Dr. Abas Mansur Tamam ‘Mengupas Liberal dari al-Azhar’

Abas lahir di sebuah desa kecil. Tepatnya di Lumbung-Ciamis, Jawa Barat. Meski dari pelosok, ia mempunyai tekad yang besar. “Suatu saat aku ingin meraih ilmu setinggi mungkin untuk mendakwahkan dan membela agama Islam yang mulia ini,” begitu batinnya berkata.
Beruntung ia mempunyai orang tua yang bijak. Sejak kecil ia dididik untuk mengaji. Ia tekun menjadi ‘santri kalong’. Berangkat mengaji sebelum maghrib dan pulang setelah shalat shubuh. Hingga sebelum memasuki Madrasah Ibtidaiyyah (MI), anak kecil yang dipanggil Jang Abas itu, sudah lancar membaca al-Quran dengan tajwidnya. Ia pun sudah mulai belajar kitab Safinatun Najah, kitab fiqih untuk pemula  dalam Madzhab Syafi’i.

Persis memasuki MI, Haji Mansur (alm) orang tuanya menitipkannya untuk mengaji di bawah asuhan seorang Kyai, Mama Aun.Ia mulai bergabung dengan santri mukim di kampungnya. Tentu dengan status sebagai santri kalong. Di pondok kecil ini, setelah dzuhur sepulang dari sekolah ia mengaji. Kemudian bermain sebagaimana anak-anak seusianya. Setelah asar kembali mengaji, kemudian menginap hingga pagi harinya. Hampir semua kitab klasik yang diajarkan kepada santri mukim, juga diikutinya.
Sebuah aktifitas yang menarik, tetapi tidak lazim bagi anak-anak seusianya waktu itu. Banyak anak-anak yang penasaran ingin tahu tentang apa yang dipelajari. Sehingga masih teringat dalam memorinya, ketika membuat halaqah-halaqahan di hadapan teman-teman bermain. Menyampaikan dosa mata, dosa telinga dan lain-lain, fasal-fasal yang dikajinya dari Sullamut Taufiq, kitab tasawuf pemula.
Pendidikan kepesantrenan yang lebih serius, mulai digelutinya ketika memasuki Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Kawali. Karena jarak yang jauh, ia memutuskan untuk mondok mukim di Pesantren Nurul Huda, Kawali. Tetapi gerbang ilmu-ilmu keislaman sesungguhnya mulai dilakoni ketika memasuki Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, tahun 1987.
MAPK didirikan oleh almarhum Munawari Sadjali, Menteri Agama saat itu, karena keprihatinannya terhadap tradisi keulamaan di tanah air.Ulama dianggap sebagai makhluk langka yang terancam kepunahan. Maka Madrasah Aliyah itu menjadi pilot  projek untuk mencetak para ulama.
KH Irfan Helmy (alm), pengasuh Pesantren, sangat berjasa membuka program keislaman yang hanif di situ. Motto pesantren Darussalam: Muslim yang moderat, Mukmin yang demokrat, Muhsin yang diplomat, serius diajarkan. Dengan motto itu, Sang Kyai ingin membangun karakter santri-santri yang dibinanya.
Tradisi keislaman yang diajarkan Kiyai Irfan genuine dan mengakar dalam khazanah/turats Islam. Para santri dibina dengan Keislaman yang kokoh sebagai worldview yang mempengaruhi cara pandang, watak dan perasaan, serta perilaku. Keislaman yang teguh dalam prinsip, memiliki standing point yang jelas dalam setiap persoalan keislaman, tetapi toleran menghadapi perbedaan pendapat (khilafiyyat  far’iyyah).
Pimpinan pesantren mengajarkan agar setiap setiap santri memiliki tanggung jawab atas persoalan, tantangan dan masa depan Islam. Dalam perjuangan dikedepankan pendekatan yang diplomatis, selagi mungkin. “Ihsan memang etos tertinggi dalam Islam. Ia adalah kearifan, manifestasi dari Iman dan Islam. Betapa tegas dalam kaidah fiqih dakwah, bahwa seseorang harus menegakkan amar-makruf dan nahyil munkar, tetapi dengan cara yang tidak mendatangkan kemunkaran yang lebih besar,”terangnya kepada Islamia Republika. Sambil mengenang gurunya yang alim itu, ia menjelaskan, “Orang yang berbuat tanpa ilmu, sesungguhnya ia lebih banyak merusak ketimbang melakukan perbaikan.”
Semangatnya mencari ilmu di manapun berada, membuatnya ingin melanjutkan pendidikan tinggi ke Timur Tengah. Keinginannya belajar di sana sebenarnya telah tertanam sejak kecil, yaitu saat duduk kelas IV Madrasah Ibtidaiyyah. Yakni ketika ayahnya baru pulang ibadah haji, tahun 1982. Berangkat haji dengan visa umrah Ramadhan dan pulang setelah selesai ibadah haji ngetren pada masa itu. Lamanya bermukim menunggu ibadah haji itu, membuat bapaknya mengenal bagaimana anak-anak di Makkah dan Madinah belajar di masjid-mesjid. Cerita-cerita itu sering diperdengarkan kepadanya, sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarganya.
Harapan ayahnya akhirnya terwujud. Tahun 1992 ia berangkat untuk belajar di Universitas al-Azhar di Kairo, atas beasiswa dari Departemen Wakaf Mesir.
Menurutnya, pergumulan dunia ilmu di Al-Azhar, dan Mesir pada umumnya, sungguh menarik. Negeri seribu menara itu mirip dengan perpustakaan besar. Ilmu-ilmu keislaman yang serius dengan mudah bisa diakses di mana-mana, dan buku-buku di sana sangat murah. Begitu pula dengan wacana keislaman dari berbagai perspektif, dari yang paling kiri hingga yang paling kanan. Meski begitu terbukanya wacana Keislaman di sana, Abas tetap teguh memegang komitmennya kepada Islam. Ia sangat mencintai seluk beluk tentang hadist Nabi, sehingga mata kuliah-yang berkenaan dengan hadits, ia mendapat nilai yang sangat bagus.
Di Mesir, laki-laki yang beristrikan Atih Cenderawasih ini, mengambil jurusan Akidah dan Filsafat. Gara-garanya karena ia terkesan dengan nasihat dari Syeikh Abdul Halim Mahmud, Grand Syeikh Al-Azhar jurusan Akidah dan Filsafat. Syeikh Mahmud menulis bahwa orang yang belajar di jurusan itu akan tertantang untuk menguasai disiplin ilmu-ilmu lain. Karena mata kuliah yang diajarkan lebih bersifat metodologis dan interdisipliner, sehingga berpeluang untuk menjadi orang yang multi-disipliner dalam kajian keislaman.
Dengan ketekunannya, akhirnya ia bisa menyelesaikan pendidikan di Universitas  Al-Azhar dari jenjang S-1, S-2  dan S3.
Sewaktu mengambil magister, ia menulis tesisnya dengan serius. Ia membandingkan dua buku rujukan penting dalam bidang politik. Tesis magisternya itu disidangkan pada 25 September 2005. Judulnya “Al-Akhlak was Siyasah: Muqarinah Baina al-Mawardi fi Kitabihi Tashilun Nadzar wa Machiavelli fi Kitabihi al-Amir” (Moral dan Politik: Perbandingan antara Mawardi di dalam Bukunya Tashilun Nadzar dengan Machiavelli dalam Bukunya Il Principe). Dalam karya ini ia menunjukkan bahwa politik dalam Islam, mesti berlandaskan pada nilai-nilai dalam syariah. Beda dengan politik Barat yang bebas nilai. Tesis ini dikomentari oleh Prof Abdul Latif Muhammad al-Abd, guru besar Filsafat Islam dari Universitas Cairo, sebagai karya akademis dari orang yang memiliki ghirah dan tanggung jawab ilmiah terhadap agamanya. Tesisnya mendapat nilai cum laude.
Sedangkan disertasi doktoralnya dimunaqasahkan pada 26 Oktober 2010, dengan judul: "Al-Ittijah Al-Liberaly fi Indonesia fi Al-Fikri Al-Muashir: Dirasah Tahliliyyah Naqdiyyah min Mandzurin Islamy" (Tren Liberal dalam Pemikiran Islam di Indonesia: Studi Kritik). Disertasi yang oleh komisi penguji dalam sidang terbuka dianggap mewakili perspektif Al-Azhar dalam menganalisa wacana pemikiran kontemporer ini, mendapat nilai Summa cum laude.
Kini pemegang gelar Doktor dari Universitas Al-Azhar Kairo ini, mengabdikan dirinya dengan menjadi dosen tetap di Pasca Sarjana Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor. Pria kelahiran 5 Februari 1971 ini, mengajar pula di Pusat Studi Kajian Timur-Tengah dan Islam, Universitas Indonesia dan Al-Ma’had al-Aly an-Nuaimy, Jakarta.* 
sumber: insistnet.com

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More