Kritik atas Judul Buku, “Akhirnya Kutemukan Kebanaran”

Serial tanggapan ke-8 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial tanggapannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Penulis memberi judul kitabnya dengan, Tsumma Ihtadaitu, Akhirnya Kutemukan Kebenaran”, yang dimaksudkan adalah hijrahnya dari keyakinan dahulu yaitu Thariqatuattijaniyah, tarekat Tijaniyah, dan hal itu secara gamblang ia ungkapkan pada kitabnya sebagai keyakinan yang ia anut beserta seluruh keluarganya [1], kemudian ia berpindah keyakinan kepada syiah Rafidhah. Dia mengklaim bahwa dirinya telah mendapat hidayah (na’udzu billah min dzalik), ia mengatakan, “Saya telah banyak membaca dan saya mendapatkan bahwa Syiah berada pada jalan kebenaran, maka saya menjadi pengikut syiah, dan memilih manhaj Ahlu Bait, dan berpegang teguh dan wala’ kepadanya,...” [2]
Maka saya katakan, “Apa yang ia klaim sebagai hidayah yang ia dapatkan adalah pengakuan yang butuh bukti dan petunjukan yang jelas, Allah berfirman:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (١١١)
Artinya: dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani". demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar" [3].
Jika tidak, maka berapa banyak orang kafir ‘Atid, jabbarin ‘Aniid yang mengaku beriman dan mendapat hidayah, padahal mereka adalah gembong orang kafir dan sesat, sebagaimana Allah Azza wajalla telah informasikan perihal orang yahudi dan Nashara dalam firmannya:
وَقَالُواكُونُواهُودًاأَوْنَصَارَى تَهْتَدُواقُلْ بَلْ مِلَّةَإِبْرَاهِيمَ حَنِيفًاوَمَاكَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Artinya: dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah : "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah Dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik". [4]
Dan tentang fir’aun, Allah berfirman:
قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلا سَبِيلَ الرَّشَادِ (٢٩)
Artinya: Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang aku pandang baik; dan aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar" [5].
Dan Allah berfirman pula ketika mengambarkan orang-orang sesat :
وَإِنَّهُمْ لَيَصُدُّونَهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya: dan Sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk. [6]
Dan firmannya:
فَرِيقًاهَدَى وَفَرِيقًاحَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلالَةُإِنَّهُمُ اتَّخَذُواالشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَمِنْ دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُمْمُهْتَدُونَ
Artinya:sebahagian diberi-Nya petunjuk dan sebahagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan syaitan-syaitan pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk [7].
Jika hal ini benar adanya maka perlu ia camkan bahwa Aqidah syiah yang ia anggap  telah mendapat hidayah dengannya, ia adalah Aqidah yang paling rusak, Rafidhah adalah  kelompok paling sesat yang menisbatkan kepada islam, kelompok yang paling jauh dari kebenaran, paling bodoh, dan sekte yang paling dekat kepada kekufuran, dan ini adalah kesepakatan para Imam islam – yang telah kami sebutkan secara terperinci ketika mecela aliran rafidhah- [8], dan sepakat pula para ahli tahqiq dalam firaq, mereka adalah orang yang paling faham tentang maslah perbedaan-perbedaan madzhab ulama, dan pendapat-pendapat mereka, yang mereka telah tegaskan bahwa Rafidhah adalah sekte yang paling jauh dari agama dan yang paling sesat.
Ibnu Hazm mengatakan, Dan kami tidak mengetahui kelompok sesat yang paling besar usahanya untuk merusak islam dari pada Rafidhah.” [9]
Dan Al Baghdadi mengatakan, “Para Ahlu tahqiq ahlu Sunnah mengatakan bahwasanya Ibnu Sauda’ adalah pengikut agama Yahudi, ia ingin merusak agama kaum muslimin dengan ta’wil-ta’wil dusta tentang Ali dan keturunannya, akan tetapi ia juga meyakini seperti apa yang diyakini oleh kaum nasrani terhadap Isa u, maka Rafidhah dinisbatkan As sab’iyah yang mana ia adalah kelompok yang mengikuti hawa nafsu dalam kekufurannya” [10]
Dan setelah menyebutkan rafidhah dan aqidahnya, Asfarainy mengatakan, “Mereka bukanlah apa-apa dalam agama ini (islam) dan bukanlah maksud mereka ingin mewujudkan Imamah, akan tetapi mereka bermaksud untuk menjatuhkan beban syariah dari diri mereka” [11]
Jadi kemana kita akan menisbatkan Rafidhah itu?! kekufuran, zindik dan ahteisme telah memenuhi hati dan akal pikiran mereka.
Adapun pendusta yang satu ini justru menisbatkan dirinya kepada Rafidhah, dan mengumumkan bahwa ia memeluk keyakinan rusak itu, -dan cukuplah kehinaan ia menjadi seorang rafidhah- saya akan tunjukkan perkataannya secara khusus, yang menunjukkan kekeliruan yang ia klaim, dan tenggelamnya ia dalam kekufuran dan penyimpangan. Saya khawatir seseorang akan menyangka bahwa ia telah tertipu, dan tidak mengetahui yang sebenarnya tentang rafidhah. Karena jika tidak, ia tidak akan menisbatkan dirinya kepada Syiah, maka berikut ini kami sebutkan untuk para pembaca beberapa contoh perkataannya yang menyingkap hakekat dirinya.

 http://www.zahra.co.id/images/book/1/10/Akhirnya-Kutemukan-Kebenara.jpg
Ia mengatakan tentang al Qur’an, “Karena Kitabullah saja tidak cukup untuk mendapatkan hidayah, berapa banyak firqah yang membaca al qur’an namun ia tersesat sebagaimana hal itu jelas dalam hadits Nabi r :
كَمْ مِنْ قَارِئٍ لِلْقُرْأَنِ وَالقُرْأَنُ يَلْعَنُهُ
Artinya: berapa banyak yang membaca alqur’an, namun alqur’an melaknatnya
Kitabullah itu diam, banyak yang muhtamal, multitafsir, di dalamnya terdapat ayat Muhkam dan Mutasyabih, maka mesti merujuk kepada orang yang betul-betul faham, sebagaimana ungkapan al qur’an. Dan Cukuplah Ahlu bait sebagai penafsirnya[12]
Apakah ada orang yang mendapatkan hidayah berkeyakinan seperti ini terhadap kitabullah?! Ataukah orang yang sesat lagi pendusta, yaitu golongan yang mendustakan apa yang telah Allah I kabarkan secara jelasketika mensifatkan alqur’an, yang telah menjadikan alqur’an sebagai hidayah kepada (jalan) yang lebih Lurus .
sebagaimana dalam firmannya:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لارَيْب َفِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:  Kitab[11] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. [13]
Dan firmannya:
إِنَّ هَذَاالْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
Artinya: Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus . [14]
Dan firmannya:
وَمَاأَنْزَلْنَاعَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلالِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوافِيه ِوَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. [15]
Dan firmannya:
وَنَزَّلْنَاعَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًالِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri [16]
Dan ayat lainnya yang bermakna sama.
Jika saja orang ini dengan jelas mengatakan bahwa al Qur’an tidak cukup untuk menunjuki manusia kepada hidayah, maka ini merupakan bukti yang nyata akan kesesatannya, bahkan menunjukkan kekufuran dan keatheisannya, karena ia telah mendustakan alqur’an, yang orang awam sendiri faham akan hal itu, bagaimana lagi dengan orang yang mengaku berlimu (seperti tijani).
Dan sisi lain yang menunjukkan kesesatannya, Allah menjelaskan melalui ayat ini,  bahwa al qur’an  adalah petunjuk kepada orang yang beriman dan bertaqwa, jika penulis memandang bahwa Kitabullah tidak bisa menunjuki kepada hidayah, - dan hal ini adalah pernyataan yang keluar dari perasaan yang ia rasakan-maka hendaklah ia ketahui bahwa Allah mensifati kitab-Nya dengan firman-Nya:
قُلْ هُو َلِلَّذِينَ آمَنُواهُدًى وَشِفَاءٌ وَالَّذِينَ لايُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌوَهُوَعَلَيْهِمْ عَمًى أُولَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Artinya; Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh". [17]
Dan Allah juga berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَاهُوَشِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلايَزِيدُالظَّالِمِينَ إِلاخَسَارًا
Artinya: dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
Dan Allah berfirman tentang orang Munafiq:
وَإِذَامَاأُنْزِلَت ْسُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَن ْيَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِه ِإِيمَانًا فَأَمَّاالَّذِينَ آمَنُوافَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Artinya:  dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. [18]
وَأَمَّاالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَتْهُمْ رِجْسًا إِلَى رِجْسِهِمْ وَمَاتُواوَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya: dan apabila diturunkan suatu surat, Maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: "Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?" Adapun orang-orang yang beriman, Maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan Adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, Maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, disamping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam Keadaan kafir. [19]
Dari ayat-ayat ini, dengan pengakuan penulis yang mengklaim alqur’an tidak bisa dijadikan petunjuk bagi makhluk maka jelaslah bagi para pembaca di posisi mana lelaki (dari dua golongan yang Allah sebutkan dalam ayat ini), apakah ia termasuk golongan orang yang beriman yang bertambah keimanan dan hidayah dengan Alqur’an ini, atau termasuk dari golongan munafik yang malah menambah kekejiaannya dan ia butakan hal itu?
Jika ini adalah sikapnya terhadap Al qur’an, maka sikapnya terhadap As Sunnah tidak jauh beda bahkan lebih keras lagi, ia mengatakan, “Kalau saja Al qur’an yang meruapakan kalamullah yang mulia, menyebabkan pertentangan dalam tafsirannya, dan penjelasannya, karena ia adalah kitab yang diam tidak dapat berbicara, yang memuat banyak makna, ada yang jelas dan ada yang tidak jelas, bagaimana lagi dengan hadits Nabi” [20]
Dan ia juga mengklaim bahwa As-Sunnah bukanlah solusi terhdapa berbagai macam persoalan kaum Muslimin, bahkan semakin bingung dengan itu, “Perkataan Rasulullah r bahwasanya al qur’an dan Sunnahnya, bukanlah solusi yang masuk akal bagi kita untuk berbagai macam persoalan kita bahkan kita bertambah bingung dan sering mena’wil (mencoba-coba untuk menafsirkan), yang tidak melapangkan dada para penghasut dan orang menyimpang” [21]
Perkataan dan pendiriannya terhadap Hadits adalah sikap yang merasa tidak butuh kepada agama dan berlepas darinya, Allah berfirman:
وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلامُؤْمِنَةٍ إِذَاقَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًاأَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ
Artinya:  dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka [22]
Dan firmannya:
فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [23]
Adapun komentarnya terhadap shahabat Rasulullah r , “Dan orang-orang yang serakah dalam hadits-hadits ini jumlahnya sangatlah banyak, yang ditakhrij oleh ulama Ahlu Sunnah dalam kitab shahih dan musnad mereka, yang tidak ada keraguan lagi bahwa banyak diantara shahabat yang telah mengganti dan merubahnya, bahkan mereka telah murtad sepeninggal Rasulullah r, kecuali sangat sedikit diantara mereka yang merasakan nikmat” [24]
Ia mengatakan, Alhamdulillah saya telah menemukan pengganti dari pada para Shahabat yang semuanya telah murtad, kecuali sangat sedikit, yangg posisi mereka tergantikan oleh para Imam Ahlu Bait, yang telah disucikan oleh Allah sesuci-sucinya[25]
Ia juga mengatakan, “Saya merasa kasihan kepada terhadap para Shahabat yang tidak takut untuk merubah Hadits” [26]
Ia juga mengatakan, “Inilah sebab utama yang menjadikanku menghindari orang-orang seperti para Shahabat dan orang-orang yang mengikutinya, dimana mereka menta’wil nash-nash (al qur’an maupun hadits) dan mengada-ngada riyawat untuk membenarkan perbuatan Abu Bakar, Umar, Utsman, Khalid bin Walid, Muawiyah, Amr bin Ash, dan saudara-saudara mereka, Allahumma Astagfiruka wa atuubu Ilaik (ya Allah aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) ya Allah aku berlepas diri dari perbuatan dan perkataan mereka yang menyelisihi hukum-Mu, menghalalkan apa yang engkau haramkan, melampaui batas, ampunilah aku terhapad wala’ku terhadap mereka yang telah lalu, yang dimana dulu termasuk orang yang bodoh” [27]
Dan banyak lagi contoh yang menunjukkan penghinaan terhadap Shahabat Rasulullah r, dan mengkafirkan mereka, dan seluruh pendahulu umat ini yang menunjukkan kedengkian dan dendamnya kepada islam serta pemeluknya. Selain itu, ini juga merupakan kemunafikan tersembunyi yang telah membawanya pada vonis serampangan  terhadap umat terbaik dari kalangan Shahabat, dan tabi’in y.
Bahkan perkataannya yang menganggap para Shahabat murtad semuanya kecuali sangat sedikit adalah bukti akan kekufurannya secara jelas dan nyata, sebagaimana pernyataan Syaikhuil Islam Ibnu Taimiyah ketika menjelaskan secara rinci hukum mencela para Shahabat,  “Adapun golongan yang membolehkan hal itu hingga menganggap bahwa mereka para shahabat telah murtad sepeninggal Rasulullah r kecuali sedikit bahkan tidak cukup sepuluh orang, dan menganggap Shahabat fasik secara umum, maka itu tidak diragukan lagi akan kekufurannya, karena mereka telah mendustakan apa yang telah dinyatakan Alqur’an di dalam banyak keadaan, keridhaan kepada mereka, pujian, bahkan barangsiapa yang ragu akan kekufuran perbuatan seperti ini maka ia telah kufur secara nyata, dan pokok dari perkataan ini bahwa yang meriwayatkan alqur’an adalah orang-orang  yang kafir dan fasik. Adapun ayat ini,
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
Artinya: kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
Sedangkan umat terbaik yang dimaksud adalah generasi pertamanya dimana mereka itu kafir dan fasik secara umum menurut orang Syiah, yang pada intinya menyatakan bahwa Umat ini adalah umat yang paling buruk, dan pendahulu umat ini adalah kaum generasi yang sangat buruk” [28]
Pada akhirnya saya menutup uraian tentang laki-laki ini dengan ungkapannya dimana ia berlepas diri dari ahlu Sunnah dan berharap agar dimatikan dalam Aqidah Rafidhah, ia mengatakan, “Jika Ahlu Sunnah adalah hasil rekaan Muawiyah bin Abi Sufiyan, maka kita mengharap kepada Allah Subhana wa ta’ala agar mematikan kita atas bid’ah Rafidhah yang dibangun oleh Ali bin Abi thalib dan Ahlu bait alaihim salam” [29]
Dari pernyataan-pernyataannya, maka para pembaca dapat mengetahui secara jelas posisi lelaki ini dalam agama ini. Dapat kita ketahui tingkat kejujurannya terhadap apa yang ia serukan. Dan sebelum kita akhiri bagian ini, saya ingin sampaikan satu pokok penting yaitu: sesungguhnya laki-laki ini dengan apa yang  ia serukan dimana sebelumnya ia bukanlah  seorang Rafidhah kemudian mendapat ‘hidayah’ menjadi Rafidhah, namun dalam beberapa perkataannya jelas menunjukkan bahwa ia tumbuh dalam keluarga yang menasabkan kepada as saddah , ia telah lari diri dari Iraq  yang dengan pelarian ini ia menganggap telah kembali kepada asalnya, ia mengatakan, “Dan dengan itu aku telah kembali kepada asalku, sungguh ayah dan paman-pamanku mencerikatan kepada kami berdasarkan pohon yang mereka ketahui bahwa mereka berasal dari as saddah yang lari dari Iraq, dibawah tekanan bani Abbasiyah, dan bertolak ke arah kanan Afrika yang kemudian mereka bermukim di Tunis dan sisa peninggalannya masih ada sampai hari ini” [30]
Ini menunjukkan bahwa ia adalah asli Rafidhah dan kemudian keluarganya ternodai dengan Keyakinan yang lama,  setelah beberapa tahun lamanya kemalangan menimpanya yang di dalamnya terdapat pelajaran bagi setiap yang ingin mengambil pelajaran. Olehnya kita memohon kepada Allah nikmat dan kemuliaannya serta keselamatan dariNya.
Ooooo000ooooO
Oleh: Prof. Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal.
Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com




[1] Lihat : Tsumma Ihtadaitu hal. 10-11
[2]Tsumma Ihtadaitu 156
[3] Al baqarah :111
[4] Al baqarah : 135
[5]Ghafir : 29
[6] Azzukhruf : 37
[7] Al a’araf : 30
[8] Lihat al intishar li ash sahib wal ali hal 112-119
[9] Al fashlu fil milal wal ahwa’ wa al Nahl libni Hazam juz 4/57
[10] Al farqu baina al firaq li Albaghdadi hal : 235
[11] Al Tabshir fi al Din lil asfarainy hal. 41
[12] Tsumma Ihtadaitu hal. 180
[13] Al baqarah: 2
[14] Al isra: 9
[15] An nahl: 64
[16] An nahl: 89
[17] Fushshilat : 44
[18]Al Isra : 82
[19] At taubah : 124-125
[20]Laakuunama’ashShadiqinhal. 128
[21]Laakuuna ma’ash Shadiqin hal. 129
[22] Al ahzab: 36
[23] An nisa: 65
[24] Tsumma Ihdataitu hal. 65-66
[25]Ibid156
[26]Ibid 128
[27]Ibid 188
[28] Ash Shorim Al maslul ala syatim Al Rasul r hal. 586-587
[29][29] Asy Syiah hum Ahlu Sunnah hal. 87
[30] Asy SYiah hum ahlu Sunnah hal. 87

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More