Menjalin Ukhuwah Membangun Persatuan

(sebuah artikel tentang pendekatan Sunnah Syiah)
Salah satu kegiatan penting guna pendekatan Sunnah Syiah telah diadakan, dialog pendekatan sunni syiah di Universitas Muslim Indonesia pada tanggal 5 November 2012 lalu adalah contoh kecil. Seminar ini menghasilkan rekomendasi yang poin-poin isinya sudah tidak didiskusikan lagi, segera ditanda tangani oleh para pemateri setelah acara usai. Isinya berkisar keinginan pihak Iran melalui perwakilannya di Indonesia untuk menjalin persatuan dan persaudaraan dengan kaum mayoritas ahlus sunnah Indonesia. Baca: Persatuan Sunni-Syiah: Antara Realitas dan Utopia dan 8 Kecurangan Seminar Internasional Syiah di Makassar
Sayangnya ukhuwah islamiyah tersebut tidak tampak jelas di negeri mereka sendiri, dalam beberapa keterangan ditemukan bahwa mereka cenderung tidak adil dan ‘mengintimidasi’ kelompok ahlus sunnah di Iran. Pertanyaannya, dimana letak persaudaraan yang dihembuskan kaum syiah. Artikel ini akan memberi informasi mengenai pendekatan Sunnah Syiah di Indonesia, dari beberapa sumber. Dalam buku Ahlus sunnah wal jamaah dan dilema syiah di Indonesia karya Ust. Farid Okbah, M.A dikutip ulasan majalah sabili edisi 12 th XIX yang memberikan gambaran tentang gagasan ukhuwah Islamiyah tersebut.
Sebenarnya syiah bukan hanya masalah nasional tetapi telah menjadi masalah international. Papar ustaz Farid Okbah. Niat umat Islam untuk bisa menerima syiah sebagai satu bagian dari umat Islam. Oleh Syiah disalahgunakan untuk melakukan Syiah-nisasi terhadap umat islam. Hal inilah yang akhirnya menyadarkan Prof. Yusuf Qardhawi yang tadinya mendukung pendekatan Sunnah dan Syiah -tetapi pada tahun 2009- berbalik menyerang dan mengungkapkan kebobrokan Syiah. Dalam kitab al Fatawa Mu’asirah beliau mengatakan. “Gerakan Syiah di Indonesia telah menggurita”. Menurut pengakuan mereka telah dididik sebanyak 300 orang setiap tahunnya untuk menjadi kader Syiah.
“Sebagian tokoh dari Indonesia tidak paham tentang syiah. Mereka menerima hanya karena semangat persaudaraan. Akibatnya mereka terpengaruh secara emosional dan melindungi orang-orang Ayiah bahkan mengatakan syiah itu tidak sesat. Di Indonesia ada sentiment anti Amerika dan Yahudi Zionis Israel, ini yang mereka (kaum syiah) manfaatkan sehingga dengan sentiment tersebut kita (umat islam) terkelabui. Padahal syiah jauh lebih jahat dari Israel,” katanya.
Kita amat sangat ingin untuk berukhuwah dengan baik dengan siapapun. Sayangnya kaum syiah tampak tidak tulus dengan niatan tersebut. Ketua bidang organisasi yayasan al Bayyinat Habib Achmad Zein Alkaf memaparkan bahwa ada perbedaan signifikan antara ajaran Ahlussunnah dan Syiah. Didalam ushuluddin, rukun islam dan rukun iman kedua ajaran ini sudah berbeda. Konsekuensi dari perbedaan itu, kelompok syiah  menganggap ahlus sunnah telah keluar dari Islam.
Habib Achmad justru curiga terhadap gagasan ukhuwah islamiyah antara kedua ajaran tersebut. Yang harus dipertanyakan oleh para tokoh dan ulama Indonesia adalah mengapa syiah yang berpusat di Iran tidak berukhuwah dengan jamaah ahlus sunnah di Iran sendiri. Ironisnya, sebagian ulama dan tokoh Indonesia justru kurang tegas terhadap keberadaan Syiah ini. Mereka cenderung bersikap tidak kritis, dan menganggap tidak ada perbedaan mendasar antara keduanya. Beliau kemudian menunjukkan buku “Export Revolusi Syiah di Indonesia” yang ditulis oleh beliau sendiri. Habib kemudian menjelaskan bahwa tokoh-tokoh Syiah sangat pro aktif mendatangi tokoh NU, Muhammadiyah, cendekiawan muslim, maupun para habaib. Mereka lalu diundang datang ke Iran untuk melihat keberhasilan revolusi Syiah yang dicetuskan oleh Ayatullah Imam Khomeini. Tak ketinggalan juga, mereka siap membantu kebutuhan organisasi ataupun kebutuhan pribadi dari para undangan tersebut.
Sesampainya di Indonesia para tokoh yang diberangkatkan ke Iran, tetap dipantau oleh orang-orang Syiah. Efeknya para tokoh tersebut hanya berani dan mau berkomentar mengenai hal-hal yang positif saja. Sedangkan mengenai aqidahnya yang jelas-jelas menyimpang/sesat, mereka tidak berani berkomentar. Bahkan sebaliknya justru mereka yang angkat bicara dan membela pemahaman syiah jika orang lain mengkritisinya.
Sementara sebagai pembanding, fakta yang ada di iran, kelompok ahlus sunnah yang jumlahnya mencapai 20 juta orang hidupnya sangat tertekan dan cenderung dizhalimi. Mereka tidak memiliki wakil di DPR Iran. Padahal Yahudi yang jumlahnya dibawah 5 juta memiliki wakil di DPR. Khusus di  kota Teheran, tidak bisa ditemukan satu masjid ahlus sunnah (sehingga untuk shalat jumat harus dikedutaan besar-red). Ironisnya justru tempat peribadatan orang-orang budha, yahudi dan gereja malah diakomodir. Selain itu, mereka tidak menginformasikan berapa banyak ulama Ahlussunnah di Iran yang dibantai rezim khomeini, dan berapa ulama yang hingga saat ini mendekam di penjara. Fakta inilah yang ditutupi oleh pemerintah Iran, (karena pemimpin tertinggi mereka bahkan membawahi media, dengan konsep wilayat al Faqihnya-red). Al-hasil mereka seolah menganggap ahlus sunnah wal jamaah di Iran lebih berbahaya daripada yahudi dan agama lain. Inilah fakta yang ditemukan oleh habib Achmad yang mengaku pernah bertemu dengan mufti SyafiiI (pemimpin mazhab Syafi’i) yang tinggal di Iran saat berada di arab Saudi. Dari mufti inilah terungkap informasi nyata diatas.
Sementara itu, Dr Adian Husaini mengungkapkan dalam Jurnal Islamia edisi April 2013 bahwa ketika kajian tentang “Solusi damai Muslim Sunni-Syiah”  diterbitkan di Jurnal Islamia Republika (Jurnal Pemikiran Islam bulanan hasil kerjasama antara INSIST dan Harian Republika) terdapat respon penganut Syiah yang berbau taqiyah. Kajian Islamia Republika itu mendapatkan respon dari Haidar Bagir, yang menulis artikel di Harian yang sama berjudul “Syiah dan Kerukunan Umat” Haidar Bagir menulis, bahwa dia setuju dengan solusi damai tawaran Jurnal-Islamia Republika, dan menyatakan:“Jika kaum Syiah mengakui Sunni sebagai mazhab dalam Islam, seyogyanya mereka menghormati Indonesia sebagai negeri muslim Sunni. Biarlah Indonesia menjadi Sunni. Hasrat untuk men-Syiahkan Indonesia bisa berdampak buruk bagi masa depan negeri Muslim ini….Itulah jalan damai untuk Muslim Sunni dan kelompok Syiah.”
Pada tulisan itu Haidar Baqir juga menceritakan bahwa dia pernah bertemu secara pribadi dengan Shaikh ‘Ali Taskhiri, seorang ulama terkemuka di Iran, salah satu pembantu terdekat Wali Faqih Ayatullah Ali Khamenei, serta wakil Dar al Taqrib bayn al Madhahib (Perkumpulan Pendekatan antar Madhhab). Katanya sheikh ‘Ali Taskhiri dengan tegas menyatakan: “Hendaknya kaum Syiah di Indonesia meninggalkan sama sekali pikiran untuk mensyiahkan kaum muslim di Indonesia”
Maka setelah menyimak keseluruhan artikel Haidar Baqir di Republika tersebut, setidaknya ada dua poin penting sebagai solusi damai bagi ahlus sunnah dan syiah di Indonesia. Pertama, menghentikan caci maki terhadap terhadap sahabat-sahabat Nabi saw. Seperti pada Ungkapan Haidar Bagir soal sikap terhadap para sahabat Nabi Muhammad saw: “Sementara itu, banyak ulama Syiah Imamiyah atau Itsna ‘Asyariyah yang telah merevisi pandangannya tentang ini. Hasil konferensi Majma’ Ahl al Bait di London pada 1995, misalnya, dengan tegas menyatakan menerima keabsahan kekhalifahan tiga khalifah terdahulu sebelum khalifah Ali…. Bahkan, terkait dengan skandal pengutukan sahabat besar dan sebagian istri Nabi yang dilakukan oleh oknum Syiah yang tinggal di Inggris, bernama Yasir al Habib, Ayatullah sayid Ali Khamenei sendiri mengeluarkan fatwa yang dengan tegas melarang penghinaan terhadap orang-orang yang dihormati oleh para pemeluk Ahlus Sunnah (fatwa ini tersebar dan dapat dengan mudah diakses dari berbagai sumber)….” Dan poin kedua, menghentikan ambisi untuk mensyiahkan Indonesia (seperti kutipan awal pernyataan Haidar Bagir diatas). Setelah mengkaji bentuk-bentuk taqiyah kaum syiah di Indonesia, Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor ini kemudian memberikan kesimpulan diakhir kajian terhadap buku-buku Syiah di Indonesia yang berjudul “Shi’ah: Hakikat Kebencian dan Taqiyah kedamaian” dengan kutipan sbb:
“…. Selain itu, meskipun kaum shi’ah di Indonesia dihimbau oleh sebagian tokoh mereka agar tidak berambisi mensyiahkan Indonesia dan menghentikan caci maki terhadap sahabat dan istri Nabi Muhammad saw., namun mereka tetap saja dalam berbagai penerbitan shi’ah masih melampiaskan kebencian mereka terhadap Abu Bakar, ‘Umar, dan ‘Uthman, radiyallahu ‘anhum. Belum lagi jika dikaji kitab-kitab shi’ah yang menjadi rujukan shi’ah seluruh dunia sangat sarat dengan caci maki itu. Nampaknya kebencian itu sudah begitu mendarah daging, dan tidak bisa dipisahkan dari doktrin Syi’ah. Sikap shi’ah terhadap sahabat nabi itu sangat berbeda dengan sikap kaum Sunni yang menghormati semua sahabat, apalagi khulafa’ al Rashidin, termasuk Sayyidina ‘Ali r.a. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa tawaran shiah untuk hidup damai bersama penganut Ahlus Sunnah di Indonesia itu ternyata hanya retorika belaka.”  Baca: Jurnal Islamia; Ahlussunnah dan Syiah: Beda Aqidah, Shariah atau Politik

Sekarang kita kembalikan kata ukhuwah dan persaudaraan itu kepada mereka, apakah mereka serius dengan hal itu atau hanya sekedar taqiyah (upaya mengelabui musuh) yang sungguh banyak membius kaum muslimin saat ini dengan retorikanya.
Upaya menjalin ukhuwah dan membangun persatuan, bagai mimpi dan angan belaka jika tidak diiringi dengan kejujuran dan ketulusan dari hati. Ukhuwah dan persatuan bukanlah alat permainan untuk mengelabui masyarakat. (Sulfandy/lppimakassar.com)

1 komentar:

persatuan sunni-syiah...kenapa tidak dimulai dari Iran???? klo di iran saja tidak bisa, bagaimana dgn Indonesia???

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More