Proporsional Berdakwah

Menjadi seorang muslim yang baik bukanlah semata-mata hanya taat salat,puasa, zakat, haji, dan melimpahnya jumlah hitungan tasbih. Tetapi tak kalah pentingnya adalah sejauh mana manfaatnya kepada orang lain, kesalehan individu harus dibarengi dengan koreksi terhadap kesalahan orang lain karena bencana bukan hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang tidak saleh. Seorang muslim bukanlah diciptakan untuk bertempur melawan setan dengan menggunakan pedang lalu masuk surga. 

http://1.bp.blogspot.com/-w2y_RO5_YU8/Teme-_vWDJI/AAAAAAAACNo/kns-cFnTfE4/s1600/Dakwah+adalah+cinta+-+Semangat.jpgDalam Alquran (103:1-3) dijelaskan dengan gamblang bahwa, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan kesabaran.” Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah besabda, “Manusia bergantung kepada Allah, yang lebih dicintai-Nya adalah mereka yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Jadi muslim yang baik, beruntung dan tidak buntung adalah, mereka yang melengkapi perbuatan baiknya dengan keimanan, kesabaran, dan selalu nasihat-menasihati dalam menunjukkan kebenaran ajaran Islam serta kesabaran dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Dengan itu, seorang muslim dapat bermanfaat kepada muslim lainnya, makin berkualitas nasihat yang kita sampaikan, makin tinggi pula nilainya di sisi Allah. Makin menarik metode dalam memberikan nasihat, makin ramai pula peminat nasihat, dan tentunya amal kita juga makin meningkat. Siapa yang menunjukkan satu perbuatan baik kepada orang lain, niscaya ia akan turut mendapatkan pahala sebagaimana yang melakukakannya, tidak berkurang sedkit pun, dan barang siapa yang menunjukkan jalan kesesatan, niscaya dosanya persis dengan orang yang mekakukan dosa itu tak kurang sedikit pun. Demikian Nabi bersabda.

Dakwah Profesional

Islam sebagai agama misi mengharuskan ada segolongan orang yang melakukan kerja-kerja dakwah secara profesional dan atraktif, sehingga umat mendapat pencerahan dan bimbingan sesuai apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabatnya: amar ma’rif nahy mungkar

Orang yang terlibat dalam dakwah adalah manusia pilihan yang menjadi pewaris para nabi (waratsatul anbiya’). Karena sentuhan para dai sehingga agama ini tetap eksis di muka bumi. Untuk itulah, para dai perlu bekal yang cukup sebelum terjun dalam masyarakat luas, bukan hanya sekadar memiliki satu-dua buku kumpulan khutbah Jum’at lalu terjun bebas berdakwah tanpa ilmu yang memadai dan pengetahuan tentang metodologi dakwah yang mumpuni. Kita tidak butuh dai yang fakir materi dan miskin metode.

Penguasaan materi adalah hal mutlak yang harus dimiliki seorang dai, dalam ajaran Islam, ada tiga perkara inti yang harus diketahui setiap muslim, yaitu ‘ilmu ushuluddin, atau landasan ajaran agama (tauhid), ‘ulum as-syariah, atau ilmu yang berhubungan dengan tata cara beribadah (kepada Allah) dengan baik dan benar, serta ilmu muamalat, termasuk di dalamnya adab berinteraksi sesama makhluk Allah di muka bumi yang sebagian ulama menamai at-tashawwuf wal akhlaq.

Jika para rasul mendapatkan materi dari Allah melalui wahyu, maka manusia biasa seperti kita harus mendapatkan ilmu dengan cara belajar dan membaca. Para dai harus memiliki keilmuan yang syumul (komprehensif) sehingga dakwahnya selain kaya materi juga harus selalu situasional. Tidak mesti benar-benar ahli dalam satu bidang, tetapi minimal harus tau bidang-bidang tertentu yang sering menjadi tema pembahasan. Penceramah tidak mesti seorang pakar hadis untuk mengutif sebuah hadis, tapi ia harus tau kedudukan sebuah hadis dan cara menerangkan  (matan) isinya  dengan benar.

Ketika para dai banyak membaca, maka mereka akan sanggup memimpin umat Islam. Jika umat Islam membaca lebih banyak lagi, maka mereka akan memimpin peradaban umat manusia. Sungguh sebuah ironi, karena faktanya: orang-orang Barat (Kristen) banyak membaca, sedang umat Islam sedikit membaca! Selain itu, kita belajar untuk membaca, sedang Barat membaca untuk belajar. 

Selain materi, penguasaan metode berdakwah juga tak kalah pentingnya. Dalam ilmu komunikasi kita kenal “Fannul Khithobah” seni berpidato. Ilmu ini juga tak kalah pentingnya, karena seorang orator kendati menguasai materi sebanyak apa pun, namun jika terserang ‘demam  panggung’ semuanya akan sia-sia. Atau seorang dai yang tidak tau metode dakwah sehingga para jamaah salah paham dan berbalik memusuhinya, ini jauh lebih fatal.

Hisham Altalib, dalam “Training Guide for Islamic Workers, 1991” menulis sebuah cerita tentang seorang ustad yang mahir mendidik para santrinya untuk berdakwah. Enam bulan teori –pembekalan materi—dan tiga bulan untuk praktik-lapangan. Seorang siswa yang percaya diri telah menyelesaikan bagian teori merasa bahwa dia akan dapat mengerjakan praktiknya sendiri. Sang ustad mengingatkan, tapi tidak digubris. Dia telah memilih sebuah desa nun jauh untuk melakukan praktik dakwahnya sendiri. Pada hari Jumat pertama di desa itu, seorang imam gadungan menyampaikan satu khutbah yang penuh dengan kebohongan tentang Allah dan Rasul-Nya. Santri tersebut berdiri dan berteriak dengan lantang, ‘Imam itu pembohong! Allah dan Rasul-Nya tidak mengatakan demikian!’ Sang Imam pun menjawab, ‘Pemuda itu kafir dan harus dihukum!’ Para hadirin salat jumat bersatu menyerang santri itu secara membabi buta. Ia pun kembali pada ustad dengan balutan dan tulang yang remuk (babak belur). Ustad berkata padanya, ‘Akan kutunjukkan padamu praktik dakwah yang baik dan atraktif.’ 


Jumat selanjutnya, mereka pergi ke masjid yang sama dengan imam yang sama menyampaikan khutbah serupa. Setelah mendengar khutbah, sang ustad berdiri dan berkata, ‘Imam kalian adalah lelaki penghuni surga. Setiap orang yang mengambil rambut dari jenggutnya akan mendapatkan surga!’ Seketika,  para jamaah Jumat menyerang janggut sang imam dan setiap orang menarik satu rambut dari jenggutnya sampai gundul, darah pun bercucuran. Ustad lalu membisikkan kata-kata kepada Imam gadungan, ‘Akankah Anda berhenti berbohong tentang Allah dan Rasul-Nya? Atau Engkau ingin hukuman tambahan?’ Sang imam mengaku salah dan bertobat. Santri itu menyadari kekeliruannya, dan memohon pada ustad agar diberi waktu tambahan tiga bulan untuk praktik berdakwah. Teori dan praktik  dua adalah kutub yang beda.

Bekal yang terpenting dari semuanya adalah, seorang pendakwah harus sesuai ucapan dan perbuatannya. Tidak lazim membahas tema fadhilatul ju’ keutamaan berlapar-lapar sementara dia sendiri tidak pernah kelaparan; menekankan keutamaan salat berjamaah sementara ia hanya berjamaah di hari Jumat; menekankan keutamaan berpoligami sementara dirinya belum punya istri walau hanya satu. Inilah yang dimaksud dalam Alquran (QS. 61:2), lima taquluna ma la taf’alun, Mengapa kamu katakan sesuatu yang tidak kamu laksanakan?

Hingga saat ini, umat Islam masih tetap memandang bahwa para dai adalah harapan, cita-cita, dan penyelamat bangsa dan umat, mereka adalah agent of change. Salah satu ciri kian dekatnya hari kiamat adalah, jika para dai rama-ramai menetap di kota untuk memburu kemewahan dunia, dan pada saat yang sama para misionaris-Kristen ramai-ramai masuk kampung untuk menyelamatkan ‘domba-domba’ sesat. Wallahu a’lam!

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More