Mengutamakan Hawa Nafsu dan Prasangka Tak Berdasar dalam Berpendapat

 
Serial bantahan ke-5 terhadap buku "Akhirnya Kutemukan Kebenaran" dan penulisnya, Dr. Muhammad At-Tijani. Silakan baca serial bantahannya secara lengkap di sini: Akhirnya Kutemukan Kebenaran
Kelima: Mengutamakan Hawa Nafsu dan Prasangka Tak Berdasar dalam Berpendapat
Penulis tidak membangun pernyataan-pernyataannya di atas metode yang benar, demikian pula dengan yang ia tetapkan diantara sekian banyak permasalahan. Seperti berargumen dengan nash-nash dan cara menempatkan perkataan para ulama dalam membahas masalah. Dia mempunyai cara tersendiri yang aneh, yaitu dengan membeberkan permasalahan berlandaskan hawa nafsu dan persangkaan belaka. Bahkan cara ini digunakan ketika menjelaskan makna hadits-hadits  Nabi r dan riwayat sejarah yang ia fahami dengan persangkaan yang salah dan hawa nafsu yang tidak dilandaskan pada akal yang sehat, dan contoh seperti ini banyak kita temui dalam buku-bukunya. Sebagai contoh:
Perkataannya dalam kitab (fas’alu ahla adz dzikr), “Sesungguhnya mereka yang memerintah kaum muslimin pada masa daulah umayyah dimana Muawiyah bin Abi Sufyan sebagai punggawanya tidak pernah meyakini dalam satu hari pun tentang diutusnya Muhammad bin Abdillah dengan risalah dari Allah (fas’alu ahla adz dzikr 41)
Ini merupakan vonis yang berbahaya terhadap para pemimpin kaum muslimin yang memerintah setelah masa Khulafa Rasyidun. Pemerintahan mereka masuk dalam sebagaian besar masa dalam abad dimana Nabi r hidup, dimana abad itu merupakan masa terbaik. Dan sepertiga yang pertama merupakan abad kedua yang dimuliakan dimana dalam masa mereka telah dibuka banyak kota, mereka dapatkan izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan kaum Muslimin), mereka bela sunnah dan para penegaknya yang semua ini menunjukkan kebenaran cara beragama dan keimanan mereka. Berita tentang keadilan, ketakwaan, kebaikan ditengah-tengah umat secara umum maupun khusus telah tersebar sepanjang masa secara mutawatir, khususnya yang berkaitan tentang sahabat yang mulia, Muawiyah bin Abu Sufyan dan juga seorang tabi’in yang agung, Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhuma, sampai datangnya kedustaan-kedustaan ini di masa-masa akhir seperti ini yang telah berani mengeluarkan vonis berbahaya yang mengatakan bahwa mereka tidak membenarkan bi’tsah (diutusnya) Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Sungguh sebuah vonis yang tidak berdasarkan pada dalil dan tidak pula dikuatkan oleh sebuah riwayat meskipun dhaif.
Bahkan tidak merasa cukup dengan hal ini hingga mengganti pernyataan ini dengan pernyataan lain yang jelas-jelas berlandaskan pada persangkaan yang keliru, ia katakan, ”Mereka meyakini bahwa Nabi r adalah tukang sihir...” beginilah cara busuk mereka memvonis para generasi terbaik y , berlandaskan pada persangkaan yang keliru. Semoga Allah menimpakan balasan yang berhak dia terima.
Hal senada ia katakan, ”Menurut prasangka terkuat menunjukkan bahwa yang meciptakan dan memakai metode Syura dalam pemilihan Khalifah mereka itulah yang merubah kebenaran di hari Ghadir Khum” (La akuuna minashshodiqin hal. 71)
Juga perkataannya tentang Abdurrahman bin ’Auf, ”Dan prasangka terkuat  menunjukkan bahwa ia memberi syarat bagi Amirul Mukminin Ali bin abi thalib untuk berhukum dengan kitabullah dan Sunnah Syaikhain (Abu Bakar dan Umar), namun Ali menolak usulan ini” (asy syiah hum ahlu Sunnah hal. 179)
Dan perkataannya juga, ”Oleh karena itu saya secara pribadi meyakini bahwa sebagian sahabat menyandarkan larangan mut’ah dan pengharamannya kepada Nabi r untuk membenarkan pendapat Umar bin Khattab” (La akuuna minashshodiqin hal. 190)
Dibalik celaan, cacian dan tuduhan batil tentang sahabat Nabi -salaful ummah yang terbaik diantara para imam dan ulama- yang dibangun diatas hawa nafsu dan prasangka tak berdasar ini kita dapati ia sangat mengagungkan Rafidhah, membesar-besarkan dan sangat memujinya.
Ketika menceritakan tentang ziyarahnya ke Irak, melihat orang-orang Syiah mengelilingi kuburan dan mengusapnya, ia mengatakan, ”Saya pernah melihat para Syekh yang mencela sunni. Di kepala mereka terdapat  surban hitam dan putih,  di jidat mereka terlihat bekas sujud, kewibawaan mereka bertambah karena jenggot mereka yang dipanjangkan, dari mereka tercium aroma yang harum, mereka memiliki pandangan yang tajam dan berwibawa, tidaklah seseorang masuk menemui mereka kecuali terdengar suara tangis. Saya bergumam, ’Mungkinkah tangisan itu adalah dusta? apakah mungkin mereka yang mencela sunni itu berada pada posisi yang salah?” (tsumma ihtadaitu hal. 36-37)
Pada tempat lain ia mengatakan , ”Bahkan saya terkagum-kagum dengan ibadah, do’a, akhlak, dan penghormatan mereka terhadap para ulama, hingga aku berharap bisa menjadi seperti mereka” (tsumma ihtadaitu hal. 43)
Adapun medote penilaiannya pada sebuah hadits dari segi shahih dan Dha’ifnya, ia juga memiliki cara yang aneh. Sepertinya belum ada orang yang mendahuluinya dalam hal ini, bahkan dari kalangan yang menerapkan metode penilaian berdasarkan akal, yang memposisikan sebuah hadits berdasarkan akal mereka. Setiap yang sejalan dengannya ia ambil, dan jika bertentangn maka ia nilai dhaif dan meninggalkannya. Adapun laki-laki ini menilai hadis berdasarkan hawa nafsu belaka. Olehnya, anda melihatnya menshohihkan , melemahkan, menghapus dan menambah hadits. Bahkan terkadang menshohihkan bagian dari hadits, dan melemahkan bagian yang lain. Semua itu hanya dengan hawa nafsu belaka dan prasangka yang berdasar pada perkataannya sendiri dan tidak bisa dijadikan hukum, di antaranya:
Ia memaparkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari sahabat yang mulia Ibnu Umar, ia berkata, ”RasulullahKeluar dari rumah Aisyah, dan berkata, ’Pangkal kekufuran dari sini, yang padanya muncul tanduk setan, yakni arah timur’ ( diriwayatkan oleh Imam Muslim, kitabul fitan babul fitnah minal masyriq..., 4/2228 , 2950)
Ia berkata setelah memaparkan hadits ini dimana ia telah hapus bagian akhirnya yaitu almasyriq , ’Apa yang telah mereka tambahkan yaitu almasyriq tidak berguna, hal itu sangat jelas tentang penambahannya dengan tujuan menjauhkan tuduhan  itu dari Ummul Mukminin’ (fas’alu ahla adz dzikr 105)
Diantara hadits  yang ia kritisi, hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Aisyah radiallahu anha, ia berkata ”Kami berhaji bersama Rasulullah r. Waktu itu kami telah melewati hari an-nahr (penyembelihan hewan kurban), Shafiyah radiallhu anha haid, namun Rasulullah r ingin melakukan layaknya keinginan seorang Suami kepada istrinya” (diriwayatkan oleh Imam Bukhari, kitabul Haj bab Ziyadatu yaum an nahr 3/567, 1733)
Ia berkata, ’hasbuhullah’ (cukuplah baginya Allah), ”sungguh aneh nabi ini yang suka berhubungan dengan istrinya dan diketahui oleh istrinya yang lain. Bahkan ia tahu bahwa ia haid.” (fas’alu ahla adz dzikr 277)
Dengan cara inilah ia juga mencela hadits Aisyah dan Utsman in Affan yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, yaitu, ”Bahwasanya Abu bakar minta izin kepada Raasulullah r ketika Rasulullah sedang berbaring diatas kasurnya dan memakai selendang Aisyah,  ia mengizinkan Abu bakar. Abu Bakar memberitahukan keperluannya kemudian pergi. Utsman berkata, ”kemudian Umar meminta izin, maka ia mengizinkannya dan keadaannya masih seperti itu, ia menyelesaikan keperluannyaa kemudian pergi” Utsman kemudian berkata, ”Aku minta izin kepadanya, maka ia r duduk dan berkata kepada Aisyah, ’gunakan pakaianmu’, setelah aku menyesaikan keperluanku maka akupun pergi” (Shahih Muslin kitab fadhailu Sh Shahabah bab Fadhailu Utsman bin Affan Raiyallahu ’anhu)
Setelah memaparkan hadits ini ia mengatakan, ”Nabi macam apa ini yang menerima para sahabatnya sementara ia berada di pelukan istrinya di atas kasur, dan disamping ada istrinya yang sedang mengenakan pakaian biasa, hingga datang Utsman maka ia duduk, dan menyuruh istrinya untuk mengenakan pakaiannya” (fas’alu ahla adz dzikr 268) - maka baginya balasan Allah yang pantas baginya- .
Perkataannya terhadap dua hadits ini dan hadits yang lainnya erat kaitannya dengan kepribadian Rasulullah r. Saya tidak mau terlalu banyak menukil perkataannya yang di dalamnya terdapat kedustaan terhadap hadits-hadits shahih.  Juga menuduh sahabat telah memalsukan hadis. Padahal justru di dalam pemaparannya terdapat celaan pada Rasulullah r dan kedudukannya yang mulia, akhlaknya yang tinggi. Melangkahi hak istri-istyrinya yang suci dan terjaga. Perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang dinilai kufur berdasarkan kesepakatan (Ijma’) Ulama kaum Muslimin. Dan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah menyebutkan Ijma’ Ulama akan kafirnya orang yang mencela Nabi r atau menjelek-jelekkanya, mencari kekurangannya,  dan beliau menukil pernyataan mereka tentang itu.
ooo0ooo
Imam Ahmad berkata, ”Setiap yang mencela Rasulullah r atau mencari kekurangannya, Islam ataupun kafir, maka ia harus dibunuh, dan saya menilai pelakunya dibunuh dan tidak perlu  diminta untuk taubat”.
Ibnu Qasim dari Imam Malik mengatakan, ”Barangsiapa yang menghina Rasulullah mesti dibunuh dan tidak menunggu tobatnya”, dan Ibnu Qasim berkata, ”Atau mencelanya, menolaknya, mencari kesalahannya, maka ia dibunuh seperti orang zindik. Padahal Allah telah mewajibkan untuk memuliakannya”
Ibnu Wahab telah meriwayatkan dari Imam Malik bahwasanya siapa yang mengatakan ”Sesungguhnya selendang –diriwayat yang lain ”Selimutnya”, dan bermaksud untuk mengatakan aibnya, maka maka ia mesti dibunuh”
Begitu pula Abu Hanifah dan sahabatnya berpendapat tentang orang yang mencari kekurangan nya r atau berlepas diri darinya atau berdusta atasnya maka ia Murtad.
Ulama Syafi’iyyah mengatakan, ”Setiap orang yang merendahkan kehormatan  yang di dalamnya ada unsur menghinakan maka itu adalah celaan yang nyata karena penghinaan terhadap Nabi adalah kufur.”
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah setelah menyebutkan ini ia mengatakan, ”Semua Ulama dari berbagai belahan bumi telah sepakat bahwa mencari kekurangan Rasulullah adalah Kafir, halal darahnya dan adapun taubatnya maka mereka berbeda pendapat, dan tidak ada bedanya jika yang dimaksudkan adalah aibnya (maka hukumnya sama), akan tetapi yang dimaksud hal yang lain yang berakibat celaan atasnya, maka itu pun sama, atau tidak bermaksud apapun dari perbuatnnya itu, akan tetapi hanya sekedar bercanda dan bergurau, atau semacamnya”. (assharim al maslul hal. 527, dan lihat nukilan sebelumnya hal. 525-527 dalam kitab yang sama)
Sebagaimana Qadhi Iyadh juga menukil Ijma’ Ulama tentang itu, beliau berkata, “Semua yang mencela Rasulullah atau menolaknya, mencari kekurangan diri beliau atau nasabnya,  agama, keturunan, kehormatannya, atau semisalnya yang mengakibatkan celaan atasnya r atau mengecilkan kedudukannya, maka semua itu adalah bentuk celaannya kepada beliau r dan hukumannya adalah hukum orang yang mencela beliau yaitu di bunuh.”
Dan tidak ada pengecualian dalam permasalahan ini. Baik celaan itu secara jelas maupun tidak. Begitupun yang melaknat beliau r, mendoakan keburukan baginya, atau menyandarkan kepadanya sesuatu yang tidak pantas terhadap kepribadiannya dengan cara yang buruk, atau bergurau dengan mensifatkannya sebagai seorang yang lemah berupa perkataan mereka, mengingkari, berdusta akan kemuliaannya r dan menjelek-jelekkannya dengan bala’ dan ujian   yang menimpanya r.
Semua ini adalah Ijma’ (kesepakatan) para ulama dan para Imam ahli fatwa dari kalangan sahabat radiallhu ’anhum dan selainnya” (Asy Syifa’ bita’rifi huquq al Mushtafa 2/932)
Oleh: Dr. Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili, Al-Intishar Li Ash-Shahbi Wa Al-Aal Min Iftira'ati As- Samawi Adh-Dhaal, hal 174-182
Dialihbahasakan oleh lppimakassar.com

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More