Ketika Istri Nabi Dikatakan Keledai

http://2.bp.blogspot.com/-mvJe4NCdAMA/TgupUt8Uh9I/AAAAAAAAAm4/3Sqx5wmkcUQ/s1600/%D8%A3%D9%85+%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%A4%D9%85%D9%86%D9%8A%D9%86+%D8%B9%D8%A7%D8%A6%D8%B4%D8%A9+%D8%B1%D8%B6%D9%89+%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87+%D8%B9%D9%86%D9%87%D8%A7.jpgMenyakitkan, satu kata yang muncul ketika pertama kali membaca buku-buku atau mendengar ceramah-ceramah syi’ah. Apa yang mereka tulis dan katakan sangat menyakitkan, menusuk, dan mencabik-cabik hati umat Islam.
Aisyah adalah ibunda orang-orang beriman. Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri sendiri, dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.”(QS. Al-Ahzab: 6)
Aisyah adalah istri yang sangat dicintai oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kita tahu bahwa disamping meriwayatkan banyak hadits, beliau memiliki paras yang cantik, otak yang cerdas, dan memiliki kulit putih kemerah-merahan. Karena itu, Rasulullah biasa memanggilnya dengan panggilan sayang “humairah” yang berarti kemerah-merahan.

Namun, apa kata pentolan Syi’ah; Jalaludin Rakhmat tentang Ibunda Aisyah? Berikut kata kiyai syi’ah di Indonesia ini:
“…Aisyah itu perempuan yang tidak begitu cantik. Kulitnya hitam dan dia sering menghiasi wajahnya dengan akar kayu yang kemerah-merahan untuk memerahi wajahnya…. Aisyah senangnya dengan sejenis/semacam kayu pencelup yang kalau diusapkan menjadi merah. Sehingga kayu itu disebut kayu yang kemerah-merahan. Dan Rasulullah memanggil Aisyah dengan tanda kemerah-merahan di wajahnya (humairah) karena bekas goresan kayu itu…” (lihat videonya pada link ini: http://www.lppimakassar.com/2012/08/jalaluddin-rakhmat-aisyah-itu.html)
Perkataan ini sejalan dengan perkataan ulama mereka di Iran bahwa Aisyah disebut humairah karena ia adalah bentuk tashgir dari “hamirah” yang berarti keledai. (videonya pada detik ke 04:16 pada link ini: http://www.youtube.com/watch?v=-iV3sd1CUtU)
Subhanallah, hadza buhtanun azhim (ini dusta yang luar biasa)!!! Tahukah anda bahwa dua hewan yang disebutkan dalam Al-Qur’an yang dijadikan perumpaan oleh Allah sebagai bentuk penghinaan bagi orang-orang ahlul kitab dan orang-orang kafir adalah anjing dan keledai? Firman Allah:
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah: 5)
Kata yang lebih layak ditujukan oleh orang-orang yahudi ini disematkan kepada bunda Aisyah. Waliyadzu billah.
Tak berhenti sampai di situ, dalam shalatpun mereka melaknat Aisyah-radhiyallahu anha-.
Ketika tersebar fitnah di kalangan umat Islam, yang disebarkan oleh orang-orang munafik kepada Aisyah yang dikenal dengan haditsah al-ifk, Allah menurunkan ayat yang menjelaskan bahwa Aisyah terlepas dari fitnah keji tersebut. Allah menyucikannya dari tuduhan-tuduhan negatif. Firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur: 11)
Ibunda Aisyah jelas tidaklah sama dengan wanita-wanita lain. Apalagi jika dibandingkan dengan wanita-wanita syi’ah. Atau kata orang ibarat antara langit dan dasar bumi. Tapi, menurut saya, tak mungkin bisa dibandingkan. Mustahil bin mustahil.
Wanita-wanita syi’ah seperti yang diketahui doyan melakukan nikah mut’ah (nikah kontrak) yaitu menikah dengan batas waktu tertentu. Bisa setahun, bisa sebulan, seminggu boleh, sehari oke, sejam juga gak ada masalah. Tanpa ada saksi dan wali. Yang penting keduanya sepakat untuk melakukan mut’ah. Sah!
Lantas, apa bedanya dengan perzinahan!?
Suatu saat seorang wanita syiah di Makassar berjalan dengan dua anaknya yang masih balita. Ketika ditanya siapa bapaknya. Dia berkata, “saya ikhlas lillahi ta’ala”.
Perzinahan dibungkus dan dikemas rapih oleh dalil-dalil agama yang menyesatkan. Kata mereka, jika melakukan nikah mut’ah satu kali maka derajatnya sama dengan derajat imam hasan. Jika melakukan dua kali derajatnya sama dengan imam Husain. Tiga kali, sama dengan imam Ali bin Abi Thalib. Dan bila empat kali melakukan mut’ah, derajatnya sama dengan derajat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Jadi, bagaimana dengan mereka yang melakukan mut’ah lebih dari empat kali???? Apakah derajatnya melebihi derajat Nabi?
Lucunya, para ulama mereka menolak bila anaknya dinikahi secara mut’ah oleh laki-laki lain. Sementara mereka malah asyik memut’ahi anak orang lain. Ini jelas hanya memuaskan hawa nafsu mereka saja. Dengan nikah mut’ah, laki-laki tidak dibebani apapun, tidak ada hak waris bagi anak hasil mut’ah. Kewajiban menafkahi anak hasil mut’ah pun tidak ada.
Mut’ah juga bertentangan dengan firman Allah surat Al-Mukminun: 5-6. dan (diantara di antara sifat orang mukmin itu) mereka yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.”
Juga dalam firman-Nya: “Dan barangsiapa diantara kamu (orang merdeka) yang tidak cukup perbelanjaannya untuk menikahi wanita merdeka lagi beriman, ia boleh menikahi wanita yang beriman, dari budak-budak yang kamu miliki..…..(Kebolehan menikahi budak) itu, adalah bagi orang-orang yang takut kepada kesulitan menjaga diri (dari perbuatan zina) di antara kamu, dan bersabar itu lebih baik bagimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 25)
Ayat di atas memberikan solusi bagi orang yang belum mampu menikah (menikahi wanita merdeka yang beriman) dan dia takut terjatuh pada perzinahan, caranya adalah dengan menikahi budak wanita. Jika saja nikah mut’ah itu adalah alternatif, mungkin saja Allah menyebutkan nikah mut’ah sebagai solusi dan alternatif. Tapi kenyataannya tidak.
Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu berkeluarga (menikah) maka menikahlah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, sebab ia dapat mengendalikannya.” (Muttafaq alaihi). Jadi, solusi bagi orang yang belum mampu menikah adalah berpuasa. Bukan nikah mut’ah (kontrak).
Seorang teman, yang juga seorang da’i di salah satu daerah Sulawesi Selatan bercerita padaku bahwa di daerah tempatnya berdakwah, paham syi’ah sudah masuk dan mulai berkembang. Ajaran ini dibawa oleh seorang akhwat/wanita yang pernah kuliah di Makassar. Di Makassar dia menjadi aktivis syi’ah. Ketika pulang ke daerahnya, dia menyebarkan paham dan aliran sesat itu. Yang menyakitkan lagi, namanya adalah Aisyah.
Apa kita hanya diam saja ketika sahabat dan ummul mukminin dicerca dan dihina? Wallahi. Tidak! Sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka dia bukan bagian dari umatku.”
Bisa jadi aliran ini telah menyebar di sekitar kita, bahkan keluarga kita. Jadi, berhati-hatilah!
(Mahardy/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More