Menelaah Berbagai Tuduhan terhadap Sahabat Nabi Saw -2


http://4.bp.blogspot.com/-sNsRBAoVYnY/TZLDiTqGMwI/AAAAAAAAAqg/VXvRAJEWF_A/s1600/Menghadapi+Tuduhan.jpgKaum murtad yang dimaksud dalam hadis haud yang diangkat JR (lihat pemaparan sebelumnya) ialah orang –orang yang disebut munafik -menampakkan keimanan namun menyembunyikan kekafirannya. Dalam hadis tersebut disebut ‘sahabat’ oleh Nabi saw, karena Nabi melihat mereka shalat dan beribadah seperti sahabat lainnya tetapi hati mereka munafik, dan merekapun ketika itu hidup bersama Rasulullah. Apa yang dipahami JR tentang hadis tersebut, dalam tulisannya menggambarkan hampir seluruh yang disebut sahabat Nabi saw murtad, kecuali beberapa orang saja (inilah ciri khas ajaran Syiah). 

JR meng-generalisir pernyataan Nabi tersebut tanpa menyebutkan batasan yang jelas. Al hasil muncullah pemahaman Syiah bahwa sahabat Nabi saw. (hampir seluruhnya) telah murtad dan mengadakan perbuatan yang sangat tidak terpuji, sepeninggal beliau. Ia menyebut secara umum para sahabat Nabi saw. tanpa mengadakan penjelasan yang mendalam dan terarah. 

Menelaah tulisan di bulletin ini, kita dapat sedikit mengungkap modus propaganda ajaran Syiah Imamiyah. Pembaca digiring untuk (minimal) meragukan otentisitas ajaran Islam yang dibawa oleh rantai utama penyebar Islam, yaitu generasi binaan dan murid langsung rasulullah saw-para sahabat Nabi saw,termasuk keluarga beliau. 

Setelah meruntuhkan keyakinan tersebut, Penyebar Syiah mencoba memberikan solusi alternative dengan menyodorkan ajaran berkedok ‘Mazhab Ahlul Bait’. Mereka membungkus ajarannya dengan slogan kecintaan kepada keluarga Nabi, mendahulukan akhlak dan cinta serta persatuan antar mazhab dan kaum muslimin. Tidak sedikit yang terkecoh, padahal isi kandungan sesungguhnya dari kemasan itu sangat berbahaya. 

Diantaranya ajaran syiah itu ialah mut’ah (prostitusi) berkedok agama, revolusi ala Khomeinisme dengan wilayatul faqihnya yang sangat otoriter, pengingkaran terhadap otentisitas Al Quran -yang dikumpulkan para sahabat Nabi saw. Hingga pada perombakan dasar-dasar agama berupa rukun Iman dan rukun Islam serta pemutusan mata rantai hadis dari sahabat Nabi saw yang bersanad shahih. Bahkan menurut MUI Jatim, Syiah alias Mazhab Ahlul Bait, alias Syiah Imamiyah Itsna Asyariah alias Syiah Ja’fariyah adalah ajaran sesat dan menyesatkan. lihat: Salinan fatwa MUI Jatim tentang Kesesatan Syiah dan Syiah dalam Pandangan MUI lihat juga  Rangkuman Pandangan MUI terhadap Syiah

Disebutkan bahwa Ali bin Abi thalib pernah mendengar Abdullah bin Saba yang bernama Ibna Saudah, dia menjelek jelekkan Abu Bakar dan Umar maka dia menyuruh mengambil pedang untuk dibunuh, tetapi tampil seorang penasehat yang meminta kepadanya agar tidak dibunuh, lalu diberikan pertimbangan, maka orang ini dibuang kenegeri Syam. Dan beberapa contoh tegas terhadap perusak kehormatan sahabat Nabi saw seperti Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali r.a. Kesemua ini menunjukkan bahwa ulama dahulu sangat keras dan tegas terhadap orang-orang yang mencela sahabat Nabi saw. Karena dampaknya yang amat negative. Namun kita tidak mengadakan eksekusi seperti beberapa contoh hukuman tegas yang disebutkan. Hukuman tersebut dapat terlaksana jika terdapat pemerintahan Islam yang seperti kekhalifaan Umar misalnya. Kita mewaspadai mereka, sesuai fatwa MUI itu. Kita mencegah penyebaran pemahaman keliru mereka ke masyarakat umum dengan penjelasan dan dakwah.

Sebelum mengakhiri pembahasan ini, berikut ulasan mengenai Keterangan ulama terhadap orang yang sering mencela-cela bahkan memaki sahabat Nabi saw. Ibn Taimiyah mengungkapkan bahwa, sesungguhnya perkara yang tidak diperselisihkan oleh ahli fiqih dan ahli ilmu dari sahabat Nabi saw dan para tabiin dan seluruh ulama ahlus sunnah, mereka sepakat bahwa kewajiban kepada sahabat Nabi adalah memuji mereka, mendoakan mereka, memohonkan ampun kepada mereka dan mencintai mereka sebagaimana ulama sepakat kepada orang-orang yang berbicara jelek kepada sahabat Nabi saw. Maka mereka akan dihukum. Lihat Hukuman Bagi Pencela Sahabat Nabi saw dan Hukuman yang Pantas Bagi Pencela Sahabat Nabi saw.
Terdapat nasehat ulama mengenai orang yang sering mencela sahabat Nabi saw seperti berikut. Wahai orang yang sangat mencela sahabat Nabi saw. orang yahudi tidak mencela-cela sahabat Nabi musa, orang Kristen pun tidak mencela-cela sahabat Nabi isa, maka mengapa engkau mencela sahabat Nabi mu sendiri Muhammad saw. Mengapa kamu tidak sibuk mencari-cari kesalahan kamu sendiri, andaikata kamu mencari-cari kesalahanmu maka kamu akan takut karena banyaknya dosa, sungguh dosamu itu dan dosa kita semua akan menyibukkan kita. Orang salah, kita tidak pantas mencari-cari kesalahannya, apalagi orang baik. Orang berdosa (dari kaum muslimin) saja kita doakan agar agar terampuni, Mengapa orang yang syahid membela agama, engkau laknat dan cela. Gembiralah dengan sesuatu yang menunggumu jika engkau tidak berhenti. Mereka sudah berjuang diperang badar dan perang uhud, ada yang keliru dari mereka, namun mereka tidak dicela, malahan ada ayat yang berbunyi:
وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ (١٥٥)

155. …Sesungguhnya Allah telah memberi ma'af kepada mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Ali Imran: 155).
Sedang kalian selalu menyebut-nyebut kesalahannya. Dengarlah kebijaksanaan Ibrahim ketika berkata -Faman tabiani fainnahu minni faman ashani fa inna ghafarun rahim- Siapa yang mengikutiku maka ia adalah golonganku, dan siapa yang mengingkariku maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ayat ini menyiratkan ketulusan dan keikhlasan Nabi Ibrahim dalam berdakwah, ia tidak mendoakan laknat orang yang mendurhakainya bahkan mengisyaratkan doa pengampunan dan kasih sayang. Adakah kalian memahami ayat itu. Perhatikan pula ayat ini wahai kaum yang selalu menjelek-jelekkan orang sebelum mereka. 
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٠)

10. dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hasyr: 10)

Kita tidak dianjurkan mencari kesalahan orang lain, namun jika kesalahan (kezhaliman) muncul dan membahayakan orang lain serta dilakukan terang terangan, maka kita berusaha mencegah ataupun menghentikannya dengan cara hikmah. selesai 

disarikan dari ceramah Rutin Ust. HM. Said Abd. Shamad, Lc, LPPI Indonesia Timur    

1 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More