Mencari Ketenangan Jiwa dengan Shalat

Kita senantiasa menghaturkan puji dan syukur kehadirat Allah swt atas rahmat dan karunia yang senantiasa kita terima, begitu pula kita senantiasa menghaturkan salawat dan taslim untuk junjungan Rasulullah saw, Nabi yang kita cintai, Nabi yang kita ikuti ajarannya dan semoga kita mendapatkan syafaatnya di hari kemudian.
Semalam bersama staf LPPI kami mengunjungi anak perempuan dari seorang keluarga yang memiliki peng-amal-an agama yang berbeda, seperti shalat hanya 3 waktu; pertama, subuh, kedua, dhuhur dan ashar digabung dan ketiga, magrib dan isya digabung padahal ia tidak safar, dan masih menetap di kota Makassar ini. Peng-amalan-nya yang lain, jika sahur untuk puasa Ramadhan/ Sunnah, ia makan sahur setelah azan berkumandang, dan ketika berbuka puasa agak terlambat, karena setelah gelap barulah ia berbuka puasa. Jadi ketika azan magrib ia belum buka puasa, nanti setelah waktu isya atau menjelang isya.
Peng-amal-an inilah yang meresahkan keluarga terutama ibu dari anak tersebut. Diwaktu ibu ini sakit keras, maka ia menasehatkan kepada anak-anaknya yang lain, agar menasehati saudaranya tersebut agar keluar dari pengamalan menyimpang seperti itu.
Setelah ada pertemuan keluarga, maka keluarga tersebut, mengambil kesimpulan bahwa anak tersebut telah terpengaruh ajaran syiah. Indikasinya ialah karena yang menjadi teman-temannya, bahkan ketika ia dilamar maka pengurus IJABI (organisasi Syiah) itu yang datang melamar, menurut keterangan keluarganya. Kami pun dipanggil untuk datang dan menasehati anak perempuan keluarga tersebut.
Kami datang setelah dijemput oleh anggota keluarga anak itu, kami kemudian duduk di ruang tamu yang berdekatan dengan pintu kamar wanita tersebut. pertemuan dimulai dengan berbincang-bincang hangat, dengan kepala dan anggota keluarga yang lain, mereka juga termasuk anggota bahkan pengurus Muhammadiyah. Ketika pembicaraan sudah mulai memasuki pokok pembicaraan, kami mulai menanyakan beberapa pertanyaan. Anak wanita itu kemudian mendekati pintu kamarnya, namun hanya sampai sekitar daun pintu. Ia tidak keluar kamar. Ia memberi keterangan dengan sesekali menegok ke ruang tamu yang berbatasan langsung dengan kamarnya. Ia mulai menceritakan bahwa Ia  mencari  ketenangan untuk jiwanya. Dimana ada kajian keagamaan dia ikut. Ia menjelaskan bahwa ia pernah menjalani kajian dibeberapa tempat seperti kajian di jalan baji rupa Makassar. Namun, menurutnya disana tidak mengajarkan tasawuf. Padahal Ia sangat ingin belajar tasawuf, katanya agar jiwa merasa tenang. Waktu itu ia merasa jiwanya kering. Ia ingin terus menjacari hal tersebut hingga kebutuhan jiwanya terpenuhi. Ketika mengikuti kajian di wahdah, ia juga tidak menemukan apa yang ia cari- ketenagan jiwa melalui tasawuf. Ia memberi keterangan bahwa ia sering lewat kanal dan berkata dalam hatinya, jika seandainya Allah itu ada di dalam sana, rasanya ia ingin menyelam dan masuk ke dalamnya. Inilah suatu fenomena dalam masyarakat kita yang patut kita telusuri/ kaji.
Pertanyaan yang muncul ialah, apakah ketika kita mengkaji al Quran dan sunnah ini kita tidak dapat mencapai ketenangan jiwa? Karena menurutnya, ia selalu shalat tapi tidak khusyuk, jadi tidak memberi ketenangan. Jika kita kembali dalam ajaran agama kita, dalam Al Quran, QS. Al maidah ayat 3, disebutkan.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا 
…. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.
Jika kita merenungkan ayat ini maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa agama ini telah sempurna, termasuk dalam memberikan ketenangan jiwa kepada para pemeluknya. Dan bukannya Islam itu yang kurang tetapi pemeluknyalah yang belum memahami dan meresapi seluruh ajaran agama Islam yang sempurna ini.
Jika kita mencari ketenangan jiwa melalui cara tasawuf atau tarekat. Kita temui bahwa tasawuf dan tarekat itu kadang pemeluknya tidak mau terikat dengan aturan-aturan baku dalam agama. Yang penting mereka menuai ketenangan jiwa, bahkan dengan cara-cara yang mungkin tidak disyariatkan bahkan dilarang. Mereka terkesan mencari cara bagaimana jiwa ini merasa puas saja. Padahal pokok hukum asal dari ibadah (mahdah) ini dilarang kecuali ada dalil/ keterangan yang memerintahkannya.
Shalat dan ketenangan jiwa
Sebenarnya para ulama kita telah menjelaskan bahwa Quran dan hadis ini, jika kita telaah maka tuntunannya dapat menenangkan jiwa. Konsep ketenangan jiwa, dari para ulama mereka namakan dengan tazkiyatun nufus sebagaimana dalam QS. Asy Syams ayat 7-10,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (٧)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (٨)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (٩)وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا (١٠)
7. dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),
8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Mereka tidak memakai istilah tasawuf. Istilah tazkiyatun nufus menurut mereka lebih dapat dipertanggung jawabkan. Terlebih pemimpin tasawuf terkadang merasa memiliki kelebihan-kelebihan luar biasa dan tidak jarang mengaku termasuk keturunan Nabi saw. Masing masing ajaran tasawuf ataupun tarekat biasanya memiliki bacaan-bacaan yang tidak diketahui oleh umum karena menurutnya mereka menerima langsung dari Allah atau Nabi Muhammad saw baik melalui mimpi atau ilham-ilham yang mereka peroleh. 
Kita dianjurkan khusyuk dalam shalat dengan menghadirkan hati, mungkin terkadang kita shalat tetapi yang shalat hanya tubuh saja, pikiran dan hati kita kadang terlena terutama karena pengaruh dari luar atau kesibukan – kesibukan dunia lainnya.
Agar shalat memenuhi kebutuhan jiwa kita maka hadirkanlah hati dan pikiran kita dalam shalat sesuai firman Allah yang menjelaskan ciri orang mukmin, dalam surah Al Mu’minun: 2,
الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (٢)
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam Shalatnya,
Kemudian menumbuhkan rasa takut akan azab bagi para penentngNYa, mengingat segala kehinaan dan kesalahan kita dihadapan Allah yang maha agung dan maha mulia.  Menumbuhkan kesadaran akan kemulianNya hingga membuat kita merasa takjub. Disinilah pentingnya mendirikan shalat untuk mengingatNya- aqimis shalah li dzikri.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (١)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ (٢)وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (٣)
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya,
3. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
Dari ayat 1-3 Surah Al Mu’minun diatas, dapat timbul pertanyaan, Jika ada orang yang tidak khusuyuk dalam shalatnya, apakah masih termasuk beruntung? Menurut ayat diatas, Jika tidak khusyuk dalam shalat maka belum masuk kategori orang yang beruntung.
Dalam Quran juga disebutkan aqimis shalahli dzikri,  Dirikanlah shalat untuk mengingat aku. Dalam kaidah bahasa arab kata tersebut masuk dalam fiil amr, atau kata perintah. Sehingga shalat didirikan untuk mengingat Allah adalah perintah, dan dalam kaidah ushul fikih  disebutkan asal pokok perintah adalah wajib. Jadi, kita harus bahkan wajib mengingat Allah dalam shalat. Wa la takum minal ghafiliin, dan janganlah kamu termasuk orang lalai. Ada juga ayat yang berbunyi,  QS.An- Nisa’:43
يا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَقْرَبُواْ الصَّلاَةَ وَأَنتُمْ سُكَارَى حَتَّىَ تَعْلَمُواْ مَا تَقُولُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,…
Jika kita berbicara dan belum tahu apa yang kita katakan maka kita mungkin dianggap tidak sadar, sehingga tentu kita harus paham apa yang kita katakan. Dalam shalat, jika kita ‘berdialog’ dan memuji Allah namun ucapan yang kita lantunkan tidak kita pahami makna atau artinya, maka ini juga akan mengantarkan pada ketidak-khusyukan bahkan mungkin termasuk orang yang lalai. Naudzubillah.
Sesungguhnya orang-orang yang shalat itu berbicara dengan Rabbnya yang Maha Agung dan Maha Mulia. Jika ia berbicara tapi dengan kelalaian maka ia dianggap tidak bermunajah dengan Allah.
Terdapat kiat-kiat agar shalat kita menjadi khusyuk, minimal menjadikan shalat kita menjadi lebih baik dari sebelumnya, berikut beberapa kiatnya:
1.  Hadirnya hati dan pikiran kita dalam shalat. Maksudnya adalah bahwa kita berusaha mengosongkan hati dan pikiran kita dari hal-hal selainnya. Ingat makanan, ini dan itu, maka berlatih mengosongkan hati dan pikiran kita dari selainnya ketika shalat akan mengantar pada ke khusyukan.
Hendaklah pengetahuan tentang keutamaan shalat ini, kita selalu ingat, jangan sampai pikiran melayang-layang dan tidak berpikir tentang hikmah shalat.
Jika telah mengupayakan pikiran dan hati kita tidak lalai dan terfokus maka khusyuk akan lebih mudah yaitu kesadaran bahwa kita sedang berada dihadapan dan berdialog dengan Allah.
2.   Kepahaman dan pengetahuan tentang apa yang kita ucapkan, serta makna gerakan yang kita lakukan dalam shalat. Jadi setelah kita memfokuskan hati dan pikiran kita maka kita berusaha memahami makna gerakan kita, terutama ketika rukuk dan sujud. Yaitu bahwa kita adalah hamba yang hina dihadapan kemulianNya. Terlebih ketika kita membaca surah al Fatihah yang senantiasa kita ulang disetiap rakaat, kita mestinya menyadari makna dari bacaan tersebut.
3.   Menimbulkan rasa pengagungan kepada Allah swt. Hal ini berada satu tingkatan diatas kepahaman dan pengetahuan kita tentang apa yang kita ucapkan. Misalkan saja ada seorang yang berbicara kepada seorang pembantunya namun belum ada pemuliaan terhadapnya maka inilah percontohan tidak memuliakan atau mengagungkan. Dalam shalat, kita seharusnya menghadirkan rasa pengaagungan yang maha besar terhadapNya.
4.   Mengingat kehebatan Allah pada diri kita yang menimbulkan rasa takut. Merasakan kehebatan Allah lebih tinggi dari memuliakannya atau mengagungkan Allah. Karena hal ini akan menimbulkan rasa takut kepada kehebatan Allah. Perasaan takut dari bahaya ular atau kalajengking, sedikit berbeda dengan poin ini, karena kita takut pada ular karena menghindari  bahayanya. Maka katakutan kita adalah karena kesadaran akan keagungan dan kemuliaan Allah, sebagaimana rasa takut kita kepada raja yang memiliki kekuasaan dan kharisma dalam memimpin bahkan jauh melebihinya.
5.   Menumbuhkan harapan yang besar dalam beribadah. Hal ini lebih dari poin ke empat diatas. Sebagai pemisalan, ketika kita merasakan ketakjuban/ ketakutan kepada seseorang kita cenderung menghindarinya dan tidak berharap apapun darinya. Berbeda dengan perasaan takut dan harapan kita yang besar terhadap Allah meskipun ada ketakutan dan ketakjuban kita terhadap kekuasaannya. Permohonan dan doa kita, untuk diampuni, misalnya.
6.   Rasa malu, yaitu kesadaran kita bahwa  apa yang kita lakukan ini seperti shalat dan ibadah lainnya banyak kekuranga, banyak kesalahannya.
Kesimpulan, jika kita ingin khusyuk dan  merasakan kenikmatan dalam ibadah shalat maka berusahalah menerapkan ke-enam langkah diatas, Insya Allah jika kita upayakan dengan  konsistenkan akan tumbuh rasa khusyuk dan ketenangan jiwa pada diri kita.
Sebagai tambahan singkat untuk memudahkan dalam menghadirkan hati perlu persiapan. Persiapan kita, baik dengan istighfar ataupun persiapan lebih awal dalam beribadah, terutama dengan menjauhi maksiat karena maksiat itu adalah titik hitam yang jika tidak segera dihapus dengan tobat dan istighfar maka akan membungkus hati hingga sulit untuk diarahkan. Wallahu a’lam.

(Ust. Said/*Sa/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More