Ayat tentang Ahlul Bait dalam Al Quran


http://satuislam.files.wordpress.com/2012/06/ahlul-bait1.jpgDalam salah satu Harian di Makassar, pernah termuat pemberitaan Kedatangan Ayatullah Jawwaz di gedung Panrita. Dihadapan komunitas ‘pecinta ahlul bait’ Ayatullah Jawwad memberikan ceramah dan menghimbau agar memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang Ahlul Bait. Menurutnya banyak kaum muslimin yang belum mengetahui tentang ahlul bait. 


Ahlul bait dalam Islam menurut Ayatullah Jawwad Adalah Ali ra (sepupu sekali Rasulullah), siti Fatimah r.a (Putri Nabi saw), kemudian Hasan dan Husain r.a. serta Sembilan keturunan Husain rahimahullah. Mereka inilah orang-orang yang menerima ilmu yang murni dari Rasulullah. Merekalah orang yang disucikan dan dipilih oleh Allah untuk menjadi pemimpin kaum muslimin, menurut Ayatullah. Hal Inilah yang perlu kita garis bawahi.

Pernyataan ini sesungguhnya membawa masyarakat dengan sangat halus kepada keyakinan Syiah Imamiyah. Pernyataan Ayatullah diatas juga secara tidak langsung mengindikasikan keraguan terhadap khalifah sebelumnya –yang notabene tidak termasuk ahlul bait versi mereka. Padahal kaum muslimin Indonesia meyakini sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang dipilih untuk memperjuangkan agama ini, terlebih lagi para ahlul bait Rasulullah. Kita kaum muslimin sedunia mencintai ahlul bait Nabi  saw., bahkan melebihi kecintaan pada sahabat Nabi, jika keduanya ingin dibandingkan. Permasalahan muncul  ketika mencintai ‘ahlul bait’ nabi dilakukan secara berlebihan dan disaat yang bersamaan menginjak kehormatan sahabat Nabi saw.  Pembatasan pengertian ahlul bait, seperti yang disebutkan oleh Ayatullah Jawwad itu, salah satu  yang perlu kita luruskan.

Ahlul bait dalam Al Quran
Ayat yang berkaitan dengan ahlul bait terdapat dalam surah al Ahzab dari ayat 28 sampai 34, ayat 33 berkaitan dengan istri-istri Nabi Muhammad saw. Dari ayat-ayat tersebut istri Nabi diperintahkan untuk berpenampilan yang baik ketika keluar rumah. Tidak berpenampilan seperti wanita-wanita jahiliyah. Para wanita jahiliyah, ketika bepergian, mereka bersolek, memakai wewangian yang begitu memikat, bahkan tata cara berjalannya pun dibuat memukau. Mereka berpenampilan supaya seluruh perhatian- terutama lawan jenis – tertuju kepada mereka. Istri-Istri Nabi, dilarang berbuat seperti itu, sebaliknya mereka diperintahkan untuk menutup aurat, tidak mengundang perhatian dengan penampilan, wewangian memukau ataupun suara yang dilembut-lembutkan kepada non-mahram. Istri-istri nabi dianjurkan berpenampilan sopan dan menjaga kehormatan mereka. Sepotong terakhir ayat 33 surah al Ahzab tersebut tersebut berbunyi 

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الأولَى وَأَقِمْنَ الصَّلاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (٣٣)

33. dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu  dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.

Dari pernyataan Ayatullah Jawwad diatas diketahui bahwa ahlul bait menurutnya sangat terbatas, yaitu hanya pada Ali, Fatimah, hasan, Husein dan Sembilan keturunannya. Pandangan tentang pembatasan ahlul bait diatas keliru. Pada ayat 33 Surah al Ahzab menyebut Istri Nabi sebagai ahlul bait, ayat yang mengiringinya pun membahas seputar istri Nabi saw. 

Ahlul bait secara harfiah adalah penghuni rumah, sebagaimana ahlul syurga, penghuni syurga, ataupun ahlun nar, penghuni nereka. Mereka beranggapan bahwa akhir kata dalam surah tersebut menyebut kum (kalian: Jamak Laki-laki) sehingga istri-istri nabi tidak termasuk ahlul bait. Dalam pandangan kami, ahlul bait secara harfiah adalah penghuni rumah termasuk didalamnya anak dan istri, karena merekalah yang ‘menghuni rumah’. Menurut ulama, perkataan kum yang tersebut di ayat itu, termasuk pula Rasulullah, yang juga adalah ‘penghuni rumah’ atau ahlul bait. 

Ayat 33 dalam surah al Ahzab, senada dengan surah Hud ayat 72, pada surah Hud mulai ayat 69 terdapat cerita adanya malaikat yang datang ke rumah nabi Ibrahim as dan istrinya. Ketika para tamu datang, beliau menjamu tamu tersebut  dengan anak sapi yang dipanggang lalu dihidangkan untuk tamu mulia yang tidak termasuk penduduk desa. Namun, para tamu mulia tersebut tidak menjamah sama sekali hidangan dari Nabi Ibrahim, karena mereka adalah Malaikat yang diutus kepada kaum Nabi luth dan menyerupai manusia.

فَلَمَّا رَأَى أَيْدِيَهُمْ لا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَى قَوْمِ لُوطٍ (٧٠)وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ (٧١)

70. Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: "Jangan kamu takut, Sesungguhnya Kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth."
71. dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu Dia tersenyum, Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishak (akan lahir puteranya) Ya'qub.


Namun istri nabi Ibrahim seolah tidak percaya mereka akan dikaruniakan anak, menurut beliau mereka berdua sudah tua.

قَالَتْ يَا وَيْلَتَا أَأَلِدُ وَأَنَا عَجُوزٌ وَهَذَا بَعْلِي شَيْخًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عَجِيبٌ (٧٢)قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ (٧٣)


72. isterinya berkata: "Sungguh mengherankan, Apakah aku akan melahirkan anak Padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam Keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh."
73. Para Malaikat itu berkata: "Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah."

Ayat diatas juga memakai kata kum untuk menyebut ahlul bait (Nabi Ibrahim dan Istrinya) Perkataan ini menunjukkan bahwa ahlul bait tentu termasuk istri nabi saw, berbalik dengan apa yang dipaparkan Ayatullah Jawwad di atas tadi. Ulama tafsir sepakat bahwa istri Nabi saw termasuk Ahlul Bait. Kata kum dipakai dalam ayat diatas mencakup Jamak laki-laki yang dapat disertai oleh wanita. Bersambung…, di Memahami Ahlul Bait dalam Hadis

(ditulis dari ceramah ust. H.M Said Abd. Shamad, Lc/ *Sa)
lppimakassar.com

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More