Penulis “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” Melangkahi Metode Penulisan Karya Ilmiah

Serial bantahan ke-6 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial bantahannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Enam: Penulis “Akhirnya Kutemukan Kebenaran” Melangkahi Metode Penulisan Karya Ilmiah
Penulis dalam kitabnya tidak konsisten dengan metode ilmiaah yang dikenal di kalangan para penulis, baik dari segi cara menyajikan masalah dan susunannya, maupun dari segi tingkat kebenaran Ilmu yang dinukil dari sumbernya. Sebagaimana juga ia tidak konsisten dalam merivisi ilmu yang benar yang dibangun diatas istidlal ketika memaparkan sebuah masalah maupun judul-judul. Bahkan kitab-kitabnya kosong dari kriteria (penulisan ilmiah) semacam itu.
Adapun metodenya dalam menyampaikan sebuah masalah tidak menggunakan manhaj (metode) yang jelas , seperti pembagian pembahasan dan masalah dalam pasal-pasal dan bab-bab (sebagaimana dikenal dalam metode penelitian konpemporer) (kecuali kitabnya Fas’alu ahla adz dzikra, dalam kitab ini ia membagi pembahasan dalam pasal-pasal, meskipun tidak konsisten dengan metode tertentu dalam menyajikan permasalahan di bawahnya, sebagaimana kebiasaannya di seluruh kitab-kitabnya). 
Atau menggunakan metode lama dalam menyajikan pembahasan dalam pasal-pasal atau bab-bab tersendiri dengan tetap teliti dalam penyajian dan susunannya. Akan tetapi ia meletakkan judul-judul yang tidak ada kaitannya dengan judul sebelum dan sesudahnya, dan hal itu selalu terulang, ia meletakkan satu judul yang sama di beberapa tempat  dalam kitab yang sama, yang menjadikan kitabnya seperti surat kabar, kumpulan perkataan yang disadur tanpa diringkas dan disusun dengan baik.
Salah satu contoh ketidakterkaitan judul-judul  dan ketidakteraturan judul sebagaimana mestinya yaitu dalam kitabnya “laakuuna min ash shodiqin” tentang masalah  syuro’ dengan judul “Ta’liq ala asy syuro, catatan atas metode Syura”, dia merasa judul ini telah lalu pembahasannya, dan yang diperlukan tinggal memberi catatan, padahal belum dibahas sama sekali. Dan justru judul ini diletakkan setelah penbahasan “asy syawaahid al ukhro ala wilayati ‘Ali, Bukti-bukti lain tentang wilayah Ali”.
Kemudian ia tidak meletakkan judul lain setelah ta’liq terhadap syuro, bahkan ia membuat judul baru”Al Ikhtilaf fi Ats Staqalain, perbedaan tentang dua pusaka”.
Setelah pembahasan ini, ia menulis satu judul baru yaitu ”Ikhtilaf Madzahib as Sunnaiyah fi Sunnah Nabawiyah, perbedaan mazhab-mazhab sunni tentang Sunnah Nabawiyah”, Kemudian berpindah ke judul yang baru setelahnya satu pembahasan, ”Al qadha wal qadar ‘inda ahli sunnah, Qadha dan Qadar menurut Ahlussunnah” dan setelahnya rentang dua pembahasan ia membahas permasalahan khums dan Taqlid- (Lihat pembahasan-pembahasan ini pada bukunya La Akuuna Ma’ash Shadiqin, hal 111 s/d hal 154), beginilah cara penulis dalam menyajikan pembahasan, tidak menggunakan metode yang Ilmiah,  yang ia lakukan hanyalah meletakkan judul yang bermacam-macam ditempatkan secara semrawut, lalu berbicara yang tidak lebih 3-4 halaman dengan perkataan sembrono, kosong dari penelitian ilmiah. Kemudian pindah lagi ke pemabahasan baru dengan cara yang sama.
Dan sebagai tambahan dari contoh yang telah lalu, ia memindahkan beberapa judul dalam kitab “Asy syiah hum ahlu Sunnah” yang ia sajikan secara berenteran dengan judul yang berbeda-beda.
Dan secara berurutan ialah: “At Taqlid wal marji’iyah ‘inda ahli sunnah, Taqlid dan rujukan agama menurut Ahlussunnah”, “al Khulafaur Rasyidun ‘inda Asy Syiah, Khulafa’ Rasyidin menurut Syiah”,  “al Khulafaur Rasyidun ‘inda ahli Sunnah, Khulafa Rasyidin menurut Ahlussunnah”, “Nabi r tidak menerima syariat Ahlu Sunnah wal Jama’ah”, “Tanbih la budda lah, Peringatan yang harus disampaikan”, “Adaawatu ahli as Sunnah li ahli Bait taksyafu ‘an hawiyatihum, Permusuhan Ahlussunnah kepada Ahlul Bait menyingkap ambisi mereka”.
Judul-judul ini dibahas pada 13 halaman saja tanpa ada kaitannya dengan judul utamanya.(Lihat: asy syiah hum Ahlu as Sunnah hal. 146-159)
Contoh lainnya, susunan judul seperti “fashlul khithab fi taqyimil as’hab, kata penegas dalam menilai sahabat”, “mukhalafah ahlu Sunnah wal Jam’ah lissunnah an nabawi, penyelisihan ahlussunnah wal jamaah terhadap sunnah nabawiyah”, “nidzomul hukum fil islam, peraturan pemerintahan dalam Islam”, “al qaulu bi’adaalatish shahabah yukholifu shorihu as Sunnah, perkataan tentang ‘adalah sahabat menyelisihi sunnah”.
Dan dengan kegoncangan penulis dalam memaparkan permasalahan, ternyata penulis juga tidak hanya melakukan hal ini di satu tempat. Namun hal itu dilakukannya di banyak tulisannya yang lain, di setiap kitabnya yang memuat pengulangan yang membosankan.
Seperti pembahasannya terhadap pendapat ahlu Sunnah terhadap Sunnah Nabawiyah dan klaimnya tentang penyelisihan mereka di banyak kondisi dalam kitabnya “Asy Syiah hum Ahlu Sunnah”.
Pertama          : Pada hal. 29 dengan judul “fi muukhalafatihim li as sunnah”.
Kedua             : Pada hal. 45 denga judul “ahlu Sunnah la ya’rifu as Sunnah”.
Ketiga             : Pada hal. 52 dengan judul “ahlu Sunnah wa muhiqqu as Sunnah”
Keempat         : pada hal. 287 denan judul “mukhalafatu ahli Sunnah wal Jama’ah li as sunnah an Nabawiyah”.
Kelima            : Pada hal 290 dengan judul “an nabiy ya’muru al Muslimin bi Iqtidai bi atratihi wa ahlu Sunnah yukhalifuhu”.
hal yang sama kembali terulang ketika menjelaskan makna Ahli Sunnah. Pembahasannya terletak di dua tempat dalam kitab “Asy Syiah Hum ahlu Sunnah ”:
Pertama          : di hal. 75 pada judul “At ta’rif Bi aimmati ahli Sunnah”.
Kedua             : di hal. 170 pada judul “Aimmatu ahli Sunnah wa Aqthabuhum”.
Begitu juga pada masalah pendapat Ahlu Sunnah terhadap Salawat pada Rasulullah r yang dimana pembahasannya ada di dua tempat yang saling berjauhan dalam kitab yang sama.
Pertama          : di hal 164 judul “Tahrifu ahli Sunnah wal Jama’ah kaifiyati ash Sholah ala Muhammad r wa Aalihi”.
Kedua             : hal 303 pada judul “Ahlu Sunnah wa as Sholah al Batra”
Semua contoh ini diambil dari satu kitabnya saja. Kalau mau melihat ke kitabnya yang lain tidak ada masalah.
Tentang perbuatannya yang tidak merevisi kepada sumber yang jelas, maka hal ini jelas bagi setiap yang menelaah kitab-kitabnya,  bahkan hal ini menjadi hal sering kita temukan dalam kitabnya, dan saya cukup dengan menyebutkan satu contoh saja.
Salah satunya adalah penggunaan  hadits-hadits munkar dan palsu, dan mengaku akan keshahihannya dengan tidak merujuk kepada Kitab-kitab hadits. Misalnya:
-            Hadits “Betapa banyak pembaca al Qur’an dan al Qur’an melaknatnya” (tsummahtadaitu, hal. 180)
-            Hadits “Perbedaan ummatku adalah rahmat” (laakuuna ma’a ash shodiqin, hal 20)
-            Hadits “Ali adalah pemimpin yang mulia dan pembasmi kekufuran” ( laakuuna ma’a ash shodiqi,n hal 45)
-            Hadits “sahabat-sahabatku bagaikan bintang, manapun yang engku ikuti engkau akan mendapat petunjuk” (laakuuna ma’a ash shodiqin hal. 16)
-            Hadits “Kedudukan Ali di sisiku seperti kedudukanku di sisi tuhanku” (laakuuna ma’a ash shodiqin hal. 162)
-            Hadits “apa yang dihalalkan oleh Muhammad, halal hingga hari Kiamat” (laakuuna ma’a ash shodiqin hal. 193)
-            Hadits “sifat cemburu bagi lelaki adalah keimanan dan bagi wanita adalah kekufuran” (fas’alu ahla adz dzikr hal. 80)
Beginilah caranya menisbatkan beberapa perkataan dan perbuatan para Shahabat yang tidak layak bagi mereka, tanpa merujuk kepada sumbernya. Seperti ketika mereka  riwayatkan bahwa Aisyah radiallhu anha melarang menguburkan Fatimah Radiallhu anha di samping Ayahnya r, dan juga melarang Husain menguburkan Hasan disamping kakeknya r, ia mengendarai keledai dan menyeru “Jangan kuburkan di rumahku orang yang tidak aku sukai” (tsummahtadaitu hal.165).
Dan penulis mengaku bahwa Husain  thawaf mengelilingi Hasan setelah meninggal diatas kuburan kakeknya r  (tsummahtadaitu), begitu juga ia menuduh sahabat secara umum dengan tuduhan yang keji, ia mengatakan, “Dan para ahli sejarah menyebutkan hal-hal yang menakjubkan dan aneh, yang terjadi pada masa itu di kalangan para Shahabat setelah masa khulafa Rasulullah r dan umara al mukminin. Seperti ajakan mereka kepada manusia untuk berbaiat, dengan pukulan, ancaman, dengan tangan besi. Seperti serangan kepada rumah Fatimah, memukul perutnya hingga keguguran. Mengeluarkan Ali dalam keadaan diseret dan mengancam akan membunuhnya jika ia menolak untuk berbai’ah. Mengambil hak-hak Fatimah az Zahra, berupa mas kawin, warisan, dan bagiannya sebagai kerabat, hingga wafatnya ia murka kepada mereka, dan Fatimah mendoakan keburukan bagi mereka di setiap waktu sholat. Menodai hal-hal yang diagungkan dan melanggar  batasan-batasan Allah dengan memerangi orang-orang yang berlepas diri dari kalangan muslimin, dan memasuki wanita-wanita mereka tanpa menghormati masa iddah. Mereka merubah hukum Allah dan Rasulnya yang jelas dalam Al qur’an dan hadits dan menggantinya dengan ijtihad mereka yang memihak mashahat priadi mereka. Dan usaha mereka untuk melenyapkan dan mengusir Abu Dzar dari Madinah Rasulullah r.. Laknat mereka terhadap Ahlu bait, yang Allah hilangkan padanya kehinaan, dan mensucikan mereka sesuci-sucinya…..” (tsummahtadaitu hal. 203)
Serta tuduhan lainnya yang lemah, tidak berdalil, atau berdasar pada sumber yang dipercaya.
Adapun ketiadaan revisi terhadap masalah-masalah yang perlu diteliti secara benar dan ilmiah, akan tetapi ia memvonis berdasarkan pendapat-pendapat pribadinya yang kosong dari argumen serta dalil. Yang seperti ini banyak tersebar dalam kitab-kitabnya, seperti,
“Ketika Imam Ali meninggal, Muawiyah mengambil alih pemerintahan setelah adanya shulh (perbaikan) yang diarahkan oleh Imam Hasan, dan setelah itu ia menjadi Amirul Mukminin dinamakanlah tahun itu dengan tahun persatuan. Olehnya, penamaan tahun itu oleh Ahlussunnah wal Jamaah menunjukkan bahwa mereka mengikuti Sunnah Muawiyah dan bersatu kepadanya dan bukan berarti bersatu diatas sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.” (Tsumma Ihtadaitu, hal 203)
“Dengan sekedar menelaah aqidah syiah imamiyah pada kesempatan seperti ini akan membuat hati Anda menjadi lapang. Akal Anda akan menerima tafsir ayat alqur’an, yang di dalamnya terdapat tasybih dan tajsim (penyerupaan) terhadap wujud Allah, dan membawa maknanya kepada makna majaz, bukan makna yang sebenarnya, dan tidak pula makna dzohir sebagaimana yang dipahami salah oleh sebagian” (laakuuna ma’a ash shodiqin hal. 27)
Ia mengatakan, “Yang penting anda ketahui kenapa Umar merubah metode bai’ahnya? Apakah ia mengetahui bahwa para Shahabat ingin membai’at Ali setelah meninggalnya Umar, dan inilah yang selamanya tidak akan diridhoi Umar ” (laakuuna ma’a ash shodiqin hal.88)
Dia juga mengomentari tentang kadar zakat yang dikeluarkan dalam syara’, dan mengambil jizyah dari orang kafir (dzimmi) sebagai bentuk penolakan atas hukum dan syariat Allah, “maka tidak mungkin bagi Daulah Islam berlandaskan terhadap keputusan yang telah dikeluarkan oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah berupa zakat, dan itu tercapai dengan baik sekitar 25% persen. Ini merupakan kadar yang lemah yang tidak memenuhi kebutuhan negara, mendirikan Sekolah, rumah sakit, perbaikan prasarana jalan, apatah lagi untuk memenui kebutuhan hidup setiap orang yang mencukupi biaya hidupnya. Sebagaimana juga tidak mungkin sebuah pemerintahan Islam senantiasa melakukan peperangan,  memerangi manusia agar bisa bertahan, dan mengembangkan asas-asasnya berdasarkan korban nyawa yang enggan memeluk Islam” (laakuuna ma’a ash shodiqin hal.152)
Ini adalah beberapa contoh masalah dan hukum, yang dilontarkan penulis tanpa mentahqiq secara ilmiah, dan berdasar pada dalil syar’i, atau pun perkataan ulama, akan tetapi berlandaskan pada hukum menurut pribadi belaka, dan pandangan  pandangan sesat lagi menyimpang, ia mendustakan dalil, menolak hukum Allah, menyebutkan peristiwa sejarah dengan prasangka dusta, dan didasari hawa nafsu, yang semua itu diakibatkan oleh kebencian yang mendalam terhadap generasi terbaik dari umat ini, dan kecintaannya terhadapa Syiah Rafidhah dan keyakinan mereka. Semoga Allah memberikan balasan yang sepantasnya.

Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal, hal 174-182
Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More