitabullah dan berbagai macam penakwilan dari setiap hadis Rasulullah shallallahu alaihi wasallam…..orang terlaknat ini berakidah Yahudi, namun ia menampakkan keislaman, padahal dia berasal dari Yahudi, anaknya Asy-Syal’l’ dari sebuah kota di Syam yang disebut Salmiyah.”[28]
Itulah semua asal muasal sekte-sekte sesat dalam Islam. Orang-orang kafir dan zindiq yang membenci agama inilah yang pertama kali memprakarsainya dan menyebarkannya.
Lihatlah wahai muslim bagaimana si Rafidhi (Dr. Muhammad At-Tijani) yang keji ini melepaskan semua orang kafir dan ateis ini dari kumpulan para pembuat keyakinan menyimpang  di atas dan semua yang diakibatkannya berupa keburukan yang sangat besar, memecah persatuan kaum Muslimin, lalu kemudian tuduhan ini diarahkan kepada para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan klaim bahwa sekte-sekte itu muncul karena perselisihan mereka. Semoga Allah menimpakan azab yang layak baginya.
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 249-261
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)


[1] Majmu’ al-Fatawa, 6/58
[2] Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, hal 10
[3] Ibid, 13/381-382
[4] Majmu’ al-Fatawa, 13/381
[5] Muqaddimah at-Tafsir, hal 17
[6] Hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar, Kitab al-Maghazi, Bab Marja’ An-Nabi min al-Ahzab, Fath al-Bari, 7/408
[7] Lihat hadis yang mengisahkan ini pada shahih Bukhari, Kitab Istitabah al-Murtaddin, Bab Ma Ja’a fi al-Muta’awwilin. Fath al-Bari, 12/304. Shahih Muslim, Kitab Fadha’il al-Shahabah, Bab min fadha’il ahl Badr, 4/1941.
[8] Shahih Bukhari, Kitab al-Maghazi, Bab Ba’tsu an-Nabi Khalid ila Bani Judzaimah, Fath al-Bari, 8/56
[9] Al-Hujjah fi Bayan al-Mahajjah, 2/227-228
[10] QS. Al-Fath: 29
[11] Dinukil oleh Syaikhul Islam pada Majmu’ Fatawa, 3/80, dan Imam Asy-Syathibi dalam al-Muqafaqat, 4/125
[12] Ibid
[13] Ibid
[14] Ibid
[15] Ibid
[16] Ibid
[17] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Hadis Abu Sa’id Al-Khudri pada Kitab Istitabatul Murtaddin, Bab Tarku Qatlil Khawarij Lit-Ta’lluf, Fath al-Bari 12/390. Muslim, Kitab Az-Zakat, Bab Dzikri al-Khawarij wa Shifatihim, 2/744.
[18] Majmu’ Al-Fatawa, 4/428
[19] Rijal al-Kasysyi, hal 71
[20] Al-Maqalat Wal Firaq, hal 21-22
[21] Firaq Asy-Syi’ah, hal 22
[22] Tanqih Al-Maqal, 2/184
[23] Asy-Syari’ah lil Aajurri, hal 243. Syarh I’tiqad Ahlis Sunah karya Al-Lalaka’i, 4/750
[24][24] Majmu’ al-Fatawa, Syiakhul Islam Ibnu Taimiyah, 5/20, al-Bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, 9/364
[25] Ighatsat Al-Lahfan, 2/260
[26] Ibid, 2/524
[27] QS. Fathir: 10
[28] Kasyfu Asrar al-Bathiniyah, Muhammad bin Malik bin Abu Al-Fadha’il, hal 31-33

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More