Mengenal Aliran Keagamaan NU


Refleksi atas Hari Lahir NU Ke-87
Di suatu hari, pada tanggal 31 Januari 1926 M yang bertepatan dengan 16 Rajab 1344 H, tiga ulama besar menggagas sebuah perhimpunan yang mereka namai Nahdatul Ulama (NU). Mereka  adalah KH Hasyim Asy’ari (1872-1947) dari Tebuireng-Jombang, KH Abdul Wahab Hasbullah dari Surabaya (1888-1971), dan KH Bisri Syansuri (1886-1980) dari Denanyar-Jombang. Mereka bertiga-lah yang mati-matian memperjuangkan agar organisasi NU mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda yang akhirnya diakui empat tahun kemudian, tepatnya 6 Februari 1930.
Sebenarnya NU juga bermetamorfosis, pada awalnya berasal dari sebuah organisasi pergerakan bernama  Nahdlatul Wathan ‘Kebangkitan Negara’ yang berdiri pada tahun 1916. Sebuah organisasi yang khusus dibentuk demi menampung pergerakan para santri dalam melakukan perlawanan terhadap penjajah. Selanjutnya Nahdlatul Wathan berevolusi menjadi Nahdlatul Fikri atau ‘Kebangkitan Pemikiran’ dan pada perkembangan selanjutnya perkumpulan kaum santri itu membentuk Nahdlatul Tujjar ‘Kebangkitan  Pedagang’ yang bertujuan memberdayakan para petani dan pedagang. Puncaknya, KH Hasyim Asyari dibantu rekannya mendirikan Nahdatul Ulama atau ‘Kebangkitan Ulama’.
Hingga kini, yang usianya telah mencapai 87 tahun, NU diperkirakan memiliki jumlah pengikut sekitar 40 juta orang yang berbasis pada pedesaan khusunya di pulau Jawa dan sebagian di perkotaan yang terdiri dari beragam profesi. Pada umumnya warga NU yang akrab juga disapa dengan kaum ‘nahdiyin’ memiliki ikatan cukup kuat dengan dunia pesantren yang merupakan pusat pendidikan rakyat yang merakyat.
Namun jka dipetakan, basis utama pendukung NU secara geografis berada di Jawa Timur yang hingga kini masih menjadi provinsi yang paling banyak memeroduksi kiai. Sangat banyak ulama yang lahir dari pondok-pondok pesantren yang berasal dari Jawa Timur. Dari pesantren pula terlahir tokoh-tokoh bangsa dari berbagai profesi, mulai dari hakim, jaksa, bupati, gubernur, mentri, pemimpin partai hingga presiden.
Karena NU melahirkan begitu banyak orang berbobot dari ragam profesi maka tidak salah jika organisasi ini tak bisa dilepaskan dengan dunia politik. Tahun 1952 NU secara resmi terjun ke politik dan memisahkan diri dari partai Masyumi, pada tahun 1955 mengikuti pemilu dan berhasil merebut 45 kursi konstituante. Ketika demokrasi terpimpin, NU termasuk partai pendukung Sukarno, namun ketika PKI memberontak, NU tampil menekan mereka lewat sayap GP Ansor. Tahun 1973-1982 mereka bergabung dengan PPP, dan tahun 1984 tepatnya Muktamar ke-27 di Situbondo, NU secara organisasi menyatakan diri kembali ke khittah-1926 dan tidak lagi masuk dalam politik praktis. Namun tetap saja warga nahdiyin tetap dianggap ‘seksi’ bagi segenap partai politik.
Reformasi bergulir karena orde baru tumbang, maka tidak sedikit partai yang berlatar belakang NU muncul, salah satunya adalah Partai Kebangkitan Bangsa yang digagas oleh Abdurrahman Wahid (Gusdur) yang pada pemilu tahun 1999 memperoleh 51 kursi di DPR RI dan mengantarkan pemimpin NU itu meraih kursi presiden.
Aliran Keagamaan
Karena yang kita bahas adalah organisasi keagamaan, maka sangat tidak afdhal jika tidak membahas aliran keagamaan yang menjadi acuan utama sebuah organisasi yang bergerak di bidang dakwah. Aliran keagamaan adalah sebuah ciri khas bahkan pondasi sebuah perkumpulan berbasis agama, termasuk NU.
Secara akidah  dan syariat NU menganut paham Ahlussunnah Waljamaah, paham ini adalah paham yang digaransi oleh Nabi SAW sebagai golongan yang selamat di antara sekian banyak golongan sebagaimana sabdanya. “Ketahuilah! Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari kalangan Ahlu Kitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umatku akan berpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan; tujuh puluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Al Jama'ah." (Silsilah Hadis Shohih, Al Albani. 204). Al Jama’ah yang dimaksud adalah golongan yang berakidah dan beribadah sebagaimana yang telah diperaktikkan oleh Rasulullah dan para sahabat-sahabtnya, ma ana a’laihi wa ashabie, sebagaimana aku dan sahabatku berjalan di atasnya.
Penegasan akan hadis di atas, tentang golongan yang selamat juga dapat dilihat dari hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa, ‘Sebaik-baik kalian adalah orang yang hidup pada masaku (periode sahabat), kemudian orang-orang pada masa berikutnya (Tabi'in), kemudian orang-orang pada masa berikutnya (Tabi'ut tabi'in)’. Termasuk juga pemahaman keagamaan yang dianut oleh para imam mazhab yang empat, yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal.  Namun pada praktiknya NU lebih condong mengamalkan mazhab Syafi’i kendati tetap juga merujuk pada ketiga mazhab lainnya.
Untuk menyelam lebih dalam terkait pemahaman keagamaan NU, kita dapat menelaah kitab panduannya yang ditulis oleh KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar (pemimpin NU yang pertama) beliau merumuskan dua kitab sebagai undang-undang dasar organisasi, yakni kitab “Qanun Asasi” dan kitab “I’tiqad Ahlussunnah Waljamaah”. Kedua kitab itu diejawantahkan dalam khitah NU yang menjadi rujukan utama warga nahdiyin dalam bertindak pada bidang sosial, keagamaan, dan politik.
Tasawuf dan Rafidhah
Dalam ranah tasawuf, NU lebih condong mengamal dan mengembangkan metode Al-Gazali dan Junaid al-Bagdadi yang mengintegrasikan antara tasawuf dan syariat. KH. Hasyim Asy’ari menulis bahwa pokok-pokok ajaran tasawuf itu adalah (a)  Takwa kepada Allah baik secara sirr (rahasia, tersembunyi) maupun secara nyata;  (b)  Mengikuti sunnah dalam berbicara dan berbuat. (c)  Berpaling dari makhluk di saat menghadap atau membelakang. (d) Ridha terhadap Allah, menerima yang sedikit dan banyak. (e)   Kembali kepada Allah di saat senang dan susah.
Pemantapan takwa dengan wara’ dan istiqamah, pemantapan mengikuti sunnah dengan berhati-hati dan akhlak yang baik, pemantapan sikap berpaling dari makhluk dengan sabar dan tawakkal, pemantapan ridha terhadap Allah dengan qanaa’ah dan menyerahkan diri, pemantapan sikap kembali kepada Allah dengan syukur di saat senang dan bersandar kepadaNya di saat susah. Landasan dari semua itu ada lima, yaitu semangat yang tinggi, menjaga diri dari yang diharamkan, berkhidmat dengan baik, tekad yang kuat serta menghargai nikmat. (Muhammad Ishomuddin Hadziq (ed.), Kumpulan Kitab Karya Hadratus Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, t.th.).
Aliran tasawuf Hasyim Asy’ari selaras dengan apa yang difatwakan oleh Junaid al-Bagdadi, katanya, “Ilmu kita harus selalu disesuaikan dengan Alquran dan sunnah. Maka barang siapa yang tidak menghafal Alquran dan tidak menulis Hadis, maka ia dianggap belum paham tentang agama dan tidak layak dijadikan qadhi (hakim)”. (Abdul Qadir bin Habibillah As Sindiy, Attashawwuf fi Mizanil Bahts wa at Tahqiq, wa ar Ra’du ‘ala Ibni ‘arabiy ash Shufiy fi Dhau’i al Kitab wa Assunnah, t.th.).
Ada pun mengenai Rafidhah atau Syiah, nampaknya bisa dikatakan jika KH. Hasyim Asy’ari satu-satunya ulama nusantara pada zamnnya yang telah membuat garis demarkasi antara aliran Ahlussunnah Waljamaah dan Rafidhah secara gamblang dan tegas, dalam konteks kekinian cenderung provokatif –merupakan pukulan telak [knock out] bagi mereka yang berpendapat bahwa hanya aliran Salafi-Wahabi saja yang bersikap keras terhadap Syiah Rafidhah –namun semua itu beliau tulis dengan tujuan agar para pengikut NU dapat mengambil sikap terhadap aliran yang menyimpang dari Ahlussunnah.
Namun perlu dicatat, bahwa Hasyim Asy’ari lebih suka menggunakan kosa-kata ‘Rafidhah’ dibanding ‘Syiah’, nampaknya ulama besar kita ini mengikuti ulama-ulama muktabar seperti Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal hingga Imam Bukhari. Mereka semua menggunakan istiulah Rafidhah bukan Syiah. Alasan utamanya karena tidak semua Syiah itu Rafidhah, namun Rafidhah sudah pasti Syiah. Menurut Prof. Mohammad Baharun, asal kata Rafidhah adalah rafadha, berarti menolak, dan secara istilah sebuah aliran keagamaan yang menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, hanya Ali yang mereka akui. Bahkan lebih daripada itu, aliran Rafidhah tidak sungkan mencela, melaknat, dan mengkafirkan para sahabat minus Ahlul Bait.
KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan, Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan Shahabat-shahabat dicaci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat Malaikat, dan semua orang. (Muqaddimah Asasi Nahdathul Ulama hal. 26); Maka barangsiapa yang mencela Shahabat maka atasnyalah laknat Allah, Malaikat, dan seluruh manusia, (bahkan) Allah tidak menerima ibadah mereka baik wajib maupun sunnah. (Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hal. 11); Akan datang di akhir zaman orang yang mencela-cela Shahabat Nabi, maka janganlah mensalatkan atau mendoakan mereka, jangan sholat bersama mereka, jangan kawin-mawin dengan mereka, jangan duduk dengan mereka, dan jangan menjenguk mereka jika sakit. (Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hal. 11); Barangsiapa yang mencela-cela Shahabat Nabi Sallallahu’Alaihi wa sallam, maka pukullah dia. (Risalah Ahlussunnah wal Jamaah hal. 11).
Madzhab palaknat sahabat Nabi ini bisa kita jumpai dalam aliran Syiah Imam 12 yang menjadi anutan resmi Republik Syiah Iran, dan kini sedang timbuh pesat di Indonesia. Untuk mengatasinya, MUI Jawa Timur yang dipelopori oleh para ulama nahdiyin telah mengeluarkan fatwa atas kesesatan Syiah Rafidhah. Dalam hal ini, NU selangkah lebih maju kedepan. Selamat atas hari lahir NU ke-87!

Artikel ini dimuat juga di Harian Tribun Timur, 31 Januari 2013
(Ilham Kadir/lppimakassar.com)

0 komentar:

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More