Tujuan Pendidikan Menurut Hasan Langgulung

http://ri32.files.wordpress.com/2011/10/tujuan-jalan.jpg 
Hasan Langgulung lahir di Rappang, Sulawesi Selatan, 16 Oktober  1934. Pernah  belajar di sekolah menengah pertama dan sekolah menengah Islam di Ujung Pandang tahun 1942-1952, Sekolah Guru Islam Atas tahun 1952-1955, dan meraih gelar B.A. tahun 1957-1962 di Ujung Pandang.

Melanjutkan studi ke Ein Syam University Cairo tahun 1963-1964 dan lulus pada Diploma of Education  dan  gelar Diploma dalam bahasa Arab dari Institut of Higher Arab Studies, Arab League (Cairo) pada tahun yang sama. Setelah itu ia melanjutkan pada program studi pascasarjana di Ein Syam University Cairo, dan lulus tahun 1967 dengan gelar MA dalam bidang psikologi dan mental Hygiene. Guna mendapatkan ilmu psikologi yang lebih berkualitas ia lalu melanjutkan pendidikan pada Universitas of Georgia di Amerika Serikat, pada tahun 1971 ia lulus mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang psikologi. Ia Wafat pada hari  Jum'at tanggal 2 Agustus 2008,  di rumah sakit Selayang Kuala Lumpur.


Hasan Langgulung adalah salah satu putra terbaik Indonesia yang mengabdikan dirinya di Malaysia. Dan berhasil menerapkan konsep dan ide-ide cemerlangnya dalam bidang pendidikan. Jika Syed Muhammad Naquib Al-Attas banyak membahas masalah islamisasi ilmu dengan menekankan pentingnya menciptakan manusia yang paripurna (al-insan al-kamil) melalui konsep ta’dib dalam pendidikan, maka Langgulung banyak menekankan pada aspek  psikologi dan kurikulum pendidikan.

Kolabosari konsep pendidikan dari kedua ilmuan di atas telah menjadikan Malaysia sebagai kiblat baru dalam dunia pendidikan. Ide-ide mereka telah melahirkan sistem dan lembaga pendidikan yang sudah dapat dinikmati hasilnya. Di antaranya adalah, berdirinya Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM), International Islamic University Malaysia (IIUM), International Islamic Thought and Civilization (ISTAC), terbentuknya UKM dan IIUM sebagai universitas berkelas dunia, tak terlepas dari ide dan konsep Langgulung dan Al-Attas –kecuali ISTAC yang dikonsep dan dipimpin secara solo oleh Al-Attas—bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa seluruh fakultas dan jurusan pendidikan Islam yang ada pada perguruan tinggi di Malaysia saat ini semua merujuk pada konsep pendidikan –termasuk sistem dan kurikulum—yang telah dibuat oleh Hasan Langgulung.

Pada tahun 1972 ia mendirikan Fakultas Pendidikan di UKM. Memasuki tahun 1980-an ia kembali mendirikan Fakultas Pendidikan dan Pengetahuan di IIUM. Kapasitasnya sebagai pemikir pendidikan Islam secara akademik kemudian dikukuhkan sebagai guru besar dalam bidang pendidikan di UKM.

Harus diakui jika Malaysia yang merdeka pada tahun 1957, atau 12 tahun lebih muda dari Indonesia lebih maju dalam pendidikan karena keseriusan pemerintahnya menjadikan pendidikan sebagai satu-satunya ‘alat’ untuk memajukan bangsa. Karena itulah rencana pembangunan lima tahun pertama pasca kemerdekaannya adalah mereformasi serta merestorasi sistem pendidikan warisan kolonial Inggris. Salah satu gebrakannya adalah mengirim para mahasiswa dan guru-gurunya untuk menimba ilmu di Indonesia yang dianggap sebagai abangnya. Tidak hanya itu, bagi orang Indonesia yang ingin mengajar di Malaysia akan diservice dengan fasilitas dan gaji yang memadai.

Tidak heran jika para cerdik pandai yang terdiri dari guru, dosen, dan para pakar memilih menetap dan mengabdikan hidupnya di Malaysia. Selain gaji dan fasilitas yang membuat para pakar kita kepincut untuk menetap di Malaysia, karena faktor political will yang berbeda dengan Indonesia. Di Malaysia, seorang pakar atau konseptor dengan mudah dapat menerapkan ide-idenya, hal ini berbeda dengan Indonesia. Sebuah ide dan konsep secemerlang apa pun tak akan muda dapat diaplikasikan jika tak memiliki backing politik yang kuat.

Tujuan Pendidikan

Hasan Langgulung mencoba untuk memberikan kontribusinya dalam mengembangkan pemikiran pendidikan Islam sebagai langkah konkrit serta berupaya menyelesaikan berbagai problematika yang menyelubungi sistem pendidikan Islam saat ini, dan sangat mengharapkan terciptanya satu keutuhan. Keutuhan yang ingin diwujudkan tersebut adalah terbentuknya sistem pendidikan Islam modern.(Kuntowidjoyo, 1991: 289).

Bagi Hasan Langgulung, asas mendapatkan ilmu pengetahuan hendaknya sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan. Dalam hal ini beliau membagi sumber ilmu pengetahuan menjadi empat sumber, yaitu (1) panca indera, karena panca indera merupakan sumber pengetahuan atau tingkat tempat berlakunya pesan-pesan dari alam nyata ke otak; (2) Akal, karena akal adalah faktor utama dalam meraih pengetahuan dan menjadi pengikatnya, akal akan mengikat ilmu; (3) Intuisi, yang merupakan perpindahan potensi ke dalam alam nyata tanpa usaha yang keras atau susah payah; dan (4) Ilham, merupakan tanggapan emosi secara langsung yang menyerang hati manusia.

Tujuan adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia. Dengan adanya tujuan semua gerak aktivitas dan gerak manusia menjadi lebih dinamis, terarah dan bermakna. Tujuan pendidikan berkaitan erat dengan tujuan hidup manusia. Manusia diciptakan Allah dan diberi tugas untuk memikul amanah di muka bumi. Tujuan pendidikan itu hendaknya umat Islam berusaha sekuat tenaga memikul tanggung jawab yang dibebankan kepada mereka. Dengan terwujudnya masyarakat saleh, maka akan membantu tercapainya tugas pendidikan Islam yang ideal yang diinginkan. Demikian pula sebaliknya, dengan tercapainya tujuan ideal pendidikan, maka akan sangat membantu terciptanya masyarakat yang saleh.

Tujuan pendidikan Islam yang hendak dicapai oleh Hasan Langgulung yaitu keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif, dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir yang ingin dicapai setiap muslim adalah terletak pada rasa patuh dan tunduk secara sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.

Bila dilihat dari bukunya yang berjudul Pendidikan dan Peradaban Islam, terlihat jelas bahwa Hasan Langgulung mengakui adanya hubungan aspek jasmani, rohani dan akal. Bahkan dalam bukunya Manusia dan Pendidikan, ia mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam itu membentuk pribadi khalifah bagi peserta didik yang memiliki fitrah, roh di samping badan, kemauan yang bebas, dan akal. (Hasan Langgulung, 1985: 221). Pendapatnya tersebut menunjukkan istilah pendidikan Islam yang tepat adalah ta'dib. Pemilihan ta’dib sebagai istilah dan sistem dalam konsep pendidikan sangat sesuai dengan padangan Al-Attas, karena pemilihan kata bukan saja sekadar simbol dan istilah, melaikan memiliki dampak epistemologis yang dalam.

Hanya Al-Attas dan Langgulung yang sangat antusias dan fokus untuk memasarkan istilah ini, sayangnya istilah dan konsep ta’dib hampir tak terdengar gaungnya di Indonesia, yang kita kenal hanya ‘tarbiyah’ padahal ta’dib lebih komprehensif dari tarbiyah, karena ta’dib lebih tertuju pada pembinaan dan penyempurnaan akhlak dan budi pekerti atau dalam arti ‘penumbuhan semangat agama dan akhlak’. (HasanLanggulung, 1985: 221). Pandangannya tersebut merujuk pada hadist Nabi Saw. “Tuhan telah mendidikku, maka Ia sempurnakan pendidikanku. Addabani rabby faahsana ta’diby.” (HR. Al- 'Asykari dari Ali RA), (Hasan Langgulung, 1988: 117-118).

Jadi tujuan pendidikan yang ideal adalah membentuk pribadi yang baik (al-insan al-kami); pemimpin yang dapat menyejahterakan rakyat dan memakmurkan bumi (khalifah fil adrh) agar peradaban yang berlandaskan ‘adab’ dapat terwujud, bukan pemerintahan  minus adab (biadab). Sungguh sebuah ironi jika tujuan pendidikan dipersempit hanya untuk lulus Ujian Nasional (UAN) atau hanya sekadar selesai kuliah demi mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.  Wallahu a’lam!


0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More