Syiah Mengancam Keutuhan NKRI


Makassar (lppimakassar.com) Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Makassar beserta segenap komponen masyarakat melakukan audensi dengan Kesbangpol (Kesatuan Bangsa dan Politik) di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Rombongan disambut oleh Bapak Hardi Sanusi dan segenap staf Kesbangpol di ruangan pertemuannya, yang berada di lantai satu Gedung H Kantor Gubernur.
Turut hadir dalam audensi di atas adalah beberapa perwakilan dari masyarakat, dan ormas-orams Islam, seperti Fornt Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII),  Hidayatullah, LDK lintas kampus, dan lainnya. Padahal informasi yang disebar dalam pertemuan ini sangat dibatasi, namun diluar dugaan, masyarakat begitu antusias ingin tahu sikap pemerintah dalam menangani aliran yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam yang benar.
Pertemuan ini pada dasarnya hanyalah tindak lanjut dari rangkaian pertemuan sebelumnya, terutama pertemuan bersama Kabinda (Kepala Badan Intelejen Daerah) Bapak Brigjen H. Kaharuddin Wahab pada tanggal 18/3/2013 di Mess Maruki Makassar. Pertemuan saat itu juga dihadiri oleh Bapak Hardi Sanusi dari Kesbangpol dan juga dari Kodam Wirabuana VII.
Audensi dimulai pada pukul 14.00 dan berakhir ketika azan Asar berkumandang. Diawali dengan pembukaan dari pihak Kesbangpol, lalu mempersilahkan pada kepala rombongan, Ustad Said Abd. Shamad untuk mengungkapkan secara jelas dan ringkas maksud dan tujuan kedatangannya. Kali ini Ketua LPPI itu mengutarakan dengan singkat, katanya. “Syiah, selain menyesatkan umat, mereka juga sangat mengancam keutuhan NKRI pada masa-masa yang akan datang, dan saya berani bersumpah akan hal ini, sebagaimana yang telah terjadi pada negara-negara Islam lainnya, contohnya adalah Iraq dan Suriah, untuk itu pemerintah yang notabenenya digaji dari uang rakyat, seharusnya mereka harus meneliti dan segera menghentikan penyebaran dakwah mereka di tengah masyarakat umum,” pungkasnya.

Salah satu bukti nyata –lanjut alumni LIPIA ini— adalah maraknya penjualan buku-buku Syiah di tengah masyarakat yang content utama buku-buku tersebut adalah berisi hasutan untuk mengadakan revolusi sebagaimana yang telah terjadi di Iran. Revolusi yang selalu ditunggu-tunggu oleh kaum Syiah adalah revolusi yang akan meruntuhkan pemerintahan yang zalim dengan artian sempit yaitu setiap pemerintah yang tidak berkiblat ke Iran. Bagi Syiah, siapa pun yang tidak semazhab dengannya adalah harus dilawan dan dihabisi.
Pernyataan Ustad Said diamini oleh Drs. Sirajuddin, Sekjen FUI Sulsel dan Wakil Dewan Syuro KPPSI, beliau membagikan selebaran berjudul “Penyelewengan Syiah”, yang berisi beberapa poin penting sebagai berikut: Paham Syiah terdiri dari beberapa aliran, tapi yang besar hanyalah tiga, yaitu (1) Syiah Imam 12 (Ja’fariyah); (2) Syiah Zaidiyah; dan (3) Syiah Ismailiah. Penyelewengan dari sudut akidah, Syiah berpendapat bahwa (1) Khalifah diwasiatkan secara nash; (2) Imam adalah maksum; (3) Ilmu Allah SWT berubah-ubah, mengikuti sesuatu peristiwa yang terjadi atas manusia; (4) Imam Mahdi akan muncul di dunia bersama dengan orang-orang yang telah mati untuk menjadi saksi; (5) Boleh berbohong untuk hal yang membahayakan diri atau harta bendanya; (6) Konsep ‘al-Mahdiah’ ialah meyakini bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari sebagai Imam Mahdi al-Muntazar; (7) Penyanjungan yang berlebihan kepada Saidina Ali bin Abi Thalib; (8) Mengkafirkan para Sahabat Nabi, kecuali hanya segelintir; (9) Menuduh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Muawiyah sebagai empat berhala Quraisy serta pengikut-pengikut mereka adalah musuh Allah SWT; (10) Hanya Ali  dan para Imam saja yang menghafal dan menghimpun Al-Quran dengan sempurna; (11) Menghalalkan nikah mut’ah; (12) Menambah syahadat dengan kalimat, “Wa anna ‘aliayan amirul mu’minin”; dan (13) Menolak Hadits yang diriwayatkan oleh Ahlussunnah wal Jamaah sekalipun itu adalah Hadits mutawatir (tidak diragukan kebenarannya). Penyelewengan dari sudut Syariat: (1) Menolak ijmak Ulama; (2) Menolak Qiyas; dan (3) Mengamalkan nikah mut’ah. Ada pun penyelewengan-penyelewengan lain yang dilakukan syiah adalah: (1) Menziarahi kuburan Saidina Husein ganjarannya surga; (2) Menyiksa-nyiksa diri dengan memukul-mukul badan sampai berdarah-darah, pada peringatan hari Asyura, setiap 10 Muharram; (3) Menghina istri-istri Nabi; (4) Mengharuskan menjamak salat dalam semua keadaan; (4) Imamah dan Khilafah adalah bagian dari rukun Islam dan berlaku sesuai nash; (5) Shalat Dhuha adalah bid’ah; (6) Haji Bukan rukun Islam; dan (7) Wajib menyapu kedua kaki dan tidak cukup dengan hanya membasunya.
Selain itu –menurut penulis buku, Agenda Umat dan Syariat Islam, 2011, ini— Syiah tidak bisa diajak berunding untuk menjatuhkan vonis sesat terhadap mereka, karena bagi mereka, berbohong adalah sebuah ibadah. Jadi –menurut sesepuh aktivis Islam yang telah menulis lima buku ini— Syiah harus dihentikan secara sepihak tanpa mengajak mereka berunding, hanya inilah jalan satu-satunya. Dan saya ingatkan kepada pemerintah, “Inilah saatnya kita berbuat untuk kemaslahatan umat demi menegakkan kebenaran, dan akan menjadi saham buat kita semua di akhirat. Ingat, kita semua akan mati, dan pemeritah akan dituntut di hari akhirat kelak jika membiarkan kesesatan merajalela, yang disebarkan oleh Syiah!” Tuturnya dengan nada keras.
Ada pun Drs. Muhammad Nusran, M.Sc. dosen UMI, dan Ketua Penelitian Halal Centre UMI, memaparkan fakta dan data-data dari jejaring sosial seperti facebook terkait pernyataan-pernyataan Syiah yang mengancam keutuhan NKRI. Salah satunya adalah, statemen seorang Syiah yang menulis. “Kapan Indonesia ada peperangan antara Syiah dengan Sunni? Saya tunggu itu!” dan berbagai macam pernyataan dari orang-orang Syiah yang terang-terangan menyebarkan permusuhan terhadap Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi mazhab akidah anutan resmi masyarakat Indonesia. Untuk itu –papar pengurus DDII Sulsel ini— Syiah harus dihentikan secepatnya, sebelum menimbulkan kekacauan yang lebih parah.
Perwakilan dari Lembaga Dakwah Kampus (LDK) juga tak mau ketinggalan angkat bicara, kali ini, dari UNM, Wardianto Simbala, mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Bahasa Inggris, ia menuturkan pengalaman empirisnya melihat fenomena Syiah di kampusnya, beliau menyampaikan bahwa akhir-akhir ini, mading-mading di UNM dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang menyerukan ajakan untuk nikah kontrak berkedok agama, fenomana ini sudah banyak terjadi dan telah meresahkan para mahasiswa yang peduli akan nilai-nilai agama dan budaya lokal tentang kesakralan pernikahan. “Telah banyak bukti yang menunjukkan adanya tren nikah tanpa memenuhi rukun dan syarat pernikahan yang telah ditetapkan oleh agama versi Ahlussunnah. Mereka menikah seenaknya dan tinggal sekamar, ini semua harus segera diatasi oleh pemerintah.”
Salah satu bentuk penyebaran virus sesat oleh Syiah, menurut Mahasiswa asal Gowa ini adalah, menunggangi segenap lembaga pengkaderan mahasiswa yang ada di kampus, di sanalah mereka menyebarkan paham sesat itu, dari satu generasi ke generasi mahasiswa berikutnya. Oleh itu, masyarakat dan pemerintah harus bersatu menyelamatkan generasi dari kerusakan moral dan akidah. 
Pihak Kesbangpol menampung semua aspirasi para peserta audensi dan akan segera melakukan pertemuan dengan Gubernur untuk membahas lebih lanjut tuntutan umat yang sangat mendesak ini. Dan diharap agar pemerintah daerah Sulsel juga melakukan langkah-langkah yang sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur, yaitu malakukan pelarangan segenap akitivitas penyebaran Syiah. (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More