Mengkaji Buku “Seri Tafsir untuk Anak Muda: Surah Al-Hujurat”

Beberapa orang yang mendukung syi’ah biasa mengatakan, “Pelajarilah Syi’ah dari tulisan dan buku-buku orang-orang Syi’ah, jangan hanya membaca buku dari kalangan Sunni yang isinya hanya menjelek-jelekkan Syi’ah.”
Berikut ini satu buku terjemahan berjudul “Seri Tafsir untuk Anak Muda: Surah Al-Hujurat”, yang ditulis oleh Mohsen Qaraati dengan judul aslinya, “Tafsir e Sure ye al-Hujurat” cetakan ke-5 tahun 1385 H. Penerjemah Salman Nano, cetakan ke-1 April 2006 M/1427 H yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Huda.
Sepintas judul buku ini sangat bagus, dan cocok sekali untuk anak muda. Covernya pun cukup menarik dan cukup tipis sehingga sangat pas untuk pemuda yang ingin mudah mempelajari tafsir ayat-ayat al-Qur’an.
Namun, ketika kita membuka buku ini, ada saja yang tidak sejalan dan tidak sefaham dengan pemikiran kaum muslimin pada umumnya. Penulis-penulis Syi’ah sudah pasti menghadirkan konflik para sahabat di dalamnya. Berikut beberapa isi pada buku tersebut yang telah kami kaji:
Pada bagian pertama: Riwayat-Riwayat tentang Perbuatan-perbuatan Melangkahi dan Mendahului Allah dan Rasul-Nya, diantaranya:
·        Sebagian sahabat mengharamkan tidur, makanan, dan mendekati istri. Rasulullah saw. marah kemudian naik mimbar dan mengatakan, “Saya memakan makanan, saya juga tidur, dan saya juga hidup dengan istri. Inilah sunahku. Barang siapa yang tidak mengikuti jalan ini, maka ia bukan bagian dariku.” (hal. 17)
Tanggapan:
Bagian ini seolah-seolah penulis memberikan contoh agar pembaca menganggap para sahabat itu tercela sehingga wajib untuk dibenci dan dimusuhi karena tidak mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Tentang kisah di atas, Imam Bukhari meriwayatkannya sebagai berikut:
 “Tiga orang mendatangi kediaman istri Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Mereka ingin menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah diberitahu, mereka menganggap remeh ibadah tersebut. Mereka mengatakan, "Di mana posisi kita dibandingkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam? Beliau telah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang?". Salah seorang di antara mereka mengatakan, "Aku bertekad akan melakukan shalat selamanya". Seorang yang lain menyahut, "Aku akan berpuasa selamanya tanpa berbuka". Seorang lainnya menyambung, "Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selamanya".
Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang, "Apakah kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku, demi Allah, aku adalah manusia yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa. Akan tetapi aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka. Aku menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku maka dia bukan termasuk di antara ummatku".(Riwayat Bukhari, 5063)
Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dengan redaksi sebagai berikut: 
Beberapa orang dari para sahabat datang ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada istri beliau tentang amalan beliau yang tersembunyi. Sebagian di antara mereka mengatakan, "Aku takkan menikahi wanita", sebagian lagi mengatakan, "Aku takkan memakan daging", sebagian lagi mengatakan, "Aku takkan tidur di atas kasur".
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertahmid dan memuji Allah, lalu bersabda, "Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan demikian dan demikian? Padahal aku sholat dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan menikahi wanita. Barangsiapa membenci sunnahku maka ia bukan termasuk di antara ummatku". (Riwayat Muslim, 1401). Kedua hadits ini dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.
Kedua hadits di atas menerangkan tentang semangat beberapa sahabat dalam beribadah kepada Allah. Buktinya mereka datang dan menanyakan secara langsung kepada istri Nabi, perihal ibadah Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Ketika diberitahu tentang ibadah Nabi, mereka merasa bahwa ibadah dan amalan beliau itu tidaklah berat. Sehingga di antara mereka bertekad untuk beribadah lebih daripada ibadah yang dilakukan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. “Nabi telah diampuni dosa-dosanya, sementara kita belum jelas diampuni atau tidak. Karena itu kita harus beribadah lebih dari ibadahnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” Kira-kira seperti itu kalau dibahasakan. Dilihat dari perkatan mereka "Di mana posisi kita dibandingkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang telah diampuni dosa-dosanya yang telah lampau maupun yang akan datang?".
Ketika mendengar kabar tersebut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjelaskan bahwa beliau adalah hamba yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya. Kemudian beliau meluruskan kekeliruan-kekeliruan yang diyakini oleh para sahabatnya. Beliau menerangkan bahwa apa yang disangka oleh para sahabatnya itu bukanlah ibadah yang dibenarkan dalam Islam, melainkan bentuk penyiksaan diri.
Perkataan Nabi, “Barangsiapa yang tidak mengikuti jalanku, maka ia bukan bagian dari umatku” ini adalah peringatan keras. Para sahabat pun tidak lagi mengulangi hal tersebut dan mengikuti apa yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Para sahabat bukanlah malaikat-malaikat yang suci dan lepas dari kesalahan. Juga bukan Nabi dan Rasul yang ma’shum. Mereka hanyalah manusia biasa yang bisa salah dan khilaf.
Para sahabat –ridwanullahi alaihim- adalah orang-orang yang hidup di sekitar dan dekat dengan Nabi, melindungi, dan  membantu dakwah beliau. Sangat manusiawi ketika kemudian mereka berbuat salah lalu Rasulullah menegur mereka. Jika orang-orang Syi’ah hidup pada zaman itu, pasti juga mereka melakukan kesalahan dan sangat mungkin Rasulullah menegurnya. Hanya saja, orang-orang Syi’ah belumlah ada pada zaman Nabi. Mereka (orang-orang Syi’ah) tidak pernah melihat Nabi sebagaimana para sahabat, juga tidak pernah berjihad bersama beliau. Jadi, apakah pantas orang-orang Syi’ah mencela para sahabat? Sementara mereka tidak pernah merasakan sedikitpun bagaimana perjuangan dan beratnya cobaan yang dirasakan para sahabat!?
Oleh karena itu, bukan berarti para sahabat keluar dari Islam sebab kesalahan yang mereka kerjakan. Mereka adalah orang yang telah diridhoi Allah, dan dibalas dengan surga oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)
·         Rasulullah saw. menghalalkan nikah mut’ah tetapi khalifah kedua (maksudnya: Umar) mengatakan, “Saya mengharamkannya” Ini adalah tindakan mendahului Rasulullah. Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. (hal. 17)
Tanggapan:
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memang pernah menghalalkan nikah mut’ah, namun setelah itu beliau mengharamkannya. Hadits-hadits tentang bolehnya nikah mut’ah telah dinasakh atau dihapus dengan hadits-hadits yang mengharamkan nikah mut’ah. Dari sahabat ar-Rabi’ bin Sabrah al-Juhani dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Wahai manusia sekalian! Aku pernah membolehkan kamu melakukan mut’ah dan ketahuilah bahwa Allah telah mengharamkan mut’ah itu sampai hari Kiamat. Maka, barang siapa yang ada padanya wanita yang diambilnya dengan jalan mut’ah, hendaklah ia melepaskannya dan janganlah kamu mengambil sesuatupun dari apa yang telah kamu berikan kepada mereka.” (HR. Muslim).
Dalam hadits lain yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Salamah bin Akwa radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah memberikan rukhsah (keringanan) pada tahun Authas mengenai mut’ah selama tiga hari, kemudian beliau melarangnya.”
Sudah sering kita dengar bahwa para tokoh Syi’ah banyak yang mempraktekkan nikah mut’ah ini. akan tetapi, ketika putri mereka ingin dinikahi secara mut’ah (kontrak), mereka tidak mau bahkan marah ketika tahu putrinya dinikah mut’ah. Mut’ah hanya untuk memuaskan hawa nafsu. Dan laki-laki tidak akan terbebani. Tidak perlu adanya hak waris bagi istri dan anak yang lahir dari hasil nikah mut’ah. Juga tidak ada pertanggung jawaban atas segala yang berhubungan dengan nafkah anak-anak hasil mut’ahnya.
Dengan demikian mut’ah sama saja dengan perzinahan. Perzinahan berkedok agama. Padahal Imam syi’ah sendiri (atau orang yang dianggap dan diklaim sebagai imam oleh syiah) Ja’far ash-shadiq –rahimahullah- ketika ditanya tentang nikah mut’ah, beliau menjawab: “Janganlah kamu kotori dirimu dengan nikah mut’ah.” (Bihar al-anwar 100/318).
Dan mut’ah juga bertentangan dengan firman Allah surat Al-Mukminun: 5-6. dan (di antara sifat orang mukmin itu) mereka yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.”
Juga dalam firman-Nya: “Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk menikahi wanita merdeka lagi beriman, ia boleh menikahi wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki..…..(Kebolehan menikahi budak), itu adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan bersabar itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 25)
Ayat di atas memberikan solusi bagi orang yang belum mampu menikah (menikahi wanita merdeka yang beriman) dan dia takut terjatuh pada perzinahan, caranya adalah dengan menikahi budak wanita. Jika saja nikah mut’ah itu adalah alternatif, mungkin saja Allah menyebutkan nikah mut’ah sebagai solusi dan alternatif. Tapi kenyataannya tidak.
Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu berkeluarga (menikah) maka menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikannya.” (Muttafaq alaihi). Jadi, solusi bagi orang yang belum mampu menikah adalah berpuasa. Bukan nikah mut’ah (kontrak).

Dua pernyataan dari penulis buku di atas hanyalah sebagian dari apa yang ada di dalam buku ‘tafsir’ tersebut. Masih ada pernyataan-pernyataan lainnya yang jauh dari kebenaran dan memberi kesan buruk bagi para sahabat. Insyaallah akan dibahas selanjutnya. Wallahu Ta’ala A’lam. (Mahardy/lppimakassar.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More