Hasan dan Husain Penyejuk Mata dan Hati Rasulullah

Orang yang ingin mengetahui hakikat ridha pada perbuatan-perbuatan Allah ta’ala dan cara munculnya sikap tersebut aku sarankan mengkaji perikehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena, sesudah sempurna pengetahuannya tntang Allah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun meyakini-Nya sebagai Pemilik, dan seorang pemilik berhak melakukan apa saja terhadap apa-apa yang dimilikinya.
Beliau juga yakin bahwa Dzat Yang Mahabijaksana tidak akan membuat sesuatu sia-sia. Karena itu, beliau pun pasrah seperti seorang budak yang pasrah pada majikan yang bijaksana, lalu berbagai keajaiban pun diberikan kepadanya. Separah apapun terpaan takdir terhadapnya, beliau tetap tabah, tidak mengeluh dan tidak pernah mengatakan, “Andai saja yang terjadi adalah begini.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tegar menghadapi ketetapan-ketetapan takdir seperti ketegaran gunung menghadapi terpaan badai.
Pemimpin para rasul itu shallallahu ‘alaihi wasallam diutus kepada umat manusia sendirian ketika kekafiran telah memenuhi semesta. Beliau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan bersembunyi di rumah Khaizuran. Orang-orang kafir memukulinya jika beliau keluar rumah hingga tumitnya berdarah.[1] Kotoran binatang dibuang ke punggungnya tetapi beliau tetap diam dan tenang. Beliau pergi di setiap musim haji dan menawarkan, “Siapa yang mau memberiku tumpangan? Siapa yang mau menolongku?” Beliau meninggalkan Mekah dan tidak bisa kembali ke sana kecuali dengan perlindungan orang kafir. Walaupun begitu, jiwa beliau tidak pernah mengeluh dan hati beliau tidak pernah protes.
Andai saja hal-hal seperti itu menimpa orang lain, tentu ia akan langsung berdoa, “Duhai Tuhanku, Engkau penguasa seluruh makhluk dan kuasa memberi pertolongan, mengapa aku mesti terhina?” kalimat seperti inilah yang dikatakan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu saat penandatanganan Perjanjian Hudaibiyah, “Bukankah kita ada di pihak yang benar? Mengapa kita mesti terhina karena agama kita?” maka beliau menjawab, “Aku adalah hamba Allah dan Dia tidak akan menelantarkanku.”[2]
Jawaban beliau ini mencakup dua hal yang telah kusebutkan. Sabda beliau “Aku adalah hamba Allah” adalah pengakuan akan kepemilikan Allah, beliau seolah-olah mengatakan, “Aku adalah milik Dzat yang berhak melakukan apa pun terhadap diriku,” sedang sabdanya “Dia tidak akan menelantarkanku” menjelaskan kebijaksanan-Nya, dan Dia tidak mungkin melakukan sesuatu secara asal-asalan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah diuji dengan kelaparan, lalu beliau mengikatkan batu di perutnya, gigi seri beliau dipatahkan dan pamannya dicincang[3] tetapi beliau tetap diam, beliau dianugrahi anak namun kemudian ditarik (diwafatkan). Beliau mencari hiburan dari Hasan dan Husain tetapi beliau justru diberi tahu tentang apa yang akan terjadi pada mereka.[4]
Beliau sangat mencintai Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu beliau pun amat bersedih karena tuduhan berzina diarahkan kepadanya. Beliau habis-habisan dalam memperlihatkan berbagai macam mukjizat, namun ia justru ditantang oleh Musailamah[5], al-Anasi[6] dan Ibnu Shayyad. Beliau berusaha keras menegakkan amanah dan kejujuran, tapi orang-orang justru menuduhnya sebagai seorang pendusta dan penyihir. Rasa sakit dan kematian menghampirinya dengan sangat keras, tetapi beliau tetap tabah dan tenang,[7]  kemudian ruhnya yang mulia dicabut dari tubuhnya ketika beliau berbaring dalam pakaian yang kasar, dan ketika itu keluarganya tidak punya minyak untuk menyalakan lampu.
Nabi-nabi lain alaihimus salam bila diuji dengan penderitaan-penderitaan yang telah ditimpakan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam tentu tak akan bisa bersabar menghadapinya menurut semestinya, bahkan para malaikat pun tak akan bisa bersabar menghadapinya.
Nabi Adam alaihis salam diperbolehkan menikmati seluruh kesenangan surga namun ternyata nafsunya justru tertarik pada sesuatu yang terlarang. Sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam malah bersabda, “Apa kaitanku dengan dunia?”[8] tentang sesuatu yang mubah.
Nabi Nuh alaihis salam mengeluh dengan keras karena sesuatu yang dihadapinya, dan karena dorongan kesedihannya yang mendalam, beliau pun berdoa, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi” (QS. Nuh [71]: 26). Sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam saat didustakan kaumnya, justru berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”[9]
Nabi Musa alaihis salam meminta pertolongan saat kaumnya menyembah anak sapi, “Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka.” (QS. Al-A’raf [7]: 155), dan ketika Allah telah mengiriminya malaikat pencabut nyawa, beliau alaihis salam justru menampar dan merusak mata malaikat yang berwujud manusia itu.[10]
Nabi Isa alaihis salam mengatakan, “Ya Allah, jika Engkau memang menjauhkan kematian dari seseorang, maka jauhkanlah ia dariku,” sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam malah memilih pergi kea lam baka saat disuruh memilih hidup di dunia atau pergi ke sana.[11]
Nabi Sulaiman alaihi salam berdoa, “Berilah aku kekuasaan,” sedangkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam malah berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada keluarga Muhammad makanan sehari-hari.”[12]
Demi Allah, tindakan yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah tindakan seseorang yang benar-benar telah mengetahui Allah dan makhluk-Nya, dan karenanya seluruh ambisinya menjadi punah, dan semua protesnya menjadi lenyap, sehingga cintanya pun hanya tertuju pada sesuatu yang terjadi.
Oleh: Ibnu Jauzy rahimahullah dalam kitab Shaid al-Khatir, Nasehat Bijak Penyegar Iman, Darul Uswah, Yogyakarta, Cet. I, September 2010, hal 388-391.


[1][1] As-Sirah an-Nabawiyah Ibnu Hisyam, 1/260 dan Majma’ az-Zawaid, 5/38
[2] Hadis riwayat Bukhari nomor 2731-2732 dan Muslim nomor 1785
[3] Ini terjadi pada waktu perang Uhud
[4] Hadis riwayat Ahmad, 1/85 dan ath-Thabrani nomor 2813 dari hadis Anas radhiyallahu ‘anhu.
[5] Abu Tsumamah Musailamah bin Tsumamah al-Hanafi al-Kadzdzab, orang yang mengaku nabi dan diberi umur panjang, ia sering membuat sajak-sajak yang mirip dengan Al-Qur’an. Sesudah menjadi khalifah, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memerintahkan Khalid bin Walid radhiyallahu anhu untuk memeranginya hingga berhasil membunuhnya pada tahun 12 Hijriyah. Lihat Al-Kamil, Ibnul Atsir, 2/137 dan Al-A’lam, 7/266.
[6] Dzul Khimar Uhailah bin Ka’ab, orang yang mengaku nabi dan pandai bermain sulap yang berasal dari Yaman. Ia adalah orang yang kejam dan bengis. Ia murtad pada saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Kekuasannya terus meluas hingga ia terbunuh pada tahun 11 Hijriyah. Lihat Al-Kamil, Ibnul Atsir, 2/137 dan Al-A’lam, 5/111.
[7] Hadis riwayat Bukhari nomor 5648 dan Muslim nomor 2571 dari hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu.
[8] Hadis riwayat Bukhari nomor 2613 dari Hadis Ibnu Umar radhiyallahu anhuma.
[9] Hadis riwayat Bukhari nomor 6929 dan Muslim nomor 1792 dari hadis Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu.
[10] Hadis riwayat Bukhari nomor 3407 dan Muslim nomor 2372 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam salah satu tulisannya menjelaskan bahwa di antara kemuliaan para Nabi di sisi Allah adalah bahwa mereka diberi pilihan menjelang kematian, antara hidup di dunia atau berpindah ke Rafiqil A’la. Penulis kitab ini ingin menjelaskan bahwa Nabi Musa memilih tetap hidup, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk berpindah ke Rafiqil A’la.
[11] Hadis riwayat Bukhari nomor 3904 dan Muslim nomor 2383 dari hadis Abu Sa’id radhiyallahu anhu.
[12] Hadis riwayat Bukhari nomor 6460 dan Muslim nomor 1055 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu anhu.

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More