Kesepakatan Kaum Muslimin Setelah Wafatnya Rasulullullah

Setelah Rasulullah wafat, benih-benih perpecahan mulai tampak yang ditandai dengan perbedaan dalam menentukan pengganti Nabi sebagai pemimpin masyarakat. Puncak perpecahan itu terjadi pada akhir kepemimpinan Khulafa’ al-Rasyidun dengan terjadinya perepcahan di bidang politik yang berujung pada Perang Jamal dan Shiffin. (Prof. Dr. Ahmad M Sewang, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan UIN Alauddin Makassar).


Tanggapan Ust. Muh. Said Abd. Shamad, Lc
Allah SWT memuji rasulullah sebagai pribadi yang memiliki akhlak yang amat luhur, yang menjadi rahmat dan karunia Allah bagi kaum mukminin, sehingga mereka keluar dari alam jahiliah ke alam yang beradab. “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4). Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman, ketika Dia mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang memabcakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya dahulu mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imran: 164).
Karena kelebihan rasul SAW, maka para sahabat yang dididik lasngsung oleh beliau juga memiliki akhlak dan kepribadian yang luar biasa, dalam bidang akidah, ibadah, dan akhlak serta semangat ijtihad yang tinggi, sehingga mereka dijanji oleh Allah ta’ala sebagai golongan yang harus diteladani agar diridhai oleh Allah, mendapatkan surga dan kemenangan yang besar, “Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) yaitu orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal padanya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah: 100).
Di antara karekter yang berhasil ditanamkan oleh Nabi SAW dalam diri mereka adalah ukhuwah islamiyah (persaudaraan) dalam bentuk persatuan, tolong-menolong, kasih sayang, cinta mencintai, bahkan sampai kepada sifat itsar atau mendahulukan saudara seiman daripada diri sendiri.
“Muhammad utusan Allah dan orang-orang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka...” (QS. Al-Fathir: 29); “Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan mereka tiada menaruh keinginan tersebut terhadap apa yang diberikan kepada mereka (yang berhijrah), dan (bahkan) mereka lebih mengutamakan mereka yang berhijrah daripada mereka sendiri, meskipun mereka sendiri butuh”. (QS. Al-Hasyr: 9). “Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan mereka. Sesungguhnya Dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Anfal: 63).
Begitulah contoh-contoh di antara sekian banyak dalil yang membantah pendapat Prof Ahmad Sewang di atas, dan pendapat kaum Syiah yang mengatakan Nabi SAW telah mewasiatkan kepemimpinan umat (Imamah) kapada Ahli Baitnya (keluarga)nya, yaitu Ali ra dan keturunannya, dan dengan demikian (menurut Syiah) Abu Bakar, Umar, Utsman dan seluruh sahabat yang ridha atas kepemimpinan ketiganya adalah pengkhianat wasiat rasul SAW. Begitu kuatnya keyakinan ini pada orang Syiah sehingga mereka menjadikannya sebagai rukun agama, rukun iman dan rukun Islam. Salah satu rukun iman Syiah adalah imamah, kepercayaan kepada imam mereka yang dua belas. Siapa yang tidak percaya imam-imam tersebut, lalu mati, mati jahiliah, mati di luar Islam, (Jalaluddin Rakhmat (ed.) dalam Emilia Renita, 40 Masalah Syiah). Dan salah satu rukun Islam Syiah adalah ‘wilayah’, yaitu mengikrarkan bahwa sesudah nabi SAW wafat, maka kepemimpinan itu harus beralih secara langsung tanpa perantara kepada Ali ra. Itulah sebabnya, maka adzan orang-orang Syiah ditambah “Wa Asyhadu anna Aliyyan waliyullah”, sebagimana penuturan KH. Bukhari Maksum, ketua MUI Sampang pada kejaksaan Sampang, bahwa orang Syiah Sampang memiliki tiga kalimat syahadat, dengan tambahan, “Wa asyhadu anna Aliyyan waliyullah. Dan saya bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah”.
Tidak ada benih-benih perpecahan pada pemilihan Abu Bakar sepeninggal Rasulullah, tetapi yang ada ialah riak-riak kecil yang terjadi karena ijtihad pribadi atau kelompok yang dengan mudah dapat tertangani dan distabilkan setelah dalil-dalil agama jelas kepada mereka. Dalam Shahih Bukhari disebutkan, “Anshar berkumpul untuk memilih Saad bin Ubadah di Tsaqifah Bani Sa’adah, dan mereka berkata, “Kami memilih amir dan kalian (kaum Muhajirin) memilih amir (sendiri). Maka Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah mendatangi mereka. Lalu Umar ingin bicara namun didiamkan oleh Abu Bakr ra.
Bagaimana mungkin benih perpecahan itu mulai tampak karena perbedaan dalam menentukan pengganti Nabi SAW sebagai pemimpin masyarakat dan umat? padahal ayat-ayat di atas menegaskan bahwa mereka (para sabahat) telah dipersatukan hati mereka oleh Allah, telah dikeluarkan dari kesesatan yang nyata, telah diridhai oleh Allah, berkasih sayang di antara mereka. Bahkan mengikuti mereka dijadikan sebagai penentu bagi siapa saja yang ingin diridahi Allah. Lebih keliru lagi kalau dikatakan perpecahan itu mencapai puncaknya yang berujung pada Perang Jamal dan Shiffin.
Tidak ada perpecahan dalam pemilihan Abu Bakar sebagai khalifah pasca Rasulullah wafat, yang ada ialah perbedaan pendapat yang disebabkan ijtihad pribadi atau kelompok yang tidak dipertajam bahkan setelah disampaikan dalil kuat dengan segera mereka ruju’ pada kebenaran sesuai firman Allah, “Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, apabila mereka diajak kepada [hukum] Allah dan rasul-Nya agar menjadi hukum di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami dengar dan kami patuh’ dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. An-Nur: 51).
Pembaiatan Abu Bakar ra
Setelah tersiar berita duka wafatnya Rasulullah SAW, kaum Anshar, penduduk asli Madinah segera mengadakan pertemuan untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri, yaitu Saad bin Ubadah. Abu Bakar, Umar, dan Abu Ubaidah bin Jarrah segera mendatangi mereka. Lalu Abu Bakar mengemukakan alasan dan berkatan, “Wahai kaum Anshar, sesungguhnya anda sekalian adalah orang-orang yang memiliki keutamaan, namun orang-orang Arab tidak mengenal alasan kepemimpinan kecuali harus dipegang oleh orang-orang Quraisy karena merekalah yang paling mulia di antara orang-orang Arab negeri dan keturunannya. Maka saya telah ridha, salah seorang di antara dua orang ini untuk kami pilih dan kami baiat, lalu Abu Bakar memegang tangan Umar dan tangan Abu Ubaidah ra, kemudian berdiri seseorang dan berkata, ‘Kami punya amir dan kamu punya amir tersendiri wahai orang-orang Quraisy. Maka terjadilah kegaduhan dan hiruk-pikuk. Umar berkata kepada Abu Bakar ulurkan tanganmu, saya membaiatmu.’ Maka Abu Bakar memberikan tangannya lalu dibaiat oleh Umar, lalu orang-orang Quraisy dan kemudian orang-orang Anshar menyusul membaiat Abu Bakr. (Difa’ ‘An Al-Aal wa Al-Washaab, Jam’iyyah Al-Aal Wa Al-Ashab, Bahrain, 2010, h. 422).
Umar mengkhawatirkan perbedaan pendapat ini berlarut-larut, maka ia bertanya kepada kaum Anshar, “Saya minta kamu menjawab karena Allah, apakah kamu tahu bahwa Rasulullah SAW telah menyuruh Abu Bakar mengimami (shalatnya) manusia? Mereka menjawab, “Demi Allah, benar.” Umar kembali bertanya, “Siapa di antara kamu yang senang hati melengserkan Abu Bakar dari kedudukan yang telah ditetapkan Nabi SAW untuknya? Mereka menjawab, “Kami semua tidak mau demikian, kami mohon ampun kepada Allah.”
Ali ra berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW telah sakit beberapa hari tetapi mengajak untuk salat dan berkata, “Suruh Abu Bakar menjadi imam bagi manusia. Maka tatkala Rasulullah wafat, saya perhatikan ternyata salat menjadi bendera Islam dan tonggak agama, maka kami ridha untuk diatur dunia kami oleh orang yang Nabi SAW telah ridha kepadanya untuk memimpin agama kami sehingga kami membaiat Abu Bakar.” Said bin Zaid berkata, “Abu Bakar dibaiat ada hari wafatnya Rasulullah. Mereka (para sahabat) tidak senang tinggal beberapa hari tanpa berada dalam jamaah (yang dipimpin khalifah).”
Dari penjelasan di atas, nyatalah bahwa tidak ada sama sekali bibit-bibit perpecahan pasca wafatnya Rasulullah. Dan isu perpecahan itu berasal dari orang-orang yang ingin merusak Islam. Karena kalau demikian berarti para sahabat itu saling berebut kekuasaan, Nabi SAW tidak mampu mendidik mereka, dan Allah telah ‘salah’ memuji sahabat dalam Al-Qur’an, yang ternyata sahabat itu kepribadiannya tidak terpuji. Tentu tidak demikian.
Ada pun perpecahan dibidang politik pada zaman kepemimpinan Khalifa Ali ra dengan pengikut Aisyah, Zubair, Muawiayah ra. Maka itu adalah akibat perbedaan ijtihad di kalangan sesama Ahlussunnah dalam menangani masalah pembunuh Khalifah Ustman ra. Aisyah, Zubair, serta Muawiah dan para pengikutnya meminta supaya Ali ra sebagai Khalifah segera menghukum para pembunuh Ustman ra. Sedang Ali dan pengikutnya berpendapat dan bersikap menunda mengeksekusi para pembunuh Utsman ra karena jumlah mereka cukup banyak, sementara pemerintahannya masih belum stabil. Wallahu A’lam.
H. Muh. Said Abd. Shamad, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI), Indonesia Timur. (lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More