Penelitian Ulang Tentang Kredibiltas Sahabat

Serial tanggapan ke-9 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial tanggapannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Penulis mengatakan dalam kitab Tsummahtadaitu hal. 89, “Diantara penelitian yang paling penting yang  merupakan hal pokok dan bisa mengantarkan kepada kebenaran adalah penelitian tentang kehidupan para Shahabat, keadaan mereka, apa yang mereka perbuat, dan aqidah mereka, karena mereka adalah tiang dari segala sesuatu yang dari merekalah kita mengambil ajaran agama ini, dengan cahaya ilmu merekalah kita mengetahui hukum-hukum Allah, dan para Ulama islam telah melakukan penelitian tentang kehidupan mereka, dengan menulis kitab yang jumalahnya cukup banyak seperti Asadul ghabah fi ma’rifati assahabah, al Ishabah fi tamyizi assahabah, Mizanul I’tidal, dan kitab-kitab lainnya yang berbicara membahas tentang kritik terhadap Shahabat akan tetapi kitab-kitab yang disebutkan berbicara dari sisi pandang Ahlu Sunnah wal jama’ah.”
Saya katakan, perkataan penulis bahwa pembahasan tentang kehidupan Shahabat adalah merupakan penelitian yang dapat mengantarkan kepada kebenaran….dan seterusnya, adalah perkataan yang masih mengambang. Jika yang dimaksud adalah studi lapangan untuk mengetahui keadaan mereka yang kemudian dijadikan teladan dalam ilmu dan amal maka ini adalah hal yang benar, karena merekalah yang menjadi sebab sampainya ilmu kepada kita baik berupa alqur’an maupun assunnah, yang sebab mereka para ulama menjadi faqih terhadap alqur’an dan assunnah. Maka barangsiapa yang berpegang  teguh dengan petunjuk para Shahabat, dan mengikuti jejak mereka, itulah jalan keselamataan dan kemenangan. Namun barangsiapa yang berpaling dari jalan ini dan mengikuti selain jalan mereka, maka ia termasuk orang-orang yang binasa lagi merugi, sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Allah Ta’ala:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا (١١٥)
Artinya: dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisa’: 115)
Shahabat adalah umat terbaik dari kaum mukminin dimana jika ada yang ingkar atas petunjuk mereka, maka ia kena ancaman ini.
Dan jika yang dimaksud adalah pembahasan dari sisi ‘adalah dan pandangan dalam hal penerimaan riwayat dan hadis mereka, yang bisa menjadi celaan terhadap mereka, dan mencari-cari keburukan mereka yang akan menurunkan mereka dari kedudukan yang mulia dalam agama ini – dan saya menganggap bahwa itulah yang dimaksud oleh penulis- agar kemudian dianggap bahwa kitab-kitab tersebut telah memuat studi kritis  tentang kehidupan Shahabat, maka kita katakan padanya, sungguh anda telah menapaki jalan yang susah lagi berbahaya, dan telah memaksakan diri apa yang tidak sanggup anda lakukan,  sungguh kasihan Anda.
Dan merupakan bentuk kebahagian seorang hamba adalah ia mengetahui kadar kemampuannya, jika saja melakukan studi kritis tentang kehidupan para Shahabat adalah metode para Ulama dan para ahli naqd rijal, maka ia bukanlah orang yang mapan dalam hal ini, dan ia bukanlah orang yang punya hak untuk itu. Bagaimana tidak, para Ulama telah menutup rapat-rapat penelitian dan studi kritis tentang para Shahabat, hal itu karena Allah Ta’ala telah menyatakan keadalahan mereka, memuji mereka dengan  pujian yang indah,  mensifati mereka dengan iman, hidayah, kebaikan, dan ketaqwaan mereka dalam alqur’an, serta rekomendasi Rasulullah yang sangat jelas di dalam hadits, menyebutkan banyak keutamaannya, dan mewanti-wanti umat untuk berseberangan dan mencaci mereka.
Salah satu contohnya, firman Allah:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)
Artinya:  orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [1]
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا (١٨)
Artinya: Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)[2]
لا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (١٠)
Artinya: dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, Padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[3]
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا …….(٢٩)
Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya,.[4]
Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan keutamaan para Shahabat y
Adapun keutamaan mereka dari Hadits-hadits Rasulullah r diantaranya:
Apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim dari hadits ‘Imran bin Husain t dari Rasulullah r bahwa ia berkata:
(sebaik-baik umatku adalah zamanku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya,)[5] 'Imron mengatakan, Saya tidak tahu secara pasti apakah beliau r menyebutkan dua atau tiga generasi setelah Shahabat.
Dan Syaikhan (Imam Bukhari dan Imam Muslim) juga meriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudry t dari Rasulullah r, bersabda, "Janganlah kalian mencela Shahabatku karena Jika saja diantara kalian menginfakkan emasnya sebesar gunung Uhud, maka (pahalanya) tidak akan menyamai (pahala) mereka yang menginfakkan segenggam emas saja, bahkan setengah dari pahala mereka pun tidak sampai "[6]
Dalam Shahih Muslim dari Hadits Abu Musa al Asy'ariy t dari Rasulullah, ia bersabda,
"Bintang-bintang  adalah penjaga Langit, apabila bintang-bintang itu hilang maka datanglah apa yang dijanjikan atas langit itu. Dan aku adalah penjaga bagi Shahabatku-Shahabatku, apabila aku telah pergi (meninggal dunia) maka akan datiag kepada Shahabatku apa yang dijanjikan kepada mereka. Dan para Shahabatku adalah penjaga bagi umatku, apabila Shahabtku telah pergi (meninggal dunia) maka akan datang apa yang dijanjikan kepada mereka."[7]
Inilah dalil-dalil yang jelas kebenarannya, serta dalil-dalil lainnya yang mengandung makna yang sama, yang memuat pujian Allah dan Rasulnya r terhadap para Shahabat, yang merupakan bukti nyata akan ke'adalahan, kesucian mereka y, dan tidak perlu lagi untuk mencari tahu tentang ke'adalahan mereka. Olehnya para Imam kaum Muslimin sepakat akan ke'adalahan mereka.
Al Khatib al Baghdadi berkata setelah menyebutkan dalil-dalil akan ke'adalahan Shahabat, "Dan riwayat tentang hal ini sangatlah banyak, semuanya sesuai dengan apa yang tertera dalam al Qur'an, dan seluruhnya menunjukkan kesucian dan ke'adalahan para Shahabat, dan persaksian Allah akan ke'adalahan mereka tidak membutuhkan lagi pengakuan dari makhlukNya, hingga perkataan beliau: Inilah mazhab seluruh Ulama dan Fuqaha [8]
Dam Imam Nawawiy mengatakan, "Shahabat seluruhnya 'Udhul, baik yang mendapatkan masa fitnah maupun yang lain menurut ijmak"
Ibnu Katsir berkata, “Shahabat seluruhnya 'Udhul menurut faham Ahlu Sunnah wal Jama'ah sebagaimana Allah telah memuji mereka dalam al Qur'an, sebagaimana yang tertera dalam Sunnah nabawiy yang memuji akhlak dan prilaku mereka, serta apa yang telah mereka berikan untuk agama ini berupa harta dan jiwa mereka kepada Rasulullah karena mengharapkan balasan dari Allah berupa Pahala yang melimpah”[9]
Berkata Ibnu Mulaqqin, “Para Shahabat memiliki kekhususan tersendiri yaitu 'adalah setiap dari mereka tidak dipertanyakan lagi bahkan hal demikian adalah sesuatu keniscayaan bagi mereka, bukankah Alqur'an, hadits, dan Ijma' ulama telah menyatakan ke'adalahan mereka?”
Kemudian setelah beliau menukil dalil-dalil tentang pujian bagi mereka- ia mengatakan, "Bahwasanya Umat telah sepakat akan 'adalah seluruh Shahabat, termasuk yang mendapatkan zaman fitnah (Terbunuhnya Utsman dan beberapa peperangan antara sahabat setelah kejadian itu). Dan menurut ijmak seluruh ulama   kita harus berbaik sangka kepada mereka karena melihat pengaruh buruk jika tidak demikian, dan seakan-akan Allah menyerukan ijmak untuk itu karena mereka adalah para penyampai syariat”[10]
Maka karena inilah muncul kesepakatan Ulama yang ahli dalam masalah Naqd dan faham tentang masalah Shahabat, dan tidak ditanyakan lagi akan 'adalah  mereka dan tak ada yang menyelisihi pendapat tersebut, kecuali kalangan yang dinilai Ahli bid'ah dan zindiq.
Oleh karena itu para ulama terdahulu telah menganggap bahwa mencela para Shahabat adalah salah satu tanda ahlu bid'ah dan orang zindiq, yaitu golongan yang ingin merusak Syariat ini dengan mencari-cari kesalahan perawinya (periwayat/ penyampai).
Abu Zur'ah ar Raziy mengatakan : "Jika anda mendapati orang yang mencela salah seorang Shahabat  Rasulullah r maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq, dan karena bagi kita Rasulullah r adalah haq, alqur'an Haq, adapun yang menyampaikan al Qur'an dan As Sunnah kepada kita adalah para Shahabat Rasulullah r, dan mereka ingin Jarah (mengkritisi) para Shahabat agar kita ragu dengan Al Qur'an dan As Sunnah, padahal menjarah mereka (ahlu bid'ah) adalah lebih pantas, dan mereka adalah orang –orang zindiq" [11]
Dan Imam Ahmad berkata, "Jika anda mendapati lelaki yang menyebutkan salah seorang dari Shahabat Rasulullah r dengan keburukan, maka ia dicurigai telah keluar dari islam"[12]
Dan Imam Al Barbahari berkata, "Ketahuilah bahwa siapa yang menyinggung salah seorang dari Shahabat Rasulullah r maka ketahuilah bahwa yang ia ingin cela adalah Muhammad r dan ia telah menyakitinya dalam kuburnya."[13]
Maka jelaslah bahwa perkataan penulis (Tijani) -yang menjadi dasar penelitiannya dengan menyatakan bahwa Penelitian tentang kehidupan Shahabat adalah penelitian tentang 'adalah mereka yang akan mengantarkan kita kepada kebenaran-, adalah perkataan yang salah dari akar-akarnya, dan ini adalah jalan orang zindik serta ateis yang berusaha melakukan tikaman terhadap Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh para ulama, dan hal ini jelas dari dua sisi:
Sisi pertama: bahwa hal itu adalah dusta, karena Al qura'n dan As sunnah telah memuji kebaikan dan keutamaan para Shahabat di dalam banyak keadaan, dan menjadi saksi akan keimanan dan kejujuran mereka, dan khabar mutawatir di kalangan umat dengan nukilan shahih yang menjelaskan kemuliaan jihad mereka di Jalan Allah, ujian baik yang mereka dapati, dan mereka lebih memilih akhirat dan apa yang ada di sisi Allah dibanding dunia yang sementara, sehingga mereka menjadi panutan dalan hal zuhud dan wara', serta teladan manusia dalan ilmu dan amal.
Sisi kedua: bahwa mencela para Shahabat dengan meragukan 'adalah mereka adalah noda atas syariat seluruhnya karena merekalah yang telah menyebarkan agama ini, oleh karenanyalah tak seorang pun yang meragukan 'adalah mereka, kecuali akan dinilai lemah imannya. Dimana ia hanya menshahihkan riwayat yang padanya terdapat indikasi celaan pada sahabat. Ini adalah hal yang nyata bagi setiap yang menelaah keadaan golongan yang mencela Shahabat.
Ini yang diakui sendiri oleh penulis (Tijani) ketika ia tenggelam dalam membahas kehidupan Shahabat, ia mengatakan, "Saya tetap merasa dalam keraguan selama tiga bulan, terjadi kegoncangan dalam tidurku, membuat pikiranku tak beraturan, serta bergelombang dalam dugaan, kerana takut terhadap sebagian Shahabat yang akan aku teliti sejarahnya, maka akupun berdiri pada sebagian perbedaan-perbedaan yang kacau dalam tingkah laku mereka. Oleh karena itu aku khawatir terhadap diriku sendiri, dan aku beristighfar kepada tuhanku berkali-kali, aku ingin berhenti untuk meneliti hal semacam ini yang membuat kau ragu terhadap para Shahabat Rasulullah r  yang kemudian membuatku ragu terhadap agamaku"[14]
Adapun perkataannya, "Bahwasanya Ulama menulis kitab yang berbicara tentang kehidupan para Shahabat secara kritis, seperti Asadul Ghabah, al Ishabah, dan Mizanul I'tidal"
Maka kita katakan bahwa ini tidaklah benar, bahkan kedustaan besar terhadap para ulama terhadap apa yang mereka berlepas diri darinya, dan saya tidak tahu apa yang menjadikan orang ini berendapat seperti ini, apakah karena bodoh?, atau karena dusta dan ingin menipu manusia?!
Adapun kitab Asadul Ghabah dan al Ishabah, maka keduanya adalah kitab yang menyebutkan biografi para Shahabat yang bertujuan untuk menyeleksi siapa sahabat dan siapa yang bukan sahabat tanpa menilai buruk para sahabat tersebut sebagaimana yang diklaim oleh penulis. Ini adalah hal yang telah diketahui oleh para pemula kalangan penutut Ilmu, dan tidak butuh kepada dalil untuk menguatkannya, akan tetapi disini ingin kami tunjukkan hal yang membantah kedustaan dan tipuannya kepada kalangan awam yang masih belum tahu yang sewaktu-waktu ingin menelaah kitabnya (Tijani), maka aku katakan bahwa pengakuanya yang menyatakan bahwa dua kitab ini telah melakukan studi kritis terhadaap kehidupan para shahabat adalah perkataan yang batil tidak didukung oleh bukti yang benar. Penjelasan akan kebatilan dan kedustaannya dari berbagai sisi berikut:
Pertama: Bahwa dua kitabb yang mulia ini adalah buah karya dari dua Imam Mulia dari kalangan Ahlu Sunnah, yang keduanya mengakui 'adalah para shahabat, kedunya faham betul keutamaan dan kedudukan mereka, asadul ghabah karya Imam Ibnul Atsir, dan al Ishabah karya al Hafidz Ibnu Hajar al asqalany –semoga Allah merahmati keduanya- , dan keduanya telah menyeebutkan 'adalah Shahabat di Muqaddimah kitabnya, keduanya telah menjelaskan bahwa Shahabat semuanya ADIL  sehingga tidak butuh lagi untuk mencari-cari ke'adalahan mereka. Dan tidak pula mencari jalan untuk menilai buruk para sahabat.
Ibnul Atsir -rahimahullah- mengatakan, "Para Shahabat dihukumi sama dengan semua perawi dalam segala hal kecuali dalam hal jarah dan Ta'dil, karena mereka semua Adil, dan tidak perlu mencar-cari  jalan untuk menjarah mereka, karena Allah dan Rasulnya telah telah mentazkiyah mereka dan menyatakan ke'adalahan mereka, dan hal itu masyhur sehingga tidak perlu untuk disebutkan, dan sudah banyak pula disebutkan dalam kitab-kitab kita"[15]
Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata, yang perkataannya meliputi adalah shahabat "Ahlu Sunnah telah sepakat bahwa semua Shahabat ADIL, dan tidaklah menyelisihi hal itu kecuali itu adalah pendapat yang lemah dari kalangan ahli bd’ah, dan Al Khatib telah menyebutkan dalam kitab al Kifayah satu pasal penting tentang hal itu. ia mengatakan, ‘adalah para Shahabat telah pasti, berdasarkan tazkiyah Allah atas mereka dan pengabaran Allah akan kesucian dan pemilihan Allah pada mereka"[16] kemudian mengutip perkataan Khatib secara lengkap, dan juga mengutip beberapa dalil yang menunjukkan ‘adaalah Shahabat dan keutamaan mereka.
Maka bagaimana akal bisa menerima bahwa kedua Imam ini menyebutkan ‘adalah para Shahabat dimana mereka menyebutkan pada mukaddimah kitabnya bahwa tidak butuh penelitian lagi, dan tidak bersebrangan dengan hukum Jarh wal ta'dil, kemudian mereka membantah hal itu dalam kitab yang sama dengan mengkritik dan mencela mereka?
Kedua: dua buku ini sebenarnya ditulis untuk lebih menegenal para Shahabat, lebih mengenal nama-nama mereka, sehingga Shahabat nampak beda dengan yang lain, sebagaimana jelas diungkapkan oleh dua Ulama tersebut:
Ibnu Atsir berkata, (setelah menyebutkan beberapa kitab yang ditulis dengan mengumpulkan nama-nama Shahabat), "Maka saya menganggap baik agar mengumpulkan dari kitab-kitab ini kemudian mengomentari hal-hal yang keliru"[17]
Dan Ibnu hajar berkata dalammukaddimah ketika menjelaskan kandungan kitabnya, "Saya menulis kitab besar, pada kitab itu saya seleksi antara sahabat dan yang bukan sahabat"[18]
Inilah (persangkaan penulis) padahal Judul dari dua kItab ini telah cukup menjelaskan maksudnya, Ibnu Atsir menamakan bukunya "Usudul Ghabah fi ma'rifati al Shahabah" dan Ibnu Hajar menamakan kitabnya "al Ishabah fi Tamyizi al Shahabah", seandainya yang diingankan adalah menjarah wal Ta'dil maka ia akan menamakannya "mengkritik shahabat" atau yang semisalnya. Sebagaimana hal itu digunakan pada Kitab yang memang ditulis untuk mengkritik para perawi setelah era Shahabat.
Penulis pun keliru dalam menyebutkan nama dua kitab ini, ia mengatakan bahwa kitab Ibnu Atsir "Usudul Ghabah fi tamyizi al Shahabah" dan kitab Ibnu Hajar "Al Ishabah fi Ma'rifati al Shahabah". Terjadi pertukaran mana kitab ini, dan ini menunjukkan ketidaktahuan penulis terhadap dua kitab ini.
Ketiga            : Sangat jelas bahwa  dua kitab ini adalah saksi akan kedustaan yang diserukan tukang fitnah ini tentang kritikannya terhadap Shahabat, maka terbuka lebar kesempatan kepada para pembaca untuk menelaah dua kitab ini, sehingga mengetahui kejujuran dan keilmuan laki-laki (penebar fitnah) ini.
Adapun kitab Mizanul I'tidal karya Imam Adz Dzahabi, maka sebenarnya penyusun kitab ini tidaklah membahas/ kritik terhadap Shahabat bahkan ia tidak mengkritisi para Imam yang sudah jelas disepakati ketsiqahannya, karena bahasan utama kitab ini adalah tentang kritik terhadap para perawi lemah dan dinilai cacat.
Adz Dzahabi mengatakan dalam mukaddimah kitabnya, "Kitabku ini, menyeebutkan para pendusta, pembuat hadits palsu, yang dilakukan secara sengaja, para pendusta yang mengaku telah mendengarkan sebuah hadits namun tidak mendengarkannya, dan yang disinyalir melakukan pemalsuan dan penipuan dalam hadits "[19]
Kemudian beliau menyebutkan thabaqah (tingkatan) para perawi cacat dari kalangan ahlu 'ilm, dan ia menyebutkan diantara ulama yang masih dalam perbicangan meskipun tsiqoh, dengan cara yang lembut dan kritik yang paling ringan.
Kemudian ia mengatakan, "Kecuali yang ada pada kitab Imam Bukhari, dan Ibnu 'Adi dan yang selain keduanya dari kalangan Shahabat, maka saya tidak memasukkan mereka karena kemuliaan Shahabat, olehnya saya tidak sebutkan dalam kitab ini, karena yang lemah adalah perawi-perawi yang bersambung kepada para mereka (Shahabat), dan saya tidak menyebutkan seorang pun dari para Imam yang dijadikan panutan dalam masalah furu' karena ketinggian kedudukan mereka dalam Islam dan kemuliaan diri mereka, seperti Abu Hanifah, Syafi'i, Bukhari, karena jika saya menyebutkan salah`seorang dari mereka, maka akan saya sebutkan secara adil dan itu tidak akan mempengaruhi penilaian Allah dan manusia atas mereka"[20]
Dengan ini maka jelaslah wahai para pembaca bahwasanya pengakuan orang Rafidhah ini dalam kitabnya, bahwa kritik terhadap Shahabat adalah klaim bathil, yang menunjukkan begitu bodohnya penulis ini (Tijani), serta ketidaktahuaanya terhadap kitab-kitab pokok dalam maslah rijal hadits, dengan pengakuannya bahwa ia telah melakukan penelitian secara ilmiah yang didasari atas kejujuran dan ketelitian yang tinggi.

…………..ooo000ooo…………..
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal, hal 213-225 
Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com


[1] At-taubah:100
[2] Al fath: 18
[3] Al hadid: 10
[4] Al Fath : 29
[5] Diriwayatkan Imam Bukhori dalam Kitab Fadhail Shahabah, bab Fadhlu Ashabi an nabi r wa man shahiba an nabi au raahu nimal Muslimin) fathul Baari 7/3,
dan Muslim dalam kitab Kitab Fadhail Shahabah, bab Fadhlu as shahabah tsummal ladzina yalunahum, Stummal ladzina yalunahum, 4/1964, 2535
[6] Diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam (Kitab Fadhail Shahabah, bab  Waulun nabiy r lau kuntu Muttakhidzan Khalila), Fathul Bari 7/21, 3673
Dan Imam Muslim dalam (kitab Fadhail Shahabat, bab Tahriimu Sabbi as Shahabah y ), 4/1967, 2540.
[7] Shohi Muslim (Kitab Fadhail as Shahabah, bab bayanu anna baqaun nabiy Amanu li ashabihi) 4/1961
[8] Al kifayah fi 'ilmil riwayah 48-49
[9] Al ba'its al al hatsits ihal. 154
[10] Alm uqni' fil hadits 2/492-492.
[11]Al khatib meriwayatkannya dalam al Kifayah hal. 49
[12] Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam Manaqib Imam Ahmad hal 209 dan Ibnu taymiyah dalam as Shorimil Maslul hal 568
[13] Syarhul Sunnah hal 54
[14] Stummah tadaitu hal 147-148
[15] Asadul Ghabah 1/10
[16] Al Ishabah 1/10-11
[17] Usudul Ghabah 1/10
[18] Al ishabah 1/4
[19] Miizanul I'tidal 1/3
[20] Miizanul I'tidal 1/2

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More