"Menyegerakan atau Menunda Qishah Para Pembunuh Utsman" Pokok Perbedaan Pandangan Ali-Muawiyah-Aisyah

Serial ulasan ke-12 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial ulasannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Kaedah Kedua, Sengketa yang terjadi antara Ali dengan pihak yang menyelishinya hanyalah pada apakah mengqishah para pembunuh Utsman itu disegerakan atau ditunda terlebih dahulu, namun mereka semua sepakat bahwa hal itu wajib ditunaikan.
Poin ini juga telah diakui oleh para ulama dari Ahlus Sunnah karena riwayat-riwayatnya yang shahih, demikian juga dengan banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Ali radhiyallahu anhu tidak berbeda pandangan dengan orang yang menyelisihinya tentang kewajiban mengqishas para pembunuh Utsman. Hanya saja beliau memandang hal itu harus ditunda sampai keadaan kondusif dimana para pembunuh Utsman dulunya terkumpul di Madinah namun orang-orang arab badui dan yang memiliki tujuan buruk mencampuri urusan ini dan menyebabkan sulitnya mengqishas para pembunuh tersebut di awal pemerintahan Ali radhiyallahu anhu.
Hal ini senada dengan yang disebutkan oleh at-Thabari, “Setelah Thalhah dan Zubair masuk mengahadap Ali beberapa sahabat juga menemuinya, mereka berkata, ‘Wahai Ali! Sesungguhnya kami telah membuat syarat agar hukum had itu ditegakkan, kaum itu bekerjasama membunuh Utsman dan menghalalkan darahnya’ Ali menjawab, ‘Wahai saudara-saudaraku, saya tidaklah bodoh dari apa yang kalian ketahui. Akan tetapi bagaimana saya melakukan itu terhadap sebuah kaum yang menguasai kita dan kita tidak menguasai mereka. Mereka telah menyusup di antara budak-budak kalian. Orang Arab bergabung bersama mereka. Mereka juga berada diantara kalian siap melakukan kejahatan apapun yang mereka inginkan. Karena itu, apakah kalian melihat ada peluang untuk melakukan apa yang kalian inginkan?’ mereka menjawab, ‘Tidak’, Ali menjawab, ‘Maka demi Allah, saya tidak mempunyai pandangan lain kecuali apa yang kalian ungkapkan tadi, Insya Allah’.”[1]
Ibnu Katsir berkata, “Ketika masalah baiat terhadap Ali sudah selesai, Thalhah, Zubair dan pembesar sahabat masuk menemui Ali, mereka menuntut agar hukum had segera ditegakkan untuk menyelesaikan perkara darah Utsman namun Ali memiliki alasan untuk tidak melakukannya, yaitu karena para pembunuh Utsman banyak dan tersebar berkelompok-kelompok sehingga tidak mungkin dilaksanakan pada kondisi seperti itu.”[2]
Beginilah alasan Ali radhiyallahu anhu pada awalnya, namun setelah itu masalahnya semakin rumit dan kompleks. Lebih khusus lagi setelah para sahabat berperang di perang Jamal meskipun mereka tidak menginginkan itu terjadi. Perang itu disebabkan oleh tipu daya yang diatur oleh para pembunuh Utsman, sebagaimana penjelasan yang telah lalu. Oleh karena itu qishah tidak dapat lagi dijalankan setelah beberapa peristiwa ini, baik pihak Ali maupun pihak yang menyelisihinya, itu disebabkan karena umat telah terpecah dan tidak mengurus perkara yang lebih penting dari itu; penyelesaian masalah pembunuhan Utsman.
Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Bersamaan dengan terpecahnya pendapat manusia tentang Ali, beliau tidak memiliki peluang mengeksekusi para pembunuh Utsman, bahkan masalahnya tambah runyam dan kacau. Karena beberapa kabilah bergabung dan bercampur dengan para pembunuh Utsman. Ketika Zubair dan Thalhah bertolak ke Bashrah dengan tujuan untuk memerangi para pembunuh Utsman, peperangan yang memakan banyak korban tak bisa dihindarkan. Yang menguatkan itu adalah bahwa semua manusia bersatu di bawah kepemimpinan Muawiyah setelah wafatnya Ali dan menjadi amir untuk seluruh kaum Muslimin, meskipun demikian ia tidak juga mampu membunuh para pembunuh Utsman yang masih tersisa.”[3]
Demikianlah, apapun alasan Ali untuk menunda qishash pembunuh Utsman, tidak berarti beliau menyelisihi sahabat-sahabat yang lain yang menuntut agar pembunuh Utsman segera diqishash sebagaimana yang beliau tegaskan kepada Thalhah dan Zubair ketika mereka berdua meminta agar menumpas para pembunuh Utsman dimana Ali berkata, “Wahai dua saudaraku, saya tidaklah lalai dari apa yang kalian ketahui akan tetapi bagaimmana saya akan berbuat terhadap suatu kaum yang menguasai kita dan kita tidak menguasai mereka.” saya bersumpah bahwa dia tidaklah memiliki pandangan kecuali apa yang mereka juga pandang dalam masalah ini, ini jugalah yang menunjukkan bahwa para sahabat bersepakat (ijma’) dalam masalah ini. Wallahu ta’ala a’lam.
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 240-243
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)


[1] Tarikh at-Thabari, 4/437
[2] Al-bidayah wa al-Nihayah, Ibnu Katsir, 7/239
[3] Minhaj as-Sunnah, 4/407-408

3 komentar:

Lucu ya ceritanya, kenapa para sahabat itu salah tafsir (salah ijtihad) dalam memutuskan suatu perkara hukum Islam dan atas kesalahan, kekhilafan mereka telah menyebabkan korban ribuan nyawa (tapi selalu dibungkus dengan kalimat syuhada) bahkan karena kesalahan ijtihad para sahabat ini, pertikaian dan perseteruan ummat islam terus berlangsung sampai sekarang, ada yang disebut perang dingin ada yang disebut perang terang-terangan (benturan fisik)

Kayaknya para pententang Ali dalam masalah pembunuhan Usman sangat tergesa-gesa, mereka terlalu mudah digoda syetan, mereka tergoda untuk memerangi ali yang dikenal dengan perang jamal dan perang siffin tersebut, ummat bingung, para penentang ali ini pura-pura khilaf atau .......?lucu ya para sahabat rasulullah yang langsung berguru di bawah pengajaran rasulullah bertemu langsung itu tidak mampu membedakan mana yang haq dan mana yang bathil?ini rasulullah yang gagal atau memang dasar orangnya (sahabat) rasulullah itu kurang cakap?sehingga atas kesalahan penafsirannya terhadap hukum islam itu telah menyebabkan kematian ribuan para penghafal qur'an dan hadis, bahkan sampai sekarang ummat ini masih terus berselisih atas permasalahan mereka yang tidak mampu mereka selesaikan semasa hidupnya, wahai ummat yang menyedihkan segera sadar akan kesalahan-kesalahan kalian, anehnya lagi untuk melegalkan penyerangan siti aisyah dan penyerangan mu'awiyah terhadap ali para ulama menafsirkan ayat qur'an tentang perintah (ATI'ULLAHA WA'ATI'URROSUL WA ULIL AMRI MINKUM) adalah menafsirkan bahwa dalam ayat tersebut kita hanya diperintahkan untuk mematuhi allah dan mematuhi rasul, karena WA ULIL AMRI MINKUM ini tidak disertai dengan kalimat WA 'ATI 'U (taatilah), maka tidak wajib hukumnya untuk mematuhi perintah ulil amri tersebut terlebih lagi jika ulil amri itu dianggap bersalah (tidak sesuai syari'at) maka wajib diperangi, inilah yang menjadi dasar legitimasi pemberontakan Siti Aisyah (perang jamal) dan pemberontakan mu'awiyah (perang siffin) terhadap khalifah ali bin abi thalib

Bukan sahabat yang tergesa-gesa. tapi orang-orang Haditsu Ahlamin Bil Islam. orang-orang yang baru masuk Islam, dan tidak faham pokok masalah lalu menginginkan perpecahan pada kaum Muslimin itulah yang memanas-manasi dua pihak yang sedang berhadapan.

Adapun para tokoh Sahabat tidak "sesembrono" yang Anda pikirkan. Mereka bahkan berdamai, bersilaturrahmi, bahkan saling bercengkrama bahkan pada saat malam sebelum peperangan. pada malam itu, ketika semua pasukan tertidur, Kelompok kecil yang menginginkan perpecahan itu yang mulai menyerang pada pasukan yang satu. Kemudian dibalas, karena dikira provokasi peperangan. Padahal itu bukan perintah dari sang Panglima, Ali, Muawiyah maupun Aisyah dengan Thalhah dan Zubair radhiyallahu anhum ajma'in.

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More