Membentengi Umat dari Pengaruh Syiah

Kiri-Kanan: DR. Aydi Syam, Ust. H.M. Said Abd. Shamad, Lc, dan Moderator
Catatan Tabligh Akbar di Pangkep, Sulsel
Acara tablig Akbar bertema “Membentengi Umat dari Pengaruh Syiah” di pangkep dimulai ba’da shalat duhur, Ahad, 10 Feb 2013. Acara ini dilaksanakan di Masjid Mujahidin Kota Pangkep. Setelah shalat duhur usai, jamaah masjid diundang untuk menghadiri acara tablig akbar itu oleh protokol masjid. Meja Pemateri dan proyektor segera dipasang untuk melengkapi acara tersebut. Kegiatan dibuka dengan beberapa sambutan. Sambutan pertama, oleh ketua DPD wahdah Islamiyah Selaku penyelenggara, Sambutan kedua oleh Ketua MUI Daerah Pangkep. Sambutan terakhir oleh Ketua departemen agama daerah pangkep sekaligus membuka acara tablig akbar tersebut.
Tablig akbar diisi oleh dua orang pemateri, pertama, oleh Dr. Aydi syam, M.Hi, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren DDI Mangkoso dan pemateri kedua ialah Ust. H.M. Said Abd. Shamad, Lc selaku anggota Majlis Tarjih PW Muhammadiyah sekaligus ketua harian LPPI Indonesia Timur. Pemateri pertama, Dr. Aydi membawakan tema “ Syiah Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah” sementara Ust. HM. Said menjelaskan “Realitas syiah di sulsel dan solusi menghadapainya”.
Syiah Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah
Oleh Dr. Aydi Syam, materi dibuka dengan penjelasan singkat tentang Shirathal Mustaqim-Jalan yang lurus. Kaum muslimin sangat dihimbau mengetahui Shirathal Mustaqim, agar dapat menjadi tuntunan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Beliau kemudian memaparkan hadis tentang  terpecahnya kaum muslimin menjadi 73 golongan, dimana hanya satu golongan saja yang masuk ke dalam surgaNya.
Beliau melanjutkan dengan membagi perbedaan di kalangan umat menjadi tiga bagian, yaitu Substansi, Interpretasi dan Variasi. Bagian substansi merupakan bagian pokok dalam agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah dengan sempurna sehingga tidak boleh ada pengurangan dan penambahan. Mengenal Kekuasaan, Nama dan  Sifat Allah sebagai rabbul alamin yang patut diibadahi termasuk di dalamnya. Sementara interpretasi merupakan buah pikiran dari para ulama dan fuqaha untuk memahami hal-hal yang bersifat substansial tadi. Di sinilah ahlus sunnah membuka dengan lapang adanya perbedaan pendapat, selama interpretasi tersebut berasal dari substansi (Al Quran dan As Sunnah Shahihah) yang benar. Sementara Variasi, merupakan tradisi kaum muslimin yang tidak merujuk kepada kedua hal diatas, hanya merupakan kebiasaan.
Perbedaan yang sifatnya interpretasi ataupun variasi di kalangan kaum muslimin, sangat bisa ditoleransi. Hal ini di karenakan mereka tidak berbeda dalam hal substansi. Beliau kemudian memaparkan beberapa contoh yang ada di kalangan imam mazhab yang empat. Sayangnya ada beberapa aliran atau paham keagamaan yang memiliki perbedaan yang jauh, hingga menyerempet hal-hal yang sifatnya substansi. Sebagai Ahlus Sunnah kita mungkin dapat berbeda pandangan antara beberapa hal yang bersifat interpretasi atau variasi tadi, namun secara substansi (pokok akidah) kita memiliki kesepahaman. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa perbedaan peng-amal-an agama yang ada, misalnya di NU, Muhammadiyah, Wahdah dsb. Mereka hanya berbeda dalam hal furuiyyah saja, bukan dalam hal pokok. Berbeda dengan aliran Syiah, paham ini sudah sangat jauh perbedaannya hingga menembus hal-hal yang bersifat substansi tadi. Al hasil, toleransi dalam hal akidah sangat jauh dari harapan.
Beliau mulai menjelaskan makalah beliau yang memuat perbedaan substansi (pokok akidah) dari ajaran sunnah dan syiah. Perbedaan yang dimulai dari sifat –sifat ketuhanan, masalah keberhasilan rasul terakhir menyampaikan risalah hingga pada kitab suci yang diyakini keotentikannya. Dengan referensi yang proporsional dari keduanya (Sunnah dan Syiah), beliau kemudian membandingkan substansi masing-masng ajaran. Pada akhirnya beliau menyimpulkan bahwa syiah berbeda secara substansi dengan kaum muslimin (ahlussunnah), dan hal ini tentu tidak dapat kita toleransi. Ukhuwah memang penting, tetapi menjaga akidah dan substansi agama jauh lebih penting. Kita harus menjaga kaum muda ahlus sunnah dari penyimpangan akidah! Tegas beliau mengakhiri pemaparannya.
Realitas syiah di sulsel dan solusi menghadapainya
Ust. H.M. Said Abd. Shamad, Lc., kemudian melanjutkan materi tablig akbar dengan tema realitas syiah di Sulsel dan solusi menghadapinya.  Beliau memaparkan beberapa fenomena penyebaran syiah di Sulsel Khususnya kota Makassar. Kota makassar menurut beliau adalah salah satu dari tiga kota di Indonesia yang menjadi kantong terbesar pengikut syiah. Secara umum penyebaran syiah masuk melalui univeritas terkemuka dan mengkader mahasiswa/i yang awam dan senang dengan filsafat ataupun pemikiran Islam. Melalui perwakilan mereka di universitas-yang biasanya mengatasnamakan kerjasama budaya/pendidikan- mereka mulai merekrut mahasiswa yang dianggap cerdas guna menempuh pendidikan di negeri Syiah. Dengan kemampuan seadanya, para alumni ataupun mahasiswa tersebut menjadi sangat militan mengampanyekan ajaran syiah usai dikader. Bahkan dengan merekonstruksi ajaran Sunnah yang sudah mapan. Tidak hanya itu, menurut anggota PW Tarjih Muhammadiyah Sulsel ini, para tokoh masyarakat, pimpinan universitas, guru besar juga kadang mendapat ‘undangan’ berkunjung ke negeri Iran guna menghadiri pertemuan taqrib baenal mazahib, yang tujunnya mendekatkan sunnah dan syiah dalam berbagai hal. Sayangnya, pendekatan yang dimaksud adalah agar ajaran Syiah dibiarkan untuk menyebar di kalangan ahlus sunnah.
Kembalinya para tokoh kita dari negeri Iran seolah menjadi momok tersendiri. Mereka- dengan semangat besar- juga mulai membiarkan (atau malah mendukung) ajaran syiah tersebar di bumi pertiwi. Tidak heran jika beberapa tokoh mulai ‘melegalkan’ penyebaran ajaran ini, padahal MUI Jatim dengan jelas menyatakan kesesatan Syiah. Biasanya pujian yang tidak proposional tentang Iran ataupun ajaran syiah menjadi awal pembicaraan para tokoh tersebut. Ciri khas penganut ajaran syiah ini pun dibahas dengan singkat oleh ketua LPPI Indonesia Timur ini. Di antaranya ialah, jika shalat biasanya menggunakan batu karbala sebagai tempat sujudnya, syahadatnya ditambah menjadi tiga kalimat, dengan tambahan: wa asyhadu anna ‘aliyan waliyullah, shalat hanya pada tiga waktu tanpa uzur dan safar, serta nikah mut’ah yang menjadi propaganda di kalangan muda-mudi dan konsep taqiyah sebagai tamengnya.
Beliaupun mulai menyebutkan beberapa contoh dari kegiatan kaum syiah di berbagai daerah di Sulsel, daftar yayasannya ditampilkan, serta beberapa berita ataupun opini tokoh mereka di harian lokal. Realitas syiah digambarkan dengan sangat apik oleh wakil ketua PD Muhammadiyah Makassar ini. Setelah pemaparan realitas syiah di Sulsel, Ust. Said (sapaan akrab beliau) membacakan usulan-usulan untuk menghadapi gerakan syiah kepada peserta tablig akbar, termasuk wakil dari kementerian agama pangkep dan ketua MUI setempat.   Di antara solusi yang beliau kemukakan ialah Menyebar luaskan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam pengertian luas dan mendorong umat untuk lebih mencintai Ahlul Bait dan Sahabat Nabi serta meneladaninya sesuai pengamalan dan pemahaman Islam yang sebenarnya. Selain itu antisipasi penyebaran paham Syiah dengan memjelaskan penyimpangannya juga diperlukan.  “Solusi menghadapai gerakan syiah ini, termuat dalam buku kecil kami berjudul Menuju Indonesia Tanpa Pengaruh Syiah yang diterbitkan oleh LPPI Indonesia Timur”, ungkap beliau menutup pembahasannya.

Setelah acara tablig akbar, pemateri bersilaturrahim dengan jamaah lalu menjalankan shalat ashar bersama-sama di masjid mujahidin Kota Pangkep dan kemudian menuju ke Makassar setelah menyempatkan waktu bercengkrama singkat dengan beberapa tokoh masyarakat. (Sulfandy/lppimakassar.com)

5 komentar:

​لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ana mw bertanya ust..ana punya sahabat kebetulan pernah sama2 mondok di salah satu pesantren d mks...smpe skrg persahabatn kami tetap terjalin baik,tp belakangan ana tau klu sahabat sy ini penganut syiah...bgmana mestinya ana menyikapi hal tsb ust...???
Jazakhillah haeran katziran...

wa alaikum salam warahmatullah wabarakatuh.
persahabatan antum justru akan menjadi modal terbaik untuk saling memberi kebaikan, saling nasehat menasehati serta bersabar diatasnya. antum jangan mengambil langkah frontal apalagi langsung mengucilkannya, boleh jadi ia hanya tersyubhat oleh ajaran syiah yang dimotori retorika filsafat.kita menginginkan sahabat kita berada dijalan kebenaran, maka cara untuk mencapainya juga harus benar & penuh hikmah. doakanlah ia agar Allah - Yang Maha membolak-balikkan hati- menjadikan hatinya merujuk kepada kebenaran. sembari mengadakan ikhtiar yang ntm bisa, sesuaikan dengan syubhat yang membelenggunya. ntm bisa mulai memberikan artikel yang ntm download dr internet/ buku/ majalah yang isinya berupa nasehat yang bijak mengenai peyimpangan syiah. sedapat mungkin hindari artikel/tulisan yang seolah melecehkan ajaran atau penganut Syiahnya. jika bisa dampingi ia dengan sms nasehat.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh... ustd saya mau tanya, sebagi orang yg masih awam... asal saya dari ternate, saya dan kebanyakan warga lainnya adalah sunni dalam pelaksanaan syariat agama islam namun ada yang mengatakan ,dalam pekerjaan tarekatnya atau tradisi keagamaannya adalah syiah.contohnya yang sering kami lakukan Misalnya saja pelaksanaan ritual Tahlil yang diikuti dengan penyuguhan makanan kepada orang-orang yang hadir di kenal dengan istilah "Kenduri". Padahal kata kenduri itu sendiri berasal dari bahasa Persia yaitu "Kanduri" yang menjadi istilah ritual untuk mengenang putri Rasulullah saw yaitu Fathimah Az Zahra di kalangan umat Islam bermazhab Syiah. Bahkan kebiasaan orang ternate dalam menziarahi kubur juga mirip dengan kebiasaan umat Islam di Iran maupun Iraq, dan ada Do'a Kie yang sering dibacakan dalam hajatan-hajatan keagamaan besar di kalangan umat Islam Tradisional ternate yg berisi Tawasul kepada Rasulullah saw, siti Fathimah az Zahra dan para Imam ahlul bait namun hanya sampai kepada Imam Ja'far ash Shadiq yaitu imam ke enam Syiah. Sedangkan Imam Syiah itu keseluruhannya berjumlah 12 imam... mereka mengatakan itu bid'ah, apakah betul kegiatan2 yg diwarisi leluhur2 kami adalah bid.ah??? mohon penjelasannya ustad....

Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

kepada "anonim" dari ternate yang berkomentar tangal 21 Feb 2013, jam 05.32.

Tidak dipungkiri ada Syiah dahulu yang tidak mencela sahabat Nabi. yaitu Syiah Zaidiyah, mereka bisa saja berasal dari Hadhramaut, Yaman, menyebarkan Islam di ternate, dan tradisi kenduri, tawassul dan lain sebagainya masih bertahan. selama berlalunya waktu ratusan tahun, sedikit demi sedikit pudarlah istilah Syiah Zaidiyah. Karena, Syiah Zaidiyah adalah Syiah yang paling dekat dengan Ahlus Sunnah. Namun berbeda dengan Syiah yang sekarang yang jelas sesat. Syiah di Iran bernama Syiah Imamiyah. Syiah di Yaman bernama Syiah Hutsiyah dan Syiah di Suriah bernama Syiah Nushairiyah.

Runtutan sejarah tadi hanya perkiraan dan praduga. Bisa saja itu salah dan bisa jadi juga benar. Wallahu a'lam

Poskan Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More