Perselisihan Sahabat Menyebabkan Umat Terpecah

Serial tanggapan ke-10 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial tanggapannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Penulis mengatakan, “Problem utama pada semua itu adalah sahabat. Merekalah yang berselisih tentang perintah Rasulullah untuk menulis sesuatu yang akan menjaga mereka dari kesesatan sampai tegaknya hari kiamat. Perbedaan mereka inilah yang menghalangi umat mendapatkan kemuliaan ini dan bahkan menggiring mereka kepada kesesatan hingga terbagi-bagi, terpecah, tercabik, terlepas dan hilang wibawanya. Mereka jugalah yang berbeda pendapat tentang khilafah. Mereka terbagi kepada golongan pemerintah dan golongan oposisi. Itulah yang menyebabkan umat menjadi terbelakang. Umat terbagi menjadi Syiah Ali dan Syiah (pengikut) Muawiyah. Mereka juga berbeda-beda dalam menafsirkan kitabullah dan hadis Rasulullah. Karena itu menjadi banyaklah mazhab, firqah dan manhaj beragama. Dari situ tumbuh banyak madrasah ilmu kalam dan pemikiran yang bermacam-macam. Bahkan filsafat menjadi banyak yang bertujuan untuk politik semata. Kaum Muslimin tidak akan berpecah dan tidak akan berbeda-beda jika bukan karena sahabat. Semua perbedaan bersumber dan tumbuh dari perbedaan mereka tentang sahabat.”
Saya katakan, perkataannya bahwa para sahabatlah yang berselisih tentang perintah Rasulullah untuk menulis sesuatu yang akan menjaga mereka dari kesesatan sampai tegaknya hari kiamat dan bahwa perbedaan mereka inilah yang menghalangi umat mendapatkan kemuliaan. Yang dimaksud adalah sebuah hadis yang diriwayatkan oleh syaikhan  (Dua Syeikh/ Imam hadis, Bukhari-Muslim) dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma ia berkata, “Ketika penyakit Nabi semakin keras, ia bersabda, ‘Berikan saya sebuah  kitab, saya akan tuliskan pada kalian sebuah kitab yang kalian tidak akan tersesat selamanya setelah itu,’ Umar berkata, ‘Sesungguhnya Nabi sedang mengigau, sedangkan kita punya Kitabullah yang telah cukup bagi kita,’ setelah itu mereka berselisih dan suara pun meninggi, Nabi bersabda, ‘Pergilah kalian dariku, tidak layak ada perselisihan di sisiku’.”[1]
Orang Syiah ini juga menyebut di tempat yang lain –sebentar kita akan bahas- celaannya terhadap sahabat. Saya tunda bantahannya. Sedangkan untuk penjelasan hadisnya ada tempatnya sendiri. Sekarang saya membatasi bantahan untuk syubhat yang disebutkannya disini. Ia mengklaim bahwa perselisihan itulah yang menghalangi umat dari ishmah (terjaga dari perpecahan dan kesesatan) dan membuatnya berada dalam kesesatan dan perpecahan sampai hari kiamat.
Jawaban tentang ini: sesungguhnya ucapannya ini adalah batil, itu bermakna bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meninggalkan tabligh (penyamapaian risalah) yang akan menjaga umat dari kesesatan. Dan bahwa ia tidak menyampaikan syariat Tuhannya hanya karena perselisihan para sahabat di sisinya sampai beliau wafat belum juga disampaikan. Dengan klaim itu sungguh sang Nabi telah melanggar perintah Tuhannya,
جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ وَالْهَدْيَ وَالْقَلائِدَ ذَلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (٩٧)
“Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia dan (demikian pula) bulan Haram, had-ya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamu tahu, bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 76.)
Padahal Rasulullah lepas dari celaan itu, tersucikan dengan rekomendasi Tuhannya dalam firmanNya,
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٢٨)
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At-Taubah: 128)
Penilaian Allah bahwa Rasulullah sangat menginginkan kebaikan kepada umatnya maksudnya adalah bersemangat untuk memberi hidayah kepada mereka. memberikan manfaat duniawi dan ukhrawi kepada mereka. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya[2],
Jika hal pokok dalam agama Islam ini sudah diketahui secara khusus maupun umum oleh seseorang maka tak ada lagi keraguan dalam hatinya bahwa Rasul yang mulia ini telah menyampaikan semua yang diperintahkan kepadanya. Dimana beliau merupakan orang yang sangat menginginkan kebaikan pada umatnya, riwayat tentang jihad dan pengorbanannya sangat mutawatir. Kita ketahui itu tanpa ada keraguan sedikitpun. Jika permasalahannya seperti yang disebutkan oleh orang Syiah ini dimana dia gambarkan bahwa wasiat itu jika ditulis akan menjaga umat dari kesesatan dalam beragama, menutup peluang terjadinya perpecahan dan perselisihan di antara mereka sampai hari kiamat. Sungguh hal seperti ini tidak mungkin terjadi dalam agama. Tidak masuk akal jika Rasulullah menunda penulisan wasiat pada waktu yang sempit itu. walaupun beliau menundanya, tidak mungkin beliau meninggalkannya hanya karena terjadi perselisihan para sahabat di dekatnya. Padahal dalam sirah beliau, kadang para sahabat kembali kepada Rasulullah untuk membahas beberapa masalah. Tidak mungkin beliau tinggalkan perintah Tuhannya hanya karena sebab ucapan para sahabat. Sebagaimana beberapa sahabat kembali kepada Rasulullah ketika rencana haji diubah menjadi umrah bagi orang yang tidak membawa al-hadyu (hewan sembelihan). Ini terjadi di Haji Wada’. Begitu juga mereka kembali bertanya kepada Rasulullah pada peristiwa Hudaibiyah. Peristiwa pengangkatan Usamah menjadi panglima, mereka juga demikian. Apakah masuk akal Rasulullah meninggalkan perintah Tuhannya dimana hal itu lebih agung ketimbang perselisihan para sahabat. Meskipun seandainya ditakdirkan bahwa beliau meninggalkannya pada waktu itu niscaya Rasulullah mengabarkan usulan yang lebih maslahat dalam pandangannya. Oleh karena itu, apa yang menghalangi Rasulullah untuk menulis itu? padahal Rasulullah  shallallahu alaihi wasallam masih hidup setelah peristiwa itu beberapa hari. Rasulullah wafat pada hari senin sesuai dengan riwayat Anas yang terdapat dalam dua kitab shahih (Bukhari Muslim)[3] sedangkan peristiwa itu terjadi pada haari Kamis.
Jika orang Syiah ini menolak –jawaban di atas- berarti dia hanya ingin debat kusir. Ia mengatakan, “Yang saya takutkan adalah mereka tidak menerima dan menolaknya. Sebagaimana mereka berselisih pada kali pertama.” Kita katakan, itu tidak memberi efek negatif sedikitpun karena kewajiban Rasulullah hanya menyampaikan sebagaimana firman Allah Ta’ala,
مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا (٨٠)
“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” QS. An-Nisa’: 80.
Jika hal ini telah disepakati oleh Ahlussunnah dan Syiah, bahwa Rasulullah tidak menulis wasiat itu sampai beliau wafat maka kita yakini bahwa wasiat itu bukanlah bagian dari agama yang diperintahkan oleh Allah untuk disampaikan. Dan tidak benar pula akibat yang sangat extrem yang didongengkan oleh orang Syiah ini. Sungguh mustahil itu terjadi pada sang Rasul shallallahu alaihi wasallam.
Al-Quran telah memberi petunjuk bahwa Allah telah menyempurnakan agama ini untuknya dan untuk umatnya. Allah menurunkan ayat sebelum itu dan sebelum peristiwa Haji Wada’,
 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah: 3)
Begitu juga, Rasulullah telah mengabarkan hal itu dalam sabdanya, “Sesungguhnya saya meninggalkan kalian layaknya sinar putih terang benderang. Malamnya bagaikan siang. Tidak ada yang menjauh darinya setelahku melainkan ia hancur”[4]
Jika telah dipastikan batilnya klaim orang Syiah ini bahwa umat jatuh dalam kesesatan dan diharamkan ishmah karena tidak ditulisnya wasiat Rasulullah kepada para sahabat karena mereka berselisih di sisinya, maka hendaklah diketahui bahwa yang diinginkan oleh Rasullah dari wasiat itu adalah keinginan Rasulullah untuk menunjuk khalifah setelahnya sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama.
Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Penulisan wasiat itu bukanlah perkara yang diwajibkan Allah untuk ditulis dan disampaikan pada waktu itu. Karena jika demikian, sungguh Rasulullah tidak akan meninggalkan perintah Allah. Tapi hal itu adalah masalahat dalam pandangan beliau untuk menghindari perselisihan pada khilafah Abu Bakar, dan beliau memandang bahwa perbedaan itu pasti terjadi[5]
Beliau berkata pada tempat yang lain, “Adapun peristiwa wasiat yang ingin ditulis oleh Rasulullah maka keterangannya terdapat dalam shahihain dari Aisyah, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam besabda pada waktu sakitnya, ‘Panggilkanlah bapak dan saudaramu hingga saya bisa tulis wasiat, karena saya khawatir seorang mengklaim dan berkata, ‘Saya lebih mulia’ padahal Allah dan kaum Mukminin enggan kecuali Abu Bakar’[6] –sampai perkataan beliau setelah meriwayatkan hadis- Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bertekad menulis wasiat yang disebutkannya kepada Aisyah, namun ketika beliau melihat bahwa sudah ada yang ragu beliau memandang bahwa wasiat tak lagi dapat menghilangkan keraguan dan tidak ada manfaatnya. Dan beliau ketahui bahwa Allah menyatukan mereka di atas apa yang beliau sangat inginkan sebagai sabda beliau, ‘Allah dan kaum Mukminin enggan kecuali Abu Bakar’.”[7]
Adapun sabda beliau dalam hadis, “Kalian tidak akan tersesat setelahku” Ad-Dahlwai berkata, “Jika ditanyakan, ‘Seandainya apa yang tidak jadi ditulis itu perkara agama mengapa Rasulullah bersabda’, ‘Kalian tidak akan tersesat setelahku’, kami katakan, bagi kelompok sesat memandang bahwa hal itu memiliki banyak makna, padahal yang dimaksud disini adalah agar tidak terjadi kesalahan dalam urusan khalifah, yang diantaranya adalah mengeluarkan kaum Musyrikin dari Jazirah Arab, melakukan pengutusan, pemberangkatan pasukan Usamah dan bukan kesesatan serta penyimpangan dari agama.”[8]
******
Adapun perkataannya, “Merekalah yang berselisih tentang khilafah, karena itu mereka terpecah dua; pihak pemerintah dan pihak oposisi. Itulah yang menyebabkan umat terbelakang dan terbagi ke dalam Syiah Ali dan Syiah Muawiyah”
Jawaban dari klaim ini; perselisihan antara sahabat pada masa Ali bukanlah dalam hal siapa yang berhak menjadi khalifah. Yang bersebrang pendapat dengan Ali adalah Thalhah, Zubair, Aisyah dan Muawiyah radhiyllahu anhum ajma’in, mereka semua tidak menyelisihinya dalam hal khilafah. Bahkan tidak ada dari mereka dan tidak juga selain mereka yang mengklaim bahwa dirinya lebih pantas daripada Ali menjadi khalifah setelah terbunuhnya Utsman; karena beliau (Ali) orang yang paling mulia dari selainnya. Mereka juga telah mengakui dan menetapkan kemuliaan itu untuk Ali. Perbedaan pokok antara para sahabat yang disebutkan namanya tadi dengan Ali adalah tuntutan darah Utsman dan mengqishah pembunuh Utsman. Para sahabat memandang untuk menyegerakannya. Sedangkan Ali tidak menyelisihi mereka bahwa Utsman terbunuh secara zalim dan wajibnya mengqishah pembunuh Utsman, namun Ali memandang bahwa tuntutan itu sebaiknya ditunda terlebih dahulu sampai keadaan pulih dan kondusif, karena pembunuh Utsman banyak dan mereka telah berpencar ke berbagai negara meskipun kelompok terbesarnya berada di Madinah, hidup dengan para sahabat.
******
Dengan ini semua jelaslah bagi kita bahwa perselisihan mereka –radhiyallahu anhum- tidak sampai pada tahap yang mencoreng agama dan tuduhan antara sesama mereka. masing-masing pihak melihat pihak yang menyelisihinya memiliki keutamaan shuhbah (bersahabat dengan Nabi) dan mereka menilai bahwa dirinya adalah seorang mujtahid meskipun kadang terjadi kesalahan ijtihad.  
Ooooo000ooooO
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal. Hal 226-233
Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com



[1] Diriwayatkan oleh Bukhari, Kitab Al-Ilmi, bab Kitabuhu Al-ilmi, Fath al-Bari 1/208, 114. Muslim, Kitab Al-Washiyyah Liman Laisa Lahu Syai’un Yushi Fihi, 3/1259.
[2] Tafsir Ibnu Katsir, 2/404.
[3]  Shahih Bukhari di Fathul Bari, 8/143, hadis 444, shahih Muslim, 1/315, hadis 419.
[4] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya, 4/126 yang terkandung dalam Hadis Irbadh Ibn Sariyah ketika Rasulullah menyampaikan nasehat. Ibnu Majah dalam sunannya 1/16. Hadis ini telah dishahihkan oleh Al-Bani dengan semua jalannya pada Zhilal al-Jannah. Lihat Zhilal al-Jannah Ma’a Kitab as-Sunnah karya Ibnu Abi Ashim, hal 26.
[5] Minhaj as-Sunnah, 6/316
[6] Diriwayatkan oleh Muslim dan shahihnya, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab Min Fadhail Abi Bakr, 4/1857, hadis ke 2387.
[7] Minhaj as-Sunnah, 6/23 dan 25
[8] Mukhtashar at-Tuhfah al-Itsnai Asyariyah, hal 251

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More