Ulama Sebagai Ekosistem Peradaban

http://3.bp.blogspot.com/-XOIWB8b06tg/UUGSIisUMvI/AAAAAAAAAb4/Uz8_Ru8rMmA/s1600/ulama+ekosistem.jpeg
Suatu ketika, Khalifah Abdulah Al-Makmun bin Harun Ar-Rasyid  yang lebih dikenaldengan Al-Makmun –salah satu penguasa pada era Bani Abbasiah priode 813-833 M—mendatangi seorang ulama pada masanya, menjadi kebiasaan baginya jika ingin meminta nasihat dan petunjuk pasti rujukannya adalah para ulama. Dalam pertemuan tersebut dialog antara khalifah dan sang ulama terekam dan diabadikan oleh sejarah, berikut petikan dialognya:
Khalifah, “Saya datang kesini untuk mendapat nasihat dari Anda, nasihatilah saya!” Maka ulama itu pun meminta kepada sang khalifah untuk mengambil air putih, “Tolong ambilkan saya segelas air putih!”. Setelah segelas berisi air putih dalam genggaman Al-Makmun, maka sang ulama pun bertanya, “Bagaimana bayangan Tuan kalau seandainya Tuan melakukan perjalanan di tengah padang pasir selama tiga hari tiga malam dan tidak pernah mendapatkan air minum, tiba-tiba ada seseorang yang datang membawa segelas air putih seperti dalam genggaman Tuan itu, menurut Tuan berapakah taksiran harga segelas air putih itu?” dengan tanpa berpikir  Al-Makmun menjawab, “Aku akan membeli air putih ini dengan harga separuh dari seluruh harta kerajaanku,kalau begitu silahkan tuan minum air putih itu!” perintah sang ulama.
 
Setelah itu sang ulama bertanya lagi, “Kalau seandainya air yang telah Tuan minum itu semuanya membeku dan menjadi batu dalam perut, tidak mau keluar dan menjadi penyakit mematikan, maka menurut Tuan berapa taksiran harga yang akan tuan bayar untuk mengeluarkan air yang telah membatu itu?” Khalifah menjawab dengan seriusnya, “Aku akan membayar dengan separuh harta kerajaanku yang tersisa!” “Kalau begitu harga seluruh kerajaan Tuan di mata Allah hanyalah segelah air putih,” nasihat sang Ulama. 
Dialog di atas memberikan pelajaran berharga pada kita, bahwa harus ada sinergitas antara umara dan ulama. Ulama menjadi rujukan utama para penguasa dalam menjalankan roda pemerintahannya, terlebih yang ada kaitan dengan agama sebagai sumber ajaran moral. Moral adalah intrumen terpenting dalam sebuah negara bahkan peradaban, dan umara yang tak bermoral akan menggiring para rakyatnya menuju kehancuran, bisa saja dari segi fisik suatu negara bisa dikategorikan maju namun tidak dari sisi moral atau adab sebagai sumber tegaknya peradaban. 
Agar penguasa dapat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sesuai harapan umat. Umara tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dan mengabaikan peran para ulama karena bagaimanapun para ulama inilah yang menjadi juru petunjuk dalam kesesatan, cahaya dalam kegelapan, laksana bintang-bintang yang memberikan petunjuk kepada para pengembara di tengah lautan atau padang pasir pada malam gelap gulita. Sebagimana sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana  bintang di langit yang menjadi pedoman dalam kegelapan di darat dan di laut. Maka apabila bintang telah gelap maka hampirlah juru petunjuk itu sesat”.
 
Siapapun yang menyulut api permusuhan terhadap para ulama, maka secara langsung mereka mengatakan perang terhadap Allah, karena dari merekalah kebenaran dapat terungkap, pesan Allah di muka bumi ini dapat dipahami dan direalisasikan, dari titah para ulama sehingga kemungkaran direduksi baik secara indipidu maupun secara kolektif. Ulama adalah wakil Allah di bumi ini.
Dari sentuhan tangan ikhlas para ulama sehingga dakwah islamiyah tetap berjalan dan terus berkembang yang pada akhirnya melahirkan muslim yang taat dan sejati dari satu tempat ke tempat lain serta dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tranmissi agama ini berasal dari para ulama, mereka adalah mata rantai agama dari zaman generasi emas khaerul qurun hingga generasi pemburu emas saat ini.
Ulama adalah agen perubahan agent of change sekaligus pemelihara ekosistem peradaban, dengannya peradaban dapat terbangun dengan kokohnya dan tanpanya peradaban akan punah. Peradaban yang acuh kepada para ulama adalah peradaban yang lemah, rapuh, kropos, dan hanya menunggu kehancuran karena ulama dapat berfungsi sebagai pemelihara ekosisten peradaban. 
Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penduduk muslim yang cukup banyak dari segi kuantitas, maka secara otomatis negara ini juga harus memiliki ulama yang dapat membimbing para umatnya. Kita semua tentu kenal sebuah lembaga yang sangat terhormat yaitu Majelis Ulama Indonesia yang populer disingkat dengan MUI. Dari segi bahasa majelis adalah tempat duduk, namun dalam istilah yang lebih luas dapat pula berarti perkumpulan. Ada pun ulama berasal dari kata ‘alim atau orang berilmu, jadi majelisul ‘ulama adalah kumpulan orang-orang yang dianugrahi atau telah memiliki ilmu yang tinggi.
Kata ‘alim dalam Alquran terulang sebanyak 106 kali, namun kata ulama tersebut dalam Alquran hanya dua kali saja. Pertama, dalam konteks ajakan Alquran untuk memperhatikan turunnya hujan dari langit, gunung-gunung dan beraneka ragam jenis dan warna  buah-buahan, hewan dan manusia maka sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama,”(QS. 35: 28). Yang dimaksud dengan ulama di sini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah, yakni mereka yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah yang bersifat kauniyah (Sains atau alam semesta), di samping ayat-ayat qauliyah (teks Alquran). Allah menciptakan alam semesta ini sebagai ayat-ayat kauniyah (teks/tanda alam semesta) yang keduanya saling melengkapi. Oleh karena itu, istilah ulama dalam bahasa Arab moderen juga berarti para cendekiawan dalam salah satu bidang sains dan teknologi. Kedua, dalam konteks membicarakan tentang kebenaran Alquran dan Nabi Muhammad saw sebagai penutup para nabi yang telah lama diketahui oleh ulama Bani Israil, (QS. 26:197). Ada pun pengertian  ulama pada ayat ini ialah para ahli agama yang mampu memahami arti dan maksud dari teks-teks kitab suci dengan baik dan benar. (Ibnu Katsir, 200:1130).
Oleh karena itu, berdasar dari kedua ayat tersebut di atas, maka pengertian ulama menurut Alquran dengan dua konteks berbeda itu adalah “orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang ayat-ayat Allah swt, baik yang qauliyah maupun yang kauniyah.”
Dan ada pun tugas utama seorang ulama dalam pandangan Alquran adalah sebagai pewaris para nabi waratsatul anbiya’, maka ulama mengemban beberapa fungsi sebagaimana dinyatakan dalam Alquran, yaitu: 1) tabligh (menyampaikan pesan-pesan agama) yang menyentuh hati dan merangsang pengamalan, misalnya Q.S. al-Nisa: 63, 2) tibyan (menjelsakan masalah-maalah agama berdasarkan kitab suci) secara transparan, misalnya  Q.S. al-Nahl: 44, 3) tahkim (menjadikan Alquran sebagai sumber utama dalam memutuskan perkara) dengan bijaksana dan adil, mislanya Q.S. al-Baqarah: 213, dan 4) Uswah hasanah (menjadi teladan yang baik) dalam pengamalan agama, misalnya Q.S. al-Ahzab: 21.
Sulawesi Selatan juga termasuk salah satu daerah yang telah banyak memperoduksi ulama, bahkan ulama mendapat posisi terhormat di mata masyarakat Sulawesi khususnya etnis Bugis, Makassar, dan Mandar. Ada Syekh Yusuf Al-Makassar ulama kharismatik, pejuang agama dan pembela tanah air, pahlwan di dua negara Indonesia dan Afrika Selatan yang berasal dari Butta Gowa, ada Al-Allama Anre Gurutta Muhammad As’ad yang menjadi pencetak ulama di Sulsel, dan begitu pula Imam Lapeo di Tanah Mandar.
Untuk itu, demi terus terjaganya mata rantai agama ini, maka diharap partisipasi pemerintah agar memberi ruang dan menyediakan pasilitas bagi lembaga yang bisa mencetak kader-kader ulama yang mumpuni, siap berjuang untuk membela agama Allah, mendidik dan menuntun umat dari kesimpang-siuran, menjadi penyuluh dalam keremangan, dan terus menerus menegakkan kebenaran. Wajib bagi kita memilih pemimpin yang menghargai ulama dan meninggalkan pemimpin yang hanya mengunjungi ulama jika masa pemilu menjelang. Wallahu A’lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More