Penulis Buku “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” Tidak Konsisten dengan Janji dan Sumpahnya

Serial tanggapan ke-7 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial tanggapannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Ketujuh:  Penulis Buku “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” Tidak Konsisten dengan Janji dan Sumpahnya.
Penulis tidak hanya menyalahi metode dan kaedah penulisan yang dikenal di kalangan para Ulama, bahkan ia juga menyalahi metode yang ia tetapkan sendiri dalam kitab-kitabnya.
Berikut akan kami  jelaskan metode dan kaidah dimana penulis sendiri telah berjani akan merealisasikannya disetiap bukunya maupun dalam memaparkan sebuah permasalahan, kemudian kami sebutkan kontradiksi ucapannya:
1.                  Penulis telah bejanji untuk tidak menggunakan sifat sentimen, hawa nafsu, dan  fanatisme, dan akan bersikap Inshaf (pertengahan) dan adil.
Penulis mengatakan dalam kitabnya ‘tsummahtadaitu’, “Dan aku berjanji atas nama Tuhan –jika ia memberiku petunjuk- untuk tidak bersikap sentimen dan aku akan objektif dan berusaha mengikuti pendapat yang lebih selamat”. (tsummahtadaitu hal. 92)
Dalam kitab yang sama ia mengatakan, “Aku berjanji atasa nama Tuhan untuk bersikap pertengahan, tidak fanatik kepada golonganku, dan aku tidak menilai sesuatu kecuali dengan al haq”. (tsummahtadaitu hal. 101)
Ia mengatakan dalam kitab, ‘fas’alu ahla adz dzikr’, “Hendaknya setiap peneliti bertaqwa kepada Allah dalam meneliti, dan sikap sentimen tidak menjadikannya berpaling dari kebenaran, dan tidak mengikuti hawa nafsu, sehingga ia tersesat dari jalan Allah, akan tetapi mesti ia tunduk kepada yang haq, meskipun kebenaran tidak berpihak kepadanya, dan melepaskan dirinya dari sikap sentimen dan ingin menang sendiri”. (tsummahtadaitu hal. 36)
Ini yang disebutkan penulis ketika memaparkan manhaj dalam penelitian, apakah ia konsisten dengan metode ini?
Berikut kami sebutkan jawaban-jawaban atas pernyataan ini:
Ketika ia memuji Rafidhah, “Saya takjub dengan Ibadah, sholat dan doa mereka, akhlak, dan penghormatan kepada ulama mereka, sehingga saya berharap bisa menjadi bagian dari mereka.” (tsummahtadaitu hal. 43)
Ia mengatakan, “Kemudian saya membaca kitab Muraja’at milik Syarifuddin al Musawy, dan belumlah saya membaca beberapa halaman, hingga aku merasa takjub, memberiku motivasi, dan tetap membacanya hingga terkadang aku membawanya ke Ma’had” (tsummahtadaitu hal. 87).
Ia juga mengatakan, ”Saya tidak tahu bagaimana memuaskan diri saya dengan pandangan- pandangan Ahlu Sunnah yang berdasar pada -sebatas perkiraanku- perkataan para pemimpin Bani Umayyah”. (laakunanna minash shadikqin hal. 150)
Ia mengatakan, “Oleh karena itu, saya meyakini secara pribadi bahwa sebagian Shahabat menisbatkan larangan dan pengaharaman mut’ah kepada Rasulullah r, untuk membenarkan pendapat Umar bin  Khattab”. (laakunanna minash shadikqin 195).
Ia mengatakan, “Dan sesuatu menjanggal ini mendorongku untuk berpendapat bahwa Umar ibn Khattab lah yang mempengaruhi sahabat yang lain yang hadir pada waktu itu, dan mendorong mereka untuk ragu dan berpaling dari perintah Rasulullah r”. (laakuuna  minash shadikqin 95)
Inilah beberapa contoh dari perkataan penulis yang menggambarkan bahwa ia mengikuti hawa nafsu ketika berpendapat.
Marilah kita menelaah lebih dalam perkataan-perkataannya yang menunjukkan hal itu untuk mengetahui sejauh mana konsistensi penulis terhadap apa yang ia janjikan untuk terlepas dari sentimentil dan mengikuti hawa nafsu.
Seperti perkataannya: “saya terpesona”, “aku terkesan”, “sejauh yang saya tahu”, “keyakinan pribadi”, “kemungkinan itu mendorongku untuk mengatakannya”.
Adapun janjinya untuk berlepas dari fanatisme dan senantiasa inshaf serta netral, maka sikapnya yang sangat  fanatik terhadap Rafidhah dan aqidah mereka yang rusak telah mendustakan hal itu. Begitu jua pujian kepada mereka dan aqidah mereka yang justru celaannya ditujukan kepada Ahlu Sunnah, Aqidah, serta kepada para Imam mereka.
Ketika ia mengomentari sistem khilafah ahlu Sunnah, ia mengatakan, “Adapun khilafah menurut ahlu Sunnah wal Jama’ah maka itu dilakukan dengan pemilihan langsung dan sistem syuro, yang hal demikian membuka celah yang tidak akan bisa lagi ditutup oleh siapapun, dan mereka sangat  suka tukang cerita dan pendongeng, hingga kepemimpinan bisa beralih dari kaum Quraisy kepada budak dan hamba sahaja, pada persia dan raja-raja, bahkan bisa beralih pada suku Atrak dan Mongol”. (laakuuna minash shadikqin 112)
ketika ia mengomentari aqidah Syiah dalam memilih khilafah, ia mengatakan “Sungguh mulianya aqidah Syiah yang mengatakan bahwa khilafah adalah salah satu hal pokok dalam agama, dan sungguh mulia perkataan mereka bahwa ini adalah pemilihan Allah I, itu adalah perkataan yang benar,  lurus, dan diterima oleh akal yang sehat serta didukung oleh dalil alqur’an dan sunnah.”
Ia mengatakan, “Tahrif alqur’an tidak benar jka dinisbatkan kepada Syiah, penisbatan itu hanya sekedar perbuatan keji yang dibuat-buat, hal itu tidak ada dalam keyakinan Syiah. Jika kita tidak mendapatkan aqidah syiah yang terdapat dalam alqur’an, maka sungguh alqur’an itu telah dirubah.”
(sampai perkataannya) : …….. Sesungguhnya tuduhan ini (yaitu kekurangan dan tambahan yang terdapat dalam alqur’an) itu lebih dekat jika disandarkan kepada ahlu Sunnah, itu adalah diantara penyebab sehingga saya merasa perlu untuk kembali melihat apa-apa yang menjadi keyakinanku, karena setiap aku berusaha untuk membantah syiah dalam satu permasalahan, dan mengingkari apa yang mereka yakini, maka setiap itu aku melihat mereka berlepas dari hal semacam itu dan semakin kuat pula aku untuk mempercayai mereka, dan aku tahu betul bahwa mereka berkata jujur, dan seiring berlalunya waktu, aku merasa puas terhadap apa yang aku teliti, wal hamdulillah. ( laakuuna minash shadikqin 200-202)
Hal yang serupa ketika ia memuji aqidah syiah, dan dengan gamblang menunjukkan kedekatannya syiah dan berlepas diri dari para sahabat, serta menuduh bahwa mereka telah murtad, ia mengatakan, “Saya telah banyak membaca dan saya mendpatkan bahwa Syiah berada pada pihak yang benar, maka saya menjadi pengikut syiah, dan memilih manhaj Ahlu Bait, berpegang teguh dengan wala’ kepadanya. Alhamdulillah saya telah menemukan pengganti daripada para Shahabat yang semuanya telah murtad, kecuali sangat sedikit, yang posisi mereka tergantikan oleh para Imam Ahlu Bait, yang telah disucikan oleh Allah….” (Tsumma Ihtadaitu 156)
Ini adalah beberapa contoh perkataan penulis yang menunjukkan betapa jauhnya ia dari sifat adil. Bahkan yang ada adalah ketidakadilan dan kedustaan. Dan hal itu nampak ketika ia memuji dan membenarkan aqidah Rafidhah dan menyalahkan Ahlu Sunnah yang sebenarnya merekalah yg benar, seperti ketika membahas pandangan kedua madzhab tentang khilafah, atau seperti pengingkaran penulis terhadap Aqidah yang tidak pantas bagi Rafidhah, seperti pengakuannya bahwa Syiah beerlepas diri dari sikap Tahrif (merubah Alqur’an) yang sangat dikenal di kitab-kitab mereka baik klasik maupun kontemporer, bahkan ia menuduh dan berkata dusta dengan menisbatkan kepada kepada Ahlu Sunnah bahwa mereka lah yang merubah al qur’an.
Dan ia dengan jelas  menyatakan bahwa ia mengikuti aqidah Syiah dan berlepas diri dari Aqidah Ahlu Sunnah dan dari Shahabat. Menyatakan kemurtadan mereka. Hal itu ia katakan setelah melalui penelitian dan mempelajari fakta yang kemudian ia jadikan sebagai alat untuk membodohi orang-orang awam dan orang yang lalai. Dengan itu ia menyerukan aqidah syiah, yang menunjukkan ketidakadilannya. Bahkan ia adalah seorang Syiah yang menyeru kepada kekufuran dan kesesatan seperti orang-orang Rafidhah zindik lainnya.
2.                  Klaimnya bahwa apa yang ia tulis tidak menyeleweng dari kebenaran, dan ia tidak akan menyebutkan permasalahan kecuali apa yang telah disepakati oleh Ahlu Sunnah dan Syiah.
Ia mengatakan, “Kitabku yang pertama dan kedua mengambil judul dari alqur’an alkarim dimana ia adalah kitab paling benar dan paling baik. Maka apa yang aku tulis di dalam dua kitabku itu jikalau tidak benar secara persis, paling tidak mendekati kepada kebenaran, karena di dalamnya dimuat hal-hal yang disepakati oleh kaum muslimin, baik Ahlu Sunnah maupun Syiah, dan apa yang telah disepakati oleh dua madzhab adalah sesuatu yang benar” (laakuuna minash shadikqin hal. 7-8)
Dan ia mengatakan, “Akan tetapi apa yang telah disepakati oleh ahlu Sunnah dan Syiah adalah hal yang benar, karena telah valid kebenarannya di dua kubu, kita mewajibkan bagi mereka apa yang mereka wajibkan atas diri mereka, dan mereka tidak berselisih pendapat sampai-sampai meskipun itu adalah hal yang benar di salah satu diantara mereka, maka tidak  mesti kelompok yang lain menerimanya, sebagaimana tidak mesti bagi seorang peneliti menerima dan menjadikannya sebagai argumen” (fas’alu ahla adz dikr hal. 35)
Maka klaimnya bahwa apa yang ia tulis adalah benar atau mendekati kebenaran, adalah pengakuan batil yang tidak ditopang oleh bukti nyata, yang menjadi kebiasaan seorang pelaku bid’ah untuk menyeru hal yang sama. Dan yang benar adalah bahwa kitabnya sangat jauh dari kebenaran dan cukuplah sebagai bukti bahwa apa yang ia tulis adalah sebagai alat untuk membela dan menyeru kepada Aqidah syiah rafidhah dimana ia adalah aqidah yang paling sesat diantara sekte-sekte sempalan lainnya, dan yang paling jauh dari keimanan.
Penjelasan ini adalah secara global dan akan kami sebutkan secara terperinci ketika membantah satu persatu satu Insya Allah.
Adapun pengakuannya bahwa ia tidak akan menyebutkan permasalah kecuali apa yang telah disepakati oleh Ahlu Sunnnah dah Syiah, maka hal ini adalah kedustaan yang nyata, dan berikut contoh pernyataannya yang mencounter sendiri  apa yang ia dengung-dengungkan. Ia mengatakan, “Dan hal yang lumrah dikalangan Ulama terdahulu bahwa Ali bin Abi Thalib lah yang dicalonkan oleh Rasulullah r menjadi khalifah” (fas’alu ahla adzdikr hal. 318)
Ia juga mengumpulkan Jawaban atas beberapa pertanyaan yang berdasarkan klaimnya bahwa pertanyaan-pertanyaan itu diajukan kepadanya, seperti pertanyaan, Mengapa Rasulullah r tidak menunjuk secara langsung pengganti setelahnya? Maka ia mnjawab, “Rasulullah r telah memilih penggantinya setelah Haji Wada’, dan ia adalah Ali bin Abi Thalib, para sahahbat yang ikut berhaji bersamanya menyaksikan hal itu. Oleh karena itu, mayoritas sahabat tahu bahwa ajal Nabi telah dekat” (fas’alu ahla adzdikr hal. 242)

Begitupun dengan pertanyaan, Apakah Rasulullah r tahu akan waktu kematiannya?  Maka ia menjawabnya, “Tidak diragukan lagi bahwa jauh-jauh hari ia telah mengetahui kapan ia akan meninggal, dan ia mengetahuinya sebelum ia menunaikan haji Wadha’ oleh karena itu ia menamakannya sebagai Haji Wadha (perpisahan), dan karena itu pula para Shahabat mengatahuinya” (fas’alu ahla adzdikr hal. 243)
Begitupun dengan pertanyaan, Apakah Rasulullah r pernah menunjuk Abu Bakar untuk mengimami para shahabat? Ia menjawab, “Berdasarkan riwayat-riwayat yang saling kontradiksi, maka kita dapat memahami bahwa Rasulullah r tidak pernah menunjuk Abu bakar untuk mengimami para Shahabat, kecuali jika kita meyakini apa yang dinukil oleh Umar bin Khattab tentang penolakannya. Dan barangsiapa meyakini itu maka ia telah kafir” (fas’alu ahla adzdikr hal. 245)
Dan pertanyaan, “Mengapa Abu bakar memerangi orang yang enggan membayar zakat,” ia mengatakan, “Karena sebahagian Shahabat yang ikut membaiat Ali bin Abi Thalib di Ghadir Khum, ketika kembali dari Haji Wadha’ shahabat Nabi r enggan untuk menunaikan zakat kepada Abu Bakar, dan tidak diragukan lagi kabar tentang permusuhan Fatimah telah sampai kepada mereka, Fatimah murka kepada mereka dan Ali enggan untuk membaiat mereka. Karena semua itulah mereka enggan menunaikan zakat  kepada Abu Bakar hingga jelas inti permasalahan” (fas’alu ahla adzdikr hal. 252)
Dan hal seperti inu banyak kita dapati dalam kitabnya –saya nukil secara ringkaas-. Apa yang kami sebutkan adalah bukti nyata atas kedustaan yang ia serukan. Dan apa yang ia sebutkan dalam kitabnya memang tidak jauh dari apa yang diyakini oleh syiah. Hampir-hampir semua syubhat dan perkataan mereka itu berulang-ulang. Jika tidak, maka dimanakah pendapat Ahlussunnah dalam jawaban-jawabannya tadi? Bahkan jika ada yang mengatkan bahwa itu berasal dari Ahlu Sunnah maka ia adalah seorang pendusta. Semoga laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.
3.                  Klaimnya bahwa ia tidak akan memakai dalil kecuali dengan Hadits-hadits yang shahih menurut Ahlu Sunnah.
Ia mengatakan, “Aku berjanji bahwa aku tidak akan berdalil kecuali apa yang dijadikan argument oleh Syiah dan Shahih menurut Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Saya cukupkan dengan itu” (laakuuna minash shadikqin hal. 17)
Ia mengatakan, “Dan seperti biasanya, saya tidak menggunakan dalil kecuali yang telah pasti keshahihannya pada kitab-kitab shahih di kalangan Ahlu Sunnah wal Jama’ah” (laakuuna minash shadikqin hal. 232).
Ia juga mengatakan, “Dan aku berjanji bahwa selama menjelajah dalam penelitian ini saya akan senantiasa bepedoman pada hadits yang shahih yang disepakati oleh Ahlu Sunnah dan Syiah” (Tsummah Taditu hal. 88)
Ini juga merupakan klaim dusta dimana tulisan dalam kitabnya yang penuh dengan hadits-hadits Munkar dan palsu menjadi saksi akan kebathilannya, sebagaimana contoh yang kami telah sebutkan dan tidak perlu kami sebutkan lagi”.
Setelah bantahan secara umum kepada penulis dan penjelasan metode dalam kitabnya, yang nampak padanya kebodohan, ilmunya yang sedikit, didasari dengan hawa nafsu dan prasangka belaka. Setelah itu, melalui penelitianku secara limiah, didasari atas kejujuran dalam menukil, dan adil dalam memvonis: saya berpindah dari bantahan secara umum kepada bantahan secara rinci, dan itu kita mulai dari kitabnya yang pertama, “Tsumma Ihtadaitu, Akhirnya Kutemukan Kebenaran”.

Dan inilah bantahan secara mendetail, dengan memohon pertolongan, taufik, dan kebenaran kepada Allah al Karim. Baca serial selanjutnya. 
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal, hal 191-200.
Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More