Memahami Ahlul Bait dalam Hadits

http://qitori.files.wordpress.com/2010/01/ahlul_bayt_rasul.jpgSetelah membahas mengenai pemahaman mengenai ahlul bait dalam al quran (lihat: Ayat tentang Ahlul Bait dalam Al Quran) berikut kami paparkan ahlul bait dalam hadist yang pernah diangkat oleh salah seorang tokoh syiah nasional.

Kaum syiah tidak menganggap bahwa Istri Nabi termasuk dalam ahlul bait Rasulullah saw. Mereka berpegang denga hadis kisa’ (persoalan ini pernah disinggung dalam tanggapan Mengapa Memilih Mazhab Ahlul Bait)

“Pada suatu pagi, rasulullah saw keluar dengan mengenakan selimut wol berwarna hitam, lalu hasan dating maka beliau memasukkannya kedalam selimut, kemudian datanglah Husain dan iapun masuk kedalamnya, dan kemudian datanglah Fatimah dan beliaupun memasukkan putrinya itu, kemudian datanglah Ali dan beliaupun memasukkannya juga ke dalam selimut sambil membaca ayat QS. 33:33” (shahih Muslim, II, Kitab fadhail al Shahabah, bab fadhail Ahl al-Bayt; Shahih al Turudzi 5: 30, hadis #3258; Musnad Ahmad 1:330; Mustadrak al-Shahihayn 3:133, 146,147; Al Thabrani, Mu’jam al-Shaghir, 1:65, 135.)

Dengan hadis diatas kaum syiah mengklaim bahwa ahlul bait hanya empat orang. Para ulama menjelaskan bahwa sebagaimana perkataan, “inilah murid saya”, tidak berarti muridnya hanya itu saja. Demikian pula perkataan Rasulullah diatas bukan membatasi ahlul bait beliau hanya empat orang saja.

Pada Surah al Anfal ayat 41 disebutkan mengenai harta rampasan perang (Ghanimah) untuk kaum muslimin. Salah satu kelompok yang disebut muntuk memperoleh ghanimah adalah kerabat Rasul(al Qurba). Kerabat Nabi yang mendapat bagian dikatakan orang yang dibersihkan karena mereka mengeluarkan zakat sebagaimana kaum muslimin yang lainnya. QS. At Taubah: 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (١٠٣)

103. ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[1] dan mensucikan[2] mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

[1] Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
[2] Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.


Selain itu keluarga Nabi tidak menerima hasil zakat, sehingga mereka memperoleh bagian dalam ghanimah itu. Mereka yang mulia itu tidak makan zakat, karena zakat merupakan kotoran harta manusia. Kerabat nabi yang dimaksud dalam ayat diatas adalah Bani Hasyim dan Bani muththalib sebagaimana catatan kaki dalam al Quran terjemahan versi depag. Hasyim adalah ayah dari abdul  muththalib. Berdasarkan keterangan diatas, ahlul bait memiliki pengertian luas tidak hanya hasan Husain Ali dan Fatimah, bahkan dalam pengertian luas kerabat Nabi saw dapat bermakna Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Disucikannya mereka sebagaimana tersebut dalam ekor ayat 33 surah al Ahzab mengindikasikan jika mereka melakukan perintah-perintah yang ada di ayat sebelumnya, maka mereka akan dibersihkan (dari dosa). Sebagaimana kaum muslimin yang dihimbau untuk zakat agar mereka di’bersih’kan pula.

Pemahaman seperti Ayatullah Jawwaz tadi akan menggiring masyarakat dalam kekeliruan memahami makna ahlul bait. Ahlul bait -menurut mereka- lebih pantas untuk menjadi pemimpin kaum muslimin karena mereka disucikan dan ilmunya murni dari Rasulullah. Bahkan tidak jarang dengan cara ‘revolusi’ ala paham khomeinisme. Dampak akhir dari pemahaman ini akan muncul keraguan pada keshahihan khalifah sebelum Ali ra. Serta diperparah dengan keraguan terhadap teotentitas al quran yang dikumpulkan pada masa Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. 

Dalam buku “Mungkinkah Syi’ah & Sunnah Bersatu?” oleh Syaikh Muhibbudin Al-Khatib, 1990 terdapat foto yang disebut sebagai “Surat Al Wilayah”. Pada surat itu ditegaskan akan kewalian Ali.

“…bahwa telah terjadi kekurangan pada Al Quran ialah dia menyebutkan pada halaman 180 sebuah surat yang oleh kaum syiah disebut “Surah Al Wilayah”. Pada surat ini ditegaskan kewalian sahabat Ali…. Ustadz Muhammad Ali Su’di –beliau adalah kepala tim ahli di Departemen Keadilan di Mesir, dan salah satu murid terdekat Syekh Muhammad Abduh- berhasil menemukan “Mushaf Iran” masih dalam bentuk manuskrip. Mushaf itu merupakan salah satu koleksi orientalis Brin. Beliau berkesempatan untuk mengabadikan surat tersebut dengan kamera. Diatas teks arabnya terdapat terjemahan dengan bahasa Iran (Persia), persis seperti yang dimuat oleh At Thabarsi dalam bukunya “Fashlul Khithab Fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab.”

Sahabat Nabi saw. kemudian dituding menyelewengkan al quran dengan ‘membuang’ surah al wilayah, sebab jika ayat tersebut ada dalam al Quran, maka khalifah otomatis berada ditangan Ali r.a., 

semoga penjelasan singkat ini dapat menggambarkan adanya upaya yang kuat untuk mengkampanyekan ahlul bait yang disalahpamami maknanya dan membawa akibat yang meruntuhkan sendi-sendi agama. Perlu diketahui kecintaan kita ahlus sunnah terhadap ahlul bait nabi Muhammad saw tidak dapat diragukan bahkan melebihi kecintaan terhadap komunitas yang mengaku ‘pecinta ahlul bait’, sebagai bukti kecil ialah pada shalawat dari setiap shalat kita memuji dan mendoakan Rasulullah dan ahlul baitnya. “Allahumma Shalli ‘Ala Muhammad wa ‘Ala Aali Muhammad…” 

Salah satu upaya yang ingin memunculkan kebencian kepada sahabat Nabi saw. Misalnya adalah perayaan Asyuro kaum Syiah. Sebagaimana Pernyataan Prof. H.M.ghalib yang menghadiri hari Asyuro, beliau menceritakan, pada acara itu lampu dijadikan remang-remang dan berbicaralah seorang yang suaranya begitu memukau, ia menarasikan bagaimana sahabat Nabi saw begitu kejam terhadap para ahlul bait Nabi, sehingga isak tangis para peserta –yang mayoritas mahasiswa(i)- terdengar begitu memilukan. Pada akhir acara itu, dibagikan lembaran doa yang melaknat sahabat nabi saw. Dan hal ini rutin diadakan tiap tahun bahkan ditambah dengan hari lain seperti 40 hari syahadah Imam Husain dsb. Keterangan ini berbalik seratus delapan puluh derajat dengan kaum ahlus sunnah. Perilaku sahabat nabi saw dijelaskan dalam riwayat shahih, ketika perjanjian hudaibiyah, utusan dari Makkah mengatakan bahwa tidak ada yang setara dengan umat Muhammad saw dalam memuliakan beliau. Sebagai gambaran, sampai air bekas berwudhu Rasulullah juga dimuliakan. Nah, kecintaan syiah pada ahlul bait lah yang sesungguhnya perlu dipertanyakan (baca: Syiah, Cinta Palsu pada Ahlul Bait) hal yang jarang diungkapkan oleh komunitas syiah ialah Bukti Jalinan Cinta Kasih antara Ahlul Bait dan Sahabat Nabi saw.

Sungguh pemahaman menyimpang ini akan merombak dasar-dasar agama, hingga tidak akan ada yang percaya hadis nabi dan al Quran kita saat ini -yang tidak diriwayatkan dari ahlul bait versi mereka. Baca: Mereka Membongkar Sendi-Sendi Islam
Selesai, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

(ditulis dari ceramah ust. H.M Said Abd. Shamad, Lc/ *Sa)
lppimakassar.com

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More