KH. Jamaluddin Amin: LPPI Lembaga Pewaris Ajaran Para Nabi

Makassar, 3 Februari 2013. Bertempat di Masjid Sultan Alauddin Kompleks Perumahan Dosen UMI Makassar, Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam (LPPI) Indonesia Timur mengadakan ‘Rapat Kerja Tahunan’ yang dibagi menjadi dua sesi, acara pembukaan di dalam Masjid dan acara inti berupa rapat tahunan yang berlangsung di lantai 2 Masjid Sultan Alauddin. 

Masjid menjadi pilihan untuk mengadakan rapat karena dari masjid-lah spirit perjuangan membela kebenaran terus berhembus, walau ada pula yang mengusulkan jika pertemuan seperti ini lazimnya di hotel, LPPI menghargai pendapat itu, namun jiwa keberanian melawan segala bentuk penyimpangan idealnya berasal dari Rumah Allah. Dan ini telah dicontohkan oleh Rasulullah yang menjadikan masjid sebagai basis perjuangan, termasuk menyusun strategi baik politik maupun perang, bahkan masjid adalah markaz untuk latihan perang, demi melawan para musuh Allah. 

Pada acara pembukaan, terlihat hadir beberapa tokoh masyarakat, ulama, dan akademsi dari lintas kampus. Di antaranya, ulama kharismatik Muhammadiyah, KH. Jamaluddin Amin, dari akademisi Unhas terlihat Dr. Nunding Ram, serta beberapa perwakilan dari ormas keagamaan lainnya.

Acara pembukaan dimulai oleh protokol, lalu pembacaan ayat suci Alquran oleh Ustad Sholihin, seorang qari nasional yang profesional, lalu laporan singkat dari Ketua LPPI, Ustad H. Muh. Said Abd. Shamad, Lc. Dalam laporannya beliau memaparkan beberapa program-program LPPI yang telah berjalan, termasuk sosialisasi fatwa MUI pada masyarakat luas. “Kehadiran LPPI hingga saat ini masih tetap berpedoman pada apa yang digariskan dan difatwakan oleh MUI, dalam hal ini terkait kebenaran dan kesesatan sebuah ajaran dalam agama Islam, kita hanya bertugas mensosialisasikan fatwa yang sudah jelas statusnya, kendati LPPI juga tetap memberi usulan dan masukan kepada MUI untuk meneliti hal-hal yang dianggap sesat namun belum difatwakan,” tegas Ketua LPPI yang juga anggota Majelis Tarjih Muhammadiyah Sulsel ini.



Pembicara kedua adalah Prof. Dr. Amiruddin Aliah selaku Koordinator Penasihat LPPI Indonesia Timur, dalam sambutannya, Profesor ilmu kesehatan Unhas ini menilai pentingnya sebuah organisasi, menurutnya, Allah pada hakikatnya sangat mencintai para hamba-Nya yang berjuang dengan teratur dan bersaf-saf, sebagaimana tertulis dalam Alquran,   “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Al-Hasyr:4).

Selain itu, beliau juga menegaskan bahwa salah satu bentuk organisasi yang bekerja adalah yang mengadakan rapat kerja, dalam rapat itulah akan dibahas program-program baik yang telah berlalu maupun yang akan datang. Dengan rapat kita dapat melakukan evaluasi, termasuk target-target yang telah tercapai maupun belum, jika belum apa kendalanya, apakah kendalanya dapat diatasi atau sebaliknya. Lalu program yang akan datang disusun, menentukan target, lalu berusaha meraih target-target yang telah tersusun dengan rapi. Ini semua menjadi bahan penting yang harus dibahas dalam rapat kerja kali ini. Tegas sang Guru Besar.
Acara pembukaan kali ini ditutup dengan tausiyah dari Dewan Penasihat LPPI Indonesia Timur, yaitu KH. Jamaluddin Amin. Beliau menekankan bahwa Syiah itu asal mulanya datang dari seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ yang pura-pura masuk Islam, lalu menanamkan ajaran bahwa setiap nabi yang diturunkan Allah ke bumi ini memiliki washiyun –seseorang yang mendapat wasiat khusus dari sang nabi— dalam agama Islam menurut Abdullah bin Saba yang mendapat wasiat itu, di antara sekian banyak sahabat Rassulullah cuma satu, yakni Ali ra. Jadi ketika Rasulullah wafat, lanjut sesepuh Muhammadiyah ini, maka dalam pandangan pengikut Abdullah bin Saba yang disebut Syiah ini, yang berhak menjadi khalifah adalah Ali ra, bukan Abu Bakar, Umar, apalagi Utsman. Mereka inilah yang dikatakan merampas hak kekhalifahan Ali ra. Jelas ini adalah pemahaman yang sesat dan menyesatkan, mereka harus dilawan. Lanjutnya.

Selanjutnya, mantan Rektor UNISMUH Makassar ini menegaskan bahwa Allah SWT memberikan dua jaminan pada agama-Nya. Jaminan pertama, bahwa Allah menjaga agama-Nya (Islam) dalam artian tidak akan lenyap di muka bumi dan agama ini dapat dilihat dari kitab suci Alquran sebagai sumber ajaran. Dan Allah menegaskan dalam firman-Nya bahwa Alquran itu tak pernah berubah, إنا نحن نزّلنا الذكر وإنا له لحافظون "Sesungguhnya Kami menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya" (QS. [15]: 9). Kata 'Innaa' berarti sesungguhnya 'Kami' menunjukkan bahwa yang menjaga agama ini adalah Allah beserta aparat-Nya, termasuk dalam hal ini Malaikat, Nabi, Rasul-rasul, para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in, para ulama mu'tabar, termasuk juga LPPI. Jaminan kedua -lanjut mantan Ketua PW. Muhammadiyah Sulsel ini-, Allah menjaga agama-Nya dari para musuh-musuh Islam yang senantiasa ingin menghancurkan dari masa ke masa karena memang Islam-lah satu-satunya agama yang diridhai dan diterima oleh Allah. Beliau juga mengutip perkataan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, "Islam ini tidak akan hilang dari muka bumi, tapi tidak mustahil hilang dari Indonesia".

Padahal –masih menurut KH. Jamaluddin— kalau kita mau jujur, hanya Abu Bakar-lah sahabat Nabi satu-satunya yang disebut sahabat dalam Alquran karena kesetiaan dan kebersamaannya bersama Rasulullah, terutama dalam keadaan duka, sebagaimana disebut dalam Alquran ketika peristiwa hijrahnya Rasul bersama Abu Bakar yang didahului dengan bersembunyi di Goa Hira. “Idzhuma fil Ghari, idz yaqulu lishahibihi, la tahzan innallah ma’ana, [ketika mereka beruda ‘Rasulullah dan Abu Bakar’ dalam goa, Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita]”. Untuk itu, lanjut Pak Kiyai, LPPI jangan merasa sendirian dalam berjuang, kita semua harus bersatu membantu LPPI untuk melawan aliran sesat, seperti Syiah karena LPPI telah menjadi pewaris dan penjaga ajaran para nabi, tegasnya. “Ingatlah bahwa pertolongan Allah itu selalu ada, dan kemenangan kian mendekat, nasrun minallah wa fathun qarib.” Tutup ulama yang telah berusia 83 tahun ini.



Usai tausiyah dari KH Amin Jamaluddin, azan Asar pun berkumandang, dan para peserta bergegas untuk melakukan salat Asar berjamaah dengan khusyuk. Bakda Asar, rapat kerja pun dimulai, setiap peserta rapat masing-masing mengemukakan pandangan, pendapat, dan usulan-usulan serta koreksi yang membangun kepada LPPI. Namun pada intinya, semua merasa jika LPPI adalah milik bersama, dari umat untuk umat, dan berjuang untuk kemurnian ajaran Islam. Setidaknya LPPI –menurut Kiyai Jamaluddin Amin— adalah lembaga pewaris ajaran para nabi. (Ilham Kadir/lppimakassar.com)

1 komentar:

Semoga hasil rapatnya dapat memberikan hasil yang baik bagi kaum muslimin Sulsel

Posting Komentar

Raih Amal Shaleh, Sebarkan Artikel Ini...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More