Bijak Berdakwah

http://4.bp.blogspot.com/-ZPPup5-06JI/UTFM35qOaWI/AAAAAAAAAac/ayoMrKwhvH4/s1600/bijak+berdakwah_2.gif

Secara terminologi dakwah berasal dari bahasa arab “da’a-yad’u-da’wah” yang kata asalnya terangkai dari tiga huruf asal, yaitu dal, ‘ayn, dan waw. Dari huruf asal ini, terbentuk beberapa kata dengan ragam makna seperti: memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi, dan meratapi.
Menariknya, walaupun ‘da’wah’ dari segi kosa katanya berbentuk ism mshdar (kata benda) namun dalam pengertiannya, mengandung nilai dinamika, yakni ajakan, seruan, dst. Makna tersebut mengandung unsur usaha atau dinamis. Terlebih jika merujuk kepada Alquran sebagai masdar al-da‘wah (sumber dakwah) hampir semua yang ada kaitannya dengan dakwah diekspresikan dengan kata kerja. Artinya, dakwah juga bermakna proses penyampaian pesan-pesan tertentu berupa ajakan, seruan, dan undangan, untuk mengikuti pesan tersebut atau menyeru dengan tujuan untuk mendorong seseorang supaya melakukan cita-cita tertentu.

Para ahli berbeda pendapat tentang makna dan definisi dakwah, diantaranya adalah: (1) Shaykh ‘Ali Mahfuz, menyatakan bahwa dakwah adalah, ”Sebagai upaya membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat makruf, dan mencegah perbuatan munkar supaya mereka mendapat kebahagian di dunia dan akhirat”; (2) Ahmad Ghalwush, menyatakan bahwa dakwah adalah, “Menyampaikan pesan Islam kepada manusia di setiap waktu dan tempat dengan metode-metode dan media-media yang sesuai dengan situasi dan kondisi para penerima pesan dakwah (khalayak dakwah)”; (3)  Sayyid Mutawakkil, menyatakan bahwa dakwah adalah, ”Mengorganisasikan kehidupan manusia dalam menjalankan kebaikan, menunjukkannya ke jalan yang benar dengan menegakkan norma sosial budaya dan menghindarkannya dari penyakit sosial”; (4) Al-Murshid,  menyatakan bahwa dakwah adalah, ”Sistem dalam menegakkan penjelasan kebenaran, kebaikan, petunjuk ajaran,memerintahkan perbuatan makruf, mengungkap media-media kebatilan, dan metodenya dengan berbagai macam pendekatan, metode dan media dakwah. (5) Dakwah yang menekankan kepada pengamalan aspek pesan dakwah dikemukakan oleh Ibn Taymiyyah rahimahullah, dan pesan dakwah yang terkandung dalam perspektif ini adalah,  mengimani Allah; mengimani segala ajaran yang dibawa oleh semua utusan Allah; menegakkan dan mengikrarkan dua kalimat syahadat; menegakkan salat; mengeluarkan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan; menunaikan ibadah haji; mengimani malaikat, dan menyerukan agar hamba Allah hanya beribadah kepada-Nya seakan-akan melihat-Nya, dan (6)  Zakaria menyatakan bahwa dakwah adalah , ”Aktivitas para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan agama Islam dalam memberi pengajaran kepada orang banyak (khalayak umum) hal-hal yang berkenaan dengan urusan-urusan agama dan keduniaannya seseuai dengan realitas dan kemampuannya”.
Adapun syarat akan terlaksasananya proses dakwah, maka setidaknya ada tiga unsur utama, yaitu da’i (yang mengajak), mad’u (yang diajak, audience), dan materi dakwah (Alquran dan hadis). Tulisan ini hanya akan fokus menyoroti keutamaan dan kiat-kiat seorang dai dalam berdakwah agar dapat meraih kesuksesan.
Rasulullah memberikan analogi yang begitu indah berhubungan dengan posisi seorang juru dakwah terhadap masyarakat luas. Dengan sederhana namun menggugah, beliau memberi gambaran dari dampak yang ditimbulkan oleh para juru dakwah yang menunaikan tugasnya dengan baik, atau sebaliknya (gagal). Sebagaimana yang diriwayatkan dari Asy-Sya’bi bersumber dari Nu’man bin Basyir ra, bahwa ia telah mendengar Rasulullah SAW mengibaratkan sekelompok orang naik kapal, ada yang tinggal di bagian atas, tengah, dan tingkat bawah. Salah seorang dari mereka ingin mendapatkan air dengan membocorkan kapal, ada yang membiarkan saja melakukan hal ‘tolol’ tersebut karena tak mau tau urusan orang lain, namun ada pula yang melarang sambil berkata, “kita harus mencegahnya, jika tidak, kita semua termasuk ia sendiri akan tenggelam”. Orang yang terakhir itulah umpama juru dakwah. Jika penumpang tersebut berhasil digagalkan aksinya dengan memberi pengertian yang logis baik pada dirinya maupun penumpang lain, maka sang dai telah berhasil melakukan tugasnya, namun jika ia gagal, maka musibah akan menimpa kapal dan seluruh penumpangnya. 
Sebagai tamsil dalam berdakwah, dari sebuah hadis bersumber dari Abu Umamah ra, bahwa seorang pemuda datang kepada Rasulullah SAW lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, izinkanlah saya berzina.” Para sahabat yang mendengarnya berteriak. Tetapi Rasulullah berbuat sebaliknya, malah menyuru para sahabat untuk membawa pemuda itu kepadanya. ‘Kemarilah!” tutur Nabi pada pemuda itu. Setelah pemuda itu duduk di samping Nabi, beliau bertanya kepadanya, “Bagaimana menurut kamu jika perbuatan [zina] itu dilakukan kepada ibumu?” si pemuda menjawab, “Demi Allah, aku tidak mau!” Nabi lalu bertanya kembali, “Bagaimana jika perbuatan itu dilakukan terhadap putrimu, saudara perempuanmu, atau bibimu?” “Demi Allah aku tidak rela,” jawab pemuda itu dengan tegas. Mendengar jawaban itu, Rasulullah bertutur, “Orang-orang juga sama, tidak ingin putri, saudara perempuan, dan bibinya dizinahi!”, lalu Nabi memegang dada pemuda itu dan mendoakan, “Ya Allah, sucikan hatinya, ampuni dosanya, dan peliharalah kemaluannya!”
Di lain waktu Rasulullah mengutus Hathib bin Balta’ah sebagai juru dakwah sekaligus diplomat untuk memberikan surat kepada raja Mesir yang beragama Nasrani, namanya Muqauqis. Surat itu berisi seruan kepada Islam. Setelah tiba di Mesir, Hathib menyerahkan surat itu kepada Muqauqis. Sang raja lalu membuka dan membacanya. Tak lama kemudian dia bertanya kepada sang utusan, “Kalau betul dia seorang Nabi, mengapa ia tidak mendoakan saja orang-orang yang mengingkarinya dan mengusir dari negerinya (Makkah) itu, supaya dibinasakan saja?”
Mendengar pertanyaan itu, Hathib menjawab. “Kalau demikian, mengapa Nabi Isa juga tidak mendoakan saja kepada Allah, supaya membinasakan kaummnya, padahal mereka sudah menangkapnya untuk membunuhnya?” Mendengar jawaban Hathib, Muqauqis terpana dan berkata. “Betul. Tuan adalah seorang hakim [memiliki hikmah] yang datang dari lingkungan seorang hakim. Sesungguhnya kami menganut suatu  agama dan kami tidak melepaskannya, kecuali ada sesuatu yang lebih baik dari itu.” Jelas Muqauqis.
“Ini bukan soal menukar agama, akan tetapi kami menyeru tuan kepada agama Islam yang Allah mencukupkan dengannya, yang lebur di dalamnya agama selainnya. Sesungguhnya Nabi ini menyeru manusia, maka yang paling keras penentangannya adalah Quraisy, yang paling memusuhinya adalah Yahudi, dan yang paling dakat adalah kaum Nasrani [Kristen]. Demi dzat yang umurku di tangan-Nya, apa yang dikabarkan oleh Musa tentang Isa, tidak berbeda dengan apa yang dikabarkan oleh Isa tentang Nabi Muhammad. Dan seruan kami kepada tuan supaya percaya kepada Alquran. Tidak berbeda dari seruan tuan kepada ahli Taurat supaya percaya kepada kitab injil.” Jelas sang diplomat.
Setiap nabi –lanjut Hathib—telah sampai kepada satu kaum dan kaum itu adalah umatnya maka wajib atas mereka menaatinya, dan tuan termasuk orang-orang yang didapati oleh Nabi itu. Dan bukanlah kami melarang tuan dari agama al-Masih [meminta mengingkari nabi Isa], akan tetapi kami menyeru tuan berbuat demikian [tetap mengakui Isa al-Masih sebagai Nabi Allah].
Mendengar penuturan Hathib, Muqauqis pun menjawab. “Ya, kudapati padanya tanda-tanda kenabian, yakni dengan mengeluarkan apa yang tersembunyi dan mengabarkan apa yang rahasia. Aku akan mempertimbangkannya dahulu.” Kemudian surat itu disimpan dalam sebuah kotak, lalu ia membalasnya dengan kata-kata yang baik dan penuh hikmat. Surat balasan itu dititipkan kepada Hathib bin Balta’ah beserta beberapa hadiah untuk Rasulullah SAW, sebagaimana lazimnya yang dilakukan menurut adat kebiasaan raja-raja zaman itu.
Kisah di atas menjadi contoh kepada kita untuk mendakwahkan Islam dengan hikmah (penuh kebijaksanaan). Islam bukanlah racun yang merusak dan mematikan manusia. Akan tetapi obat penawar yang menyembuhkan penyakit kemaksiatan dan kedurhakaan menjadi ketaatan dan kepatuhan. Cara bijak dalam berdakwah sebagaimana yang dipelopori oleh Rasulullah dan sahabatnya di atas masih tetap relevan dan up to date untuk dijadikan rujukan dan acuan saat ini dan akan datang. Wallahu a’lam! (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More